CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 52 - Pasangan Normal


__ADS_3

"Kau yakin ingin melanjutkan pernikahan kita malam ini? aku takut kau terlalu lelah nanti." keluh Dita.


"Kau sedang mengkhawatirkan ku Nyonya Wicaksono?" ledek Bayu.


Jelas-jelas kau yang tidak ingin pernikahan ini diundur tapi berpura-pura seperti aku yang memaksa, kau memang wanita yang cerdik.


"Bukankah kau yang meminta ku untuk berpura-pura iba padamu?" Dita melempar kembali kata-kata yang Bayu ucapkan padanya.


"Hahaha. Ya, berpura-puralah sampai kau lupa kalau kau sedang berpura-pura." Bayu menatap Dita lekat-lekat.


Bayu menggenggam tangan Dita lalu menciumnya seraya berkata "Terima kasih sudah memberikan ku kesempatan untuk menghabiskan sisa hidup ku bersamamu, persetan dengan perjanjian itu, sampai kapan pun kau akan tetap selalu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku, Anindita. Bertemu dengan mu saat itu menyadarkan aku bahwa ada wanita yang benar-benar melihat ku sebagai laki-laki biasa, tidak tertarik dengan keluargaku, dan juga kekayaan ayah ku. Aku mencintaimu seperti malam mendamba bulan, ombak mendamba samudera, romeo mendamba sang juliet. Aku tahu ini terlambat tapi aku hanya ingin kau bisa mempunyai kenangan layaknya pasangan normal dengan ku. Aku tidak akan memaksamu mencintai ku cukup kau nikmati saja cinta ini untukmu, jadilah wanita ku satu-satunya, Anindita Nugroho will you marry me?"



Dita tak mampu berkata-kata, matanya sudah berkaca-kaca mendengar semua ucapan yang Bayu lontarkan untuknya. Dita tidak menyangka bahwa Bayu juga mencintainya, ia tidak pernah mengharapkan hal itu mengingat semua terjadi di antara mereka berdua hanyalah sekedar simbiosis mutualisme, bukan berasaskan cinta dan kasih sayang. Namun rencana Tuhan lebih indah. Benar yang orang bilang, semakin kau mengikhlaskan sesuatu maka Tuhan akan membalasnya dengan yang lebih baik.


Dita hanya mengangguk mengiyakan ajakan Bayu untuk menikah.


Bayu sungguh terkejut melihat jawaban dari Dita atas ungkapannya, itu artinya Dita juga mencintainya. Bayu menangis dan langsung mencium mesra bibir Dita dengan tubuhnya yang masih gontai. Tembok kamar VVIP ini menjadi saksi bisu cinta mereka.


"Terima kasih Honey, terima kasih." Bayu menciumi kening Dita bertubi-tubi.


"Ayo kita pulang dan melanjutkan semuanya, semua orang harus tahu siapa Nyonya Wicaksono ku satu-satunya sekarang." ucap Bayu yang membuat Dita tersipu.


"Cih, Gombal!" ucap Dita dambil memukul dada Bayu.


"Ah, kenapa pukulan mu sekarang tidak terasa sakit ya, lebih seperti pukulan manja." ucap Bayu.


"Apaan deh, belajar modus sama siapa kamu?" tanya Dita.


"Kamu? ahhh mendengarnya membuat ku menggila, Anindita." ucap Bayu di barengi dengan ekspresi lebay dirinya. Mereka berdua pun terkekeh geli atas tingkah mereka sendiri.


***


"Kenapa kau menyiapkan gaun untukku, Sayang?" tanya Kiandra.


"Dita dan Bayu akan menikah malam ini, aku yang menyiapkannya untukmu, pakailah." ucap Aldi.


"Secepat itu? bukankah.." belum selesai ucapannya, Aldi sudah memotongnya.


"Biarkan itu jadi urusan mereka, kau cukup memikirkan ku dan pernikahan kita nanti. Seharusnya aku bisa menikahi mu secepatnya, tapi kebahagiaan Anindita juga adalah kebahagiaan ku, ku harap kau memakluminya Kiandra." tangan Aldi tak henti-hentinya mengelus pipi sang kekasih.


"Tidak apa, sekarang atau pun nanti toh aku hanya bisa menjadi Nyonya muda Nugroho bukan?" ledek Kiandra.


"Ah, aku bersyukur sekali memiliki mu, Kau memang wanita terbaik setelah Mamih dan Dita." Aldi mencubit hidung Kiandra.

__ADS_1


Satu jam sudah Kiandra merias diri untuk menghadiri privat wedding party sang adik tersayang.



"Kau sangat cantik, Sayang." ledek Aldi. Kiandra yang diperlakukan seperti itu hanya tersipu malu.


Seketika cincin indah sudah tersemat di jari manisnya.


