
Di bandara internasional, terlihat Ariya sedang mengantar Vania dan Renata untuk berangkat ke luar negri untuk melanjutkan pengobatan mamahnya, "Sayang ku harap secepatnya kamu kembali, karena di pastikan aku sangat merindukanmu" ucap Ariya sambil memegang bahu Vania.
"Iya sayang, aku akan segera kembali" sambil tersenyum sangat manis.
"Jangan senyum-senyum, jangan sampai aku menunda penerbangan" sambil mencubit pipi Vania.
Vania memicingkan matanya, mendengar pernyataan Ariya, tapi Ariya menanggapinya dengan terkekeh, sambil memeluk bahu Vania lalu berjalan mengikuti Renata yang berjalan di depan.
Vania dan Renata sudah berangkat, Ariya masi berdiri di tempatnya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan .
Sekarang Ariya sedang ada di perusahaannya, dia sedang duduk di kursi kebesarannya, memeriksa berkas-berkas perusahaan, "Ting..." tiba-tiba hpnya berbunyi, Ariya melirik lalu mengambilnya.
"Kak Ariya, hari ini aku keluar yah bersama teman-temanku" ternyata isi pesan Meli.
Ariya nampak berfikir sejenak, "Pergilah" balas Ariya.
Setelah membalas pesan dari Meli, Ariya kembali menghubungi sekertaris nya, "Yuda cari tau sekarang, akan ke mana istri saya pergi" ucap Ariya, kemudian menutup sambungan telepon tampa menuggu balasan dari Yuda.
Beberapa saat kemudian, Ariya yang sedang berdiri di depan jendela kaca ruangannya, mendapat pesan masuk, Ariya membukanya, terlihat foto-foto Meli bersama teman-temannya.
Ariya bergegas keluar ruangannya dan berpapasan dengan Yuda, "Yuda urus rapat sore ini" ucap Ariya kemudian berlalu dari Yuda.
Yuda memperhatikan kepergian bosnya, "Ada apa dengan pak Ariya, seperti orang yang sedang kasmaran, tapi bukanya baru saja di tinggal nyonya Vania. Apa jangan-jangan tuan sudah jatuh hati dengan istri mudanya itu?" gumam Yuda kemudian berjalan pergi.
Di sebuah mall terbesar di kota itu, Meli dan teman-temannya, mereka menikmati belanja bersama sambil tertawa.
Sementara di perjalanan, Ariya di dalam mobilnya menelpon sekertaris nya, "Yuda siapkan dinner romantis malam ini di sebuah hotel bintang lima wiraguna group" ucap Ariya kemudian menutup telponnya.
Ariya masi menatap lurus ke depan, di sudut matanya terjatuh tetes air mata, "Maafkan aku Vania, aku harus melakukanya" batin Ariya sambil mengusap sudut matanya.
Sampailah Ariya di mall yang di tempati Meli, Ariya sedang berjalan masuk di dampingi dua bodyguardnya semua mata tertuju padanya. Siapa sih yang tidak kenal Ariya wiraguna group, pengusaha muda yang sukses yang mempunyai cabang dimana-mana dan juga di luar negri.
"Woow ternyata lebih rupawan aslinya" ucap salah satu pengunjung.
__ADS_1
"Udah ganteng, bertanggung jawab, pokoknya idaman banget deh, "sambung yang lain.
Meli dan teman-temanya juga teralihkan dengan kedatangan Ariya wiraguna, "Hei yang datang Ariya wiraguna" sahut teman Meli.
Meli yang mendengar nama Ariya wiraguna langsung mematung, tubuhnya menegang, "Apa? kak Ariya di sini" batin Meli.
"Ada urusan apa Ariya wiraguna datang ke sini, jadi penasaran" Ucap teman Meli yang lain.
"Ayo Mel kita ke sana" sambil menarik tangan Meli.
Meli terpaksa ikut bersama teman-temanya, karena dia juga penasaran sedang apa Ariya ke tempat ini.
Di tengah kerumunan Ariya melihat sekeliling, matanya tertuju pada orang yang di carinya, yaitu Meli.
