
"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu padamu, tapi satu hal yang mesti kau tahu Kiandra, sampai kapanpun aku tidak akan menikah kecuali denganmu, aku tidak ingin menghabiskan sisa umurku dengan wanita kecuali dirimu, tidak akan memiliki anak kecuali dari rahimmu, jadi bisakah kau memberikanku kesempatan itu, Kiandra?"
Kiandra terdiam, rasanya ingin mengiyakan ajakan Aldi, tapi ia ingat bahwa hari ini ia harus kembali ke rumah ayahnya, dan dijodohkan dengan pria lain. Sebenarnya belum tahu pasti juga dijodohkan atau apa, karena ayahnya hanya bilang untuk mengabulkan satu permintaannya saja, namun insting Kiandra itu adalah sebuah perjodohan.
"A, ayah akan menjodohkanku Al." Kiandra menunduk, entah mengapa Kiandra takut untuk pulang saat ini.
"Biar aku yang berjuang untukmu Sayang, tapi sebelum aku memperjuangkannya bisakah kau beri aku sebuah jawaban atas pertanyaan ku tadi?" Aldi mengelus kepala Kiandra berulang kali.
"Baiklah Al, aku akan berikan kesempatan itu padamu, tapi jika kau menyakitiku lagi aku akan benar-benar pergi dari hidupmu." Kiandra tertunduk malu. Aldi tersenyum bahagia dan terharu, ia tidak menyangka Kiandra benar-benar memberikannya kesempatan itu, Aldi sangat senang.
"Bisakah kau mengeraskan suaramu, Sayang? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas." Aldi mendekatkan telinganya ke bibir Kiandra, sambil tersenyum.
Kiandra yang tahu bahwa ia sedang dijahili pun tidak mau mengulangi ucapannya, ia lebih memilih untuk menggigit manja telinga Aldi, dan berkata lirih "Aku mencintaimu Al."
Aldi terpaku sejenak, tubuhnya berdesir hebat, ia tak menyangka apa yang Kiandra lakukan barusan membuat kelelakiannya terusik dari tidur lelapnya.
Hanya dengan nafas dan gigitan manja ditelinganya saja sudah membuatnya tak karuan, apalagi yang lain nya, begitu kira-kira fikiran Aldi saat ini.
Astaga gadis ini, apa dia tidak tahu betapa berbahayanya sikapnya ini, aku jamin aku tidak akan kuat menahannya lain kali, Kiandra.
Aldi mencium bibir Kiandra dan merasakan ada yang semakin menegang dibawah sana, yah layaknya pria normal pada umumnya.
Ucapan Kiandra yang tertahan di bibirnya terdengar seperti sebuah erangan nikmat di kuping Aldi. Ciuman itu berubah menjadi lebih panas, cukup lama mereka berciuman, namun tak lama Aldi melepasnya, menarik tangan Kiandra untuk memasuki ruangan istirahatnya, ia tidak nyaman melakukannya diruangan itu, Kiandra kaget bukan main, kemudian Aldi melepas jaketnya.
"Kau mau apa Al?" Kiandra mencoba mundur dan kabur, ia takut Aldi akan marah padanya karena sudah menggodanya.
"A, aku hanya bercanda Al, sungguh, aku minta maaf tidak bermaksud menggodamu." Kiandra menyender ke pintu, Aldi menghimpitnya.
Aldi sekuat tenaga tetap menahan kesadarannya agar tidak melewati batas untuk merengkuhnya, karena bagaimanapun mereka baru saja memulainya lagi dari awal, Aldi tidak mau merusaknya.
Aldi menaruh keningnya di pundak Kiandra, wangi Kiandra yang ia selalu rindukan tercium sudah, Aldi tak sadar hidungnya sudah mengendus perlahan leher jenjang Kiandra sambil memejamkan matanya, mengecup nikmat sedikit demi sedikit leher Kiandra.
Kiandra yang diperlakukan seperti itupun terpancing gairah. Sensasi yang baru ia rasakan ini sungguh memabukkannya.
"Ssshhh.... " desahnya pelan karena Aldi tengah membuat kiss mark di lehernya.
