
Nara menoleh melihat Arvan, "Makan dulu kak" panggil Nara.
Arvan mulai makan, "Nara kamu belum jawab pertanyaan ku?" ucap Arvan.
"Tidak pernah kak, soalnya aku tidak ada waktu untuk menjalin sebuah hubungan" jelas Nara.
"Sepertinya kamu sangat mementingkan pendidikan? cita-citamu apa?" tanya Arvan sambil makan.
"Aku ingin jadi desainer terkenal, dan aku pecinta seni" jawab Nara.
Dan Arvan tidak bertanya lagi, keduanya pun makan bersama.
**********
Minggu pagi yang cerah di kediaman Revan Prakasa. Elena baru saja bangun dan segera mengambil HP-nya dan melihat pesan Andra.
"Hari ini ada waktu, aku ingin membawa kamu ke suatu tempat" isi pesan Andra.
Elena berfikir sejenak, dan membalas pesan Andra, "Oke jemput aku di rumah" balas Elena.
Sementara itu di apartemen Arvan, Nara baru saja bangun lalu keluarga kamarnya dan melihat Arvan sudah rapih dengan setail kasual.
Nara kagum melihat ketampanan Arvan yang alami, karena keseharian Arvan yang memakai jas, membuat pagi itu Arvan terlihat sangat tampan di mata Nara.
"Kenapa Nara? aku memang tampan, tidak perlu melihat aku seperti itu" ucap Arvan lalu menikmati kopinya.
Nara kemudian mendekati Arvan dan duduk di sampingnya, "Iya kak, aku memang mengagumi ke tampan kak Arvan" ucap Nara terus terang.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kamu mau?" ajak Arvan.
"Ceritanya kamu mengajak aku kencang?" tanya Nara.
"Anggap saja seperti itu, bersiap lah" ucap Arvan.
Nara sudah siap dan keduanya pun segera berangkat, Arvan mengendarai mobilnya menuju pedesaan yg sangat sejuk.
Nara segera turun duluan dan menikmati pemandangan tempat itu, di susul Arvan keluar dari mobil dan berjalan ke samping Nara.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Andra sedang menjemput Elena di rumahnya, dan membawanya ke sebuah pulau kecil milik Wiraguna group.
Kedatangan Andra dan Elena di sambut istimewa di pulau itu, para pelayang menyambutnya dengan hormat.
Elena sedang berlari-lari kecil ke pinggir pantai, sedangkan Andra sedang menikmati memotret Elena yang berbahagia.
"Wow ini sangat indah kak Andra, aku sangat menikmati ini" teriak Elena.
"Nikmati lah Elena, jangan pikirkan apa pun hari ini" ucap Andra dan duduk di kursi yang ada di tempat itu.
Setelah menikmati keindahan pulau itu, Elena dan Andra masuk di salah satu ruangan yang ada di pulau itu. Saat ini Elena sudah berganti baju bikini yang sangat minim, tapi Masi memakai jubah yang tipis, sedangkan Andra sudah berganti dengan pakaian santai.
Setelah berada di dalam ruangan itu, di suguhkan pemandangan laut sore yang indah, dan di sana sudah tersedia alat lukis.
"Kak Andra, kok di sini ada alat lukis" tanya Elena.
"Apa kamu suka tempat ini, aku ingin melukis kamu dengan latar pemandangan laut yang sangat indah" jawab Andra.
"Baik dengan senang hati" ucap Elena sambil melepas jubah tipis yang dia pakai, terlihatlah tubuh Elena yang mulus dan seksi yang di balut bikini, yang hanya menutupi buah dada dan bagian intimnya.
Andra mengambil kembali baju yang di lepas Elena, dan segera memakaikan di pundak Elena.
Elena tidak mempedulikan ucapan Andra, dan tidak memakai kembali bajunya. Elena berjalan di tempat pembaringan yang menghadap pantai, dia membaringkan tubuhnya sedikit bersandar dan mengangkat satu lututnya dengan wajah melihat ke arah pantai.
