Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
VANIA!!!


__ADS_3

Malam itu Ariya dan Vania sedang berada di ruang tengah, Ariya sedang memeriksa pekerjaan di leptopnya sedangkan Vania menonton TV.


Malam itu cukup larut dari arah luar, baru lah Meli pulang dan berlalu di dekat Ariya dan Vania tampa menyapanya.


"Meli tunggu" panggil Vania.


Meli menghentikan langkahnya dan menghadap Vania, "iya kak" jawab Meli malas.


Vania berdiri dari tempatnya dan mematikan TV, Ariya meliriknya sebentar.


"Meli katakan pada kakak, kalau kamu ada masalah, kelayapan diluar dengan pulang tengah malam tidak baik untukmu" tanya Vania menasehati Meli.


"Kak Vania hentikan bersikap baik kepadaku, aku capek dengan semua ini, itu yang menyiksaku" jawab Meli dengan menahan tangisnya.


"Apa ada yang salah perlakuanku selama ini padamu" tanya Vania memegang kedua bahu Meli, masi dengan nada lembut.


Meli membuang pandanganya, "Iya kak ada yang salah, karena kakak terlalu baik yang membuat aku selalu bersalah dan takut mengkhianati kak Vania" ucap Meli dengan nada sedikit tinggi. membuat Ariya terganggu dan memandangi kedua istrinya.


Vania menghempaskan bahu Meli, "Penghianatan apa yang kamu maksud Meli, bicara tentang penghianatan bukan kah kalian sudah pernah melakukanya" ucap Vania dengan suara tidak kalah tinggi.


Meli menjadi melemah dan tangisannya menjadi pecah, "Kak Vania" ucapnya di selah tangisnya.


"Jawab aku Mel, apa sekarang kamu mencintai Ariya" tanya Vania dengan serius dan lupa keberadaan Ariya di belakangnya.


Meli tidak menjawab, dia cuma mengalihkan pandanganya pada Ariya yang menyaksikan perdebatan mereka.


"Meli aku kan sudah mengatakan sebelumnya, jika Ariya bisa bahagia nantinya kalau kalian mempunyai anak, aku akan mundur perlahan" ucap Vania menenangkan Meli.


"VANIA!!!" teriak Ariya dari belakang dan berdiri sambil mengepalkan tangannya.


Vania langsung menegang, baru menyadari kalau Ariya masi berada di tempat itu, perlahan Vania menoleh dengan mata berkaca-kaca.


Ariya mendekatinya dengan wajah marah dan masi mengepalkan tangannya, Vania langsung menunduk menyadari perkataanya.


Ariya menatap tajam pada Vania dan baru saja ingin bicara, tiba-tiba Meli pingsan.


"Meli...." panggil Ariya dan Vania secara bersamaan.

__ADS_1


Meli di bawa ke rumah sakit dan sedang di periksa, Ariya dan Vania sedang menunggu diluar. Vania sedang duduk di kursi tunggu sedang Ariya sedang gelisah, tapi belum bicara dengan Vania karena masi marah dengan pernyataan Vania tadi.


Pintu di buka dokter, "istri saya kenapa dok?" tanya Ariya khawatir.


"Tuan Ariya istri anda tidak apa-apa, selamat yah nyonya Meli sedang mengandung dan usia kandungannya memasuki minggu kelima" ucap dokter itu.


"Apa? istri saya hamil dok" dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.


"Tapi untuk malam ini, sepertinya harus rawat inap karena sudah larut dan saya permisi dulu" jelas dokter itu lalu berlalu pergi.


Ariya mendekati Vania dan langsung memeluk Vania dengan erat, "Sayang sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah" ucap Ariya dengan nada terharu, dia meneteskan air matanya tapi Vania tidak membalas pelukannya.


"Ayo kita masuk" ucap Ariya sambil membuka pintu untuk masuk, Vania pun ikut masuk.


Terlihat Meli sedang duduk bersandar di tempat tidur, Ariya menghambur memeluk memeluk Meli dan mencium keningnya, "Meli sebentar lagi kita punya anak, kamu sedang hamil".


Vania yang melihat kebahagiaan suaminya, mundur perlahan dan berlari keluar.


