CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 81 - Apa Harus Hari Ini?


__ADS_3

"Sh.. Kepala ku sakit sekali." Sasa mencoba bangun dan membenarkan duduknya.


"Kenapa aku bisa terbaring disini? Aw... Rasanya sakit sekali." rintih Sasa sambil terus memegang kepalanya.


Suster dan dokter pagi pun tiba untuk berkunjung melakukan morning medical check up.


"Anda sudah siuman Nona?" tanya salah satu suster.


"Hmm.. Kenapa aku bisa disini suster?" tanya Sasa yang sedikit sakit saat mencoba mengingat kejadian terakhir kali yang membuat dirinya bisa sampai di kasur pasien.


"Anda mengalami benturan di kepala Anda kemarin diruangan pasien Sean Permana. Kami akan melakukan medical check up sebentar saja Nona, guna mengetahui apakah ada efek yang serius. Silahkan Dokter.." suster itu pun mempersilahkan sang dokter untuk mulai melakukan medical check up.


Hanya butuh waktu lima menit para medis melakukan medical check up pagi ini.


"Kami permisi dulu Nona, hasil pemeriksaan akan kami infokan ke kerabat terdekat Anda." ucap sang Dokter.


"Ah.. Ya, baiklah, terima kasih Dok." ucap Sasa.


Para pekerja medis pun sedikit demi sedikit pergi dari ruangan Sasa.


Ya Tuhan.. Apa sebegitu teganya kah Sean mendorong ku hingga aku jatuh pingsan dan bahkan melukaiku secara fisik. Sepertinya aku akan berhenti mengejar cintanya. Aku harus segera keluar dari sini. Jangan sampe Tante tahu aku masih disini. Aku harus pulang.


Sasa mencoba menuruni hospital bed, dengan berdiri gontai ia mencoba melangkahkan kakinya, ia mencabut jarum infus yang tertancap di tangan mulus miliknya.


Muka Sasa yang pucat pasi, tubuhnya lemah tak berisi, namun tekadnya untuk pergi jauh lebih menguasai. Sasa dengan sekuat tenaga mengatur nafasnya yang menggebu-gebu.


Kau harus kuat Sa, kau harus kuat. - ucapnya dalam hati.


Saat tangannya meraih gagang pintu ruangan tersebut dengan niat untuk membukanya dan berlari keluar, nampaklah disana Sean yang sudah berdiri di depan pintu kamar inapnya.


"Se.. Sean?" Sasa terkejut Sean bisa berada dibalik pintu kamarnya. Sasa melangkahkan kakinya mundur perlahan untuk menghindar dari Sean, tubuhnya bergetar hebat, seperti ada rasa traumatik bertemu dengan Sean.

__ADS_1


"Please... Jangan mendekat padaku. Aku janji aku akan pergi, jangan sakiti aku lagi Sean, ku mohon. Hiks Hiks." rintih Sasa yang begitu menyakitkan terdengar di telinga Sean. Sasa menutup mukanya dengan lengan tangannya, tubuhnya meringkuk, seperti membuat benteng untuk dirinya sendiri dari Sean.


"Alexa.. Aku.. Aku tidak bermaksud menyakitimu, ku mohon maafkan aku Xa." ucap Sean sambil melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah.


"Stop... Tolong berhenti disana. Ku mohon.." pinta Sasa.


"Alexa.. Aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang menyakitimu lagi, oke? Ku mohon maafkanlah kesalahan ku, aku khilaf Alexa. Maafkan.." ucap Sean sambil mencoba mendekat dan tangannya memanjang ingin meraih dan memeluk Sasa atau Alexa yang saat ini meringkuk dihadapannya.


"Pergi Sean! Cukup!" teriak Sasa.


"Sttt.. Tolonglah.. Biarkan aku memelukmu sejenak. Tolong dengarkan aku Alexa, aku sungguh-sungguh minta maaf sudah menyakiti hati bahkan fisik mu. Aku tidak bermaksud melukai mu. Percayalah." ucap Sean mencoba meyakinkan Sasa untuk sedikit lebih tenang.


"Apa salah ku padamu Sean? Bukan aku yang menginginkan pertunangan dan pernikahan ini, aku hanya ingin membahagiakan kedua orang tua ku, ingin mereka tahu bahwa aku anak yang tahu berterima kasih kepada mereka. Aku tidak bisa menahan hatiku untuk tidak jatuh cinta padamu saat pertama kita bertemu di rumah sakit. Ku mohon.. Menjauh lah.. Aku akan pulang dan mencoba membatalkan semuanya untuk mu. Tolong.. Lepaskan aku. Huhuhu." isak Sasa begitu kencang, tangisannya mampu membuat hati Sean terasa sangat sakit


"Sttt.. Berhenti berucap yang tidak-tidak. Kita akan melanjutkan semuanya bersama, oke?" bujuk Sean.


