
Sementara itu Ariya dan Meli sudah sampai di halaman rumah besar, tapi tidak kalah besar dengan kediaman Ariya.
Mobil berhenti di depan pintu masuk, sopir secepatnya membuka pintu dan Ariya keluar di susul Meli.
Ariya mengarahkan Meli untuk masuk dan keduanya berjalan masuk, Meli melihat sekeliling.
"Rumah siapa ini kak Ariya" masi mengamati setiap sudut rumah itu.
"Rumah ini untuk kamu" jawab Ariya dengan mendekati Meli.
Meli langsung menatap Ariya tampa berkedip, "Kak Ariya ingin aku pindah kesini?" tanya Mei ragu-ragu.
"Iya Meli, aku ingin kamu nyaman berada di sisiku" jawab Ariya dengan serius. Meli tidak menjawab, dia cuma mengangguk pelan.
"Ayo kita keatas di kamar utama" ajak Ariya sambil menggandeng pinggang Meli dengan santai. Meli terdiam sejenak dan menarik nafasnya karena tersentak dengan sikap hangat Ariya.
Setelah sampai di kamar utama, Ariya membuka pintu, Meli masuk duluan di susul Ariya.
Meli berjalan ke arah jendela dan berhenti di depan jendela, dia melihat kolam berenang dari kaca di depannya dan taman kecil di samping kolam.
Sedangkan Ariya melepas jasnya dan melemparnya ke atas kasur, dia melirik Meli yang sedang menikmati pemandangan. Perlahan-lahan Ariya berjalan menghampiri Meli.
Ariya melingkarkan tangannya ke perut Meli dan menyandarkan wajahnya di pundak Meli, "Apa kamu suka rumah ini, kalau tidak kita bisa cari yang lain" bisik Ariya di telinga Meli.
Meli yang merasakan hembusan nafas suaminya di telinganya, membuat aliran darah Meli berhenti sejenak, dia bagai melayang.
Meli tersadar dan berusaha menghindar dari Ariya, "Iya kak, aku suka rumah ini, tidak perlu mencari yang lain" ucapnya dengan gugup sambil berjalan ke arah ranjang. Ariya menyadari tingkah Meli yang berusaha menjauhinya.
Ariya tersenyum dan mengikuti langkah Meli dari belakang, Meli memutar badannya membuatnya hampir terjatuh karena menabrak dada Ariya yang kekar, untung saja Ariya secepatnya menarik pinggangnya hingga Meli tidak sampai jatuh.
Membuat jarak wajah Ariya dan Meli sangat dekat, perlahan-lahan Ariya mendekatkan bibirnya ke bibir Meli, reflek Meli memejamkan matanya.
__ADS_1
Melihat reaksi Meli tidak ada perlawanan, Ariya langsung ******* b*bir Meli sangat dalam. Meli menikmati c*uman Ariya, perlahan-lahan membalas aksi suaminya meski dia belum terbiasa.
Ariya yang mendapat balasan dari Meli, menghentikan aksinya sejenak lalu melanjutkannya lagi lebih dalam dan lembut.
Ada sensasi tersendiri pada Ariya melihat sikap polos istri mudahnya, yang tidak punya pengalaman sama sekali.
Ariya semakin bereaksi, sekarang pakaian Meli sudah tidak beraturan, tangan Ariya sudah menjalar di benda kenyal Meli yang terbilang masi segar karena usia Meli yang masi sangat mudah.
Dua insan manusia itu sudah berbaring di atas ranjang, Meli tersadar dan membulatkan matanya, kemudian mendorong tubuh Ariya ke samping, lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah t*l*anjang.
Ariya kaget dengan penolakan Meli padanya, "Ada apa Mel, ada yang salah? bukankah kita sudah pernah melakukannya" ucap Ariya sambil duduk bersandar di ranjang, di samping Meli yang duduk memeluk lututnya.
"Kak Ariya tidak perlu melakukanya lagi jika itu untuk melakukan kewajiban kak Ariya kepada Meli, lagi pula aku juga sudah hamil" ucap Meli dengan mata berkaca-kaca.
