Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
POSITIF HAMIL


__ADS_3

Keesokan harinya sidang putusan perpisahan Vania dan Ariya di kelar tertutup, hakim baru saja ingin membaca surat putusan, tiba-tiba Vania pingsan.


"Vania!" panggil Ariya, kemudian berlari menolong Vania.


"Yuda siapkan sopir, kita ke rumah sakit" perintah Ariya pada Yuda yang berdiri di sampingnya.


"Baik tuan" sambil berjalan keluar.


Saat ini Vania sedang berbaring di ruang VIP RS, perlahan-lahan Vania membuka matanya dan samar-samar melihat Ariya duduk di sampingnya.


"Vania, kamu tidak apa-apa?" tanya Ariya khawatir.


"Ariya kamu disini, aku tidak apa-apa" jawabnya masi lemah.


Dari arah luar, dokter masuk bersama perawat, Ariya langsung berdiri.


"Dok istri saya kenapa?" tanya Ariya.


Dokter itu tersenyum, "istri pak Ariya tidak apa-apa".


"Terus dok, kenapa istri saya bisa pingsan?" ucapnya sedikit heran.


Dokter itu melihat perawat di sampingnya, "Sus kasi hasilnya kepada Pak Ariya". perawat pun memberikan hasil pemeriksaan Vania.


Ariya secepatnya mengambil kertasnya dan membukanya bersama Vania. setelah di buka Ariya dan Vania saling bertatapan membulatkan matanya.


Ternyata hasil lab, mengatakan di kertas itu kalau Vania POSITIF HAMIL, Vania langsung meneteskan air mata harunya dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Ini benar dok" tanya Ariya tidak percaya.


"Ini benar pak Ariya, sekali lagi terjadi keajaiban yang sangat luar biasa, dan selamat yah pak Ariya dan buk Vania" ucap dokter itu.


"Ini keajaiban yang luar biasa dok, jadi istri saya bisa pulang hari ini dok" tanya Ariya antusias, dengan mengelus-elus bahu Vania.


"Ya bisa pak Ariya, kami permisi dulu" jawab dokter itu.


"Terima kasih dok" ucap Ariya dengan rona bahagia. dokter pun meninggalkan ruangan.


"Ariya ini tidak mimpi kan?" tanya Vania dengan mulut bergetar.


"Tidak sayang, kamu tidak mimpi" ucapnya sambil menarik tubuh Vania dan memeluknya dengan lembut. Vania tersenyum di balik pelukan Ariya.

__ADS_1


Kabar kehamilan Vania sudah sampai di telinga Meli, saat ini Meli sedang duduk di depan meja rias memperhatikan dirinya, "Aku harus menemui kak Vania" ucapnya dengan ekspresi susah di tebak.


Sementara itu Vania sedang ada di kamarnya dan duduk bersandar di ranjangnya, Vania mengusap perutnya "Aku tidak menyangka, kalau aku bisa merasakan keberadaan malaikat kecil di perutku" gumamnya sambil meneteskan air mata harunya.


Di saat yang bersamaan Ariya membuka pintu kamar dan berjalan ke arah Vania dengan map di tangannya, Ariya duduk di samping Vania dan mengusap air mata Vania.


"Oh ya sayang, apa itu" tanya Vania sambil melihat map di tangan Ariya.


"Oh ini sayang, surat perpisahan kita" ucapnya menggantung.


Ekspresi wajah Vania berubah murung "Pasti hakim sudah memutuskan perpisahan kita" tanya Vania sambil menunduk.


Ariya tersenyum, "Aku sudah menyuruh Yuda untuk membatalkannya, jadi tinggal merobek berkas ini" ucapnya sambil merobek berkas di tangannya.


Ariya tiba-tiba memegang tangan Ariya, "Ariya kenapa kamu membatalkan perpisahan kita" tanya Vania menatap sayu.


"Perlukah kamu menanyakan itu sayang, mana mungkin aku berpisah dengan wanita yang mengandung bayiku" ucapnya dengan menatap lembut Vania.


"Kenapa kamu bisa yakin kalau ini baby mu, sedangkan gosip yang beredar..." ucapan Vania terpotong, ketika Ariya


"ussstt" sambil meletakkan telunjuknya di bibir Vania, "stop sayang, jangan pernah berbohong padaku, malam itu mana mungkin aku tidak menyadari separuh jiwaku bersamaku" sambung Ariya.Vania tidak lagi bicara.


"Sayang tunggu yah, nanti aku suruh pelayang untuk mengantar makanan naik" ucap Ariya.


