
Kencan indah Bayu dengan Dita gagal karena Mamih menghubungi Bayu agar pergi ke salah satu butik gaun terkenal milik sahabat Mamihnya di pusat kota Tokyo, Marry & Co.
Sahabat Lita adalah percampuran antara warga negara Jepang dan Indonesia, dan saat ini ia sudah berpindah menjadi warga negara Jepang, tokonya ini sangat terkenal sekali dan disukai kalangan muda mudi high class Jepang.
"Hay Sayang" sapa Mamih Lita ke Dita.
"Mamih sedang apa disini?" tanya Dita.
"Ishh kau ini, Mamih tidak mau kalian menikah dadakan dengan pakaian seadanya. Nikah itu kan sekali seumur hidup, persiapkan betul-betul." ucap Lita sambil memilah milih gaun dan tuxedo untuk Bayu dan Dita.
Benarkah ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir untukku?
Tanpa waktu lama, mereka berdua mencoba pakaian mereka masing-masing, Bayu sudah selesai memakai tuxedonya, namu Dita masih juga belum keluar dari balik tirai fitting room tersebut.
Wanita memang selalu saja rela menghabiskan waktu hanya untuk berdandan, membosankan sekali.
"Maaf ya Nak, sabarlah sebentar, ini semua juga untuk kalian." Lita menepuk pundak Bayu.
"Tidak apa Mih, aku akan menunggunya." ucap Bayu.
Bayu terus saja memainkan ponselnya menghilangkan kejenuhan, hingga akhirnya pandangannya terpaku melihat tirai fitting room terbuka, pelan namun pasti muncul lah seorang wanita cantik dengan gaun putihnya yang begitu terlihat mempesona, sexy, dan anggun. Begitulah yang ada dipikiran Bayu saat ini.
Anindita ku sungguh mempesona.
Bayu yang menatapnya tajam tidak bergerak sedikit pun dari duduknya. Kali ini Bayu terpana akan pancaran pesona Dita dengan gaun pernikahan mereka nanti.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu? seperti ingin memakan ku saja, jika kau tidak suka aku akan ganti dengan yang lain." ucap Dita kesal.
"Tidak perlu, tidak terlalu jelek, jadi tak masalah." ucap nya.
Sialan si brengsek ini bilang tidak terlalu jelek, jadi maksudnya aku tidak terlihat cantik? cih.. awas kau.
Mamih Lita yang baru saja muncul speachless melihat anaknya yang begitu cantik dengan gaun pernikahannya nanti.
"Koleksimu memang terbaik, Marry." ucap Lita.
"Thank you, Lita." balas Marry.
"Ya ampun, apa benar ini anak Mamih? tak terasa dua hari lagi anak Mamih menjadi wanita yang paling bahagia." ucap sang Mamih yang memegang bahu Dita.
"Bayu, sini Nak. Berdiri di sini, Mamih akan mengirim foto kalian untuk Papih." ucap Lita sambil menunjuk ke arah Dita.
"Mih, nanti aja ya, Dita malu." ucap Dita yang risih dengan tatapan Bayu yang sulit di tebak arti tatapannya itu.
Bayu berjalan ke arah Dita dan mensejajarkan dirinya di samping Dita, tangan kiri merangkul Dita, tangan Kanan dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Tersenyumlah, tunjukkan kepada Papih tampan ku itu bahwa kau bahagia akan hal ini." ucap Bayu pelan namun masih terdengar di telinga Dita.
__ADS_1
"Urus saja muka aneh mu itu, tidak perlu mengatur ku harus seperti apa." Dita geram dan dengan sengaja menginjak pelan kaki Bayu.
"Aw!" Bayu memegang kakinya yang terinjak oleh Dita.
"Ah astaga maafkan aku ya Bay." Dita berpura-pura memohon maaf dan ikut membungkukan badannya seraya berbisik di telinga Bayu "Aku sengaja" ucapnya. Dita tersenyum licik ke Bayu.
"Kalian ini bisa kah sedikit saja bertingkah yang benar, ayo bantu Bayu berdiri." pinta sang Mamih.
"Tidak apa Mih, aku masih bisa berdiri sendiri." ucap Bayu. Mereka mulai memposisikan diri mereka masing-masing sesuai keinginan dan instruksi Mamih Lita.
'Cekrek' Mamih membidik kameranya dengan sangat lihai.
"Good!" ucap Mamih Lita.
"Apa dia yang berasal dari keluarga Wicaksono itu Lita?" tanya Marry.
"Yah benar, dia menantu ku, tampan bukan?" tanya Lita dengan senyum sumringahnya.
"Ya, siapapun yang melihatnya tahu dia memang sangat tampan. Kau beruntung Lita." ucap Marry.
"Ya aku selalu di kelilingi keajaiban Tuhan, aku sangat bersyukur." ucap Lita.
Bayu dan Dita mulai mengganti pakaian mereka kembali.
"Kalian sudah selesai?" ucap Lita.
"Papih menunggu kita di rumah untuk makan." ucap Lita.
