
Vania mundur selangka dari Ariya, "Cukup Ariya, kamu pria terhormat kamu pantas mendapatkan wanita baik-baik" dan berlari meninggal kan Ariya.
"Vania dengar, aku akan menunggu mu sampai kamu bisa mengerti semuanya" sambil berteriak di isak tangisnya.
Semua yang terjadi barusan tidak lepas dari pantauan sekertaris yuda, dia tidak pernah melihat bosnya menangis sebelumnya. Yuda ikut prihatin dengan ke adaan bosnya , Yuda pun mendekati Ariya yang berlutut di tanah kemudian memegang kuat bahu Ariya dari belakang.
Ariya bicara di sela tangisnya, "Kenapa Vania keras kepala?"
Yuda mengangkat Ariya berdiri "Bersabarlah tuan, semua akan indah pada waktunya" *usia Yuda lima tahun lebih tua dari Ariya*
Sementara itu Vania berlari tampa tujuan. Tiba-tiba hujan turun sangat deras membasahi tubuh Vania, Vania berhenti dan menangis sekencang-kencangnya.
Vania meluapkan isi hatinya karena jalan yang di lalui Vania terlihat sepi, "Ya tuhan kenapa harus Ariya engkau pertemukan denganku, di mana status sosial kita sangat berbeda" teriaknya mengadu pada tuhan.
Vania sekarang sudah sampai di apartemennya, dengan pakaian yang basa kuyup lalu mengganti pakaian dan tidur.
Pagi hari Ariya sedang ada di kantornya, masi menghubungi Vania, tapi nomor Vania belum bisa di hubungi.
"Vania kenapa kamu begini, aku kan tidak memaksa kamu menerima lamaranku Vania" sambil mengusap kasar wajahnya.
Di apartemen Vania, Vania sudah bangun dan mengambil hpnya, ternyata hpnya mati. Vania sedikit tidak enak badan karena kehujanan semalam.
Vania mulai mengisi daya hpnya, baru saja di nyalakan sudah puluhan pesan Ariya yang masuk.
Vania memanggil video call Ariya, baru satu kali berdering wajah Ariya sudah ada di layar hp Vania, "Vania kamu dari mana saja? jangan harap setelah menolak lamaranku semalam, kamu bisa lari dariku" oce Ariya.
Dengan wajah has bangun tidur, "Semalam aku demam" jawab Vania. Tiba-tiba layar hp Vania gelap, ternyata Ariya memutuskan sambungan video call. "Iih dia kenapa sih" sambil meletakkan hpnya di kasur.
__ADS_1
Di kantornya Ariya buru-buru keluar ruangannya, dan berpapasan sekertaris yuda, "Yuda batalkan semua rapat hari ini" perintah Ariya. Yuda sedikit bingung lalu menjawab secepatnya "Baik tuan".
Vania di dalam kamarnya sedang memakai kimono mandi terlihat segar, dia baru saja mandi karena sudah enakan.
Sementara di luar pintu, Ariya baru saja sampai dan langsung mengetuk pintu.
Vania segera membuka pintu kamarnya, "Ariya kamu disini? ayo masuk" sambil menarik tangan Ariya, dan menutup pintu.
Ariya memandangi Vania terlihat segar dengan rambut basa karena baru saja selesai mandi."Vania bukanya kamu sakit" tanya Ariya, "itu kan semalam, pagi ini sudah baikan kok" jawab Vania.
Vania berdiri di depan lemari pakaian, dia sedang memilih baju yang cocok di pakai hari ini.
Tiba-tiba Ariya memeluk Vania dari belakang, "Sayang aku mohon maafkan aku, karena semalam aku tidak mengantar kamu pulang, kamu jadi sakit" ucap Ariya dengan lembut.
"Se sekarang aku sudah baikan" sambil ingin melepas tangan Ariya di pinggangnya, tapi Ariya makin mengerakkan tangannya supaya tidak lepas.
Ciuman mereka berlangsung cukup lama, tubuh Vania sekarang bagai melayang mendapat perlakuan lembut dari Ariya, sementara itu di bawa sana ada yang tegak karena ulah Ariya sendiri
Mendapat perlakuan seperti itu Vania cuma pasrah, karena sepertinya perlakuan Ariya cukup berpengalaman membuat tubuh Vania bagai melayang dan tidak bisa berkata apa-apa.
