
Setelah berada di kamar mandi Elena membasuh wajahnya dengan air dan mengusapnya dengan handuk kecil yang ada di sampingnya.
Setelah merasa tenang Elena keluar, dan tidak melihat Arvan di ruangan itu, "Arvan kemana" ucap Elena lalu berbaring di ranjang yang ada di ruangan itu.
Tidak terasa mata Elena terpejam hingga terlelap dalam tidurnya.
Barulah Elena terbangun ketika waktu sudah sore, "Ternyata aku ketiduran" ucap Elena.
"Ternyata tempat ini sangat nyaman, bahkan aku ketiduran" sambung Elena.
"Tidur mu nyenyak sekali Elen" sahut Arvan yang sedang duduk di sofa menunggu nya.
Elena terkejut dan menoleh, "Ternyata kamu nungguin aku, sekarang jam berapa Van?" tanya Elena.
Arvan melihat jam tangan di pergelangan tangannya, "Sudah jam lima, kita pulang sekarang" jawab Arvan sambil berdiri menghampiri Elena.
"Yah sudah kita pulang sekarang" timpal Elena sambil berdiri.
Arvan kemudian merapikan rambut Elena yang berantakan, membuat Elena terdiam dan terbawa suasana. "Rapikan dulu, nanti orang berfikir yang tidak-tidak lagi tentang kita" ucap Arvan dengan lembut.
**
__ADS_1
Arvan dan Elena sudah sampai di rumah nya dan hari sudah malam, mereka juga sudah selesai mandi.
Arvan terlihat sedang memencet leptop nya di sofa dan memakai jubah tidur yang memperlihatkan bagian dadanya, sementara Elena yang baru keluar dari kamar mandi, melihat Arvan.
"Sekarang waktu nya untuk mengatakan pada Arvan, kalau aku mencoba mendekatkan Verrel dan Nara" batin Elena, lalu berjalan menghampiri Arvan dan duduk di samping nya.
Karena terlalu bersemangat, Elena tidak sadar kalau hanya memakai jubah mandi.
"Arvan aku ingin bicara" ucap Elena.
Arvan langsung menutup leptop nya, "Ada apa Elena?" tanya Arvan sambil merangkul pundak Elena.
"Bicara saja Elena" sambung Arvan.
"Gini Van, aku ingin menjodohkan Verrel dan Nara, apa kamu tidak keberatan?" tanya Elena.
Arvan kemudian menyandarkan kepala Elena di dadanya, "Elena dengar yah, Nara memang pernah ada dalam hatiku, tapi sekarang masalah pribadi Nara bukan lagi kapasitas ku untuk mencampuri nya" jelas Arvan.
Elena merasa nyaman di pelukan Arvan, "Sebenarnya aku sangat kasihan dengan Nara" sambung Elena.
"Elena, Nara punya kehidupan sendiri dan pasti punya impian nya sendiri, jadi kita tidak boleh mencampur urusan pribadinya, lebih baik kita fokus dengan rumah tangga kita" tutur Arvan.
__ADS_1
Elena langsung tersadar dengan kalimat terakhir Arvan, "Maksud kamu apa Van?" tanya Elena.
"Kita bisa kan menjadi rumah tangga yang normal, seperti suami istri pada umumnya" jawab Arvan sambil mencium rambut Elena.
Elena baru menyadari kalau sedang berada dalam pelukan Arvan dan segera duduk dengan tegap, "Kamu bicara apa sih Van" ujar Elena untuk mengalihkan pembicaraan.
Elena segera berdiri untuk menghindari Arvan yang menurutnya aneh, tapi Arvan juga ikut berdiri dan memeluk Elena dari belakang.
"Elena, kamu percayakan jodoh di tangan Tuhan?" bisik Arvan sangat dekat di telinga Elena.
Elena kembali terbawa suasana dengan posisinya saat ini, "Arvan lepas kan, aku tidak nyaman" ucap Elena berbohong.
Arvan kemudian memutar tubuh Elena dan merangkul pinggangnya dari depan, lalu mengangkat dagu Elena dengan telunjuknya, "Elena apa tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatimu untuk ku?" tanya Arvan dengan serius dan menatap Elena tampa berkedip.
Elena terdiam karena tidak mungkin, tidak ada lagi rasa di hati nya untuk Arvan, pria yang dia kagumi dari kecil.
Arvan yang melihat Elena diam saja, perlahan mendekatkan bibir nya ke bibir Elena, detik berikut nya Arvan mencium bibir Elena dengan lembut dan kedua tangan nya memegang pipi Elena.
Elena tidak menghindar, dia justru menikmati ciuman suaminya itu dan Arvan kemudian melepas cium.
Kemudian memeluk Elena dengan erat, "Tidak perlu menjawabnya Elena, aku sudah tau jawabannya" ucap Arvan.
__ADS_1