
Mike terbangun saat mendengar notifikasi chat berbunyi.
"Mika?" Mike terkaget menerima chat dari Mika dini hari.
Mike membuka chat tersebut dan ia kaget, bukan kaget karena chat tentang video yang harus ia berikan ke Aldi, namun foto selfie Mika yang membuat darah Mike berdesir hebat, dan membuatnya menelan salivanya.
Mika mengambil foto dirinya sedang mirror selfie, menggunakan tank top dan bagian kerah turun hingga ke dadanya, membuat Mike mampu melihat betapa besarnya milik Mika, ditambah pose yang membuat pria manapun akan tumbang pertahanannya saat melihatnya.
"Aku takut kau kecewa aku hanya mengirim video Kiandra, jadi aku memberikan fotoku sebagai bonus karena kau pasti merindukanku, Jelek!" begitulah isi pesan Mika padanya.
Cih narsis sekali wanita ini. Aku akan membalasmu nanti, lihat saja.
"Jangan kirimkan aku foto jelekmu lagi." balas Mike.
Ting! hp Mike berbunyi kembali.
"Aku hanya cantik saat tidak mengenakan apapun, apa maksudmu kau ingin melihatku seperti itu?" balas Mika disertai emoticon meledek.
"Tubuhmu tidak semenarik itu." balas Mike.
Semenit, dua menit, tidak ada balasan lagi dari Mika. Mike memutuskan untuk mencoba tidur kembali, namun sayangnya entah kenapa gairahnya memuncak saat mengingat kembali foto yang Mika kirim untuknya.
Sebetulnya pose Mika tidaklah vulgar hanya saja sejak Mika tinggal di apartement miliknya dan mencium Mika, Mike seperti tidak bisa menahan gejolak gairahnya setiap membayangkannya kembali, seperti ada rasa ingin lagi dan lagi.
Sial! karena wanita itu sekarang aku harus mandi tengah malam. Sejak kapan kau kalah dari wanita itu Mike. Tanya Mike dalam hati.
Sebelum dirinya akan bergegas mandi, Mike mengirimkan video tersebut ke Aldi, ia tahu jika ia berikan ke Aldi besok Aldi akan memarahinya, itu sudah pasti.
Aldi bingung kenapa Mike mengiriminya sebuah video ditengah malam. Rindu Aldi semakin memuncak karena melihat pesan dari sebuah lagu yang Kiandra lantunkan. Aldi seperti menangkap pesan tersirat dari lagu tersebut.
Kau cantik sekali Kiandra, aku janji akan menyelesaikannya secepatnya. Promise!
- - -
"Anindita, Papih memintamu untuk keruang kerjanya sekarang, Nak." ucap Mamih Lita.
"Baik, Mih." Dita yang sedang bermain gadget langsung terbangun dari kasurnya.
Tok tok.. - Dita mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.
__ADS_1
"Permisi Pih, Papih memanggilku?" tanyanya bingung.
"Masuklah sayang, Papih ingin bicara." pinta Adam.
Dita yang langsung duduk di kursi maish bingung menatap Adam yang terus tersenyum padanya.
Perasaanku ko jadi tidak enak ya melihat Papih tersenyum seperti itu.
"Papih kenapa tiba-tiba memanggil Dita?" tanyanya dengan sopan.
"Ah, Papih hampir lupa. Sebentar lagi Dita akan wisuda menyusul Kiandra dan Mika bukan?" tanya Adam.
"Ya, Pih. Sebelumnya Dita mau bilang terima kasih sudah memberikanku pendidikan yang harus Dita patut syukuri, Pih." Dita tersenyum.
Anakku memang terbaik.
"Sama-sama Sayang, itu semua sudah menjadi tugas orang tua untuk semua anaknya. Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah lulus?" tanya Adam lagi.
"Dita ingin melanjutkan S2 ke Jepang, Pih. Dita sudah mendaftarkan diri dan bahkan sudah selesai ujian seleksi tahap akhir, jika nanti Dita lulus, Dita akan ambil kesempatan itu, Pih. Tolong izinkan Dita ya Pih." jelas Dita.
"Papih akan izinkan kamu, tapi.." Adam menahan bicaranya sejenak.
"Tapi.. tapi apa Pih?" Dita bingung dengan papihnya itu.
"Tapi Dita harus menikah sebelum berangkat." ucap Adam dengan lantangnya.
Deg!!
Seketika Dita merasa jantungnya seperti berhenti berdetak, nafasnya tercekat, tanganya saling mencengkram kuat.
