
"Apa aku mengganggu Kak?" Bayu mengintip masuk kepalanya ke dalam kamar Aldi, Aldi yang sedang menyenderkan punggungnya hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Masuklah, tidak perlu begitu formal padaku." balas Aldi.
Pria ini sedang sakit saja wibawanya masih begitu terlihat, kekasihmu memang luar biasa Kiandra, ah sebentar lagi wanita tomboy itu akan jadi Kakak Ipar ku, sungguh lucu."
Bayu duduk di samping tempat tidur Aldi.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Bayu.
"Yah, lumayan aku sungguh tidak sabar ingin melanjutkan aktifitas ku kembali, aku sudah merindukan Indodesia, disini sangat tidak seru." Aldi mulai mencoba mencairkan suasan.
"Indonesia atau kekasih yang Kakak rindukan?" Bayu mulai mencoba memberikan candaan pada Aldi.
"Hahaha, apa Kiandra ku dan Kiandra yang kau sebut adalah orang yang sama?." balas Aldi.
"Benar, dia idaman kampus, apalagi untuk kalangan para senior." jelas Bayu.
"Ya aku tahu itu, apa Dita sudah menyetujui perjodohan itu?" tanya Aldi penasaran.
"Yah, wanita ini sepertinya memang sedikit susah untuk di dekati, terlebih mungkin aku bukan pria yang ia harapkan hadir di dhidupnya." Bayu menghembuskan nafasnya kasar, ingatannya kembali kepada obrolan Dita, Mika dan Kiandra di mobil saat ingin ke pantai membicarakan Indra dan Dita yang saling menunggu.
"Adikku tidak seperti yang kau pikirkan, Bay." ucap Aldi.
__ADS_1
Apa pria ini bisa baca pikiranku?
"Maksudnya?" tanya Bayu pura-pura tidak mengerti apa yang Aldi bicarakan.
"Benarkah kau tidak paham maksudku? tapi aku melihat kau sangat paham arah pembicaraanku, Adik Ipar." sindir Aldi dengan senyuman meledeknya itu, dan melanjutkan ucapannya.
"Bay, Dita memang tidak pernah menjalani hubungan spesial dengan pria manapun, itu yang menyebabkan dirinya sulit untuk di hadapi, bahkan Papih saja sangat memilih kata jika ingin memberikan penjelasan padanya. Kau tahu kenapa Dita tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun? semua bukan karena sekedar menjaga Dita dari orang jahat, tapi menjaganya untuk pria yang akan di jodohkan dengannya dan itu kau, Bayu Adi Wicaksono." Aldi menangkap ekspresi Bayu yang seakan tidak percaya atas apa yang ia dengar.
"Semua terjadi saat Dita berumur lima tahun, saat itu Mamih menjemput Dita di sekolah."
Ingatan Aldi kembali ke ingatan saat dirinya melihat Dita di umur lima tahun.
"Saat itu Mamih dan aku sudah di depan gerbang sekolah Dita untuk menjemput Dita pulang sekolah, tapi ternyata Dita tidak ada di area sekitar sekolah, mamih sudah mulai panik, tiba-tiba ada anak yang satu kelas dengan Dita mengatakan bahwa Dita sedang membeli es krim di ruko seberang. Mamih yang mendengarnya syok dan mengedarkan penglihatannya ke seluruh penjuru ruko di seberang jalan besar, dan akhirnya menemukan Dita sedang memakan es krim dengan beberapa anak yang di kawali salah satu wali murid."
"Saat pandangan Mamih dan Dita bertemu, Dita melambaikan tangannya dengan senyuman khas dirinya, ia mencoba menetapkan pandangannya ke arah Mamih yang terhalang mobil silih berganti saat itu. Hanya dalam sekejap saja Dita sudah tidak lagi ada di tempat itu, seketika itu juga suara tabrakan beruntun terdengar sangat mengerikan. Mamih dan aku yang melihatnya berharap bukan Dita yang menjadi korbannya. Kami berlari ke arah kerumunan banyak orang. dan melihat Dita dan seorang wanita cantik sudah bersimpuh darah dan tak sadarkan diri, aku dan Mamih membawanya ke RS terdekat." Aldi merasa matanya mulai panas menahan tangisnya.
