
Setelah Nara sudah duduk di sampingnya, Andra mulai bicara, "Nara sebelumnya aku ingin minta maaf, karena sebelumnya berprasangka buruk padamu" ucapnya dengan ekspresi menyesal.
"Kak Andra kan pernah mengatakan sebelumnya, kalau kakak sangat menyayangi adiknya, jadi wajar kan mencurigai ku" balas Nara.
"Sekali lagi maaf Nara" ucapnya lagi.
"Tidak apa-apa kak, tapi ini kan malam minggu kenapa sendiri?" tanya Nara santai.
"Elena bersama temanya, ke pesta ulang tahun salah satu temannya" jawab Andra sambil menyalakan rokoknya.
"Apa kak Andra bahagia?" tanya Nara pelan-pelan.
Andra menatap Nara, "Kalau boleh jujur, aku tidak nyaman dengan aku yang sekarang" curhat Andra.
Nara sedikit terkejut mendengar penyataan Andra, "Kok bisa kak, bukan kah memiliki wanita yang kita inginkan akan terasa nyaman" tanya Nara.
"Seharusnya begitu, tapi aku merasa menjadi orang lain sekarang, ini sungguh bukan diriku" ungkap Andra.
"Benarkah seperti itu, tapi bukan kah sebuah hubungan butuh pengorbanan" ucap Nara.
"Iya Nara, di situ lah aku mencoba berdamai dengan keadaan" ucap Andra. Di balas anggukan olah Nara, karena Nara merasa hubungannya dengan Arvan tidak jauh bedah dengan cerita Andra tadi.
"Sekarang sudah larut Nara, biar aku antar pulang" ajak Andra.
"Ya sudah kak, aku ambil tas dulu" lalu masuk kedalam.
Andra yang melihat Nara sudah datang, memberikannya helem dan Nara mengambilnya sambil tersenyum, kemudian Nara naik ke motor Andra dan motor pun melaju kejalan raya.
Andra melajukan motornya cukup kencang, dan reflek Nara memeluk pinggang Andra, membuat Andra sedikit terkejut.
"Apa ini? Kenapa aku merasa ada yang bedah dengan sentuhannya" batin Andra masi dengan kecepatan tinggi.
Nara bersandar di pundak Andra dan tangannya masi memeluk erat pinggang Andra, dengan hembusan angin malam.
__ADS_1
Sementara itu Elena sedang berada di pesta ulang tahun temannya, di salah satu klub malam ternama.
Ke adaan pesta itu sangat meriah di tambah musik DJ, membuat orang ada di perta itu berjoget lepas. Elena bersama teman-temannya tertawa dan berjoget bersama.
Di sudut rungan itu terlihat pria menyimpan cairan di salah satu gelas wine, pria itu memberikan pada salah satu pelayan untuk di berikan pada seseorang dan menunjuk Elena.
Ternyata pria itu suruhan, saingan Elena di dunia entertainmen, tapi gerak gerik pria itu tidak lolos dari pantauan seseorang.
Pelayan yang sedang membawa minuman untuk Elena, sudah sampai pada Elena dan memberikannya.
Elena yang tampa curiga langsung meminumnya, tidak berselang lama kepala Elena pusing dan hampir terjatuh.
Temannya segera menangkapnya, "Elena kamu kenapa, bukankah kamu baru minum sedikit kenapa bisa mabuk?" tanya temannya.
Nara tidak menjawab, tubuhnya sudah gerah dan bagai melayang, ternyata cairan yang di masukan pria itu, adalah obat perangsang.
Orang yang menyuruh pria itu sengaja memberi obat perangsang, agar Elena menantang pria bersamanya dan bisa mempermalukan dirinya di depan umum.
"Biarkan Elena bersama saya, saya Arvan calon tunangannya" ucap Arvan memperkenalkan dirinya sambil melepas topi hoodie yang dia pakai.
Samar-samar Elena melihat wajah Arvan, "Van bawa aku pergi" ucapnya lirih.