Tuhan.. cobaan apalagi ini, menikah? pacar saja aku tidak punya, bagaimana mau punya pacar kemana-mana harus dipantau dari jauh oleh pengawal Papih, dan sekarang Papih sendiri yang memintaku menikah, lucu sekali!
"Ha ha ha, kenapa Papih lucu sekali. Apa Papih sedang meledekku? Dita yakin Papih sendiri pun tahu tidak ada pria yang bisa mendekatiku di kampus karena semua pengawal Papih yang payah itu, dan sekarang Papih memintaku menikah. Jangan bilang Papih ingin menjodohkanku dengan pria pilihan Papih?"
"Anak Papih memang pintar, sudah tahu sebelum Papih menjelaskannya." Adam tersenyum.
Cih.. bukan aku yang pintar membaca maksud Papih tapi semua anak juga tahu jika ada di posisiku saat ini.
"Apa menurut Papih Dita ini tidak laku? Sampai Papih ingin menjodohkanku bak Siti Nurbaya? come on Pih this is modern era, jangan aneh-aneh ya Pih." Dita mulai menyenderkan punggungnya ke kursi yang ia duduki saat ini.
__ADS_1
"Ha ha ha, biarkan dulu Papih selesaikan ucapan Papih, Sayang."
Adam benar-benar kehabisan akal menghadapi watak Dita yang susah sekali di bujuk jika sudah punya keinginan.
"Baiklah, silahkan Papih lanjutkan ucapan Papih tadi, Dita akan coba untuk mendengarkannya terlebih dahulu." Dita mulai mengalah pada Adam.
"Papih kasih waktu dua bulan setelah anak Papih yang cantik ini terima hasil pengumuman dari pihak kampusmu yang di Jepang. jika selama dua bulan Dita tidak bisa bawa pria pilihanmu ke hadapan Papih dan Mamih, maka Dita harus ikut perjodohan yang Papih buat. Bagaimana?" tanya Adam padanya.
"Apa Papih pikir Dita bisa dibohongi seperti dulu waktu masih kecil? Dita yakin Papih tidak akan bisa fair, secara Papih punya pengawal dimana-mana, mengawasiku tidak pernah ada bosannya, menjauhi setiap pria yang ingin mendekatiku. Sebenarnya Papih bukan kasih Dita pilihan ikut atau tidaknya perjodohan norak itu, tapi Papih memberikan pilihan yang tujuannya sama, jalan apapun yang Dita pilih tujuannya satu yaitu mengikuti perjodohan ini. Bukan begitu Papih?" Dita memicingkan matanya setelah melihat tingkah Adam.
"Ha ha ha, baiklah. Mulai sekarang Papih tidak akan menyuruh pengawal Papih untuk menyingkirkan pria manapun yang akan kau bawa ke rumah, Sayang. Papih tidak akan ikut campur, tapi Papih mengizinkan mereka memukul pria yang bertingkah aneh terhadapmu, Papih hanya ingin yang terbaik untuk sang Anak, dan tidak ingin kau terluka, Sayang."
"Tidak boleh ada satu pengawalpun, Pih." mata Dita berbinar mendengar tawaran Adam padanya.
"Baiklah Sayang. Apa kau tidak ingin mengetahui terlebih dahulu nama pria yang kami ingin jodohkan untukmu?"
Seketika kepala Dita menggeleng pelan.
"Tidak perlu Pih, karena perjodohan ini akan berakhir sebelum Papih memulainya." ledek Dita sambil mencibirkan bibirnya ke lain arah.
"Kau tahu Nak? orang bilang, sombong sebelum waktu perangmu, merupakan awal bencana untukmu."
"Let we see, siapa pemenang diantara kita berdua, Pih." kata Dita dengan seringainya itu.
"Ingat Pih, jika Papih melanggar ucapan Papih, Dita tidak akan segan-segan langsung berangkat ke Jepang saat itu juga." ancam Dita.
"Baiklah, kau memang selalu tahu cara berdebat dengan Papih." jawab Adam.
"Owh jelas! tidak ada yang bisa mengalahi seorang Anindita Nugroho saat berdebat, termasuk Papih." Adam benar-benar menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan.
"Kau memang anak Papih yang paling hebat." Adam mengelus pucuk kepala Dita.
🍂
🍂
🍂
Bersambung..
__ADS_1
Thank you semua Good Readers and Authors yang menyempatkan diri untuk mengikuti perjalan kisah cinta mereka, aku tidak bosan-bosan untuk minta support kalian semua untuk vote, vote, vote, vote and vote. Give us ur boom like, comment, 5 rate karena itu gratis tapi sangat berarti bagi penulis.
See you on next chapter everyone, big love from the distance 🖤.