"Makan apa Mih?" tanya Dita dengan polosnya.
Ah, karena terlalu di porsir hari ini aku sampai lupa makan siang tadi.
Bayu baru ingat kalau Dita belum makan sama sekali, sedangkan Faisal mengatakan bahwa Dita tidak boleh mengurangi jumlah jam makan setiap harinya.
"Hmm, Mih. Apakah tidak apa jika aku dan Dita naik mobil yang kami pakai tadi? ada sesuatu yang penting yang Bayu harus lakukan." ucap Bayu.
Astaga aku benar-benar sudah lelah, mau kemana lagi sih kita, kepalaku rasanya pusing sekali.
"Baiklah Mamih langsung pulang saja ya, untuk acara pernikahan kalian, Papih sudah memesan tempatnya, kalian jangan lupa langsung pulang ya, Papih ingin menjelaskannya nanti." ucap Lita yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Baik Mih, Bayu janji tidak akan lama." Bayu menutup pintu mobil Lita dan mobil tersebut sudah hilang dari penglihatan Bayu dan Dita.
"Bay, bisakah kita pulang saja, aku sudah sangat lelah Bay." rengek Dita yang menarik lengan baju Bayu.
"Ayo masuk mobil sebelum terlambat." ucap Bayu tanpa memperdulikan rengekan Dita.
Mobil mereka pun sudah keluar dari area butik Marry & Co.
"Kau tunggu di sini jangan kemana-mana, ini perintah kau tak boleh membantahnya."
Tidak butuh waktu lama mobil berhenti di salah satu restorant, Bayu turun berlari terburu-buru masuk ke dalam restorant.
__ADS_1
Mau ketemu siapa si brengsek ini sampai berlari seperti itu. Apa dia tidak tahu aku sudah tidak sanggup lagi menahan sakit perut ini.
Dita menyenderkan kepalanya ke jok mobil. Tak lama Bayu datang sambil terengah-engah.
"Makanlah, kau belum makan siang tadi, sebelum makan kau minumlah dulu obat ini, agar perutmu tidak kaget saat makanan ini masuk ke dalam tubuhmu.
Dita tertegun melihat perilaku Bayu, ternyata Bayu ke dalam untuk membeli makanan dan obat untuk Dita, bukan menemui seseorang.
"Apa kau ingin aku suapi?" ucap Bayu.
Dita hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bayu. Dita memang sudah tidak berdaya, seperti yang dokter Faisal katakan sebelumnya, Dita tidak boleh terlambat untuk makan, apalagi jam makannya berkurang.
Dita meminum obat yang Bayu beli terlebih dahulu, dan kembali menyenderkan kepalanya karena menahan pusing.
"Makanlah, setelah itu kita pulang." ucap Bayu sambil menyuapi Dita makan.
Sesuap, dua suap, tiga suap, hingga lima suapan sudah mendarat di mulut Dita.
"Cukup, aku sudah kenyang." Dita memegang tangan Bayu yang memegang kotak makan tersebut.
"Satu lagi ya, kau baru makan sedikit, makanlah sedikit lagi." rayu Bayu.
Dita menuruti ucapan Bayu, ia memakan suapan yang terakhir. Bayu membereskan kotak makan tersebut dan memanggil kembali supir untuk masuk dan bergegas menuju kediaman Nugroho.
Dita kembali memejamkan matanya sejenak dan bersandar di jok mobil, tak terasa ia malah tertidur setelah mengkonsumsi obat tersebut.
Sesampainya di kediaman Nugroho, Bayu membopong Dita masuk ke dalam rumah dan menidurkannya di atas ranjang milik dita.
Ternyata wanita galak seperti dirinya bisa selemah ini, sungguh diluar dugaan ku.
"Tidurlah dan cepat sembuh, aku mencintaimu Anindita." ucapnya lirih. Bayu mengelus kening Dita dan mengecupnya. Sayangnya Dita sudah terlelap karena obat dan tidak mendengar apa yang Bayu utarakan.
Bayu keluar dari kamar Dita dan bertemu dengan Mamih Lita.
"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Dita?" tanya Mamih.
"Dita hanya istirahat sebentar karena kelelahan Mih, Mamih tidak perlu khawatir, Dita akan baik-baik saja setelah istirahat." ucap Bayu.
"Baiklah, kau juga istirahatlah, nanti malam kita makan malam bersama Papih." ucap Lita.
"Bayu permisi Mih." pamit Bayu dan mulai menuruni tangga menuju kamar tamu.
Maharani, anakmu sungguh luar biasa, aku sangat bersyukur kau memberikan dan menitipkannya sebagai jodoh anak ku. Semoga kau tenang di sana.
Bersambung..
🖤
Thanks my readers tercinta, jangan lupa untuk selalu boom like secara gratis untuk karya ini ya, klik ❤ agar kamu bisa mengikuti perjalanan mereka setiap episode baru muncul.
See you next chapter gaes,
__ADS_1
Love you All.
Bye Bye..