Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
BERHATI MALAIKAT


__ADS_3

Ariya melihat Vania dan langsung saja mencium kening istrinya, seperti biasa jika pulang kantor. Mata Vania tertuju kepada wanita yang di samping Ariya.


"Aku juga tidak tau siapa dia, aku cuma menolongnya" ucap Ariya.


"Malam nyonya, nama saya Meli" ucap wanita itu mulai tersenyum.


Vania memanggil salah satu pelayan, "Bawa dia di kamar tamu dan berikan untuknya pakaian yang layak" perintah Vania pada pelayan.


"Kamu jangan takut, tamu suami saya, adalah tamu saya juga" ucap Vania.


"Ayo sayang kita naik, aku ingin mandi dulu baru makan" panggil Ariya pada Vania.Kemudian menggandeng pinggang Vania naik tangga.


Meli memperhatikan sepasang suami istri itu, "Mereka sangat romantis" gumam Meli.


Vania dan Ariya sudah sampai di kamarnya, Vania melepaskan dasi Ariya, kemudian Ariya menangkap tangan Vania, "Maaf yah sayang, aku membawa anak itu ke rumah kita" ucap Ariya.


"Anak itu, maksudnya wanita yang tadi?" tanya Vania.


"Anak itu tadi bersembunyi di mobilku dan memohon pertolongan" ungkap Ariya.


"Gak apa-apa sayang, sepertinya wanita itu memang butuh pertolongan" ucap Vania sambil melepas sepatu suaminya.


"Yah udah aku mandi dulu, nanti kita sama-sama kebawa" ucap Ariya sambil mengambil handuk dan masuk kamar mandi.


Sementara di bawa Meli sudah membersihkan diri, dia memakai baju yang di bawa pelayang. Sekarang penampilan Meli sangat alami tidak semenor tadi.


Meli berkeliling dan melihat rumah itu, "wow rumah ini seperti di amerika" gumam Meli, masi melihat sekeliling.


Meli menuju meja makan dan beberapa pelayang sedang mempersiapkan makanan, "Maaf yah memangnya berapa orang yang berada di rumah sebesar ini" tanya Meli pada pelayang.


Pelayang itu tersenyum melihat kepolosan wanita di depannya, "Cuma nyonya dan tuan, karena mereka belum mempunyai anak nona?" jawab pelayan itu.


"Kalau begitu aku bantuin yah" ucap Meli.


"Jangan nona, nona adalah tamunya tuan, jadi anda duduk saja" tegur pelayang itu sambil menghentikan tangan Meli yang ingin membantu.


Tiba-tiba dari tangga turun lah Ariya dengan menggandeng mesra pinggang Vania. Meli menoleh melihatnya dan para pelayan menunduk hormat sementara meli memperhatikan para pelayang.


Vania dan Ariya sudah sampai di meja makan, "Ayo meli duduk kita makan" ucap Vania.

__ADS_1


"Iya nyonya" jawab meli singkat.


Semuanya makan dengan tenang, Meli mulai bicara, "tuan dan nyonya, terimakasih atas pertolongannya dan aku janji akan membalas budi kalian" ucap meli.


"Meli memang kamu ada masalah apa?" tanya Vania.


"Maaf nyonya, ayah angkat aku ingin menjual ku, jadi saya lari sebelum masuk dalam hotel" cerita Meli sambil menunduk.


Vania berhenti makan dan melihat suaminya, tapi sepertinya Ariya tidak tertarik dengan cerita hidup Meli, Ariya masi menikmati makanya dengan santai.


"Jadi rencana kamu ke depannya apa?" tanya Vania lagi.


Mungkin aku akan pergi dari kota ini dan berhenti kuliah, karena kalau aku masi kuliah dengan mudah ayah angkat ku menemukanku" sambung meli.


"Usia kamu berapa" tanya Vania.


"19 tahun nyonya" jawab meli.


Setelah Vania menanyakan masalah Meli, dan semuanya sudah selesai makan.


Sekarang Vania dan Ariya ada di ruang keluarga, tiba-tiba Vania bicara, "Sayang bagaimana kalau kita biayai hidup Meli saja" ucap Vania.


