
Mike yang dipenuhi emosi pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam restaurant JX tempat dimana Daniel dan sang kekasih ada disana. Tatapan Mike memburu kearah Daniel, sejurus kemudian Mike menarik kerah baju Daniel dan menghujamkan tinjunya ke muka Daniel berkali-kali, Mike tidak memberikan kesempatan kepada Daniel untuk berbicara, menjelaskan, ataupun bangun untuk meninju Mike balik.
Mika yang sontak kaget dengan respon Mike pun akhirnya bergegas lari dan melerai mereka berdua.
"Mike, stop!" teriak Mika. Mika memeluk Mike dari balik punggungnya. Mika mencoba menahan tubuh Mike yang atletis untuk berhenti memukuli Daniel.
"Mike, stop please.. Please ..." pinta Mika dengan isak tangisnya.
Tangisan Mika menyadarkan Mike akan kehadiran dan dekapan Mika di tubuhnya. Mika sangat takut jika Mike akan khilaf karena Mike memukuli Daniel seperti orang kesetanan.
Mike menarik kerah Daniel, membuat tubuh Daniel yang terkapar di lantai mendekat ke wajah Mike.
"Listen! She's mine, always be mine and never be yours!" ucap Mike meradang dan menhujamkan tinju terakhir ke muka Daniel.
Mike berbalik ke arah Mika, mengusapkan air matanya sambil tersenyum menatap Mika.
"Ayo.." ucap Mike singkat sambil menarik tangan Mika agar Mika mengekori langkah kakinya. Mike membawa Mika masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi dari restaurant tersebut.
Tak ada yang memulai obrolan diantara mereka seperti biasa. Dua insan yang sama-sama saling menunggu tapi saling tak mau memulai lebih dulu, dua insan yang sejatinya memiliki perasaan yang sama namun sama-sama tidak mau memulai untuk mengakuinya. Benci tapi cinta, rindu tapi gengsi. Sama-sama ingin dikejar namun tak ada yang mengejar. Bak dua kutub yang saling bersebrangan namun saling berdampingan. Yah begitulah Mika dan Mike.
Mike memutuskan untuk membawa Mika ke penthouse miliknya. Mika yang menyadari arah jalan mobil Mike tidak ke arah penthouse milik daddy-nya pun mulai protes.
"Kita akan kemana Mike? Ini bukan jalan ke arah rumah Daddy ku." ujar Mika dengan penuh keheranan.
"Ke Rumah." jawab Mike singkat.
"Rumah? Rumah mu? Rumah siapa?" tanya Mika penasaran.
"Ikuti saja, nanti kau akan mengerti." jawab Mike singkat lagi.
__ADS_1
"Tinggal kasih tahu saja padaku apa susahnya Mike?" Mika memonyongkan bibirnya.
Tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya sampai di gedung penthouse milik Mike. Mike memarkirkan mobilnya disana dan memutar arah untuk membuka pintu mobil Mika. Mika turun dengan gaya khasnya.
"Kau membawaku ke penthouse siapa?" tanya Mika lagi.
"Mike! Jawab pertanyaan ku dulu, kita mau kerumah siapa?" tanya Mika. Mika menarik lengan Mike yang terus saja berjalan mendahuluinya.
Mike hanya mengelus kepala Mika disertain senyum manisnya.
"Let's go.." ucap Mike sambil menyematkan jarinya ke jari Mika lalu berjalan memasuki lift gedung tersebut.
Tangan Mika tak lepas dari genggaman Mike selama di lift, mereka sama-sama tak bersua. namun deguban jantung mereka berdua saling bersahut berirama.
Lift akhirnya terbuka, Mike menuntun Mika agar mengikuti jejak langkahnya. Mika yang tersadar dari biusan perlakuan Mike pun menarik tangannya agar terlepas dari Mike, ia menghentikan langkahnya, Mike yang tersadar pun ikut berhenti dan menoleh kebelakang, ke arah wanita tercintanya.
"Aku tidak akan melukaimu, Dear. Trust me.." ucap Mike mencoba meyakinkan Mika dan meraih tangan Mika kembali. Mika memilih untuk mempercayai Mike kali ini.
