
Sesampainya Dita dan Bayu di kediaman Nugroho, Dita dikejutkan oleh seisi rumah yang sudah di dekor sedemikian rupa, padahal di awal Dita hanya ingin kumpul keluarga inti saja namun tidak menyangka akan dibuat semegah itu. Dita dan Bayu melihat sekilas hasil dekorasi EO tersebut.
"Hmm, aku hanya tau kau menyukai warna soft pink dan hitam, apa kau menyukainya?" tanya Bayu meragu.
"Hmm" Dita hanya menjawab singkat dan mengangguk, dia sangat speachless melihat Bayu benar-benar mengabulkan permintaannya.
"Apa ini semua tanpa campur tangan Om Wicaksono?? kau benar-benar menggunakan semua uangmu untuk ini?" tanya Anindita.
"Apapun untukmu, Anindita. Aku hanya menikah sekali dalam hidupku, sudah sepatutnya aku mampu membahagiakanmu." ucap Bayu sambil tersenyum.
"Terima kasih, Bay." balas Dita dengan senyuman indahnya tentunya.
"Hanya say thanks? kau tidak mau memberiku hadiah ciuman?" ledek Bayu.
"Ish, kau ini. Kalau ada yang lihat bagaimana, aku malu." ucap Dita yang pipinya merona.
"Ya sudah aku saja yang menciummu." ucap Bayu.
Cup..
Mendaratlah itu ciuman di kening Anindita.
"Ehem..." tiba-tiba Mamih Lita muncul.
"Ma, Mamih..." Dita tertunduk malu, Bayu masih menggenggam tangannya.
"Kau sambut lah calon Papa dan Ibu baru mu, mereka sudah tiba dan ada diruang tengah, setelah itu kau bersiaplah karena hari sudah semakin sore, itu juga untukmu Bayu, bersiaplah dan jangan banyak terlalu bergerak, Mamih enggak mau terjadi sesuatu padamu selama acara." ucap sang Mamih.
Entah kenapa hati Bayu terasa menghangat, lama tak ada sesosok ibu yang mengkhawatirkannya, membuat hatinya membeku. Sekarang hatinya sudah menghangat kembali. Tak terasa air matanya lolos dari pelupuk mata.
"Hey kenapa kau menangis?" tanya Lita.
__ADS_1
Dita hanya melihat dan merasa ada kesedihan yang mendalam pada sang calon suami. Dita yang belum bisa mengingat kejadian masa kecilnya itu masih bingung kenapa Bayu bisa sesedih itu hari ini.
Pasti anak ini merindukan Maharani, aku pun merindukan wanita itu, tapi Tuhan lebih menginginkannya. Aku yakin kau sudah tenang melihat anakmu akan menikahi wanita pilihanmu, Maharani. Terima kasih. - Lita.
***
Setelah menyapa sang calon mertua, Dita masuk ke kamarnya untuk bersiap dan berhias diri. Sedangkan Bayu di kamar tamu lantai satu. Dita takjub dengan dekorasi simple kamarnya. Persis seperti pernikahan impiannya, menikah di Jepang, bertemakan pink dan hitam, tidak mencolok dan hanya dihadiri keluarga terdekat, bahkan Dita belum tahu jika Bayu membuat pernikahan ini menjadi private wedding party, tentu wartawan yang mengincar berita keluarga Wicaksono akan menyerbunya jika dibuat terbuka untuk umum. Bayu hanya ingin acara pernikahannya berlangsung khidmat.
.
Ya Tuhan dalam mode tidur saja dia mampu melakukan ini, aku tidak menyangka si mesum ini bisa melakukannya. Sungguh di luar ekspetasiku.
"Silahkan mandi terlebih dahulu Nyonya, setelah mandi kami akan mendandani Anda." ucap salah satu EO tersebut. EO ini masih dalam satu naungan dengan kawan Mamih yaitu Tante Maryy. EO ini adalah rekomendasi dari Mamih ke Bayu.
Tiga jam sudah Dita bersiap diri, sejujurnya Dita saat ini sangatlah gugup, ia akan menjadi wanita seutuhnya, Nyonya Muda Wicaksono, dan bahkan Dita sangat gugup membayangkan malam pertamanya akan seperti apa nanti.
Apa Bayu akan langsung memintanya? Ya Tuhan aku harus apa dong..
Tamu pun sudah mulai berdatangan, Bayu mencoba membuang rasa gugupnya akan hari ini, ditambah tubuhnya masih juga belum sepenuhnya pulih.
