CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 71 - Maudy Darwin


__ADS_3

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 WIB, semua kembali ke kamar hotel masing-masing. Reyhan duduk di ruang tengah suite room milik keluarga Darwin sambil memijat kaki sang istri yang mulai membengkak karena kehamilannya.


"Apa masih sakit?" tanya Reyhan.


"Lebih baik Daddy, terima kasih." ucap Maudy dengan senyuman manis miliknya.


"Ah.. Betapa senangnya aku dengan panggilan baru ku, sangat manis terdengar." ucap Reyhan.


"Hiduplah dengan baik didalam perut ibumu, Son. Daddy dan Mommy akan menunggu mu terlahir ke dunia." ucap Reyhan sambil mengelus perut istrinya.


Maudy hanya mengelus manja rambut suaminya yanh sedang bersikap manis itu.


"Kau pasti jadi Daddy yang hebat untuk anak mu dan untuk ku." ucap Maudy.


"Itu pasti Sayang.. Terima kasih atas kado terindahnya." ucap Reyhan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Oh tidak.. Jangan menggoda ku dengan tatapan nakal mu itu Reyhan.. " ucap Maudy.


"Ya aku tahu aku sangat tampan dan mempesona.. " ucap nya dengan sangat bangga.


"Ish kau ini.." pukul Maudy pelan ke pundak Reyhan.


"Reyhan.. Maudy.. Ayo makan malam dulu sebelum kita pulang ke Jakarta." ucap Aurora.


"Iya Bunda.." jawab Maudy.


Mereka pun makan bersama dengan penuh khidmat. Maudy mulai makan makanannya dengan sangat lahap hingga membuat semua yang sedang makan terpana melihatnya. Maudy tidak pernah makan sebanyak itu mengingat dirinya selalu menjaga pola makan dan apa yang ia makan.


"Pelan-pelan Sayang.. Tidak ada yang merebut makananmu, kau lucu sekali." ucap Reyhan yang gemas melihat cara makan Maudy saat ini.


"Entahlah aku merasa sangat lapar sekali." ucap Maudy.


"Iya sudah makan dan habiskan punya ku jika jau masih merasa lapar Sayang." Reyhan memberikan makanannya untuk istri dan jabang bayi.


"Hmm.. tidak perlu.. kau habiskan saja sendiri." ucap Maudy dengan mulut dipenuhi oleh makanan.


"Baiklah jika itu mau mu." kata Reyhan.


Bunda dan ayah hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah kedua anaknya saat ini.

__ADS_1


"Ah.. cucu Opa pasti sangat gembul nantinya, pasti sangat menggemaskan, aku tidak sabar bertemu debgan cucu ku nanti." ucap Richard yang berkhayal sedang bermain dengan anak kecil.


"Ayah.. Bunda.. Apa jika anak yang yang aku kandung saat ini adalah seorang perempuan, apa kalian akan masih menganggapnya cucu? karena yang aku tahu kalian sangat menginginkan cucu laki-laki, aku khawatir aku mengecewakan harapan kalian." ucao Maudy yang tertunduk lesu membayangkan jika anaknya tidak dianggap oleh keluarga Reyhan.


"Hey.. Kenapa kau berbicara seperti itu Sayang? Perempuan atau laki-laki dia tetap darah daging ku, aku tidak perduli Maudy, yang terpenting dia sehat dan tidak kurang suatu apapun. Jangan bicara seperti itu lagi ya, aku tidak suka mendengarnya." ucap Reyhan.


Tiba-tiba saja Maudy menangis.


"Kenapa kau membentak ku Rey.. Apa kau tidak mencintaiku lagi? huhu.. "


Entah mengapa Maudy saat itu sangat ingin menangis karena ucapan Reyhan.


Astaga aku tidak bermaksud memarahinya.


"Sayang.. aku tidak bermaksud membentak mu, aku hanya.. " belum juga Reyhan selesai bicara, Maudy sudah berdiri.


"Aku sudah kenyang Bunda.. aku akan kembali ke kamar, terima kasih sudah mengizinkan ku makan malam." Maudy pamit dan pergi ke kamarnya dan menutup pintunya dengan kencang.


Brak! - suara pintu kamar yang Maudy banting.


"Bunda.. aku tidak bermaksud membentaknya." ucap Reyhan frustasi karena Maudy marah padanya.


