
Prakata dari Senat pun menjadi agenda akhir dari acara wisuda gelombang satu, keluarga para wisudawan wisudawati pun sudah bisa menemui anak mereka masing-masing.
Gemuruh riuh para pemberi selamat pun membanjiri Hall convetion Center ini.
"Selamat ya anak Bunda dan Ayah, kami bangga sekali kamu bisa lulus dengan nilai terbaik, tetap merunduk sebanyak apapun reward yang kamu terima dari orang lain. Selamat menjalani kehidupan yang sesungguhnya Sweety." ucap Richard kepada Kiandra.
Aurora yang sudah berkaca-kaca sejak Kiandra disematkan sebagai lima mahasiswa/i terbaik pun akhirnya tak sanggup membendungnya lagi dan tangisan itu pecah.
Aurora memeluk putrinya dan menumpahkan semua tangisannya.
"Bunda.. Bangga padamu Kiandra. Terima kasih atas kerja keras mu untuk membuat kami semua bangga padamu." Aurora memundurkan sedikit badannya, ia menangkup kedua pipi Kiandra dan mencium kening putrinya bertubi-tubi.
Kiandra pun terharu dan ikut menumpahkan air matanya.
"Terima kasih Bunda atas semuanya, tanpa doa Bunda dan Ayah tanpa kalian Kiandra tidak akan sanggup sampai tahap ini dengan segala bonus yang Tuhan kasih." Kiandra menghapus air mata yang hampir membuat maskara miliknya luntur tak karuan.
"Selamat ya Dek." kata Maudy.
"Ah kalian datang? hmmm thank you Kak." mereka berdua pun pelukan.
"Selamat ya Kiandra." ucap Haura dan Michelle Wiradmadja.
"Kamu juga selamat ya Mika Sayang." ucap Bunda Aurora.
Semua masih dalam mode bahagia, saling bertukar selamat antara keluarga Wiradmadja dan keluarga Darwin. Saat mereka masih bersuka cita tidak bergeming dari tempatnya, tiba-tiba datang lah seorang pria dengan bucket bunga cantik di tangannya.
"Andra.. selamat ya." ucap Sean sambil memberikan bunga untuk Kiandra.
"Thank you Kak." ucap Kiandra.
Sean kaget saat Kiandra menerima bunganya, nampak jelas di jari manisnya cincin berlian yanag biasa dipakai orang yang sudah bertunangan tersemat dengan Indahnya disana.
Apa aku terlambat mengejarnya? - Pikir Sean.
Semua orang hanya menatap Sean dengan penuh tanda tanya, kecuali Om Richard.
Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana ya. Astaga ingatan ku jadi semakin buruk. - Batin Richard.
Sean yang menyadari bahwa keluarga Kiandra menatapnya pun akhirnya mencairkan suasana dengan memperkenalkan dirinya.
"Ah maafkan saya, saya datang diwaktu yang tidak tepat perkenalkan saya Sean Permana teman Kiandra di kampus." ucap Sean sambil membungkukkan kepalanya.
"Permana? Astaga apakah kamu anaknya Yuda Permana?" tanya Richard.
"Ah.. Iya Om, tapi maaf apa Om mengenal orang tua saya?" tanya Sean.
"Iyah Om kenal, Om mengenal Papa mu saat kami ada tender bersama di Milan. Jadi apa kabar Yuda sekarang?" tanya Richard dengan sumringahnya.
Lama tidak pernah tahu lagi kabar Yuda saat ini, terakhir berkomunikasi sejak dua tahun yang lalu, hal ini bertepatan dengan pengumuman dokter akan hasil medis Sean yang dinyatakan bahwa Sean mengidap penyakit Limfoma atau istilah familiarnya kanker getah bening karena diawali dari seringnya Sean mengkonsumsi obat Imunosupresan yaitu obat untuk menangani penyakit autoimun.
Sean sengaja menggunakan sweater dengan kerah model turtle neck agar orang lain tidak bisa melihat benjolan kecil yang ada di lehernya saat ini.