Ariya berfikir sejenak dan menarik nafasnya, kemudian berdiri mengambil jasnya, "Istirahatlah, setelah ini kita pulang" sambil mendekati Meli dan mengusap rambutnya, lalu berjalan keluar kamar.
Setelah kepergian Ariya tangis Meli pecah, "Tuhan apa salah jika aku mencintai suami aku sendiri" ucap Meli di selah tangisnya, sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit bercampur aduk dengan rasa bersalah.
Tiba-tiba pesan masuk dari hpnya, Ariya membukanya dan terlihat foto-foto Vania yang sedang berada di mall sore tadi.
Ariya mengamati foto Vania yang terlihat bahagia bersama putri Dani. Setelah di vonis mandul ini pertama kalinya melihat Vania tertawa lepas.
Ariya juga mengamati gerak-gerik Dani, yang ternyata menjaga jarak pada Vania. Kemudian Ariya mematikan layar hpnya, kemudian menatap lurus ke depan penuh tanda tanya.
*******
Pagi hari di kediaman Ariya wiraguna, seperti biasa penghuni rumah itu sedang sarapan bersama.
Sekarang Vania sudah terbiasa melihat sikap perhatian Ariya pada Meli semenjak sedang mengandung, meski hatinya tidak bisa di bohongi tentu sakit.
Seperti pagi itu Ariya mencegah Meli mengambil makanan, "Jangan makan yang itu, itu akan berpengaruh pada bayi kita" tegur Ariya.
__ADS_1
"Baik kak" jawab Meli.
Vania yang mendengar kata "Bayi kita", langsung diam mencoba menenangkan perasaanya.
Ariya menggenggam tangan Vania di bawa meja, sambil mengerakkan ibu jarinya di tangan Vania untuk menenangkan hati Vania.
"Meli..." panggil Ariya, masi menggenggam tangan Vania.
"Iya kak, ada apa" jawab Meli menghentikan suapannya.
"Setelah ulang tahun wiraguna group, aku akan mengurus perpindahan mu" ucap Ariya sedikit ragu, takut melukai hati Meli.
"Baik kak, aku akan merindukan semua orang di rumah ini terutama kak Vania yang selalu mengurus kuliahku dengan baik" ucap Meli dengan ceria untuk menutupi rasa sedihnya.
Vania menatap Ariya penuh Arti, di balas anggukan oleh Ariya.
Vania kemudian beralih menatap Meli, "Meli kamu bisa membawa pelayang di rumah ini yang sudah terbiasa denganmu, kamu tidak akan merasa sepi" ucap Vania.
Meli kemudian berdiri dari duduknya dan melalui Ariya yang duduk di ujung meja, dan memeluk Vania dari belakang sambil mencium pipinya.
"Makasih kak Vania, kalau begitu aku ke kampus dulu" ucapnya dengan girang, seperti anak kecil yg baru mendapat permen dari orang tuanya, sambil berlari kecil menuju pintu.
Ariya menatap Vania, "Aku berangkat dulu Sayang" sambil berdiri mencium keningnya.
Ariya secepatnya keluar dan masi melihat Meli yang berlari kecil, "Hati-hati Mel jangan lari-lari" ucapnya setelah berada di samping Meli.
"Iya kak Ariya, aku berangkat dlu" sambil membuka pintu belakang mobil untuk naik, tapi di tahan oleh Ariya.
"Ikut denganku, biar ku antar" sambil menarik tangan Meli untuk naik mobilnya. Kemudian mereka berdua masuk dalam mobil, lalu mobil melaju pergi.
Semua itu tidak luput dari pantauan Vania di balik jendela, Vania menyeka air matanya yg menetes.
__ADS_1
"akhirnya aku melihat sendiri, kalau cinta Ariya benar-benar terbagi" gumam Vania, "Vania kamu harus kuat, kamu sudah tau bukan kalau semua ini akan terjadi" ucap Vania untuk menguatkan hatinya.