Vania mendekati suaminya dan memegang lengannya, "Sayang, Meli itu butuh pendidikan, masa depannya masi panjang, aku tidak ingin seseorang mengalami nasib yang sama denganku" ucap Vania.


"Tapi sayang, di luar sana masi banyak orang yang bernasib sama dengan Meli, apakah kamu ingin menolong semua orang?" tanya Ariya dan berusaha menjelaskan pada Vania.


"Gak gitu dong Sayang, ini lain cerita, Meli ini sudah ada di depan mata kita, masa kita biarkan terlantar dan sepertinya dia anak baik-baik" ucap Vania berusaha meyakinkan suaminya.


Ariya tidak menjawab, Ariya masi fokus menatap leptopnya.


"Iya yah, besok tebus Meli ke ayah angkatnya, supaya meli bisa ama bersama kita" rayu Vania.


"Iya sayang, jika kamu yang menginginkan sesuatu, mana bisa aku menolak" jawab Ariya sambil melihat Vania dan mengecup bibir Vania.


"Pelayang panggil Meli kemari" perintah Vania ke salah satu pelayang yang lewat.


Tidak lama kemudian Meli datang, "Ayo duduk sini" panggil Vania.


Meli berjalan pelan duduk di samping Vania, "Iya nyonya".

__ADS_1


"Meli gini, jangan panggil kami nyonya dan tuan" ucap Vania.


"Terus saya harus panggil apa?" tanya Meli.


"Nama aku Vania dan suami aku Ariya, panggil saja kakak" usul Vania.


"Baik kak, terimakasih kasi atas ke baikan kakak" ucap Meli.


"Meli sebenarnya kami memanggil kamu ke sini, ingin menawarkan kamu satu hal" ucap Vania sedikit ragu.


"Apa yah kak?" tanya meli bingung.


"Meli tinggal lah di sini sampai cita-cita kamu tercapai, kami akan membiayai kuliah kamu dan untuk keselamatan kamu, kami akan menebus mu dari ayah angkat mu" ucap Vania.


Meli cuma diam, dia tidak bisa berkata apa-apa. "aku tidak menyangka ada manusia yang berhati malaikat" batin Meli.


Karena mendengar tidak ada suara dari Meli, Ariya memalingkan wajahnya melihat Meli, "Bagai mana kamu mau" tanya Ariya tiba-tiba.


Vania melihat Ariya yang tiba-tiba bicara, tapi ariya kembali melihat leptopnya.


Meli menggenggam tangan Vania, "Kak Vania sebelumnya aku berterima kasi, aku mau tinggal di sini dan saya siap kerja apa saja di sini" ucap Meli meneteskan air matanya terharu.


"Kenapa setiap wanita jika senang harus menangis" ucap Ariya sambil menutup leptopnya dan berjalan menuju tangga untuk naik ke atas.


Vania cuma tersenyum melihat Ariya pergi, lalu berpaling melihat Meli, "Meli sebenarnya suami aku baik, cuma dia selalu bersikap dingin ke setiap orang" ucap Vania berusaha menjelaskan kepada Meli sikap Ariya.


"Gak apa-apa kak, suami kakak beruntung banget dapatin kakak" puji Meli.


"Tidak mel, aku yang beruntung mendapatkan pria sempurna seperti dia" ucap Vania.


"pria sempurna seperti kulkas dua pintu, dingin banget" batin Meli.


"Meli nanti juga kamu terbiasa dengan sikap Ariya dan kamu tidak perlu kerja, kamu tinggal belajar dengan rajin nikmati masa mudah kamu" ucap Vania.


Meli memeluk Vania, seperti anak kecil yang baru di kasi mainan sama ibunya, "Makasi kak Vania".


"Iya Mel, sekarang kamu masuk kamar dan istirahat" suruh Vania.


Keesokan paginya ketiganya sedang sarapan. "Meli setelah sarapan kamu siap-siap, ariya akan mengantar kamu bertemu Ayah angkat mu "Ucap Vania. "Iya kak" jawab Meli singkat.

__ADS_1


Meli sudah siap, postur tubuh Meli juga tidak terlalu tinggi bisa di bilang mirip Vania, "Aku sudah siap kak Vania, kak Ariya" ucap meli sambil tersenyum polos.


__ADS_2