Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
SELAMAT DATANG VANIA


__ADS_3

Setelah sampai di ruangan Ariya, Vania langsung masuk. Ariya yang melihat kedatangan Vania langsung menutup berkas di depannya dan berdiri menyambut Vania.


Ariya berjalan memeluk Vania dan mengajak Vania duduk di sofa, "Sayang kamu bawa apa? kebetulan sekali saya sudah lapar" ucap Ariya.


Vania kemudian membuka makanannya dan makan bersama.


"Ariya hari ini aku kerumahnya Dani yah" sambil menyuap makanannya dengan santai.


"Ehem... ehem... " Ariya ter batuk mendengar permintaan Vania, Vania segera memberikan air.


"Kamu ingin aku benar-benar menghabisi pria itu" ucap Ariya.


"Ariya, Dani itu sahabatku, lagi pula aku sudah janji pada putrinya untuk menemuinya" rayu Vania.


Ariya secepatnya menghabiskan makanannya dan duduk bersandar di sofa.


Vania meraba lengan Ariya, "Sayang izinkan aku pergi, kamu bisa kok mengirim pengawal untuk bersamaku" bujuk Vania sambil menyandarkan kepalanya di lengan kekar Ariya.


Ariya melihat Vania, "Pergilah, aku percaya padamu, tapi pria itu aku tidak percaya padanya".


"Makasih sayang" sambil mencium pipih Ariya, kemudian pergi meniggalkan ruangan Ariya. Ariya cuma menatap kepergian Vania.


Vania menuju ke kediaman Dani, yang sudah dikirim lokasinya oleh Dani. setelah sampai di lokasi yang di tuju, Vania segera mengirim pesan pada Dani kalau dia sudah sampai.


Dari arah pintu muncul lah Dani, untuk menyambut kedatangan Vania yang sudah berdiri di depan mobilnya.


"Selamat datang Vania, Amanda sudah dari tadi menunggu" ucap Dani.


"Apa benar" sambil berjalan masuk.


Setelah Dani membuka pintu, Amanda sudah menghambur memeluk Vania, "Tante cantik, akhirnya tante datang juga".


"Iya sayang, tante kan udah janji, jadi tante gak boleh ingkar janji" ucap Vania sambil berjongkok untuk memeluk Amanda.


"Ayo Vania masuk" ajak Dani.


Setelah sampai di ruang tamu, Vania duduk, "oh yah, hari ini Manda mau pergi mana, biar tante temani" tanya Vania.


Amanda berfikir sambil memegang pipinya yang imut, "Emangnya tante gak sibuk, Manda mau di temani jalan-jalan dan bermain" jawab Amanda.

__ADS_1


Vania mengangkat Amanda ke pangkuannya, "Kamu lucu sekali, buat Amanda hari ini tante luangkan waktunya".


"Horeee, hari ini kita jalan-jalan" sambil melompat kegirangan, "Tante tunggu di sini dulu yah, Manda ganti baju" lalu berlari naik ke atas. Dani tersenyum melihat putrinya sebahagia itu.


Kemudian Vania berdiri melihat-lihat foto yang di pajang di ruangan itu, Dani mengikuti langkah Vania. Vania berhenti di salah satu foto keluarga sambil mengamati.


"Itu foto mamahnya Amanda" sahut Dani dari belakang.


"Pantas Amanda sangat cantik, ternyata turunan mamahnya" ucap Vania masi melihat foto itu.


"Maksud kamu aku tidak tampan Vania?" canda Dani.


"Dasar yah, kamu juga tampan kok" ucap Vania sambil tertawa dan memukul perut Dani dengan tasnya.


Sementara di perusahaan wiraguna group, Ariya sedang bersama Yuda di ruangannya. Setelah memeriksa berkas yang di berikan Yuda, Ariya mengembalikan kepada Yuda yang berdiri di sampingnya.


"Yuda tangani semua pekerjaan sore ini dan suruh sopir untuk menjemput Meli" perintah Ariya.


"Baik tuan, nona Meli?" tanya Yuda untuk memastikan.


Ariya menatap Yuda, "Iya Meli, ada yang salah?".


"Cepat laksanakan tugas yang kuberikan, atau gaji mu aku potong" ancam Ariya dengan wajah serius.


"Baik tuan, saya permisi" sambil berlalu pergi dan tersenyum saat membelakangi Ariya.


Di tengah keramaian kota, di salah satu mobil duduklah Meli dengan sopirnya untuk menuju perusahaan wiraguna group.


"Pak kita mau kemana?" tanya Meli pada sopirnya.


"Kita akan ke perusahaan wiraguna group nona" jawab sopir itu dengan sopan.


