CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 85 - New York I Love You


__ADS_3

"Bisakah kita memulai kisah kita dari awal, Dear? Sekarang, biarkan aku membayar penantian mu selama empat tahun dengan sisa umur ku. Aku ingin menebus setiap air mata yang pernah aku berikan karena menyakitimu, dengan pernikahan yang dilandasi cinta untuk mu. Aku ingin memberikan mu sebuah 'rumah' untuk kita berdua dan anak-anak kelak. Bisakah?" tanya Mike. Tatapannya begitu teduh nan menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya.


"Are you kidding me? (Kau sedang bercanda?)" selidik Mika.


"No, apa muka ku terlihat seperti bercanda, Dear?" tanya Mike balik.


"Jadi bisakah kau memberi ku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita?" Mike mengulangi pertanyaan yang mengganjal di hatinya, karena Mika belum menjawab iya atau tidaknya.


Mika hanya mengangguk lalu tertunduk malu karena Mike membalas cintanya. Penantian yang hampir menyentuh angka lima tahun, kesabaran yang tiada akhir, air mata yang mengalir, sakit yang terasa seketika berubah menjadi rasa bahagia memenuhi seluruh relung hati Mika.


Sejujurnya bukan Mika saja yang merasakan sakit selama lima tahun ini, mencintai dalam diam, mendamba namun tak bisa meraba, dekat namun terasa jauh, menggila karena rindu namun tak bisa mencumbu. Mike menahan egonya akan Mika. But well, kedepannya Mike akan benar-benar menjaga wanita tercintanya, dan masalah terakhir mereka adalah kedua orang tua Mika, Michelle dab Haura Wiradmadja.


Mike yang melihat anggukan kilat Mika pun langsung menarik Mika dan memeluknya, ia membenamkan kepalanya ke leher Mika "Thank you Dear, aku sungguh berterima kasih padamu karena mau memberiku kesempatan, aku janji aku akan menggunakannya dengan baik seumur hidup ku." ucap Mike. Entah mengapa air mata Mike tumpah tak tertahankan, ada rasa hangat di dalam hatinya karena pelukan ini.


Bertahun-tahun lamanya Mike tidak pernah lagi bisa merasakan hangatnya pelukan seseorang yang dia cintai sejak kepergian sang ibunda tercinta. Tidak pernah sekalipun Mike dekat dengan seorang wanita, ia berfikir bahwa dengan tidak berhubungan dengan wanita maka ia bisa mempertahankan ingatan dan rasa dari hangatnya pelukan sang ibunda. Namun ternyata salah, justru ia dapat merasakan kehangatan itu nyata saat memeluk Mika, wanita satu-satunya yang berhasil memporak poramdakan hidupnya saat ini, satu-satunya wanita yang memenuhi isi otaknya, satu-satunya wanita yang menghidupkan kembali semangat hidupnya. Tubuh Mike bergetar saat ia menangis terharu, Mika pun menyadari namun sedikit tidak percaya seorang Mike bisa menangis.


Mika mendorong tubuh Mike agar menjauh, Mika ingin melihat wajah Mike saat ini apakah benar pria tercintanya sedang menangis. Mike hanya tertunduk lesu matanya terpejam dan masih berurai air mata, menangis dalam diam, seperti ada rindu yang terdalam dari tangisan nya.


"Mike?" Mika mencoba melongokkan mukanya ke muka Mike.


"Apa mencintai ku sesedih itu Mike?" tanya Mika yang merasa tak enak hati melihat Mike seperti itu. Mike hanya menggeleng pelan tanpa melihat ke arah Mika.


"Lalu kenapa kau menangis? Aku bahkan hampir tidak percaya kalau kau menangis, aku tidak pernah menyangka seorang Mike bisa menangis karena cinta. Cih... Kau masih saja cupu." ledek Mika. Mika mencoba mencairkan suasana sendu Mike dan itu berhasil.


Mike menghapus air matanya dan duduk dengan tegap kembali layaknya seorang Mike Anderson seperti biasanya.


"Cih.. Biarpun aku cupu, tapi aku punya wanita yang setiap mencintai ku!" jawabnya ketus sambil tersenyum ke arah Mika.


Kini Mika yang berhamburan memeluk Mike.


"Jangan menangis lagi Mike, aku tidak pernah pergi dan menghilangkan perasaan ku padamu walau aku menginginkannya, entah kenapa mencintaimu seperti sudah jadi rutinitas wajib ku yang tidak bisa ku hilangkan sekalipun kau menyakiti ku dengan segala ucapan dan perilaku mu." ucap Mika.


Mike membalas pelukan hangat Mika namun kali ini tidak disertai perasaan sendu melainkan perasaan bahagia. Bahagia bahwa Mika tak lagi menghindarinya dan galak padanya.

__ADS_1


"Mike.. Aku lapar.." ucap Mika didalam pelukan Mike. Mike pun tertawa mendengarnya.