"Itu hukuman untukmu karena kau menggodaku seperti tadi, kedepannya aku tidak jamin bisa menahannya, Sayang. Jangan coba menantangku lagi." ujar Aldi.
"Aku mencintaimu, Kiandra Anastasya Darwin." Bisik Aldi dan pergi meninggalkan Kiandra, ia menuju kamar mandi untuk melepaskan hasratnya.
"**** kenapa juniorku mudah sekali terbangun jika dengannya, padahal wanita lain saja lebih parah menggodaku, tapi aku tidak tergugah sama sekali." rutuk Aldi, lalu ia menyalakan shower dan menyegerakan kegiatan melepas kenikmatan itu.
Sepertinya aku akan menyegerakan pernikahanku dengan Kiandra, aku ingin memilikinya seutuhnya, aku bisa gila jika terus menahannya seperti ini, apalagi melihatnya dimiliki oleh orang lain.
Aldi mengguyurkan dirinya dibawah shower, percikan air itu pergi membawa semua hasrat birahi yang sempat menghampiri.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian..
Di lain tempat, Kiandra berjalan kesana kemari bingung harus berbuat apa jika Aldi selesai mandi nanti, kejadian tadi membuat Kiandra canggung.
Tak lama Aldi datang dengan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk menutupi juniornya.
"Argghh.... " Kiandra berteriak dan menutup wajahnya dengan bantal, ia menelan ludahnya saat tidak sengaja melihat tonjolan besar di sekitar paha Aldi.
Astaga besar sekali, sungguh menakutkan.
"Kenapa kau memakai bajumu disini, dasar mesum!" teriak Kiandra. Kiandra pun memalingkan pandangannya, Aldi hanya tersenyum melihat tingkah Kiandra.
Aldi tahu Kiandra sudah melihatnya dari balik handuk yang ia pakai. Setelah selesai memakai bajunya Aldi berdiri dihadapan Kiandra.
"Bisakah kau kancingkan kemejaku, Sayang?" pinta Aldi dengan manja.
"Cih, aku baru tahu kau manja sekali, padahal kau jelas lebih tua dariku." tangan Kiandra sudah mulai mengancingkan kemeja Aldi satu per satu.
"Jadi seperti ini rasanya diperhatikan calon istri? Arghh rasanya ingin kunikahi kau secepatnya, lebih cepat lebih baik." Aldi berkacak pinggang sambil menatap Kiandra.
"Lalu, bagaimana dengan ayahku? jika nanti aku benar-benar dinikahkan dengan orang lain ..." belum selesai bicara Aldi sudah memotong ucapannya.
"Tidak ada kata JIKA!" mata mereka saling menatap.
Kiandra kaget atas keputusan spontan Aldi.
"Al, pernikahan bukan main-main, dan itu sekali seumur hidup. Apa kau pikir itu sebuah lelucon?" bentak Kiandra. Entah apa yang Aldi fikirkan tapi bagi Kiandra ini sungguh sulit untuk dipercaya.
"I Know fo sure, karena itulah aku serius denganmu, dan umurku juga sudah cukup untuk menikahimu, aku akan melamarmu, jadi mulai sekarang lupakanlah Sean! Kau hanya boleh memikirkan seorang pria yaitu aku, kau hanya boleh mencintai pria dan itu hanya aku, kau harus menikahi pria dan itu wajib aku, dan kau hanya boleh melahirkan anak dari rahimmu dari benihku bukan Sean atau pria lainnya." Aldi menatap lekat-lekat Kiandra.
"Hahaha, lihatlah betapa possesivenya kamu jika memiliki hubungan?" Kiandra membuang tatapan nya saat ia tertawa menyindir Aldi.
"Apa kau juga mengucapkan kalimat itu pada mantan kekasih tercintamu? Ah, andai aku yang mendengarnya duluan Al, betapa bahagianya aku sebagai wanita, sungguh." Kini bukan lagi tawa yang terpancar diwajah Kiandra, melainkan tatapan dingin setiap kali mengingat mantan Aldi.
"Kau yang pertama!!" Jawab Aldi dengan lantang.
"Cih, kau fikir aku bodoh? Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau bodohi, Al." cibir Kiandra.