Seperti biasa Ariya dan Vania, bergandeng mesra turun tangga, dia saat bersamaan Meli datang dari arah pintu dengan mendorong bayinya.


Tatapan mereka bertemu dan cukup lama mereka beradu pandang, Ariya mencoba mencairkan suasana.


"Meli dan putra kecilku ada di sini" ucapnya sambil melepaskan pelukannya kepada Vania dan menghampiri bayinya.


Meli juga mendorong bayinya mendekati Ariya dan Vania mengikuti langkah Ariya.


"oh jagoan papah sudah besar ini" ucap Ariya kepada bayinya, dan berjongkok mengelus bayinya.


Sementara itu Meli mendekati Vania dan langsung memeluknya, "Kak Vania selamat yah dan maafkan Meli" ucapnya masi memeluk Vania.


Vania mengusap punggung Meli, sambil melepaskan pelukannya, "Meli kamu tidak salah".


Ariya melihat kedua istrinya dan memberi kode pada perawat yang dari tadi berdiri di belakang Meli, untuk mengambil bayinya dan perawat segera mendorong kereta Bayi, BebyAndra masuk.


"Ayo Mel duduk dulu" ajak Ariya pada meli, kemudian ketiganya duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Meli sedang menggenggam kedua tangan Vania dan duduk berhadapan "Kak Vania sekali lagi maafkan Meli, karena berprasangka buruk tentangmu" ucapnya dengan wajah menyesal.


Sedangkan Ariya duduk bersandar dengan santai di depan kedua istrinya.


"Yah sudah Meli, sekarang kamu harus fokus dengan kuliahmu, yang setahun ini tertunda" ucap Vania. Meli hanya mengangguk.


Meli kemudian berpaling melihat Ariya dan kembali melihat Vania, "Kak Ariya, kak Vania, maksud kedatangan ku kesini ingin mengatakan sesuatu" ucapnya menghentikan ucapannya.


"Apa Mei" tanya Ariya lembut.


"Aku ingin meminta cerai dengan kak Ariya" ucap Meli dengan tegas menatap Ariya.


Ariya dan Vania saling bertatapan, belum menanggapi ucapan Meli.


"Kak aku sadar menjadi yang ketiga itu tidak lah mudah dan aku menyerah dengan kekuatan cinta kalian" sambung Meli meneteskan air matanya.


Vania dan Ariya saling bertatapan kemudian Ariya berdiri dari duduknya dan duduk di samping Meli.


"Meli kali ini aku tidak akan memaksamu bertahan, akan ku beri kebebasan dan secepatnya akan ku urus surat perpisahan kita" ucapnya dengan berat sambil mengusap lengan lengan Meli.


"Meli" panggil Vania dengan menggenggam kedua tangan Meli, dan Meli berpaling melihat Vania.


"Meli setelah ini, kamu jangan khawatir tentang masa depan beby Andra, akan ku pastikan beby Andra tetap akan menjadi pewaris wiraguna group" ucapnya dengan serius.


Meli tersenyum sambil mengangguk, "Kak Vania sekali lagi terimakasih, sudah peduli dengan beby Andra".


"Dan Meli kamu jangan khawatir untuk biaya kuliahmu, aku akan memberi harta gono-gini yang cukup untukmu. Dan setelah kamu menyelesaikan kuliahmu di jurusan Seni dan Kebudayaan, uang itu akan cukup membangun sebuah museum" timpal Ariya.


"Meli tidak akan menolak kak" dengan senyum lebar sambil memeluk Vania, "Meli beruntung punya kakak seperti kalian" sambungnya.


Ariya melihat ke sembarang arah dan mengusap air matanya yang menetes, tapi Vania melihat itu.


"Ariya Antar Meli pulang, biar beby Andra malam ini bersamaku" ucap Vania kepada Ariya, memberi waktu Ariya dan Meli bisa bicara berdua.


"Tapi kak Vania, aku bisa pulang sendiri" ucap Meli.


"Kalian perlu bicara berdua" ucap Vania dan melihat Ariya.


"Ayo Meli, aku antar" panggil Ariya, kemudian berjalan keluar dan di susul Meli.


Saat ini Ariya bersama Meli sedang ada di restoran Wiraguna group, Ariya membawa Meli salah satu ruang terbuka, keduanya berdiri menikmati angin malam.

__ADS_1


"Meli maafkan aku" ucap Ariya dengan berdiri sambil bersandar di pembatas restoran.


"Kak Ariya tidak perlu meminta maaf, semua yang kak Ariya dan kak Vania berikan selama ini lebih dari cukup" sambil berdiri berjalan ke samping Ariya.


__ADS_2