
Sementara di bawa Vania sudah pulang di sambut para pelayang, Vania sedikit terlambat karena terhalang macet, "Tuan Ariya sudah pulang" tanya Vania kepada salah satu pelayang.
"Sudah nyonya muda maafkan kami, tuan sedang ada di kamar nona Meli" jawab pelayang itu dengan menunduk, karena takut melukai hati majikanya.
Vania berusaha menahan air matanya, dia menutup matanya sebentar untuk menguatkan hatinya, "Yah sudah aku ke atas dulu dan siapkan makan malam" perintah Vania kepada pelayang.
Vania naik tangga dan melirik kamar Meli, kemudian masuk kamarnya.
Sementara di kamar Meli, Ariya masi duduk di tempatnya, Meli sudah keluar dan berpakaian rapi, "Kak Ariya masi di sini, nanti kak Vania datang dan mencari kakak" ucap Meli yang sudah berdiri di samping Ariya.
Ariya menarik tangan Meli untuk duduk di sampingnya, "Kamu kira kita sedang selingkuh yang takut ke tahuan, dengar yah kamu itu ISTRI aku (dengan mempertegas kata istri), jadi tidak ada yang berhak untuk marah, jika aku berada di kamar mana pun" ucap Ariya dengan menatap tajam ke arah Meli.
Meli menunduk, "maaf kak".
Ariya kemudian berdiri lalu mengacak rambut Meli dan berjalan keluar kamar.
Vania di kamarnya baru saja selesai mandi, Vania sudah rapi tiba-tiba pintu di buka seseorang, yang datang adalah Ariya, "sayang kamu sudah pulang" sambil berjalan ke arah Vania dan mencium pipinya. Vania tersenyum sedikit di paksakan.
"Maafkan aku sayang, tadi aku terhalang macet" ucap Vania, sambil melepas jas Ariya, tapi dia terhenti saat mencium bau sabun wanita.
Ariya menyadari sikap cemburu Vania, Ariya memeluk pinggang Vania dengan satu tangannya, "Sayang kamu yang selalu nomor satu di sini" ucap Ariya sambil mengambil tangan Vania dan meletakkan di dadanya.
Vania berusaha tersenyum walaupun hambar, "Sayang aku tidak marah, aku cuma tidak bisa mengontrol keegoisan diriku, kamu jangan khawatir nanti juga aku akan terbiasa" ucap Vania sambil memberikan Ariya handuk untuk mandi.
Setelah Ariya mandi, Ariya menggandeng pinggang Vania turun tangga.
Meli melihat kemesraan mereka berdua, ada rasa yang aneh di hati Meli, dia memegang dadanya, "apa ini, apa aku cemburu?" batin Meli.
Meli berusaha menutupi perasaanya, "Kak Vania sudah pulang" tanya Meli basa basi.
"Iya Mel, tadi macet benget" sambil mengambilkan makanan untuk Ariya. Ketiganya makan bersama.
**********
__ADS_1
Vania sedang belanja di mall ternama di kota itu, dia melihat gadis kecil yang memilih baju sendiri, kira-kira usia anak itu 6 tahun, Vania mendekati anak itu, "Hei gadis manis, nama kamu siapa" tanya Vania pada gadis kecil itu
"Namaku Amanda tante cantik" jawab gadis itu.
Vania tersenyum melihat gadis kecil itu, "Kamu lucu sekali, sama siapa ke sini?" tanya Vania lagi sambil memegang pipi Amanda.
"Aku sama papah ke sini" sambil menunjuk ke arah pria yang memilih pakaian.
Vania melihat ke arah, di mana Amanda menunjuk pria itu dan pendanggan mereka bertemu, "Dani" "Vania" ucap mereka bersamaan.
*Masi ingat Dani kan, satu-satunya teman pria Vania sekali gus yang tau profesi Vania 8 tahun yang lalu. Oke kita lanjut.*
Vania mendekati Dani, "Kamu disini, apa kabar" tanya Vania.
"Aku baik Vania, aku disini menemani putri aku belanja" jawab Dani.