Arvan mengangguk dan membawa Elena ke mobilnya. Setelah memasukkan Elena ke dalam mobilnya, Arvan kemudian masuk dalam mobil juga dan tidak langsung berangkat.
Arvan memperhatikan gerak gerik Elena yang mendesah sambil ingin melepas pakaiannya, dan berfikir dia harus membawa Elena kemana.
"Arvan tolong aku kali ini, bawa aku ketempat aman" pinta Elena dan berusaha menyatukan kedua tangannya memohon.
Arvan memejamkan matanya sejenak, lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan lewat mulut. Kemudian menginjak pedal gas mobilnya, mobil pun melaju ke jalan raya.
Mobil Arvan sampai di hotel wiraguna group, Arvan segera memapah tubuh Elena masuk dalam hotel, yang terlihat sedang mabuk. Di saat bersamaan ada yang memotretnya dari kejauhan.
Para pegawai hotel yang melihat Arvan datang, hanya menunduk hormat, Arvan segera membawa Elena ke kamar suite.
__ADS_1
Arvan membuka kamar hotel dan menjatuhkan tubuh Elena di atas ranjang king size, Elena sudah tidak tahan dengan reaksi obat perangsang yang dia minum.
Terlihat Arvan sedang panik dan mondar-mandir untuk menghubungi Andra, tapi nomor Andra tidak dapat di hubungi.
Arvan benar-benar frustasi mengusap rambutnya kasar, apa lagi sekarang Elena tidak bisa mengendalikan dirinya, tubuhnya benar-benar panas dan melepas satu persatu pakaian yang dia kenakan, sambil mendesah penuh n*fsu.
Arvan berusaha menghentikan aksi Elena, "Elena hentikan" ucap Arvan sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh seksi Elena.
Elena seperti cacing kepanasan, benar-benar sudah melepas semua pakaiannya, sekarang tinggal pakaian dalam, dengan susah payah Elena bangkit berdiri mendekati Arvan dan terjatuh pas di depan Arvan, Arvan segera menangkap tubuh Elena.
"Arvan aku benar-benar tersiksa, tolong bantu aku, kalau bukan dirimu pasti ada orang lain" pinta Elena manja karena obat yang dia minum.
"Elena kamu akan menyesal" tolak Arvan mencoba menyadarkan Nara.
Tapi reaksi obat semakin menggila, "Aku mohon, bantu aku Van" kemudian ******* bibir Arvan.
Dari tadi Arvan mencoba menahan dirinya melihat tubuh seksi Elena yang benar-benar menggoda, tapi Arvan adalah pria normal yang tentu akan tergoda dengan sentuhan tubuh Elena, apa lagi sekarang Elena menciumnya penuh sensual.
Arvan memejamkan matanya, kemudian mendorong tubuh Elena terlentang di atas kasur, Arvan segera melepas seluruh pakaiannya.
Arvan melepas benda segitiga yang masi melekat di tubuh Elena dan memulai aksinya dari situ, kemudian perlahan-lahan naik ke atas dan melanjutkan aksinya di buah kenyal Elena sambil melepas penutupnya yang masi tersisa.
Elena sudah merasa tenang, tapi desahannya semakin menjadi, membuat Arvan tidak tahan lagi lalu memajukan senjatanya, menembus gawang pertahanan Elena.
Arvan susah payah menembusnya karena Elena masi perawan, membuat Arvan semakin bersemangat. Cukup lama pertempuran itu terjadi, akhirnya keduanya melakukan pelepasan.
Arvan mengeluarkan perlahan senjatanya, di susul dara perawan Elena dan Arvan melihat itu.
Arvan sungguh kagum melihat Elena yang menjaga keperawanannya meski profesinya seorang model, yang identik dengan dunia gemerlap, dan ada kebanggaan tersendiri karena dirinya lah yang pertama menyentuh tubuh Elena.
Arvan baru menyadari apa yang dia lakukan itu salah, Arvan menatap tubuh Elena yang telentang lemah lalu menutupinya dengan selimut.
"Maaf kan aku Elena, tapi kamu yang memintanya" ucap Arvan sambil mencium kening Elena.
__ADS_1