
Nara sedang berada di butik Selin, karena pagi ini tidak ada jadwal kuliah pagi, dia sedang sibuk bekerja dan tidak sengaja melihat berita di TV, tentang datangnya Andra wiraguna di perusahaan wiraguna group.
Nara menghentikan aktifitasnya dan menonton sejenak berita yang di tayangkan itu.
"Aku tidak yakin, kedatangan Andra bisa merubah perjodohan antara Arvan dan Elena" sahut Selin dari belakang.
"Eh buk Selin di sini" ucap Nara kaget, "Kenapa buk Selin bisa befikir seperti itu?" sambung Nara.
"Siapa sebenarnya yang kamu sukai di antara mereka, karena kamu berpacaran dengan Arvan tapi melihat kagum pada Andra?" tanya Selin.
"Dari awal aku selalu mengagumi kak Andra, di tamba sekarang di rela menghilangkan karakter dirinya demi wanita yang dia cintai, tapi saat ini aku mencintai Arvan yang selalu ada di sisiku dan mengerti perasaanku" ungkap Nara berterus terang.
"Kamu yang sabar yah, dan lihat apa yang akan terjadi kedepannya" ucap Selin sambil menepuk pundak Nara. Di balas anggukan oleh Nara.
Di perusahaan wiraguna group di dalam ruangan pertemuan, petinggi-petinggi perusahaan sudah berkumpul tempat itu.
Datang lah Ariya dan kedua putranya yang di dampingi Yuda, serentak para petinggi-petinggi perusahaan berdiri menyambut ke datangan CEO wiraguna group dan calon pewarisnya.
Ariya mulai bicara, "Selamat pagi semuanya para dewan direksi yang saya hormati, perkenalkan calon pewaris wiraguna group, Andra wiraguna" ucap Ariya dengan wibawanya, sambil memperkenalkan putranya dengan bangga. Dan para dewan direksi menunduk hormat.
"Senang bisa bergabung di perusahaan ini" ucap Andra dengan karismanya.
"Maaf tuan Ariya, kedatangan putra pewaris wiraguna group, jujur sangat mengagetkan kami karena kami sudah sangat bangga dengan kinerja kerja tuan mudah Arvan" ucap salah satu petinggi perusahaan.
Mendengar semua itu terjadi keheningan, karena pertanyaan itu tidak lah salah. Kemudian Arvan melangkah ke depan sejajar dengan Ariya dan Andra.
"Kenapa kalian mempermasalahkan hal sepele seperti ini, bukan saya masi ada di perusahaan ini jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan" ucap Arvan dengan tegas.
Semuanya menunduk hormat, "Maafkan kami" ucapnya serentak.
Dan Ariya tersenyum melihat kebijakan putranya, sementara Andra memasang wajah datar tampa ekspresi.
Dan Yuda menatap kagum pada tuan mudahnya, "Sungguh dia mewarisi kebijaksanaan nona Vania" batin Yuda.
__ADS_1
"Untuk sementara saya akan menjabat sebagai asisten pribadi kakak saya, sampai semuanya bisa di kendalikan oleh kak Andra, yang keberatan tolong angkat tangan" sambung Arvan dengan wibawanya.
Andra yang dari tadi diam saja, langsung menatap adiknya dengan tersenyum tipis, lalu menatap pada dewan direksi. Dan para dewan direksi tidak ada yang angkat tangan.
"Oke karena tidak ada yang keberatan jadi pertemuan ini aku tutup" ucap Ariya, dan langsung meninggalkan ruang pertemuan di susul kedua putranya dan sekertaris nya.
Sementara di bawa sana Elena datang dengan buket bunga di tangannya, semua pegawai menunduk hormat dengan kedatanganya.
Seperti biasa Elena langsung saja masuk, karena dia sudah tau di mana lantai CEO berada.
Pegawai yang melihat Elena membawa buket bunga, sama sekali tidak curiga dengan hubungan spesial antara antara Andra dan Elena, karena sepengetahuan mereka semuanya adalah sahabat.
Setelah sampai di lantai atas, Elena bertemu Yuda, "Pak Yuda, ruangan kak Andra di mana?" tanya Elena.