"Ayo Kak lukis, sebelum matahari terbenam" ucap Elena.
Andra tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia secepatnya melukis Elena meski harus menahan rasa panas yang menjalar di tubuhnya.
Beberapa saat telah berlalu, Andra akhirnya selesai melukis Elena.
"Ini sangat indah kak" ucap Elena setelah melihat hasil karya Andra.
"Seindah seseorang yang ada di lukisan ini" sambung Andra.
"Lukisan ini akan aku pajang di kamar ku" ucap Nara sambil mengamati lukisan itu.
Elena kemudian menatap Andra dalam-dalam, "Kak apa aku bisa mempercayai mu?" ucap Elena. Di balas anggukan oleh Andra.
__ADS_1
"Kak Andra bisakah kau memotret ku lebih seksi dari lukisan ini" ungkap Elena dengan nada manja.
"Tidak Elena kita bukan sepasang kekasih" ucap Andra dengan tegas.
"Kalau begitu kita jadi sepasang kekasih saja kak" ucap Elena tampa ragu.
"Elena apa yang kamu katakan?" tanya Andra karena tidak menyangka Elena akan mengatakan itu.
"Kak Andra, aku bukan wanita polos yang tidak bisa membedakan perhatian kakak selama ini, melebihi sebatas sahabat" ungkap Elena dengan memegang bahu Andra.
Pelan-pelan Andra melepas tangan Elena di bahunya, "Tidak Elena kalau kamu mengatakan itu karena kasian padaku, atau menganggap ku pelarian, sebaiknya jangan menodai persahabatan kita" ucap Andra sambil berjalan ke arah di mana tadi Elena berbaring dan melihat matahari yang hampir tenggelam.
Mata Elena berkaca-kaca mendengar pernyataan Andra, dia kemudian berjalan ke arah Andra dan memeluk Andra dari belakang.
"Kak Andra maafkan aku, tapi bisakah kamu membantuku untuk melupakan Arvan" ucap Elena dengan lirih.
Andra yang merasakan buah kenyal Elena yang merapat di belakangnya, membuat tubuhnya menegang dan tidak mengontrol dirinya, dia tiba-tiba memutar tubuh Elena berada di depannya dan ******* bibir Elena sambil memegang lehernya.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, apa lagi Elena membalas serangan Andra, Ciuman mereka terlihat begitu romantis di tambah pemandangan pantai dan matahari yang hampir tenggelam.
***********
Sementara itu sore hari di tempat Arvan dan Nara berada, Nara sedang menikmati pemandangan desa yang masi alami di tambah air terjun yang membuat tempat itu sangat sejuk.
Dari arah belakang Arvan datang memegang dua gelas kopi dan memberikan pada Nara, "Ini minum dulu, tempat ini sangat dingin".
Nara mengambil kopi yang di berikan Arvan, "Tempat ini sangat damai, dan jauh dari kebisingan ibu kota" ucapnya.
"Aku selalu bermimpi punya keluarga kecil dan jauh dari kebisingan ibu kota, tapi kenyataannya itu tidak mungkin" ungkap Arvan.
"Kenapa tidak" tanya Nara.
"Kamu tau sendiri kan Wiraguna group sangat besar, sedangkan kak Andra sebagai pewarisnya sepertinya tidak tertarik dengan bisnis" jelas Arvan.
"Aneh yah, biasanya anak konglomerat memperebutkan harta warisan, ini sebaliknya malah tidak ingin itu" ucap Nara sambil melihat ke arah Arvan.
"Itu lah Nara, aku sangat bangga mempunyai papah seorang Ariya Wiraguna, beliau adalah sosok yang luar biasa membangun perusahaan selama kurang lebih 30 tahun, tapi tidak pernah terjatuh" ucap Arvan membanggakan papahnya. Nara mengangguk membenarkan ucapan Arvan.
__ADS_1
Tiba-tiba hujan turun sangat deras, "Nara ayo kita berteduh di bawa pohon sana" sambil menunjuk salah satu pohon,
keduanya pun berlari dan berteduh di bawah pohon.