"Papa baik Om." jawab Sean dengan senyuman.
__ADS_1
"Ya ampun dunia sempit sekali Ki, Ayah mu bahkan mengenal dekat dengan Papa Sean, aku tidak bisa membayangkan jika Aldi telat mengakuinya ke kamu Ki, yang sekarang berdiri sebagai calon suamimu bisa jadi dia." ucap Mika yang mulai bergabung dengan keluarga Kiandra.
"Aku juga kaget Ka" balas Dita.
Mika hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu dimana Aldi Ki?" tanya Mika yang mengedarkan pandangannya ke semua area Hall Convention Center tersebut.
Untungnya karena keadaan aula sudah tidak kondusif obrolan Mika dan Kiandra tidak terdengar oleh pihak keluarga mereka.
Saat semua sedang mengobrol datanglah Dita dan Bayu.
"Ya ampun Kiandra.. Mika.. Congratulation My angels.." ucap Dita.
"Ah gila pengantin baru makin terang benderang saja muka, tapi percuma si udah sold out." ledek Mika.
Mereka pun tertawa sambil melepas rindu. Bayu yang menyadari bahwa ada sosok yang ia kenali sedanh berdiri memunggunginya pun mencoba menyapa dan menerka.
"Sean?" panggil Bayu meragu.
Sang empunya nama pun akhirnya menoleh ke arah sumber suara.
"Bayu? kamu disini?" tanya Sean.
"Ya ampun Bro, kemana aja tidak pernah 'nongol' lagi di kampus kemarin-kemarin? but anyway.. kenapa badanmu semakin kurus dan pucat, kau baik-baik saja kan?" ucap Bayu antusias melihat sahabatnya yang selama ini tiba-tiba menghilang pun muncul kembali.
Sontak pertanyaan Bayu ini membuat semua orang yang ada didekat Sean menoleh ke arahnya. Sean yang merasa sudah ketahuan pun kikuk dibuatnya.
Sial, kenapa Bayu menyadari se-detail ini, aku harus menyembunyikannya.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka.
Kegiatan keluarga Kiandra tak luput dari pandangan para gadis yang ragu ingin mendatangi Kiandra.
"Ya ampun Kak Sean datang dong Girls.. Ganteng banget doi.." ucap salaha satu dari para gadis tersebut.
"Eh iya bener, akrab pula sama orang tuanya Kak Kiandra. Alamat nih patah hati berjamaah kita." ucap gadis yang lain.
"Hahaha, aku si udah lama patah hatinya sejak berita Kak Sean di tolak sama Kak Kiandra." sambung teman gadis itu.
"Girls, ya ampun liat cowok di arah jarum jam dua dari posisi ku, laki banget tuh cowok, tinggi, bahunya lebar, cakep banget enggak si, enggak nyesel aku datang berdesakan kesini kalau disuguhin pemandangan seperti ini, sendirian pula." ucap gadis yang melihat Aldi sedang menerima telepon dari koleganya.
"Ya ampun iya bener apa kata kamu, dia keluarganya siapa ya, semoga saja Kakaknya salah satu mahasiswa disini, jadi kita bisa minta kenalan nih." kata mereka lagi.
"Gengs lihat tuh doi masuk ke aula utama, ya ampun jalannya saja bikin jantung mau copot ya kan... ganteng banget deh.." mereka semua terpana melihat Aldi yang sedang jalan menghampiri keluarga Darwin dan Wiradmadja.
"Ehh.. kok datengin keluarga Kak Kiandra." ucap gadis itu.
Seketika mereka teriak histeris bersama saat melihat Aldi menghampiri Kiandra dan mencium pipi senior mereka lalu merangkulnya.
"Ah gila si Kak Kiandra bagi-bagi kek.. aku juga mau dipeluk sama Mas ganteng itu.. " ucap salah satu dari mereka sambil menghentakkan kakinya.