"Mari saya antar nona" ucap Yuda sambil memberikan jalan pada Elena.
Setelah Elena melihat ruangan Andra, dia berhenti, "Sampai di sini saja, pak Yuda bisa kembali bekerja" ucap Elena lalu berjalan kearah ruangan Andra.
Yuda masi berdiri di tempatnya, "Hubungan mereka sepertinya sangat rumit" gumam Yuda.
Elena langsung saja membuka pintu, "Sayang selamat yah" ucapan Elena terhenti ketika melihat Arvan juga ada di rungan itu. Andra dan Arvan langsung menoleh bersamaan.
Elena merasa canggung, "Sepertinya aku menganggu, sebaiknya aku keluar dulu" ucap Elena sambil memutar badan nya untuk keluar.
"Tunggu Elena, biar aku yang keluar" teriak Arvan sambil berjalan ke arah Elena. Membuat langkah Elena terhenti.
"Hai Elen kamu kenapa jadi aneh?" tanya Arvan saat berada di depan Elena.
"Biasa aja, aku kesini untuk menemui kak Andra, bukan kamu lagi" ungkap Elena sambil menjulurkan lida pada Arvan.
"Gadis manja, sana pangeran mu sudah menunggu" sambil mengacak-acak rambut Elena, kemudian keluar dari ruangan Arvan.
Elena langsung ke arah Andra dan duduk di atas meja Andra, "Selamat yah sayang, akhirnya mau ke perusahaan" ucap Elena sambil memberikan buket bunga.
__ADS_1
Andra yang dari tadi menatap Elena, menerima bunga yang di kasi Elena dan menyimpannya di atas meja.
"Semua ini aku lakukan, agar kita bisa bersama, dan bisa di sandingkan dengan model ternama sepertimu" ucap Andra sambil menggenggam tangan Elena.
"Kak Andra jangan seperti itu, seolah-olah aku tidak menerima kamu apa adanya" ucap Elena manja.
"Tapi kenyataanya seperti itu Elena, kita dilahirkan dari keluarga terpandang dan semua itu akan menjadi sorotan" ucap Andra sambil melepas tangan Elena lalu berdiri dan berjalan ke depan dinding kaca.
Elena menjadi sedih karena dia menyadari, kalau harapan orang terhadap dirinya dan Arvan sangat besar untuk bersama dan itu sulit untuk mendatangkan orang ketiga di dalamnya.
Elena berjalan ke arah Andra berdiri, "Kak Arvan, memang ini tidak mudah tapi kalau kita berjuang bersama, aku yakin pasti bisa" ucap Elena sambil mengandeng lengan Andra dan menyandarkan kepalanya di lengan Andra.
Sementara di dalam ruangan Arvan, Arvan sedang menelpon Nara dari sambungan video.
"Halo sayang" ucap Arvan sambil melambaikan tangan.
"Kamu baik-baik saja kan" tanya Nara di dalam video.
"Baik kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik sayang" jawab Arvan sambil tersenyum.
Kemudian Arvan memutuskan panggilan VC, dan melanjutkan pekerjaannya.
*******
Malam minggu telah tiba, Nara sedang berada di restoran tempatnya bekerja, karena restoran hampir tutup jadi terlihat sepi.
Nara sedang membersikan meja dan melihat sosok pria yang masi duduk di kursi dan belum ada tanda-tanda ingin pulang.
Nara kemudian mendekati pria itu yang menghadap keluar restoran, "Maaf pak restorannya sudah mau tutup" ucap Nara dengan sopan.
Pria itu menoleh dan tenyata pria itu adalah Andra, membuat Nara sedikit terkejut.
"Kak Andra! Aku hampir tidak mengenal kakak, soalnya sangat tampan dengan style jas rapi" puji Nara.
__ADS_1
Andra tersenyum mendapat pujian dari Nara, "Mau menemani ku, ayo duduk disini" sambil menepuk kursi di sampingnya.
"Mana berani aku menolak perintah, pemilik restoran ini" ucap Nara sambil duduk.