Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
MENGHADIRI PESTA


__ADS_3

Vania kemudian bicara "Di balik terpaksa atau tidaknya aku melakukan semua itu, tetap saja aku tidak pantas melahirkan anak pewaris keluarga wiraguna" dengan tidak menatap Ariya.


Ariya cuma bisa memejamkan mata sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam, Ariya tidak menjawab karena Ariya tidak mau berdebat lagi dengan Vania.


Untuk mencairkan suasana Vania mulai bicara "Ariya hari ini aku yang memilih tempat makan yah" sambil memegang lengan Ariya. Ariya cuma mengangguk.


Vania singgah di tempat makan sederhana. Sambil menunggu pesanan mereka Ariya mengamati tempat itu, "Sayang kamu yakin mau makan di tempat ini?"


"Ariya kamu harus tau, aku sering makan di tempat ini, selain makanannya enak harganya juga terjangkau" ucap vania sambil tersenyum manis.


Mereka mulai makan, Ariya mencicipinya sedikit. Vania lalu bertanya "Apa enak?". Ariya mengangkat jempolnya "Enak banget Vania".


Setelah selesai makan, keduanya berdiri di dekat mobil, "Mana kunci mobil kamu?" sambil mengangkat tangannya meminta sama Ariya.


Ariya memberikannya "Untuk apa Vania" tanya Ariya bingung. "Ayo naik, kali ini aku yang yetirin" sambil masuk dalam mobil.


"Vania kamu bisa nyetir mobil?" tanya Ariya. "Bisa " jawabnya sambil fokus melihat kedepannya.


"Kenapa kamu tidak beli mobil dari uang yang ku kasi?" dengan menatap Vania. "Ariya aku akan memakai uang kamu seperlunya saja" jawab Vania.


"Ini lah yang membuat aku jatuh cinta padamu karena kamu berbeda dengan wanita-wanita lain yang ku manjakan sebelumnya" ucap Ariya memandang Vania. "Maksudnya?" tanya Vania.


"Seperti yang ku katakan sebelumnya, di saat aku kasi ATM tampa batas mereka akan belanja semau mereka" tutur Ariya.


"Mungkin mereka butuh semua itu, untuk pandangan sosial bahwa dia pacar pemimpin wiraguna group" sambil membelokkan stir mobilnya.


Mereka sudah sampai, Ariya melihat sekeliling "Bukanya ini tempat pertama kita ketemu".

__ADS_1


Vania tidak menjawab, dia cuma berjalan ke arah danau buatan. keduanya duduk di kursi taman, mereka cuma terdiam cukup lama menikmati angin yang sejuk.


"Vania aku tidak menyangka pertemuan kita di sini, membuat aku mendapatkan wanita seperti dirimu" Ariya mulai bicara sambil menatap Vania.


"Kamu tau Ariya, tempat ini cuma tempat satu-satunya yang bisa membuat aku nyaman, di tengah kehidupanku yang kelam" dengan pandangan masi melihat ke arah danau.


"Itu lah tujuanku membuat tempat ini, supaya orang-orang yang berkunjung di sini bisa merasa nyaman" sambung Ariya.


Vania langsung menatap Ariya "apa? tempat ini milik wiraguna group".


"Iya" jawab Ariya singkat.


"Memang wiraguna group sekaya apa?" guman Vania. Tapi Ariya bisa mendengarnya, "Sangat kaya sayang, kami punya banyak cabang di luar negri" ungkap Ariya.


Vania langsung berdiri dan berguman, "Benar banget gue gak pantas buat Ariya"


***********


beberapa hari kemudian. Di kediaman wiraguna, Renata sedang marah di ruang kerjanya sambil melempar gelas di tangannya. asistennya cuma diam dan menunduk melihat renata yang marah.


"Anton atur pertemuanku dengannya" sambil meremas foto-foto di tangannya. "Baik nyonya" sambil menunduk hormat pergi.


Di suatu sore di apartemen Vania, di ketuk dua orang yang membawa undangan pesta kantor, Vania bingung undangan dari mana. "Maaf yah ini undangan dari siapa?" tanya Vania ke dua orang tersebut.