Meli tidak bertanya lagi, dia memalingkan pandanganya kejalan raya. Setelah beberapa saat, mobil sudah sampai di perusahaan wiraguna group.


Di saat yang bersamaan Ariya dan Yuda sudah berada di loby kantor, Ariya langsung masuk dalam mobil di samping Meli. Yuda memandangi kepergian bosnya.


"sepertinya bos sudah mencintai nona Meli, tapi takut mengungkapkannya, karena takut melukai belahan jiwanya (Vania)" batin Yuda sambil tersenyum.


Di perjalan Ariya dan Meli belum ada yang bicara, keduanya masi diam. Meli berfikir untuk membuat suaminya itu bicara, yang kembali seperti kulkas saat bersamanya.

__ADS_1


Meli memegang perutnya dengan gelisah, Ariya menyadari tingkah Meli, "Meli kamu kenapa, perut kamu sakit?" tanya Ariya dengan panik, Meli hanya mengangguk.


"Pak segera ke rumah sakit" perintah Ariya masi dengan wajah paniknya sambil memegang perut istrinya.


Meli memegang tangan Ariya di perutnya sambil tersenyum, Ariya menyadari tingkah Meli dan langsung menatap matanya membuat tatapan mereka bertemu.


"Kak Ariya kita tidak perlu ke rumah sakit, sepertinya bayi kita cuma memerlukan dielus papahnya" Masi menatap Ariya.


Mata Ariya langsung berkaca-kaca, tapi tidak sampai mengeluarkan air mata, kemudian langsung menunduk mencium perut Meli, "Maafkan papah, karena kurang perhatian padamu" ucapnya.


Ariya berpaling melihat Meli lalu mencium keningnya, "Maafkan aku istriku" dengan nada berat hampir tidak terdengar. Mata Meli berkaca-kaca karena terharu sambil mengangguk.


"Pak tidak perlu ke rumah sakit, kita terus saja" perintahnya sambil memeluk bahu Meli dan menyandarkan di dadanya.


Di salah satu mall terbesar, Vania dan Dani bersama Amanda sedang jalan-jalan belanja. Mereka bertiga masuk di salah satu toko pakaian anak, sambil memilihkan baju untuk amanda dan mencoba di badannya, selayaknya keluarga yang bahagia.


Terlihat putri kecil Dani itu sangat bahagia dengan kehadiran Vania saat ini, begitu pula sebaliknya Vania sangat bahagia melihat Amanda bisa tertawa lepas.


Setelah berbelanja pakaian, ketiganya masuk di dalam restoran yang ada di mall itu, Dani kemudian memesan makanan kesukaan putrinya dan Vania karena dia masi mengingat makanan kesukaan Vania.


Dani bicara pada pelayang restoran, "Yang ini jangan pedas, karena teman saya ada riwayat lambung" ucap Dani tidak melihat Vania, Vania memandang Dani yang perhatian padanya. Dani berpaling melihat Vania.


"Dani, 10 tahun berlalu kamu masi ingat makanan kesukaanku dan riwayat penyakit ku" tanya Vania.


"10 tahun bukan berarti orang bisa melupakan semuanya kan" sambil tersenyum dan bersandar di kursi.


"Tante cantik, kalau ada waktu lagi temani Manda jalan-jalan lagi yah" ucap Amanda yang tiba-tiba bicara menyela pembicaraan papahnya dan Vania.


"Sayang tante Vania juga punya keluarga, jadi tidak bisa selalu jalan dengan kita" bujuk Dani pada putrinya.


"Tante janji, kalau ada waktu kita jalan lagi" Vanis segera menimpali pembicaraan Dani sambil mengusap lembut rambut Amanda yang panjang lurus.


"Tapi Vania, apa Ariya akan mengizinkannya jika sering kali?" dengan menatap Vania.


"Tenang saja Dani, aku tau jiwa Ariya, meski pun harus membujuknya sedikit susah" ucap Vania, di balas tawa oleh Dani.


"Luar biasa Vania lestari, bisa jadi pawang seorang Ariya wiraguna yang terkenal sangat dingin dan angkuh, dan tidak mungkin membiarkan wanitanya bersama pria lain" ungkap Dani.


"Karena pria itu adalah kamu sahabatku, kalau bukan kamu dia akan menghabisinya" ucap Vania dan keduanya sama-sama tertawa.

__ADS_1


Setelah makan, mereka bertiga kembali berjalan dan masuk dalam area bermain anak. Vania dan Dani cuma duduk di sudut area bermain itu sambil ngobrol dengan memperhatikan Amanda yang bermain. Dani hanya mengawasi putrinya dari kejauhan karena Amanda sudah sering ke tempat itu.


__ADS_2