"Kau penurut saat lapar ternyata, Dear. Ku fikir kau tidak lagi galak setelah menerima ku." ledek Mike. Mika mencubit manja pinggang Mike.


"Kalau aku tidak galak, kau tidak akan bisa memeluk ku disini saat ini. Mungkin aku sudah bersama pria lain." cibir Mika.


"Tidak ada kata mungkin, karena selamanya kau hanya boleh bersama ku dan mencintaiku." jawab Mike tak kalah ketusnya.


"Cih.. Sudah lah ayo kita makan, apa kau ingin aku mati kelaparan?" rengek Mika.


"Kau ini seperti landak ya, berduri di luar tapi tidak dengan hati mu. I love you." ujar Mike sambil mencium kilat pipi Mika dan berdiri lalu pergi ke dapur dengan santainya.


"Dasar Modus!" jawab Mika pelan sambil menyunggingkan senyuman indah di wajahnya, tangannya mengelus pipi yang tadi di kecup mesra oleh Mike.


Mike mencoba memasak spagheti agar Mika tidak menunggu lama, hampir sepulih menit Mike berkutat di dapur, seketika terlintas di fikirannya untuk mengerjai Mika.


Saat Mike sedang platting, Mike menoleh ke arah Mika dan memanggil kekasihnya untuk duduk di meja makan karena ia hampir selesai. Mika yang terpanggil pun berjalan ke arah meja makan.


"Ah wanginya sangat enak, kau memasak apa Mike?" teriak Mika.


"Dasar pelit!" cibir Mika sambil menggoyang-goyangkan kakinya di kursi, ia tidak sabar menunggu makanan buatan Mike tiba.


Mike pun akhirnya selesai, ia membawa piring makanan untuk Mika, namun anehnya ia memakaikan tutup saji makanan di piring tersebut, bak ala-ala pelayan resto saat menyajikan makanan istimewa.


"Kenapa harus ditutup Mike, aku bahkan sudah mencium aromanya tadi." jawab Mika kesal.


"Hm.. Buka saja." ucap Mike. Mika akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan nya dan memilih untuk membuka tutup makanan itu.


Betapa kagetnya Mika atas apa yang ia lihat.


"Kenapa kau memberikan kunci padaku? Aku sudah sangat lapar Mike.." rengek Mika.


"Ambillah, itu milikmu." ujar Mike.

__ADS_1


"Hmm? Me?" tanya Mika lagi.


"Ya, itu punya mu." jawab Mike singkat. Mike saat ini berdiri disamping Mika yang terduduk di kursi makan.


"Tapi aku tidak pernah punya Merci, Mike. Dan lagi, ini kunci apa?" tanya Mika penasaran.


"Kunci penthouse ini." jawab Mike sambil mengelus kepala Mika.


"Kau serius Mike? Kau masih waras kan Mike?" selidik Mika.


"Tentu tidak, sejak bertemu dengan mu kau sudah membuat ku gila, gila karena mencintaimu." ucap Mike dengan senyuman tangannya masih mengelus kepala Mika.


Mika berdiri dari duduk nya dan menatap tajam Mike.


"Untuk apa semua ini?" tanya Mika datar.


"Untuk menebus waktu, waktu saat dimana kau wisuda tapi aku tidak bisa datang menemui mu." jawab Mike. Kini Mike tak lagi mengelus kepala Mika namun beralih ke pipi Mika.


"Apa aku sedang bermimpi Mike? Kau begitu baik hari ini, apa ini hanya mimpi?" tanya Mika terharu.


"Tidak Dear kau tidak sedang bermimpi. Duduklah aku akan mengambil makanan mu yang asli." Mike melenggang pergi untuk ke pantry mengambil piring yang berisikan makanan.


Baru saja ingin membawanya, Mika sudah memeluknya dari blik punggungnya.


"Terima kasih Mike, aku tahu kau sedang memantaskan diri untuk ku, tapi aku tidak menginginkan materi dari mu, aku hanya ingin kau dan waktu mu. Itu sudah lebih dari cukup." kata Mika. Mike terdiam dan berbalik arah menatap Mika.


"Semua hal di hidup ku akan jadi milik ku walau se-sen pun, Dear." ucap Mike sambil tangannya merangkul pinggang Mika, Mike bersandar ke meja pantry dan sedikit mendudukinya.


Mika merangkul kan kedua tangannya ke leher Mike. Mike yang sudah menahan ingin mencium bibir Mika pun akhirnya tak sanggup dan mulai memiringkan kepalanya, Mika mulai memejamkan matanya, dan mereka pun berciuman mesra diatas kota New York yang indah.


Ah.. New York I love You! - batin Mika.


Bersambung..

__ADS_1


Wah.. Gila lo Mike! Mau banget lah Otor nih makan tapi dikasihnya Merci. Huhuhu.


Selamat beraktifitas, dan sampai jumpa di next chapter 🖤


__ADS_2