"Enggak Sean, ku mohon lepaskan aku.. Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Lepaskan Aku Sean." ujar Sasa, ia memukul dada Sean bertubi-tubi, mencoba terlepas dari belenggu yang Sean buat untuknya sambil terus menangis.


Sasa hanya menggelengkan pelan kepalanya, pertanda bahwa ia tidak ingin melanjutkan semuanya.


Apa aku harus kehilangan lagi? Aku sudah kehilangan Kiandra karena kepicikan ku. Sekarang apa aku harus kehilangan Alexa karena kebodohan ku? Tidak! Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi, walaupun aku belum bisa mencintainya tapi aku harus mempertahankannya. - Pikir Sean.


"Baiklah.." Sean mencoba melepas pelukannya dari tubuh Sasa. Sasa pun kaget dan mencoba sedikit mengendurkan pertahanan tubuhnya melihat reaksi Sean.


Tiba-tiba Sean meraih tangan Sasa dan menggenggamnya erat.


"Mari kita menikah hari ini juga, hanya kita dan keluarga. Disini.. Dirumah sakit ini aku akan menikahimu." ujar Sean dengan lantang nya.


"Jangan gila kamu Sean, aku tahu kau hanya menjadikan ku pelampiasan rasa sakit mu dari Kiandra, tapi maaf Sean aku tidak akan mengorbankan hidup dan sisa umur ku untuk ku habiskan bersama pria yang tidak mencintaiku sama sekali." jawab Sasa tak kalah tegasnya.


"Cinta? Aku akan memberikannya padamu jika itu yang kau butuhkan." ucap Sean lagi.

__ADS_1


"Aku bilang aku tidak mau Sean, apa kau tuli?" tanya Sasa.


Sean terkejut mendengar Sasa berteriak padanya sambil melototi dirinya. Sean tidak pernah melihat dan mendengar Sasa seperti ini sebelumnya. Sean hanya tahu Sasa begitu sangat sabar akan sikapnya yang selalu membuat wanita ini rapuh, mungkin saat ini adalah masa dimana Sasa berada dibawah tekanan emosinya.


"Kau yakin tidak ingin melanjutkan semuanya? Baiklah jangan salahkan aku jika nanti keluarga mu akan bangkrut dalam semalam." ancam Sean.


Ucapan Sean berhasil membuat Sasa tersadar akan dampak dari pembatalan pernikahan ini.


Ya Tuhan kenapa aku bisa lupakan hal ini. Kalaupun aku membatalkannya Ayah pasti akan mengurungku di ruang bawah tanah. Astaga, kenapa disaat aku menyerah dia malah datang dengan segala asa. - Batin Sasa.


Sean berbalik arah dan mencoba melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan tersebut.


"Baiklah.. Aku turuti mau mu." ucap Sasa sambil memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya.


Sean masih membelakangi Sasa. Sean tersenyum mendengar ucapan Sasa yang lebih memilih untuk menikah dengannya. Sejujurnya Sean tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Sean hanya mencoba mengambil keuntungan dari ketakutan Sasa terhadap keluarga Alexandria.


Sean berbalik arah dan berhadapan dengan Sasa saat ini.


"Kau yakin? Saat kau mengatakan iya, tidak ada kata mundur, Alexa." ucap Sean.


"Ya, dengan syarat ceraikan aku setelah tiga bulan, selama tiga bulan kau tidak boleh menyentuh dan meminta hak mu sebagai suami padaku, dan jangan pernah mengusik keluarga Alexandria." ucap Sasa.


"Kau sedang bernegosiasi dengan ku Alexa?" tanya Sean. Tangannya mengepal hebat mendengar kata cerai keluar dari mulut indah Sasa.


"Aku tidak meminta yang lain, hanya itu pinta ku." ucap Sasa.


"Baiklah, toh aku juga belum bisa memenuhi keinginanmu untuk dinikahi pria yang mencintaimu. Anggaplah ini kompensasi dariku Alexa. Ayo ikut aku kembali ke kamar inap ku, kedua orang tua ku kebetulan ada disana saat ini. Bersikaplah layaknya kau masih mencintaiku seperti dulu untuk meyakinkan mereka bahwa pernikahan ini ada karena keinginan kita berdua." ujar Sean sambil tersenyum getir.


"Apa harus hari ini?" tanya Sasa.


Bersambung...

__ADS_1


Good nite semua 🖤


__ADS_2