"Kau tahu Bay, saat itu Dita nyaris tak terselamatkan, ia kekurangan banyak darah, dan wanita yang kami ikut bawa ke RS dan ikut dalam kecelakaan tersebut sudah siuman, dan menghampiri Dita dalam keadaan yang masih memprihatinkan, menangis begitu haru. Kami semua yang melihatnya bingung bagaimana bisa wanita yang tidak mengenal Dita bisa menangisi adikku yang terbaring lemah saat itu. setelah tayangan CCTV itu diperlihatkan padaku dan Papih, tidak ada satu orang pun dari kami semua yang tidak menangis melihat tayangan itu." Aldi menengadahkan kepalanya menahan air mata agar tidak lolos. Suaranya mulai berat karena menahan gemuruh di hatinya.
"Dita memanggil nama wanita itu memperingatinya untuk menyingkir karena ada pengendara mobil dari belakang wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dalam keadaan mabuk, Dita reflek berlari dan mendorong wanita itu. Alhasil Dita dan wanita itu tertabrak dengan kencang, wanita itu mengalami luka dalam dan banyak luka kecil tapi tidak mengalami pendarahan seperti Dita." Aldi lagi-lagi mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya agar tidak menangis.
"Wanita itu masih menangisi Dita sejak kami melihat CCTV itu hingga selesai melihatnya, wanita itu masih juga menangisi Dita yang tak kunjung bangun dari tidurnya, Mamih mengajak duduk wanita tersebut dan menanyakan semua yang Mamih pikirkan, dan ternyata Dita dan wanita itu sudah sering bertemu di depan gerbang sekolah setiap ia hendak menjemput putranya pulang sekolah. Kau tahu siapa wanita itu?" tanya Aldi tanpa melihat Bayu.
"Dia adalah Nyonya besar Wicaksono, Maharani Wicaksono, ibu kandungmu." ucap Aldi.
__ADS_1
Deg!
Jantung Bayu seperti berhenti berdetak, nafasnya tercekat, air matanya lolos begitu saja setiap ada yang membahas sang Mama yang sudah tiada. Bayu tidak percaya karena sang Mama meninggal karena sakit bukan kecelakaan.
"Kau pasti mengira Mama mu meninggal karena sakit bukan? Dita dan Nyonya Maharani di rawat di salah satu RS DW Medical Group milik Ayahnya Kiandra. Saat stok darah AB kosong Nyonya Maharani mendonorkan darahnya, dokter sudah bilang bahwa resikonya terlalu besar jika ia sampai mendonorkan darahnya. Wanita itu hanya tersenyum dan mengucapkan bahwa masa depan Dita masih panjang, jadi lebih baik di donorkan untuk Dita. Beliau hanya memohon sambil berlutut ke Mamih, jika waktunya tiba dan sudah dipanggil Tuhan ia meminta kepada keluarga Nugroho agar menjaga dan menjodohkan Dita denganmu ketika dewasa nanti, agar ketika raganya sudah mati tapi jiwanya hidup di dalam diri Dita karena darahnya mengair di dalam diri Dita, agar selalu bisa berdekatan dengan putranya." Aldi mengepalkan tangannya menahan kesedihannya.
Bayu ternyata sudah tertunduk menangis mendengar bahwa selama ini ada kenyataan yang baru ia tahu dan lagi Dita ternyata adalah wanita pilihan Mamanya alih-alih sang Papa.
Aldi hanya mengelus pelan pundak Bayu yang sedang menahan suara tangisannya agar tidak lepas kontrol. Tanpa mereka sadari Mamih Lita mendengarkan pembicaraan itu dari balik pintu kamar Aldi ikut menangisi kejadian tersebut yang merenggut wanita hebat dan nyaris kehilangan putrinya, tangannya memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak, karena tak sanggup ia pun tidak jadi memasuki kamar anaknya dan beralih ke kamarnya.
Aku sudah menjalankan apa yang kau titipkan, Maharani. Semoga kau tenang disana.
🍂
Bersambung..
Thank you semua Good Readers and Authors yang menyempatkan diri untuk mengikuti perjalan kisah cinta mereka, jujur aku sedikit menangis saat menulis part ini, membayangkan bagaimana rasanya seorang ibu melihat anaknya antara hidup dan mati.
Aku tidak bosan-bosan untuk minta support kalian semua untuk vote, vote, vote, vote and vote. Give us ur boom like, comment, 5 rate karena itu gratis tapi sangat berarti bagi penulis.
See you on next chapter everyone, big love from the distance, Good readers.
__ADS_1