"Kasian enggak si Kak Sean.. Harus lihat pemandangan seperti itu didepannya langsung.. Kesempatan nih bisa jadi sandaran pelarian Kak Sean, sini Kak Adek peluk.." ucap gadi yang lain.
__ADS_1
Lagi-lagi mereka menyoraki gadis yang sedang halu tersebut.
***
"Congratulation Sayang, maaf tadi aku harus terima telepon dari kolega ku di Malaysia." ucap Aldi sambil mencium kening pipi kanan Kiri Kiandra. Aldi memberikan bucket bunga mawar yang sangat cantik ke Kiandra.
Mika dan Kiandra hanya syok melihat tingkah Aldi yang mencium Kiandra di depan Sean. Kiandra tersenyum kikuk membalas ucapan Aldi.
"Hai Om.. Tante.. Kak.." sapa Aldi ke keluarga Kiandra dan Mika.
Aldi belum menyadari ada tatapan seorang pria yang menatap lekat ke arah Aldi dan Kiandra yang sedang mengumbar kedekatan dan kemesraan keduanya.
"Ini baru calon istri ku, hebat, pintar, mandiri. Aku yakin anak-anak ku nanti akan sehebat Mommynya." puji Aldi.
Sebenarnya Aldi sudah tahu bahwa pria yang didekat Bayu mencoba mendekati calon istrinya itu.
"Ah.. maaf ya Mika aku lupa beli bunganya dua, ini untuk Nyonya Besar. Selamat wisuda." ucap Aldi sambil merebut bucket bunga dari tangan Kiandra, yang di dapat dari Sean.
Aldi sengaja melakukan itu untuk memperjelas Sean bahwa Kiandra adalah calon istrinya dan akan selalu menjadi miliknya. Sean hanya mengepal kencang tangannya kesal karena bunga miliknya saat ini sedang dipegang Mika.
Aldi berbisik ke Mika "Bantu aku simpan bunga sialan itu, aku melarangmu untuk mengembalikannya ke Kiandra atau aku akan kirim Mike ke Rusia." ancam Aldi.
Mika yang diancam seperti itu pun sontak memukul Aldi dengan Bunga yang Aldi berikan padanya, yang tak lain adalah bunga Kiandra dari Sean.
"Sialan!" Mika memukul-mukul pundak Aldi dengan bunga tersebut.
"Astaga maaf Ki, aku reflek. Semua gara-gara si Kanebo kering mu itu." Mika lupa bahwa bunga itu adalah bunga dari Sean.
Tingkah mereka bertiga tak luput dari pandangan para orang tua, Reyhan dan Maudy, Dita, Bayu, apalagi Sean.
Ada yang aneh dengan tingkah Aldi dan tatapan Sean. - pikir Maudy.
Bunda Aurora menyikut lengan sang suaminya dan berbisik "Apa kau tidak menyadari calon menantu mu sedang melakukan deklarasi perang dengan putra Permana? perkenalkan Aldi sebagaimana mestinya atau aku akan pulang ke Jakarta tanpa mu." ancam Bunda Aurora.
Richard yang diancam pun tanpa tunggu lama langsung melakukannya.
"Al.. " panggil Richard.
"Iya" jawab Aldi yang langsung menoleh ke calon mertuanya itu.
"Kenalkan ini kawan Kiandra, anaknya Yuda permana, kau pasti mengenal Papanya, namanya Sean Permana. Sean, perkenalkan ini Aldi Nugroho calon menantu Om." ucap Richard sambil mencoba tersenyum ramah.
Bunda Aurora yang tidak sanggup menahan senyumannya pun menundukkan kepalanya sambil menutup mulutnya.
Aku akan memberikan mu hadiah Richard.. - ucap Aurora dalam hati.
Semua orang melirik ke arah Richard yang bertingkah aneh.
Bersambung..
Makasih good readers..
Jangan lupa Like dan Love nya ya..
__ADS_1
Thank you..