Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
SAYA TIDAK AKAN MELEPASKAN KEDUANYA


__ADS_3

"Bagai mana bisa seorang wanita bisa menerima orang ketiga dalam pernikahannya?" tanya kembali wartawan.


"Sebelumnya saya ingin mengatakan, kalau Meli ini sudah kami anggap seperti adik kami sendiri, dia ini sudah tinggal bersama kami" ucap Vania.


"Kalau boleh kami tau alasannya apa nyonya Vania" tanya wartawan lagi.


Wajah Vania berubah menjadi sedih, dan Ariya menyadari reaksi istrinya, Ariya ingin menutup konferensi pers, "Baik saya rasa pertanyaan saat ini cukup".


Vania menahan tangan Ariya, "Saya akan menjelaskan, seperti yang kalian semua tau, kalau suami saya adalah CEO wiraguna group dan beliau butuh seorang pewaris, sedangkan saya tidak bisa mewujudkan itu karena saya mandul dan yang menyusulkan suami saya untuk menikah lagi adalah saya sendiri" jelas Vania panjang lebar dengan nada sendu.


Ariya langsung memeluk pundak Vania dan mencium rambutnya, "Kalian berhentilah bertanya karena akan melukai hati istri saya" ucap Ariya sedikit bergetar terbawa suasana.


"Ini pertanyaan terakhir tuan, apa kah tuan akan melepaskan salah satunya jika sudah memiliki anak" tanya wartawan.


Ariya melepaskan pelukannya dan menarik nafasnya lalu menghembuskan perlahan. Vania dan Meli menatapnya, mereka penasaran dengan jawaban Ariya, begitu pula penonton yang menyaksikan.


Ariya mulai bicara, "Hem...Baik saya akan jawab, Vania adalah wanita yang sangat berharga bagiku, dia adalah separuh jiwaku, sedangkan Meli adalah calon dari anak-anakku, dan tentu saya sangat menyayangi anak ini meski usianya lebih mudah dariku. Jadi saya tidak akan melepaskan keduanya" ucap Ariya dengan tegas. Vania dan Meli menatap Ariya tampa berkedip.


"Baik karena semuanya sudah jelas, jadi konferensi pers kami tutup" ucap Ariya, lalu berdiri dari tempatnya dan di ikuti Vania dan Meli, di susul Yuda di belakangnya. Mereka naik kamar hotel di dampingi beberapa bodyguard.


Setelah tayangan itu berlangsung, publik menjadi kasian dengan apa yang terjadi dengan Vania, tapi sebagian ada yang memaklumi karena mereka menyadari kalau wiraguna group sangat besar dan memang butuh seorang pewaris.


Ariya, Vania, Meli dan Yuda sedang berada di salah satu ruangan VIP di hotel itu, suasana di ruangan itu sangat tegang, Yuda menyadari semua itu.


"Tuan Ariya, saya permisi" ucap Ariya.


"Sekertaris Yuda tunggu, apa kamu bisa menemaniku keliling di tempat ini" ucap Meli, Ariya langsung menatapnya dengan tajam.


"Yuda keluarlah" ucap Ariya masi menatap Meli.


"Saya permisi tuan" kemudian berlalu keluar.


Tinggal lah mereka bertiga dalam ruangan itu, benar-benar suasana menjadi tegang dan kaku. Vania sedang duduk di sofa dan Meli sedang berdiri di samping meja panjang untuk pertemuan.


"Ini bukan pertama kalinya kita berada dalam ruangan yang sama, kenapa semuanya diam?" ucap Ariya sambil berjalan ke dinding kaca yang ada di ruangan itu sambil memasukkan satu tangannya di saku celananya.

__ADS_1


Vania dan Meli langsung bertatapan, mereka sama-sama tersenyum, "Sebaiknya kita pulang ke rumah saja" ajak Vania lalu berdiri dari duduknya.


"Aku setuju kak Vania" jawab Meli, kemudian ke duanya berjalan keluar.


"Hai... kalian tunggu" sambil berlari mengejar kedua istrinya dan mereka bertiga pulang bersama.


********


Sebulan telah berlalu, setelah konferensi pers berlangsung. Sikap Meli sangat berbeda, dia menjaga jarak pada Ariya dan dia juga lebih sering pulang malam.


Saat ini Meli sedang di perjalan pulang, Meli melihat jam di pergelangan tangannya, jam menunjukkan pukul 23:00.


"Nona Meli, apa sekarang kita pulang" tanya sopirnya.