Mike membuka access pintu kamarnya dan mempersilahkan Mika untuk masuk kedalam. Mike mulai berjalan ke arah mesin kopi untuk membuatkan Mika kopi, Mike tahu Mika sangatlah menyukai kopi, dia sengaja membeli mesin kopi Electric keluaran terbaru di New York.
Di saat Mike sedang sibuk membuat kopi, Mika mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan penthouse milik Mike. Mika terheran karena beberapa details lebih terlihat seperti penthouse yang di huni oleh wanita.
Mika mencoba duduk di sofa utama, ia memainkan jari jemarinya acak. Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Mika, tentang penthouse siapa, kenapa Mike tinggal disinitapi semua interior lebih terlihat soft. Mika menundukkan pandangannya, memusatkan pandangannya ke jari jemari miliknya.
"Kenapa kau menunduk?" tanya Mike yang entah sejak kapan sudah berdiri disampinnya sambil memegang dua gelas kopi, satu untuk Mike dan satu untuk Mika.
Mike mencoba duduk disamping Mika, dan menaruh kedua kopi ditangannya ke meja yang ada didepan mereka berdua. Pandangan Mika sontak tertuju ke jari jemari Mike yang penuh memar karena habis-habisan meninju Daniel di restaurant.
"Ya Tuhan, kau memukuli Daniel sampai seperti ini? Ini pasti sakit sekali Mike." ujar Mika yang syok melihat tangan Mike yang memar. Mika memegang jemari Mike dan mencoba mengelus dan memijatnya perlahan.
__ADS_1
Mike tidak memperdulikan apa yang Mika lakukan dengan tangannya, yang Mike saat ini lakukan adalah terus memandangi wajah Mika yang begitu indah dipandang mata. Mike tidak menyangka hari ini akan bertemu dengan wanita idamannya, bahkan harus membayar mahal untuk pertemuan mereka. Entah apa yang akan Daniel lakukan kepada Mike setelah ia meninju Daniel di restaurant, meninju putra tunggal keluarga Wilson yang namanya tidak lagi asing terdengar di kalangan pembisnis sepertinya.
"Aku akan mengompresnya, dimana aku bisa menemukan kotak obat disini?" tanya Mika.
"Aku tidak butuh semua itu, Dear. Aku tidak masalah harus membayar mahal untuk bertemu dengan mu, walau dengan nyawa ku sekalipun." jawab Mike datar. Sontak jawaban Mike membuat Mika kesal mendengarnya. Mika memukul pundak Mike karena kesal.
"Aw! Kenapa kau memukul ku?" tanya Mike dengan merintih kesakitan, ia mengusap usap pundaknya yang tadi dipukul oleh Mika.
"Bagaimana bisa kau bicara tentang nyawa sesantai itu? Kau bisa bertemu dengan ku kapan pun kau mau, bukankah kita akan menjalankan proyek bersama?" tanya Mika.
"Bisakah kita lebih dari itu?" tanya Mike dengan sompralnya.
"Percuma Mike, aku akan dinikahkan dengan lelaki gila seperti Daniel, aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memilih dengan siapa aku akan menghabiskan sisa hidup ku." jawab Mika sambil tertunduk lesu.
"Hey, sudah ku katakan jangan bersedih untuknya. Aku akan memperjuangkan mu, bisakah kau berpihak padaku?" ucap Mike.
Entah mengapa jantung Mika berpacu lebih cepat dari biasanya. Matanya membulat sempurna, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari Mike. Mike menarik tangan Mika dan menggenggamnya lembut.
"Bisakah kita memulai kisah kita dari awal, Dear? Sekarang, biarkan aku membayar penantian mu selama empat tahun dengan sisa umur ku. Aku ingin menebus setiap air mata yang pernah aku berikan karena menyakitimu, dengan pernikahan yang dilandasi cinta untuk mu. Aku ingin memberikan mu sebuah 'rumah' untuk kita berdua dan anak-anak kelak. Bisakah?" tanya Mike. Tatapannya begitu teduh nan menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya.
Bersambung....
Ya ampun Mike jadi pengen meluk online nih Otorr..
Kalau Mika enggak mau , aku juga mau Mike... Eaaaaaa. 😅
Selamat Sore, jangan lupa mandi gengs..
__ADS_1
See you next chapter 🖤