CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 39 - Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

"Kau sudah siap? jika sudah aku ingin bicara sesuatu padamu." ucap Bayu.


"Iyah, bicara saja." jawab Dita sambil mengungah sarapannya.


"Kita akan menikah minggu depan" ucap Bayu dengan muka datarnya.


"Uhuk, uhuk" Dita tersedak mendengar pengumuman yang Bayu ucapkan.


"Minumlah, pelan-pelan saja." Bayu memberikan air minumnya.


"Kau ini selalu saja membuatku jantungan, tadi apa kau bilang? seminggu? aku tidak mau! cari saja wanita yang ingin menikah denganmu minggu depan. Pernikahan macam apa kau ingin besok maka harus besok, kau ingin lusa maka harus lusa. Dasar pemaksa!" cibir Dita, ia memotong daging steak didepannya dengan kasar, menunjukkan bahwa ia sedang marah.


"Aku tidak terima penolakan, Anindita. Lebih cepat lebih baik." ucap Bayu yang masih menatap lekat Dita dihadapannya.


"Bagaimana dengan kuliahku? aku tidak ingin menikah sebelum wisuda, dan juga aku tidak mau menikah cepat denganmu. Apa jadinya hidupku nanti, aku masih ingin menikmati masa muda ku, dan lagi apa kau tidak ingin lulus dulu dan mencari kerja? bagaimana kita bisa makan dan hidup baik jika kau tidak bekerja? sudah tidak ada cinta, tidak ada kerjaan, tidak ada uang, cih suram sekali hidupku, aku tidak mau menikahi pria yang tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri!" ucap Dita.


"Kau yang butuh aku untuk menolong cafe mu jadi kau harus berusaha keras mendapatkan ku, dan juga tidak ada yang gratis di dunia ini." ujar Dita.


Dita menatap Bayu lekat-lekat.


Ayolah menyerah saja kamu Bayu.


"Apa syaratmu? katakan saja." tanya Bayu.


Apa? udah gila kali si brengsek ini. Aku akan membuat kau tidak kuat dengan syarat ku.


"Baiklah jika kau memaksa, pertama aku ingin 'prewed' di Jepang dan melakukan resepsi tanpa uang dari om Wicaksono sepeserpun, resepsi diadakan setelah aku wisuda, apa kau mampu?" tanya Dita, ia berharap Bayu tidak menyanggupinya.


"Aku terima, lanjut." jawab Bayu tanpa pikir panjang.


"Bagaimana aku bisa tahu kau mampu?" tanya Dita.


"Kau akan tau jawabannya segera." ucap Bayu.


"Cih! pembual." cibir Dita.


"Lanjutkan, apa lagi?" tanya Bayu.


"Kedua, kau tidak boleh melarangku melanjutkan study ke Jepang." ucap Dita.

__ADS_1


Bayu yang mendengarnya agak sedikit marah, yang artinya Dita memang tidak ingin dekat dengannya.


"Baiklah aku terima, ada lagi?" tanya Bayu.


"Woah, tenang saja Tuan Muda ini belum setengahnya." ucap Dita.


"Ketiga, Aku tidak akan melarangmu dekat dengan wanita manapun dan tak akan mencampuri urusan pribadimu, begitu pun kau terhadap ku." ucap Dita.


"Apa kau yakin? merelakan suamimu dekat dengan wanita manapun? aku sedikit ragu akan hal itu. Baiklah, aku setuju." ucap Bayu.


"Aku tak kalah populer darimu, kau akan menangis jika aku dekat dengan pria lain." kata Dita dengan angkuhnya.


"Ya, kita liat saja siapa yang menangisi siapa." jelas Bayu.


Dita mengepalkan tangannya mendengar tantangan yang Bayu ucapkan.


"Keempat, Aku ingin tinggal terpisah dari orang tua ku dan orang tua mu. Kau dan aku tidak boleh tidur di kamar yang sama, kecuali ada orang tua kita menginap dirumah." ucap Dita dengan lantangnya.


"Aku tidak setuju!" jawab Bayu tegas.


"Kenapa? toh kita menikah hanya karena simbiosis mutualisme, jadi kenapa aku harus tidur dengan pria mesum sepertimu dalam satu kamar? belum menikah saja kau sudah tidak bisa menahannya bagaimana jika sudah terjadi? setelah kita bercerai aku yang akan rugi disini, bagaimana jika aku hamil? aku tidak mau jaadi single parent, dan kau hanya menumpang rahim denganku, aku tidak mau." jelas Dita panjang kali lebar.