"iya pak, kita pulang saja" jawab Meli.


Sesampainya di rumah, Meli langsung ke kamarnya, dia pelan-pelan membuka pintu kamarnya dan menyalahkan lampu, betapa kagetnya Meli saat melihat Ariya duduk bersandar di ranjangnya.


"Baru pulang jam segini?" tanya Ariya.


"Apa salah seorang suami berada di kamar istrinya" jawab Ariya dengan menatap Meli, tapi Meli mengalihkan pandanganya.


"Sebaiknya kak Ariya keluar, aku ingin istirahat" ucap Meli.


"Kamu mengusir ku" tanya Ariya.


Meli tidak menjawab, dia mengambil handuk ingin ke kamar mandi.


Ariya berdiri dari duduknya dan mencegah lengan Meli, "Kenapa kamu menghindari ku?" tanya Ariya.


"Kedekatan kita akan menyakiti kak Vania" jawab Meli dengan nada yang di tekan, dengan mata berkaca-kaca, tapi belum menatap Ariya.


"Meli, kamu tidak ingin menyakiti Vania atau kamu takut tidak bisa mengendalikan perasaanmu padaku?" tanya Ariya dengan mengintimidasi Meli.


Meli tidak menjawab, dia mengalihkan pembicaraan dengan menatap tajam Ariya, "Kenapa kak Ariya mendaftarkan pernikahan kita?".

__ADS_1


"Sepertinya itu tidak perlu aku jawab, karena tentunya kamu ingin anak-anak kita punya status sosial nantinya" jawab Ariya dengan tidak melihat Meli.


"Apa cuma itu" tanya Meli dengan nada pelan.


Ariya menoleh kepada Meli dan mendekatkan wajahnya ke wajah Meli, sambil berbisik, "Dan aku juga tidak ingin kehilangan dirimu" kemudian berlalu keluar kamar Meli.


Setelah kepergian Ariya, Meli tersenyum miring, "Dia pandai sekali merayu, ini tidak boleh di biarkan" gumam Meli sambil memegang dadanya, "Ada apa dengan jantungku, sepertinya aku harus cek ke dokter" gumamnya sambil masuk kamar mandi.


Minggu pagi, Ariya dan Vania sedang berenang dan bermesraan di kolam berenang, Meli terlihat berjalan ke dapur ingin menggambil air dan Meli melihat kemesraan Ariya dan Vania dari dapur.


"Kenapa sekarang aku cemburu melihat mereka, bukan kah ini sudah biasa" gumam Meli lalu meminum air.


Ariya sedang menggendong Vania naik pinggir kolam dan tidak sengaja melihat Meli yang melihatnya, Ariya tiba-tiba mematung dan Vania menyadari reaksi Ariya yang berubah, Vania mengikuti arah pandangan suaminya yang melihat Meli.


Meli menyadari kalau Ariya dan Vania juga melihatnya, buru-buru dia menghabiskan airnya lalu meninggalkan dapur.


"Sayang sepertinya suami aku sedang gelisah, ada apa? ayo cerita" ucap Vania sambil memegang pipi Ariya supaya melihatnya.


Ariya melihat Vania dan tersenyum, "tidak ada yang membuat aku gelisah jika ratuku ini masi selalu bersamaku" sambil ingin mencium bibir Vania, tapi di tahan oleh Vania.


"Katanya aku separuh jiwamu, mana mungkin bisa membohongi jiwa kamu sendiri" ucap Vania sambil berdiri mengambil jubah mandi.


Ariya naik dari kolam renang, memperlihatkan otot-otot perutnya yang seperti roti sobek dan otot lengannya yang kekar. Ariya menahan tangan Vania, "Baik aku kalah sayang, aku akan cerita".


Vania dan Ariya sedang berjemur, di tempat berjemur, mereka sedang berjemur sambil meminum es jeruk.


"Sayang kamu tidak melihat perubahan Meli akhir-akhir ini" tanya Ariya.


"Menurut kamu dia kenapa" tanya balik Vania sambil meminum jusnya.


"Apa lagi, siapa sih yang bisa menolak pesona Ariya wiraguna" jawab Ariya dengan pedenya sambil kedua tangannya di jadikan bantal.


Vania melihat kearah Ariya dan memicingkan matanya, "Kamu terlalu pede" sambil berdiri naik ke kamar.


"hei.... sayang tunggu aku" dan berjalan di belakang Vania.

__ADS_1


__ADS_2