
Keesokan harinya, foto Elena dan Arvan semalam yang masuk hotel bersama, telah tersebar di seluruh akun gosip. Elena dan Arvan belum mengetahuinya karena belum meninggalkan hotel.
Elena baru bangun dan sedang duduk bersandar di atas ranjang, dalam ke adaan tubuh yang masi polos dan tertutup selimut.
Elena menatap lurus ke depan dengan air mata yang mengalir di pipinya, rambutnya yang tergerai dan bahu yang terbuka mulus, membuat Elena terlihat cantik alami.
Sedangkan Arvan duduk di sofa dengan penuh rasa bersalah, dan melihat Elena yang menitihkan air mata.
Arvan perlahan berdiri dan mendekati Elena, Arvan melepas jasnya dan menutup bahu Elena, tapi Elena tidak bergeming.
Melihat Elena tidak bergeming, Arvan kemudian duduk di depan Elena lalu mengusap air matanya dengan lembut.
"Maafkan aku Elena" ucap Arvan penuh bersalah.
Elena mengangkat kepalanya menatap Arvan, "Kamu tidak salah Van, justru kamu menyelamatkan ku" ucap Elena.
"Saat ini aku benar-benar gagal dalam semual hal" ungkap Arvan.
"Van aku cuma kecewa pada diriku sendiri, aku selalu bermimpi, bahwa pria yang pertama kali menyentuhku ada suamiku kelak" tutur Elena.
Arvan kemudian menarik Elena dalam pelukannya dan berbisik, "Jangan khawatir, bersihkan dirimu kita pulang sekarang".
Setelah keduanya rapi dan bergegas keluar hotel, tiba-tiba HP keduanya bergetar. Keduanya sama-sama membuka pesannya dan saling memandang, ternyata pesan dari Aditya tentang foto dirinya yang masuk hotel semalam, yang sudah beredar.
Tidak ada yang bicara setelahnya, Arvan dan Elena menuju basecamp mereka, di sana sudah ada Andra dan Aditya yang menunggunya.
Andra yang melihat kedatangan Adik dan kekasihnya, langsung berdiri dan menatap tajam Adiknya.
Arvan tetap mendekat dengan wajah bersalahnya, meski melihat kemarahan dari kakaknya.
Andra langsung m*mukul wajah adiknya, membuat Arvan terpental kelantai, tidak sampai di situ Andra masi menyerang Arvan dan mengangkat kerah baju Arvan.
Meski mendapat beberapa pukulan dari kakaknya, Arvan tidak melawan dan tidak menghindari sama sekali serangan Andra, membuat dara segar keluar dari sudut bibirnya.
Aditya yang dari tadi melihat pertengkaran kedua saudara itu, berdiri menghentikan Andra, "Kak Andra sudah, sepertinya Arvan juga menyadari kesalahannya" ucap Aditya.
__ADS_1
Sementara itu Elena hanya bisa menangis, dan tidak bisa berkata apa-apa.
Arvan kembali mengangkat kerah baju Arvan, "Dengar yah Arvan, kenapa kamu melakukan semua itu, dia saat kamu sadar akan melukai dua hati" ucap Andra penuh Amarah.
Arvan yang sudah lemah berusaha bicara, "Kak maafkan aku, tapi bisa kah kamu mendengar, apa yang di balik foto itu" ucap Arvan.
Kemudian Andra melepaskan Arvan, dan menunggu penjelasan adiknya.
"Semalam kebetulan aku berada di klub malam, di mana Elena berada dan melihat seseorang memberikan obat perangsang pada minumannya, jadi aku menolongnya dan aku juga berusaha menghubungi kak Andra, tapi tidak dapat di hubungi" Cerita Arvan, untuk menjelaskan semuanya.
"Apa katamu? obat perangsang, jadi kalian sudah....." Andra tidak melanjutkan ucapannya, dia langsung memutar tubuhnya dan memukul keras ke tembok.
Tiba-tiba terdengar suara gucci keramik terjatuh, ke empatnya serentak menoleh, ternyata di situ ada Nara yang mendengar penjelasan Arvan.
Nara kemudian mendekati Arvan dan memukul dada Arvan untuk melampiaskan amarahnya.
"Kak Arvan benar-benar jahat, dan gagal menjadi seorang kekasih, gagal menjadi seorang saudara dan gagal menjadi seorang sahabat" tutur Elena di selah tangisnya.