Bayu yang sudah berdiri menunggu sang pujaan hati benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, Dita sungguh menawan dan cantik, membuat dirinya tak mampu mengedipkan matanya.
Dia benar-benar wanita ku yang sangat indah. Aku bersyukur menemukanmu yang hadir dari sejuta puing masa laluku. Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, Anindita. - Ucap Bayu dalam hatinya.
Dita yang melihat sosok Bayu berdiri menatapnya dengan gagah berani membuat dirinya tersipu malu
Kiandra dan Mika yang melihat Dita begitu anggunnya merasa sedih dan haru, sedih karena Dita tidak mungkin akan sebebas dulu lagi, dan haru karena akhirnya Dita mendapatkan pria yang baik seperti Bayu.
Ritual mengucap janji antara mereka berdua pun sedang berlangsung, Mamih Lita yang melihat sang putrinya sudah sah menjadi istri orang lain pun menangis, ia tidak menyangka anak-anaknya akan menikah secepat ini. Lita merasa sedikit ruang kosong di hatinya, namun semua ini sudah garis takdir yang harus di lalui. Adam mencoba menenangkan sang istri.
"Sudah jangan menangis, nanti kita buat lagi supaya kau tidak kesepian." ledek Adam.
"Ish kau ini, tidak lihat kah aku sedang terharu?" ucap Lita pelan namun terdengar galak di telinga Adam.
__ADS_1
"Ssst, jangan marah-marah, apa kau ingin aku juga menciummu seperti Bayu mencium putri kita saat ini? arghh aku merasa baru kemarin kita yang berdiri di sana, sekarang sudah duduk disini." ucap Adam.
"Dasar tua bangka mesum!" Lita mencubit perut Adam.
"Aw.., kau ini tidak disini, tidak di kamar senang sekali mencubitku, tapi aku suka." balas Adam dengan senyumannya.
"Honey, saat Aldi sudah menikah nanti, aku ingin kita mengulang kembali bulan madu kita ya, please." sambung Adam.
"Mesum!! diam dan perhatikan anakmu, atau aku akan menyuruhmu tidur diruang tamu." ucap Mamih Lita sambil merapatkan giginya, untuk menyamarkan amarahnya.
"Huft, kau tidak seru!" balas Adam.
Di lain sisi Adi Wicaksono sang Papa terharu melihat keberhasilannya menikahkan Bayu dan Dita seperti pesan terakhir Maharani sebelum kepergiannya.
Memang hubungan Adi dan Bayu sudah lama merenggang karena pernikahannya dengan wanita yang saat ini berada disisinya, Hanum. Tanpa Bayu tahu, Hanum sebenarnya adalah wanita pilihan Maharani sendiri untuk sang papa, agar Adi menikahkannya. Hanum adalah wanita yang Maharani kenal saat kuliah di Korea, dan ternyata Hanum adalah teman semasa Adi saat SMA.
Maharani tahu betul peringai Hanum, wanita yang penuh dengan kesabaran, lemah lembut, dan penyayang. Maharani memilihnya karena percaya Hanum mampu memberikan kasih sayang pada putra satu-satunya yang ia tinggalkan, karena banyaknya kesalah pahaman yang terjadi antara Bayu dan sang Papa membuat posisi Hanum terlihat sangat menyedihkan.
Maharani, maafkan aku yang belum mampu meluluhkan hati anakmu, aku akan terus berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuk putramu, walau penolakan lah yang aku dapatkan. - ucap Hanum dalam hatinya.
Hanum tak terasa air matanya membanjiri pipinya.
"Jangan menangis, suatu hari anak itu akan sadar dan mampu menerimamu sebagai ibu sambungnya, aku yakin itu, bersabarlah sedikit lagi ya." Adi mencoba menenangkan Hanum yang sudah mulai goyah akan kepercayaan dirinya yang mampu mendapatkan hati putranya itu.
"Iya" jawabnya singkat.
Terima kasih Maharani atas kemurahan hatimu padaku. Semoga kau lebih tenang sekarang. - Hanum.
🌼
Bersambung...
Terima kasih yang sudah datang ke acara pernikahan Bayu dan Dita wkwkwk.
Tetap semangat di kala pandemi, tetap sehat ya semuanya.
Jangan lupa support aku dengan like cerita ini, like setiap chapternya, karena like itu gratis namun berarti untuk penulis, srmakin banyak kalia like semakin aku semangat untuk crazy up.
Jangan lupa mampir ke "My Addiction" ya.
__ADS_1
See you on next chapter Good Readers, Love you.
Bye bye... 🖤