"Aku membelinya saat aku ke New York dalam perjalanan bisnis, cincin ini mengingatkan ku padamu, Kiandra. Anggaplah ini deklarasi ikatan serius dariku untuk kita berdua, terima kasih karena sudah mencintaiku bahkan setelah aku melukaimu dulu." ucap Aldi.


Aku janji setelah ini tidak akan ada lagi yang menghalangi niat kita berdua. Bersabarlah sedikit lagi sayang.


***


Mika mencoba mengikat tali belakang gaun miliknya yang di belikan oleh Mike. Melihat Mika kesusahan Mike dengan begitu peka membantu mengikatkan tali tersebut.


"Sudah. Lain kali minta lah tolong jika kau tidak bisa melakukanya sendiri." cibir Mike.


"Aku bisa melakukannya tapi kau mengacaukannya." ucap Mika.


"Baiklah, biar ku bantu melepaskannya lagi, dan kau bisa memasangkannya kembali dengan tangan kekarmu itu." cibir balik Mike.


Mika menyingkirkan tubuhnya saat tangan Mike ingin meraih gaun miliknya. Mika hanya nyengir kuda ke Mike.


"Hehe" ucap Mika.


Lagi-lagi Mike mencium pipi Mika untuk kesekian kalinya.


"Kau!! berhenti menciumiku lagi dan lagi, atau aku akan menguncir mulut rombengmu itu."




"Benarkah? uhhh aku takut." Mike berpura-pura menunjukkan ekspresi ketakutannya.


"Tapi bohong!" lanjut Mike sambil tersenyum.


Hah? apa aku tidak salah lihat, sejak kapan dia tahu caranya tersenyum?


"Mike?" panggil Mika dengan penuh tanda tanya di mukanya.


"Hmm." jawab Mike asal.


"Apa kau tadi tersenyum? kenapa aku merasa hawa disini jadi menyeramkan ya setelah kau tersenyum, hihhhh" ledek Mika menampilkan muka takutnya untuk membalas Mike.

__ADS_1


Mika bersidekap dan mengelus lengannya seperti orang sedang merinding, dan berlalu meninggalkan Mike setelah mengambil tas miliknya.


"Mika!!!!" teriak Mike.


Mika lari terbirit-birit keluar dari kamar hotel tersebut setelah mendengar Mike berteriak memanggil namanya.


"Huft, aman. Hahaha, rasakan pembalasan ku Mike, mau menang dariku? hah, mimpi!" ucap Mika yang terengah-engah setelah berlari.


"Mika?" panggil Kiandra dari balik lift hotel.


"Astaga, untung jantungku tidak loncat keluar. Kenapa kau mengagetkan ku?" tanya Mika.


"Mengagetkan? aku hanya memanggilmu pelan, kenapa nafasmu seperti habis lari marathon? dimana Mike?" tanya Kiandra sambil pandangannya beredar mencari sosok Mike.


"Kau sendiri dimana kanebo jelek mu itu? biasanya kalian seperti biji kemana-mana selalu berdua, bahkan aku disini terlihat seperti orang ketiga, menyebalkan." cibir Mika.


"Siapa yang kau maksud dengan seperti biji?" tiba-tiba Aldi muncul dari lift berikutnya, bersama Mike. Mike yang menatapnya dengan tatapan membunuh ke Mika membuat Mika bergidik ngeri.


"Biji matamu!" ucap Mika langsung berpindah dan membuang tatapannya dari Mike dan Aldi.


"Kau sudah lama menunggu? maafkan aku tiba-tiba kolega ku menelepon barusan." ucap Aldi.


"Cih kolega atau kolega?" cibir Mika.


"Mika...." ucap Aldi kesal sambil menoleh ke arah Mika perlahan namun menyeramkan.


"Baiklah, baiklah, aku akan diam. Ingin rasanya cepat-cepat sampai, pasti banyak pria tampan dan mapan di sana, ah surga dunia ku, tunggu aku." ucap Mika.


"Cih, Norak!" sarkas Mike.


"Tidak apa yang penting siapa tahu aku akan menemukan jodoh ku disana. Ayo! bukankah itu mobil kalian?" tanya Mika dengan senyum sumringahnya, namun ada tatapan mata lainnya yang sedang terbakar cemburu mendengar ucapan Mika.


🌼


Bersambung...


Terima kasih ya semuanya, support terbaik nya.


Ayo dong boom like gratisnya untukku, dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar, karena aku sangat menyukai saat membaca komentar-komentar kalian setelah baca setiap chapternya.


Ayo yang sudah baca tapi belum like bisa scroll up lagi untuk llike chapter sebelumnya. Jangan lupa mampir ke "My Addiction".


Support mu berarti loh buat aku sebagai penulis.


See you All 🖤

__ADS_1


Bye bye


__ADS_2