"Maaf nona, kami di utus untuk menjemput nona" ucap dua orang itu yang sepertinya bodygoud. "Sebaiknya nona segera bersiap"


Vania sedang duduk di dalam mobil bersama dua orang asing tadi, Vania mulai berfikir siapa yang mengundangnya kali ini. Batin Vania "siapa sih yang mengutus dua orang ini, kalau ariya kayaknya tidak mungkin karena pasti dia mengutus yuda"

__ADS_1


Mobil yang di kendarai Vania sudah sampai di sebuah hotel mewah, dari depan hotel itu terlihat jelas sedang ada pesta besar sedang di gelar.


Vania mulai masuk dalam pesta, di pesta itu terlihat jelas orang-orang berjas dan terlihat petinggi-tinggi perusahaan. Tidak ada satu pun yang mengenal Vania.


Vania celingak-celinguk seperti orang aneh saja, tiba-tiba matanya tertuju dengan seorang pria yang tidak asing memegang gelas di tangannya sambil berbicara dengan seorang wanita cantik. iya pria itu adalah Ariya wiraguna.


Vania mundur selangka dan hampir terjatuh, tiba-tiba muncul Renata di depannya, "Hay Vania ternyata kamu sudah datang?" ucap Renata. "Jadi nyonya yang mengundang saya?" tanya Vania, tapi tidak di jawab Renata.


Renata mengajak Vania bertemu teman-temanya, "Kenal kan ini Vania dan ini jeng Lisa dan ini anaknya Elsa. Elsa ini lulusan luar negri, dia seorang dokter bedah" ucap Renata panjang lebar.


Vania menyodorkan tangannya, tapi tidak langsung di tanggapi oleh nyonya Lisa, "Oh yah Vania ini siapa jeng? aku tidak pernah mendengar namanya sebelumnya, apa dia anak orang kaya baru?" tanya nyonya Lisa. sambil mengamati Vania dari atas sampai bawa, Vania jadi malu dan menurungkan tangannya.


Dari ke jahuan Ariya begitu kaget melihat Vania bersama mamahnya, tatapannya memandang tajam ke arah Vania dan mamahnya.


Renata kemudian berbisik pada Vania, "Vania kenapa kamu diam, bukan kah kamu berani masuk di kehidupan Ariya dan kamu harus tau posisimu" dengan senyum sinis.


"Oh jeng Renata, sepertinya gadis ini tidak tau kalau acara ini ulang tahun wiraguna group, lihat saja bajunya sangat biasa saja dan buka buatan desainer", ucap salah satu teman Renata.Vania cuma diam menunduk.


Ariya mendekati mereka "Mamah, apa yang mamah lakukan?" sambil menatap mamahnya.


"Aduh Ariya kamu tidak mengundang Vania di ulang tahun perusahaan kita, jadi aku mengundangnya" ucap Renata berpura-pura manis.


Vania tidak bicara dia cuma menunduk dan berlari keluar pesta, Ariya ingin mengejarnya tapi di tahan Renata "Ariya waktunya memberi kata sambutan" sambil menggenggam tangan Ariya dan berbisik, "kamu ingin mengejar perempuan ****** itu, dan meninggalkan pesta ini tampa kata sambutan dan menjatuhkan nama perusahaan kita.


Ariya melemah, dia tidak bisa meniggalkan pesta, karena pesta baru saja di mulai. Ariya cuma bisa mengepalkan tangannya dan membatin "maaf kan aku Vania" dan naik menuju podium, kemudian memberi kata sambutan. Renata tersenyum penuh kemenangan.


Sementara di luar hotel, Vania sedang berjalan sambil menangis, "hiks...hiks...hiks..." tangis Vania akhirnya pecah juga, "Vania kamu jangan, kamu sudah tau kalau kamu tidak pantas untuk Ariya" , ucap Vania dalam hati sambil mengusap ke dua pipinya dengan kasar.

__ADS_1


Tiba-tiba ada yang memakaikan Vania jaket dari belakang, "Jangan main di luar, di luar dingin" ucap pria itu.


__ADS_2