"Putri kamu sangat lucu, mamahnya di mana?" tanya Vania sambil melihat ke arah Amanda.
"Mamahnya meninggal 2 tahun lalu" jawab Dani sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Tidak apa-apa Vania, ngomong-ngomong aku sudah melihat berita kamu, kamu sudah menjadi nyonya Ariya wiraguna" ucap Dani sambil memegang bahu Vania. Di saat yang bersamaan ada yang memotretnya.
"Iya Dani" jawab Vania.
Amanda mendekati ke duanya, "Pah tante cantik ini siapa?" tanya Amanda.
"Dia ini tante Vania, teman lama papah" jawab Dani.
Vania berjongkok di depan Amanda, "Manda, gimana kalau kita makan dulu sama tante" ajak Vania.
"Yeee... mau banget tante cantik" jawab Amanda.
Dani cuma tersenyum melihat sikap lembut Vania, dan Vania membalas dengan tersenyum juga. Kembali ada yang memotretnya.
__ADS_1
Ketiganya sudah duduk di restoran yang ada di mall itu, "Vania aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi, aku kira kamu sudah lupa denganku" ucap Dani.
"Dani kamu itu bicara apa sih, sampai sekarang cuma kamu teman priaku yang tau sisi gelap hidupku" sambung Vania.
"Sudahlah Vania, sekarang kamu adalah wanita terhormat, kamu juga sudah pernah sukses menjadi sekertaris hebat di salah satu perusahaan ternama" ungkap Dani.
"Kamu mengikuti kisa hidup aku Dani" tanya Vania.
"Tidak juga sih Vania, aku cuma membaca di majalah yang berjudul, seorang CEO wiraguna yang menikahi sekertaris ternama" jawab Dani.
"Ha...ha...ha..." Vania tertawa lepas seperti biasa kalau bertemu Dani, karena Dani orangnya humoris.
Amanda tersenyum melihat Vania tertawa lalu bertanya, "Tante cantik sudah menikah?".
"Iya sayang, tante sudah menikah, kamu memang anak yang pintar" jawab Vania, lalu mengusap rambut Amanda. Tapi gerak-gerik mereka tidak lepas dari sepasang mata yang memotretnya dari tadi.
********
Sementara di perusahaan wiraguna group, Ariya sedang memeriksa berkas-berkas penting perusahaan dengan sekertaris Yuda yang berdiri di sampingnya.
Tiba-tiba ada pesan masuk di leptop Ariya, terlihatlah foto-foto Vania yang baru saja terjadi, Ariya mengamati foto tersebut, "Sepertinya aku pernah melihat pria itu, tapi di mana" guman Ariya.
"Yuda selidiki pria yang ada di foto ini" sambil memperlihatkan foto yang ada di leptopnya.
"Baik tuan, saya permisi" sambil menunduk hormat pergi.
Ariya masi mengamati foto di leptopnya, menatapnya dengan tajam, saat melihat di salah satu foto yang memperlihatkan Vania yang tertawa lepas, "Sepertinya mereka cukup dekat" ucap Ariya.
Di dalam ruangan Yuda, Yuda sedang sibuk menghubungi orang-orang nya untuk menyelidiki pria yang bersama Vania di foto itu, "Dasar tuan Ariya, sudah punya istri mudah masi saja posesif pada nyonya Vania" ucap Yuda.
Malam hari di rumah Ariya, Ariya sedang ada diruang kerjanya, dia sedang membaca identitas pria yang bersama Vania di leptopnya, "Nama Dani wijaya, status duda anak satu, putrinya bernama Amanda usia 6 tahun, dia bekerja di salah satu media periklanan terbesar di kota ini".
Setelah membaca identitas pria itu, Ariya menatap lurus kedepannya penuh tanda tanya.
__ADS_1
Ariya baru tersadar ketika pintu di buka seseorang, ternyata Vania yang datang membawa segelas kopi, Ariya segera menutup leptopnya.
"Sayang ternyata kamu di sini" ucap Vania sambil meletakkan kopi di meja kerja Ariya.