"Tidak ada perceraian, tidak ada tidur terpisah, dan kau tidak akan pernah jadi single parent, apa itu sudah cukup?" tanya Bayu.


"Tidak! yang lain saja." ucap Bayu.


"Pernikahan ini hanya satu tahun, setelah itu.." ucapan Dita terpotong.


"Tidak ada setelah itu, aku tidak suka berbagi apa yang sudah jadi milikku. Kita sudahi pembicaraan ini, syaratmu hanya boleh tiga, tidak lebih. Kau harus ingat Dita setelah kita menikah kau sudah menjadi Nona Muda Wicaksono, jaga batasanmu." Bayu berdiri dari tempat duduknya.


"Bersiaplah, kita akan berangkat sekarang." ucap Bayu yang meninggalkan Dita sendiri.


Dita mengepalkan tangannya karena kesal dengan keputusan Bayu yang ambigu. Tidak ingin bercerai tapi mengiyakan boleh dekat dengan lawan jenis, apa itu tidak ambigu? begitulah pikir Dita.


Dita bergegas pergi ke arah pintu utama, sudah ada pengawal yang menunduk hormat padanya, lalu membukakan pintu mobil tersebut agar Dita bisa segera masuk ke dalam.


Bayu sudah duduk disana, dikursi belakang. Dita masuk dan duduk disampingnya.


Tidak ada kata yang terucap dari Dita ataupun Bayu. Hingga mereka tiba di bandara.

__ADS_1


"Kau mau membawaku kemana, hah?" tanya Dita kesal.


"Diam saja dan ikuti aku, kau akan tahu jika kita sudah sampai." ucap Bayu.


"Aku tidak mau! katakan dulu kita mau kemana? lagi pula Papihku akan marah jika aku tidak segera kembali ke Jakarta, dan lagi misi ku membantu Papih belum selesai." Dita masih duduk di dalam mobil.


"Aku akan jawab rasa penasaranmu itu, jika kau keluar dari mobil sekarang."


"Baiklah aku keluar." ucap Dita.


Bayu pun tersenyum melihat betapa menurutnya Dita dengan ucapannya.


"Jadi kita akan kemana?" tanya Dita lagi. Bayu terus saja berjalan hingga mereka sudah tiba di dalam jet pribadi keluarga Wicaksono yang sudah Bayu pesan semalam saat Dita turun dan meninggalkan Bayu sendirian di kamarnya.


"Merealisasikan salah satu syarat pertama untuk menikahimu." ucap Bayu.


"Jepang? kau akan membawa ku ke Jepang?" tanya Dita begitu antusias. Bayu hanya mengangguk.


"Yes!!" Dita reflek karena ia begitu senang akan bertemu sang Kakak.


Bayu tersenyum tipis melihat tingkah Dita saat ini.


"Aku tahu kau begitu antusias ingin segera menikah denganku. Tak perlu kau tahan, jika kau senang ya berbahagialah. Tak perlu berpura-pura didepan ku." ledek Bayu.


"Hey, aku senang karena aku akan bertemu Kak Aldi bukan karena dirimu! kau menilai dirimu terlalu tinggi, kurangi sedikit rasa narsismu itu." cibir Dita.


"Mengakuinya saja susah sekali. Aku tidak akan meledek mu." ucap Bayu.


"Percuma bicara dengan muka tembok seperti kamu." ucap Dita.


Mereka pun sudah berada di atas awan, entah mengapa Dita saat ini hanya ingin tidur saja dari pada meladeni ucapan Bayu. Kepala Dita sedikit demi sedikit tumbang ke jendela. Bayu membenarkan posisi kepala Dita agar menyender ke bahunya, merapikan selimutnya.


Di luar dugaan Dita malah menggesek-gesekkan wajahnya ke lengan Bayu yang menghantarkan kehangatan padanya.


Kau memang Putri Tidur ku yang cantik.


🍂


Bersambung..

__ADS_1


Thank you semua Good Readers and Authors yang menyempatkan diri untuk mengikuti perjalan kisah cinta mereka, aku tidak bosan-bosan untuk minta support kalian semua untuk vote, vote, vote, vote and vote. Give us ur boom like, comment, 5 rate karena itu gratis tapi sangat berarti bagi penulis.


See you on next chapter everyone, big love from the distance 🖤.


__ADS_2