"Nara maafkan aku" hanya kata maaf yang bisa di ucapkan Arvan saat ini.
Arvan menghentikan langkahnya, dan mengangkat HPnya, "Iya pah" ucap Arvan, ternyata Ariya yang menelpon.
"Arvan segera pulang sekarang, jika Elena bersamamu bawa dia pulang ke rumah" ucap Ariya di sebrang telpon.
"Iya pah" jawab Arvan singkat.
"Kak Andra sekali lagi maaf, tapi aku harus menyelesaikan semuanya" ucap Arvan dan menarik tangan Elena pergi.
Elena ikut saja dengan Arvan, tapi pandangannya masi melihat ke arah Andra, sampai benar-benar menghilang.
Sesampainya di rumah Arvan langsung mengajak Elena masuk, dan di sana sudah ada Revan dan Elina menunggu.
"Arvan!" panggil Vania pada putranya.
Arvan mendekati mamahnya, "Mah maafkan Arvan, ini di luar kendaliku" ucap Arvan lalu memeluk Vania.
__ADS_1
Vania melepaskan pelukan putranya, "Mama kecewa pada mu" ungkap Vania.
"Pah maafkan Arvan" ucap Arvan pada papahnya dengan rasa bersalah.
"Arvan kamu tentu tidaklah bodoh dan tidak mengetahui semuanya, kalau papah sengaja menjodohkan mu dengan Elena, Agar kakakmu mau mengejar wanita yang dia cintai, yah itu Elena. Tapi kenapa kamu melakukan ini?" tanya Ariya pada putranya, Arvan diam saja.
Kemudian Elena maju, "Pah, mah, om Ariya dan tante Vania ini semua salahku, semalam aku menghadiri pesta ulang tahun temanku, tapi ada yang berniat jahat padaku, dengan memasukkan obat perangsang pada minumanku dan untung saja Arvan datang menolongku, yang kebetulan ada di tempat itu. Tapi jangan salah kan Arvan karena aku yang memohon, agar Arvan membawaku pergi" ungkap Elena panjang lebar.
Semuanya terkejut mendengar cerita Elena, Elina mendekati putrinya yang dia banggakan selama ini.
"Apa kata mu, obat perangsang jadi kalian sudah melakukannya" tanya Elina pada putrinya, sambil mengguncang tubuh Elena.
Arvan menghentikan tangan Elina, "Tante cukup! dan dengar semuanya, aku akan tanggung jawab dan menikahi Elena" ucap Arvan dengan tegas tampa ragu.
Elena langsung menatap ke arah Arvan dengan mata berkaca-kaca, dan di balas anggukan oleh Arvan.
"Oke tidak ada yang dapat kita katakan lagi, segera lakukan konferensi pers dan kami akan menyiapkan pernikahan kalian" ucap Ariya.
********
Sore itu Arvan dan Elena langsung melakukan konferensi pers, mengenai foto yang beredar agar nama baik Elena, sebagai model ternama tidak tercoreng.
Para media sudah menunggu kedatangan Arvan dan Elena, tidak lama kemudian keduanya datang, dan segera konferensi pers berlangsung.
Arvan melihat ke depan dan mulai bicara, "Konferensi pers kali ini, saya tidak akan bicara banyak, terkait foto yang sudah beredar, sepertinya tidak ada yang perlu di besar-besarkan, karena tentu kalian sudah tau kalau kami segera bertunangan" ucap Arvan dengan tegas dan jelas.
Para wartawan tidak ada yang berani bertanya lagi, "Baik kalau tidak ada yang di tanyakan lagi, konferensi pers kami tutup" ucap Arvan sambil berdiri dan menggenggam tangan Arvan.
Di perjalanan masuk mobil, Avan masi menggenggam tangan Elena, tapi Elena menyadari hal itu dan menatap Arvan yang fokus melihat ke depan.
"Arvan kenapa baru sekarang kamu bersikap seperti ini denganku, bertahun-tahun aku mengejar mu, tapi sedikitpun tidak pernah memberiku kesempatan agar kita bisa lebih dekat" batin Elena.
Kemudian Arvan dan Elena masuk mobil dan duduk di kursi penumpang, "Pak jalan, antar Elena kerumahnya dulu" perintah Arvan.
"Elena pulang lah dan istirahat, aku akan menemui Nara dulu" ucap Arvan tapi tidak melihat Elena, di balas anggukan oleh Elena. Dan keduanya tidak ada yang bicara.
__ADS_1