"Iya Bunda, sejak Maudy hamil empat bulan emosinya tidak stabil, tiba-tiba nangis karena ucapan ku atau jika aku berlemah lembut padanya maksud ku jika aku berkata dengan nada datar. Terjadang tiba-tiba saja marah-marah karena hal yang tidak jelas." jelas Reyhan.


"Ibu hamil memang seperti itu Reyhan.. Bersabar lah demi anak mu. Kau tidak boleh membentak balik istri mu. Kau tahu betapa sulitnya hidup seorang wanita yang sedang hamil, dimana ia tidak lagi memikirkan nyawa dan tubuhnya, namun memikirkan juga bayi yang hidup didalam perutnya. Maka bersabarlah.." ucap Aurora.


"Kau masih beruntung Rey, Ayah dulu tidak boleh berdekatan dengan Bunda mu saat mengandung mu. Ayah harus menjaga jarak jika ingin menemui Bunda mu. Kau tahu bukan rasanya seperti apa, dan lagi Bunda mu sangat sexy saat hamil membuat ku selalu dimabuk kepayang tiap hari. Aw.. " pekik Richard karena Aurora menginjak kakinya kencang.


"Kau sudah gila berbicara seperti itu didepan anak mu hah, memalukan!" ucap Aurora sambil melototi Richard.


"Reyhan kan sudah besar, aku hanya berbicara padanya sebagai seorang pria dewasa." ucap Richard tak mau kalah.


"Anak ku pria dewasa dan kau pria tua, jangan lupakan itu." ucap Aurora.


"Kau lihat Rey betapa galaknya Bunda mu, tapi aku menyukai wajahnya saat marah sangat sexy" bisik-bisik Richard dari jauh yang tentu jelas terdengar oleh Aurora.


Tiba-tiba saja suara teriakan Maudy mengagetkan mereka semua yang sedang makan malam di ruang makan.


"Arghhhhh... " Maudy berteriak saat melihat sosok seorang pria tua yang selalu muncul akhir-akhir ini didekatnya jika Reyhan tidak sedang bersamanya.

__ADS_1


Ya Tuhan aku lupa - Batin Reyhan.


Tanpa banyak bicara Reyhan bergegas lari ke kamar dan betapa kagetnya ia sesampainya di kamar melihat Maudy sudah dalam keadaan pingsan, tubuhnya meringkuk ketakutan dikasur dan dibanjiri keringat dingin di tubuhnya.


"Sayang... " teriak Reyhan.


Aurora dan Richard baru tiba di kamar pun kaget melihat kejadian ini.


"Bawa dia keruang tengah Rey.. " pinta Bunda Aurora.


Reyhan pun menggendong sang istri dan menududukannya di sofa ruang tengah dan terus mengelus tangan Maudy.


"Rey... Jelaskan pada kami, sejak kapan Maudy seperti ini?" tanya Aurora.


Reyhan pun akhirnya dengan berat hati menceritakannya ke Aurora dan Richard.


"Sejak hamil tiga bulan Bunda, Maudy selalu terbangun ditengah malam, berteriak, dan tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin seperti ini, tapi anehnya itu tidak akan terjadi jika aku sedang berada didekatnya, dan tidur memeluknya. Maudy bilang dia melihat pria tua selalu mencoba mendekatinya didalam mimpi, seperti ingin berbicara sesuatu padanya.


"Ya Tuhan.. " Aurora terduduk lemas mendengar ucapan Reyhan.


Richard mencoba menopang tubuh sang istri yang terduduk lemah.


"Apa kau sudah membawanya ke dokter Rey?" tanya sang bunda.


Reyhan hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan sang bunda.


"Maudy yang meminta untuk tidak membawanya ke dokter Bunda, ku mohon jangan memaksakannya, aku tidak sanggup melihatnha bersedih. Jika bersama ku bisa membuatnya lebih nyaman aku tidak masalah membawanya atau bersamanya setiap waktu, asal dia dan anak ku bisa hidup dengan tenang Bund." Reyhan memohon dengan penuh harap.


"Baiklah.. tapi Bunda mohon pastikan keadaanya tidak semakin memburuk Rey.." ucap sang bunda.


"Iya Bunda.." balas Reyhan.


Ya Tuhan ada apa lagi dengan Maudy kali ini, semoga tidak ada pertanda buruk bagi keduanya.


Bersambung..


Hayo.. adakah diantara kalian yang memiliki sixth sense seperti Maudy?


terima kasih sudah mengikuti kisah ini..

__ADS_1


Bye.


__ADS_2