
Sekarang Ariya, Vania dan Meli sedang ada di ruang keluarga, suasananya sedikit berbeda semuanya nampak belum ada yang bicara.
"Mel kami ingin bicara denganmu" ucap Vania.
"Bicara aja kak" jawab meli santai.
Vania melihat Ariya sebentar lalu mulai bicara, "Mel, sebenarnya kami tidak bisa punya anak, kakak di vonis mandul sama dokter" ucap Vania.
Meli berdiri mendekati Vania, "Kak Vania yang sabar yah, kakak sebaiknya berdoa dan ikhtiar, "Ucap meli menggenggam tangan Vania.
Vania kemudian mengambil tangan Meli dan tangan Ariya menyatukannya di pangkuannya, mata Meli melotot, "Apa ini kak" tanya Meli kaget.
"Jadilah istri Ariya, karena wiraguna group butuh pewaris secepatnya" pinta Vania dengan memohon.
Meli manarik tangannya dan berdiri berjalan mundur sambil menggeleng, "Tidak kak Vania aku tidak bisa" sambil meneteskan air matanya.
Vania ikut berdiri, "Kenapa Meli, kamu menolak Ariya, dia laki-laki yang sempurna" ucap Vania.
"Oleh sebab itu kak, kak Ariya adalah laki-laki sempurna hanya pantas bersama wanita sebaik kak Vania" ucap Meli dengan nada serak.
"Tapi aku tidak sempurna Meli" sambung Vania.
"Tapi kak Vania adalah malaikat penolongku, mana tega aku berada di antar kalian. Kalau bukan karena kakak mungkin hidup aku sudah hancur" ucap Meli memberi alasan.
Vania baru saja ingin bicara, tapi di tahan oleh Ariya yang berdiri di depannya membelakanginya. Ariya menatap tajam pada Meli, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, "Kamu sadar kalau kami menolong hidup kamu, apa kamu tidak ingin menolong kami juga" ucap Ariya dengan tegas.
Meli mendapat pernyataan seperti itu, cuma bisa diam dan duduk kembali di kursi sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
Semuanya terdiam cukup lama, pada akhirnya Meli berdiri dan dan mulai bicara, "Kalau itu yang kakak katakan, baik aku siap menikah dengan kak Ariay" kemudian berlari naik kamarnya.
Vania mendekati Ariya, "Sayang apa kamu tidak terlalu keras padanya" ucal Vania.
Ariya tidak menjawab, Ariya cuma memeluk Vania dengan erat, batinnya "itu tidak keras sayang, aku tidak tega melihat kamu memohon demi aku".
__ADS_1
Sementara di kamar Meli, Meli menangis meluapkan kesedihan nya, "Kenapa harus aku, aku bahkan tidak pernah berfikir jadi orang ketiga" guman Meli di selah tangisnya.
Keesokan paginya Meli turun dari tangga, dia melihat Vania dan Ariya sedang makan di meja makan. Meli berusaha menghindar dan memutar badan nya pergi, tapi Vania melihatnya, "Meli, kamu mau pergi, tidak makan dulu?" panggil Vania.
Meli memutar badannya sambil nyengir dan menuju meja makan, "Kak Vania aku makan di kampus aja" ucap Meli sangat canggung.
Vania melihat perubahan Meli yang sangat canggung, Vania berusaha mencairkan suasana, sedangkan Ariya cuma menikmati makanya tidak pernah melirik Meli.
"Meli makan dulu sebelum pergi, kamu santai saja kami ini masi kakak-kakakmu" ucap Vania.
Meli tidak punya alasan lagi, dia menarik kursi dan mengambil makanan.
"hari ini kamu jangan ke kampus, karena malam ini kita akan melansung kan pernikahan" ucap Ariya.
Vania yang mendengar pernikahan, dadanya begitu sesak dia berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh dengan tersenyum manis.
Sedangkan Meli yang mendengar kata pernikahan, hatinya juga sangat sakit, karena dia tidak pernah membayangkan sebelumnya menikah dengan pria yang tidak dia cintai, apa lagi harus melukai seorang hati wanita.
Ariya berdiri dari kursinya, "Sayang aku pergi dulu yah" sambil mencium kening Vania.