Vania sekarang sudah bersandar di dinding, dan Ariya sekarang menyadari aksinya yang berlebihan, kemudian menghentikan aksinya sambil berbisik di telinga Vania, "Vania sayang andai aku tidak mengingat janjiku, pasti saat ini aku menghabisi mu" dan secepatnya masuk dalam kamar mandi.
Vania masi di tempatnya dan kimono nya masi terbuka, karena tubuh Vania masi melemah karena perbuatan Ariya.
Vania kemudian tersenyum miring "Apa yang dia lakukan tadi, Ariya ternyata pemain ranjang juga" sambil mengikat kimono nya, "Dia bahkan bisa mengendalikan pemain cinta seperti ku" sambil memilih pakaian yang akan di pakai.
Ariya sekarang keluar dari kamar mandi dan berpapasan dengan Vania yang ingin masuk. tatapan Ariya tertuju pada tubuh Vania, wajah Vania jadi merah dan tertunduk malu dan berlalu masuk kamar mandi.
__ADS_1
Ariya kemudian tersenyum miring, lalu berucap "Vania ternyata bisa malu juga, jadi dia tidak semurahan apa yang di pikirkan. jadi Vania melakukanya karena terpaksa" lalu duduk di kursi yang ada di kamar itu.
Setelah membersikan diri karena ulah Ariya, sekarang Vania memakai baju, baju yang di pakai kali ini sedikit tertutup karena takut Ariya bertindak lagi. tapi Vania tetaplah Vania meski dia memakai baju yang tertutup buah dada Vania tetap menonjol karena ukuranya yang cukup besar.
Vania sekarang keluar dari kamar mandi dan melihat Ariya sedang duduk dengan rokoknya.
Pandangan Ariya masi tertuju pada Vania, Vania yang di tatap seperti itu cuma bisa mengalihkan pandanganya ke dapur, lalu berucap "Biar aku sediakan makanan" sambil berlalu ke dapur.
Ariya cuma tersenyum sambil menggeleng "Vania Vania dengan sikap kamu seperti ini, makin membuat aku tergila-gila padamu" sambil mematikan rokoknya.
Ariya mendekati Vania, memegang kedua bahunya dan mencium kening Vania yang menunduk. "Kamu tidak perlu memasak, kita makan diluar saja" sambil mengangkat dagu Vania untuk melihatnya, Vania cuma mengganguk.
Sekarang mereka sudah ada di mobil tapi Vania masi belum berani menatap Ariya, Ariya cuma bisa tersenyum melihat sikap Vania.
Ariya kemudian menggenggam tangan Vania, "Aku tidak sebaik yang kamu kira kan sayang, aku juga seorang pemain Vania" sambil melirik Vania.
Vania menatap Ariya sambil tersenyum "Iya Ariya aku salah menilai mu".
"Vania di saat aku ingin memakai jasamu dulu, itulah gaya aku sebenarnya" ucap Ariya sambil fokus menyetir. "Jadi kamu berkencan dengan wanita yang berbeda di setiap saat" sambung Vania.
"Bisa di bilang begitu sayang karena aku tidak suka dengan wanita yang berpura-pura polos mendekatiku ternyata semuanya munafik, mereka-mereka semua hanya mengincar CEO wiraguna group, satu pun tidak ada yang tulus" sambil menatap vania sekilas.
Vania mulai menyimpulkan "Sekarang aku mengerti Ariya kenapa kamu sering menolak aku dan selalu menyinggung pekerjaanku"
Ariya tersenyum sambil menjawab Vania "Itu kan kamu mulai pintar sekarang" Ariya melanjutkan per kataannya, "Vania kamu ingat pertemuan pertama kita?"
"Iya Ariya aku ingat" ujar Vania
__ADS_1
"Di situ aku mendengarkan semua curhatan mu dan malamnya di klub aku melihatmu lagi dengan penampilan yang berbeda, saat itu aku penasaran denganmu" sambung Ariya, "dan di saat kita berada di hotel, di situ aku benar-benar yakin kalau kamu melakukanya hanya terpaksa" ucap Ariya menjelaskan.