
"Arggghhhhh, mmmmhp" teriak Kiandra.
Aldi membekap mulut Kiandra agar tidak ada irang lain yg salah paham akan teriakannya itu.
"Ssst! apa kau ingin semua orang lari ke rumah ini?" tanya Aldi. Tangannya mulai terlepas dari mulut Kiandra.
"Kau.." Kiandra speachless melihat siapa sosok yang ada didepannya kali ini, Kiandra.
"Aku sungguh merindukanmu Kiandra, tidakkah kau rindu padaku?" ucap Aldi.
Kiandra menangis dan langsung memeluk Aldi.
"Kau benar-benar menyelesaikannya Al, akhirnya kau menyelesaikannya." ucap Kiandra yang terus menangis dan menumpahkan semua kerinduan yang sudah menggunung.
"Hey, jangan menangis. Kau menangis karena terharu akan keberhasilanku memperjuangkanmu atau karena aku terlalu cepat selesai?" tanya Aldi.
Kiandra memukul dada Aldi karena kesal jika bertemu dengannya selalu meledeknya, dan melupakan air matanya.
"Sakit Sayang." rintihnya.
"Sudahlah keluar dulu aku mau ganti baju, dan tunggu aku disana." ucap Kiandra sambil menunjukkan jarinya ke arah kasur miliknya.
"Maksudmu aku tunggu di kasur untuk melakukan itu?" ledek Aldi lagi.
"Kau ini makin lama semakin mesum ya." kata Kiandra.
Kiandra mendorong tubuh Aldi untuk keluar. Sebelum Aldi benar-benar keluar dari ruangan tersebut, Aldi berbisik "Pakai yang sexy ya, Sayang." lagi lagi Aldi meledeknya.
"Dasar pria mesum! kenapa semakin lama tidak bertemu semakin mesum?" keluh Kiandra.
Kiandra yang sedang mengganti bajunya pun sedikit mempercepat dirinya berhias.
Saat Kiandra sudah keluar dari ruang ganti, ia tidak melihat sedikitpun sosok Aldi, apakah ini de javu? pikirnga. Seketika rasa sedihnya muncul kembali.
Tidak mungkin ini de javu, sungguh sangat nyata.
Kiandra mencari ke kamar mandi, ke balik pintu kamar mandi pun nihil tak menemukan sosok Aldi sedikit pun, ia memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut dan menemukan sosok pria yang sangat ia rindukan sedang berbicara dengan Mike.
Kiandra menghampiri Aldi dan langsung memeluknya dari belakang, tanpa menghiraukan kehadiran sosok Mike diantara mereka.
"Kau lihat Mike, beginilah rasanya perasaan berbalas, punya pasangan yang selalu membuatmu ingin hidup lebih lama bersamanya, bukan hidup lama untuk selalu ribut dengan wanitamu." sindir Aldi. Kiandra hanya terkekeh mendengar sindiran yang dilontarkan Aldi padanya.
Cih dasar arogan! - Mika.
__ADS_1
"Hm.. Maksudnya bagaimana Boss?" tanya Mike.
"Huh sudahlah, jika kau berpura-pura bodoh, bodoh saja sekalian, bodoh kok setengah-setengah." Aldi mencibirkan bibirnya.
"Al... jangan seperti itu." ucap Kiandra.
"Sayang kenapa kau mendadak sekali kesini bahkan tidak menghubungiku terlebih dahulu." lanjut Kiandra.
"Surprise, jadi Nyonya muda Nugroho, bisakah kita ke Jepang malam ini?" ucap Aldi.
"Jepang? jadi kau menjemputku untuk ke Jepang? bukan karena merindukanku? kau memang paling bisa menjatuhkan khayalan ku saat sudah melambung tinggi ke langit ke tujuh." ucap Kiandra kesal.
Aldi mencubit manja hidung Kiandra.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, tentu aku merindukanmu, karena aku rindu aku bawa kau ke Jepang. Ada yang ingin bertemu dengan kalian." ucap Aldi.
"Aku dan Mika? Siapa?" tanya Kiandra.
"Simpan rasa penasaranmu itu, aku lapar." ucap Aldi dengan manjanya.
"Hmm, bawakan makanannya ke kamarmu ya, aku ingin mandi dulu, badanku sangat lengket sekali." Aldi berlalu dan mencium kening Kiandra.
"Dasar pamer!" cibir Mika pelan namun terdengar sampai telinga Mike.
"Dasar mulut netizen! selalu saja mengomentari apa yang aku ucapkan." ucap Mika.