"Aku tidak pernah membicarakan pernikahan padanya, dan jangan mengungkitnya lagi. Dia bahkan tak layak untuk dikatakan sebagai seorang wanita." ucap Aldi.
"Aku tidak terima penolakan darimu, aku akan berjuang untuk bisa menikahimu setelah wisuda. Berhentilah dekat-dekat dengan pria lain, jika tidak aku akan mempercepat pernikahan kita, bahkan lebih cepat dari yang kau kira, kau mengerti Sayang?" Aldi menatap Kiandra dengan penuh harap.
"Baiklah, jika kau sudah tergila-gila denganku, aku bisa apa? Bukan begitu Tuan Aldi Nugroho?" Kiandra mengangkat bahunya dan tersenyum, lalu berbalik arah.
"Hahaha" Aldi gemas dengan tingkah Kiandra. Ingin rasanya ia membawa pulang Kiandra dan memeluknya hingga pagi.
__ADS_1
Sambil bekacak pinggang Aldi berteriak "Ya, ucapanmu memang benar, kau sudah membuatku dan juniorku menggila, Sayang." Kiandra reflek menoleh ke Aldi yang dengan lantangnya berteriak seolah hanya dia yang hidup disana.
Apa dia sudah gila? Dia fikir inu dirumah? Crazy!!
Kiandra tak berucap hanya melototi Aldi, dan berbalik kembali untuk pergi, namun sayang Aldi sudah memeluknya dari belakang.
"Ahh ... jangan coba-coba nakal atau aku tidak akan pernah mau jadi Nyonya Muda Nugroho!" ancam Kiandra samvil sedikit mendesah karena Aldi terus saja mencium ceruk leher nya.
"Hahaha, baiklah. Ayo bersiap, kita pergi temui ayah dan bundamu lalu menikah." Aldi keluar dari kamar itu sambil menggandeng tangan sang kekasih pujaan hati.
Apa dia fikir menikah itu mudah? Seenaknya saja bicara.
Mike ternyata sudah menunggunya di depan pintu ruangan Aldi, mereka bertiga turun ke loby utama, ketiganya menjadi sorotan banyak karyawan perusahaan tersebut, terutama Kiandra.
Banyak yang kaget melihat kiss mark di leher Kiandra, hal ini tak luput dari pandangan Aldi, Aldi pun tersenyum dan merangkul pundak Kiandra untuk menutupi kiss mark di leher wanita tersayangnya itu.
Sikap Aldi justru mendapat tanggapan lain dari para karyawannya, mereka menganggap hal tersebut adalah hal yang begitu romantis.
"Kau baru sekali kesini tapi sudah menjadi primadona di perusahaanku, kau memang wanitaku." bisik Aldi, Kiandra pun tersipu malu.
Sesampainya di Loby mereka langsung menaiki mobil Aldi untuk bergegas menuju rumah utama keluarga Darwin. Mike duduk didepan menjadi supir, Aldi dan Kiandra duduk dibelakang.
"Al, bisakah temani aku terlebih dahulu ke apartement kak Reyhan, aku kemarin pulang kerumahnya, koperku masih disana." pinta Kiandra.
"Mike, kau mendengarnya bukan?" tanya Aldi tapi matanya menatap Kiandra.
"Baik Boss!" Mike langsung banting stir berbelok kearah apartement Reyhan.
Ish... dia ini arogan sekali! Untung sayang..
"Al, apa kau tidak takut menghadapi ayahku? Banyak orang bilang ayah menakutkan jika dikantor."
"Hahaha, apa kau sedang mengkhawatirkan ku Nyonya Nugroho?"
"Aldi!" Kiandra mencubit lengan Aldi gemas.
"Argh! Sakit ...." Aldi memegang lengannya berpura-pura sakit dan menyenderkan kepalanya ke pundak Kiandra.
"Aku akan baik-baik saja, aku tetap harus bisa merebut hati ayahmu untuk bisa mendapatkan putri kesayangannya, bukankah begitu? maka berdoalah untuk kemudahanku, supaya aku berhasil." Aldi mengacak rambut Kiandra.
****
Akankah mereka berhasil Good readers???😂
Bersambung..🖤
__ADS_1