Ariya menyadari kepergian Vania tapi dia tidak bisa mengejarnya karena tidak bisa meninggalkan Meli sendiri di rumah sakit.


Meli memegang perutnya, "Kak Ariya, apa benar aku hamil?".


Meli menahan tangan Ariya, "Apa sebaiknya kak Ariya , menemui kak Vania".


"Biar Vania menjadi urusanku, kamu istirahat saja jangan terlalu berfikir karena akan berpengaruh pada Ariya junior" Ucap Ariya kemudian mencium kening Meli lagi.


Sementara Vania mengendarai mobilnya pulang, tapi dia tidak pulang ke rumah, dia menuju apartemen nya. Setelah sampai Vania membuang tasnya asal di kasur kemudian membaringkan tubuhnya dengan terlentang memandang langit-langit kamar.


"Aku harus kuat, tidak boleh egois, Ariya berhak bahagia, pria sempurna seperti Ariya berhak punya anak" gumamnya sambil menghapus air mata yang menetes di sudut matanya.


Sementara di tempat berbeda, Dani sedang duduk di ranjangnya, dia membayangkan penampakan Vania yang terburu-buru masuk di salah satu apartemen, yang baru saja dia kunjungi untuk keperluan pekerjaan.


"Apa benar itu tadi Vania, besok aku harus memastikannya" ucapnya sambil memutar-mutar hp di tangannya.


Tiba-tiba pintu di buka seseorang, ternyata Amanda putri Dani, "Pah temani aku tidur yah".


"Eh putri papah, belum tidur yah?" tanya Dani.

__ADS_1


"Sudah pah, tapi terbangun lagi" ucap Amanda, sambil naik di pangkuan papahnya.


"Ayo kita ke kamarmu, papah temani" sambil menggendong putrinya keluar.


Keesokan paginya Meli sudah pulang ke rumah, Ariya membantu Meli untuk duduk di ranjangnya dan menyuapi sarapan.


"Meli aku pergi dulu, jika ada yang kamu inginkan panggil pelayang saja" pamit Ariya setelah selesai menyuapi Meli. Meli cuma mengangguk.


"Kamu jangan terlalu berfikir, apa lagi untuk lari dariku" sambil mencium kening Meli dan berjalan keluar kamar.


Setelah kepergian Ariya, Meli tersenyum, "Dia lebih lembut dari biasanya" gumam Meli.


Di apartemen Vania. Vania baru saja bangun, dia merenggangkan otot-ototnya segera membersihkan diri di kamar mandi dan cuma memakai pakaian rumahan.


Tiba-tiba pitu di ketuk seseorang, Vania berfikir sejenak, "Cepat sekali Ariya menemukan ku" pikirnya kemudian bergegas membuka pintu. Setelah di buka, terlihatlah Dani dengan stelan jas rapi.


"Dani, kamu yang datang" tanya Vania tidak menyangka.


"Memang kamu menunggu siapa" tanya balik Dani.


"Tidak, ayo masuk" ucapnya mempersilahkan Dani masuk.


Setelah Dani masuk dan duduk, Vania menuju arah dapur untuk memberikan Dani minuman dingin, "Ayo minum lah dulu" ucap Vania.


"Dari mana kamu tau aku di sini" tanya Vania


"Semalam aku lewat di sini, ada pekerjaan tidak sengaja aku melihat dirimu, aku tidak yakin jadi aku memastikannya" jelas Dani.


Vania cuma mengangguk dengan meminum minuman yang di bawanya tadi, sambil duduk menekuk kedua lututnya tidak memandang Dani.


"Vania ada apa? kenapa seorang istri Ariya wiraguna yang punya banyak rumah, bisa berada di salah satu apartemen. kalau media melihat ini, akan membuat berita lebih heboh lagi" ucap Dani dengan santai sambil bersandar di sofa.


Vania tersenyum, "Apa media kamu memata-matai ku" canda Vania. Mereka pun tertawa bersama.


Vania masi duduk santai di sofa dengan masi menekuk lututnya.


"Sebenarnya aku kesini untuk menenangkan diri, Meli sedang hamil" curhat Vania.

__ADS_1


Dani yang sedang minum langsung ter batuk, "Apa?"


"Hei... tidak usah mengasihani ku" ucap Vania melihat Dani yang memandangnya penuh ibah.


__ADS_2