"Hahaha" Mike tertawa ringan mendengar cibiran Mika, belum pernah ada yang mengatai dirinya seperti yang Mika lakukan barusan.
Mike berjalan ke arah kamar Mika. Mika yang menyadarinya langsung menghadang Mike masuk ke dalam kamar, kali ini kakinya lebih cepat dari Mike.
"Berhenti! kau sedang apa hah?" tanya Mika.
Mike hanya menempelkan jari telunjuknya ke bahu Mika dan mendorongnya untuk menyingkir dari hadapannya. Mika yang diperlakukan seperti itu badannya terdorong masuk ke dalam kamar.
"Aku tamu, tamu adalah raja, jadi kau sebagai tuan rumah harus menjamu ku dengan baik, karena rumah ini hanya ada dua kamar jadi kamar ini akan jadi kamarku selama aku di sini, atau..." Mike melangkahkan kakinya perlahan, dan semakin maju perlahan hingga memojokkan Mika ke pinggir kasur dan hampir terjatuh.
"Kau mau apa?" Mika gugup melihat Mike yang sangat aneh sejak kepulangannya dari Jepang.
"Atau kau ingin tidur di sini bersamaku, Mika?" Mike sedikit menunduk dan memegang dagu Mika.
Mika yang masih waras dan tidak terbuai rayuan Mike langsung mendorong dada Mike untuk menyingkir.
"Berkhayal lah selama berkhayal itu masih gratis!" ucap Mika dan pergi meninggalka Mike.
__ADS_1
Mike hanya tersenyum, tertawa dan tersenyum lagi, begitulah ekspresinya selama ia berada disamping Mika.
Rasanya menyenangkan sekali membuatnya marah.
***
"Apa penyakitnya bisa disembuhkan Dok?" tanya sang mama.
"Kesempatannya untuk sembuh hanya 30%, Nyonya. Namun semua kembali ke kehendak Tuhan, kami hanya memberitahu apa yang kami dapatkan dari hasil medis. Tolong pastikan anak Anda tidak terlalu stress dan banyak pikiran apalagi membuatnya sedih. Hal tersebut akan memicu rasa keputus asaan dalam diri anak Anda. Pastikan ia berbahagia, selalu di kelilingi hal-hal positive, agar memberikan pengaruh baik untuk kondisi dan syukur-syukur mampu meningkatkan presentase tingkat kesembuhan anak Anda." ucap sang dokter.
Ibu mana yang tidak sedih mendengar dokter memvonis anak kesayangannya yang hanya memiliki 30% tingkat kesembuhan dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Kenapa nasibmu seperti ini, Nak. Bahkan mama rela tukar posisi ini, biarkan mama saja yang merasakan sakitnya.
Wanita itu pun menangis tersedu-sedu dihadapan sang dokter. Tak disangka, obrolan mereka sampai ke telinga sang anak.
"Kak Sean kenapa ada diluar kamar? apa kau ingin membeli sesuatu? aku akan membelikannya untukmu, kau hanya cukup mengatakannya padaku Kak." ucap Salsa yang tak lain adalah calon tunangan Sean, anak sahabat sang Papa.
"Oh, tidak ada. Aku hanya butuh udara segar sejenak." ucap Sean tergugup karena Salsa memergokinya sedang berada di depan pintu dokter yang menangani dirinya.
Apa yang sudah Kak Sean dengar ya? mukanya dipenuhi dengan kesedihan. - Salsa.
"Ayo Kak, Salsa antar Kakak kembali ke kamar." ajak Salsa.
Sejak kepulangan Sean dari trip ke Bromo bersama kawan-kawannya, Sean drop dan di larikan ke rumah sakit, namun karena fasilitas rumah sakit yang tidak memadai untuk menangani penyakit Sean, membuat Sean dilarikan ke Singapore untuk menjalani pengobatan.
Saat ini sudah memasuki hari ke sepuluh bagi Sean mendekam di rumah sakit terbaik Singapore atas perintah sang Papa.
Bahkan Sean belum sempat bertemu dengan Kiandra sepulangnya dari Bromo.
Apa benar aku tidak akan bisa sembuh dari penyakit ini? Lalh untuk apa semua pengobatan bodoh ini toh pada akhirnya aku yang akan kalah melawan penyakitku.
***
Bersambung
Thank you semuanya atas waktunya yang sudah menyempatkan diri membaca karya ku.
Jangan lupa untuk selalu vote aku, kasoh boom like kalian secara gratis namun sangat berarti untukku
See ya on next chapter yes, Love u guys.
__ADS_1
Bye bye