Ariya menghampiri Meli dengan perlahan, "Meli, kalau urusan kamu sudah selesai di sini ikut denganku" ucap Ariya.Semua mata tertuju padanya di sekitar tempat mereka berada.
Tampa menunggu jawaban Meli, Ariya sudah menarik tangan Meli bersamanya.
Setelah sampai di mobil, sopir membukakan pintu untuk mereka dan keduanya masuk.
"Jalan pak" ucap Ariya.
"Kita mau kemana kak" tanya Meli dengan santai.
"Ke suatu tempat" jawab Ariya sambil melingkarkan tangannya di bahu Meli dengan tersenyum lebar.
"Kenapa aku merasa akhir-akhir ini, kak Ariya tidak sedingin dulu tak seperti kulkas dua pintu lagi, kak Ariya lebih sering tersenyum" ungkap Meli masi menatap ke depan.
Ariya memajukan wajahnya di telinga Meli, "Benarlah" bisik Ariya.
Reflek Meli menoleh, hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir Ariya, tapi Ariya tidak bergeming dia masi menatap wajah Meli.
Meli yang di tatap jadi malu, dia menunduk pipinya sudah merah.
__ADS_1
"Kenapa Mel, bukan kah kita pernah melakukan sebelumnya, tinggal lebih dari itu" sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Meli.
Meli yang mendengar ucapan Ariya, tidak berani menoleh, "Benar yang di katakan kak Ariya, cepat atau lambat kami harus melakukanya, supaya secepatnya aku bisa keluar dari masalah ini agar tidak ada hati yang tersakiti" batin Meli sambil menatap keluar jendela mobil.
Beberapa saat berlalu, mobil Ariya sudah sampai di salah satu butik plus salon. Sopir membukakan pintu mobil dan keduanya turun dari mobil, ternyata hari sudah gelap.
"Kak Ariya sedang apa kita ke butik?" tanya Meli sambil menatap ke depan.
"Masuk saja dulu" jawab Ariya sambil berjalan pelan mengikuti Meli.
"Woow... butik ini sangat mewah" ungkap Meli sambil melihat sekeliling.
Pegawai membukakan pintu untuk mereka, dengan polosnya Meli masuk begitu saja. "Selamat datang tuan, dan nona" sapa pegawai butik itu sambil menunduk hormat, melihat Ariya yang berjalan pelan di belakang Meli.
Terlihat Meli berkeliling di butik itu dan Ariya cuma memperhatikan kepolosan istri mudahnya itu.
Setelah berkeliling di tempat itu, baru Meli menyadari sesuatu, kemudian mendekati Ariya, "Kak Ariya, tempat ini sangat mewah, tapi anehnya kok gak ada orang sih" tanya Meli masi dengan wajah polosnya.
Ariya tidak membalas pertanyaan Meli, karena dia sudah mengosongkan butik itu satu hari untuknya supaya bisa dengan nyaman berada di situ.
"Kamu sudah puas berkeliling, sekarang waktunya" sambil menarik tangan Meli.
Saat ini Meli sedang di make up karena perintah Ariya, wajah Meli yang masi muda dan mulus memudahkan perias me make up nya senatural mungkin tapi terlihat sangat cantik, rambutnya yang di buat bergelombang, tidak seperti setiap harinya yang lurus.
Setelah selesai di make up, Meli memakai gaun warna hitam sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih, dress yang di pakai Meli semata kaki tapi memperlihatkan sebelah bahunya.
Sementara Ariya di luar, sudah rapi dengan stelan jas warna hitam senada dengan gaun Meli.
Meli berjalan pelan keluar, "Kak Ariya, bagai mana" panggil Meli.
Ariya Menoleh, tatapannya tidak berkedip melihat Meli, dia benar-benar mengagumi ke cantikan Meli yang sangat cantik setelah di make up, "Sangat cantik" puji Ariya.
Meli cuma tersenyum berjalan ke arah Ariya, Ariya mengulurkan tangannya untuk menggandeng Meli, Meli menyambut uluran tangan Ariya dan mereka berjalan keluar butik.
__ADS_1