"hati-hati sayang" ucap Vania.
Vania kemudian mendekati Meli yang sedang menunduk makan, "Meli maafkan kakak yah, kakak tidak bisa memberimu pernikahan impian. Pernikahan hanya di gelar sederhana dan Ariya tidak ingin ada yang mengetahui pernikahan kalian" ucap Vania.
"Gak apa-apa kak, lagi pula pernikahan ini juga tidak di dasari cinta" ungkap Meli.
"Meli kamu jangan khawatir, kalau di dalam pernikahan kalian Ariya tidak bicara menciantaimu, kamu bisa bercerai dan bebas memilih pasangan hidup kamu, dan kamu jangan khawatir anak kamu kelak, akan selalu menjadi anak kalian dan pewaris wiraguna group" ucap Vania menjelaskan semuanya.
Meli yang mendengar penjelasan Vania jadi legah, "benarkah kak?" ucap Meli.
Kemudian Vania mengganguk.
Malam hari telah tiba, acara akan di langsungkan, acara itu sangat sederhana cuma di hadiri para pelayang dan Renata dengan Yuda.
__ADS_1
Sekarang Ariya sedang duduk di depan penghulu, meski usianya sudah 36 tahun dia masi kelihatan mudah dengan baju pengantin, apa lagi postur tubuhnya yang atletis membuat Ariya terlihat masi segar.
Dari arah tangga turunlah Meli di dampingi Vania, meli terlihat sangat cantik di balut gaun pengantin.
Ariya menoleh melihat calon istrinya, "cantik" batinnya. Ariya tidak munafik dia mengagumi ke cantikan Meli dengan gaun pengantin yang anggun.
akhirnya acara akad selesai, sekarang Ariya dan Meli resmi menjadi suami istri. Vania langsung berdiri menuju kolam berenang, Ariya melirik Vania yang pergi tapi Ariya tidak bisa mengejarnya karena dia menghargai Meli di sampingnya yang baru saja menjadi istrinya.
Vania berjalan di samping kolam berenang, memegang dadanya "Ini sangat sakit juga perih, ternyata aku terluka" ucap Vania.
"Maafkan aku kak Vania" ucap Meli yang berada di belakannya. Vania menoleh, "kamu di sini meli.
Meli langsung memeluk Vania, "Aku tau kak Vania sangat terluka" sambil meneteskan air matanya dan kedua wanita yang beda generasi itu sama-sama menangis.
Sedangkan dari arah luar, Ariya memperhatikan ke dua istrinya itu yang sedang berpelukan, "Mereka wanita yang luar biasa, yang mempunyai hati yang baik dan lembut" guman Ariya.
Renata dan Yuda sudah pulang, pelayang juga sudah bubar. Sekarang Meli sedang ada di kamar pengantinnya yang sudah di hias sangat cantik layaknya kamar pengantin pada umumnya.
Meli duduk di sudut tempat tidur, dia masi memakai baju pengantin, "Kok aku kaya gini yah, aku takut" ucapnya sambil memencet hpnya.
Tiba-tiba pintu di buka seseorang, Meli melihat ke arah pintu ternyata Ariya yang datang, Meli jadi malu dan langsung menunduk.
Ariya perlahan-lahan mendekati Meli, dan duduk di samping Meli, Meli tidak berani bicara saat Ariya duduk di sampingnya.
Tiba-tiba Ariya memegang tangan Meli, "Meli maafkan aku yah, aku belum bisa menerima kenyataan ini, tapi perlahan-lahan aku akan bersikap adil" ucap Ariya dengan nada lembut.
Meli yang mendengar penyataan seperti itu, dia langsung mengangkat wajahnya, "Santai aja sih kak, aku malah senang kok" sambil tersenyum manis.
Ariya langsung menatapnya tajam, karena di tatap Meli langsung berdiri. Entah kanapa Meli paling takut melihat tatapan tajam Ariya.
"Aku mau mandi kak" sambil berjalan masuk dalam kamar mandi.
Setelah ke pergian Meli, Ariya masi duduk di ranjang pengantinnya, "Sebaiknya aku keluar, sebelum Meli selesai mandi" guman Ariya, kemudian berdiri untuk keluar.
__ADS_1