
Ariya sekarang tersadar kalau ucapannya tadi melukai Vania, sekarang Ariya mencari cara menghibur Vania.
"Vania aku mohon maafkan aku, aku tidak ada maksud menyinggung pekerjaan kamu" sambil mengangkat dagu Vania untuk melihatnya.
Mata Vania berkaca-kaca, kali ini bukan tangis haru lagi tapi Vania benar-benar sedih karena ucapan Ariya tadi, "Kamu tidak perlu minta maaf Ariya, aku yang terlalu berlebihan" sambil mengusap ke dua matanya yang basa.
"Tidak-tidak Vania kamu jangan seperti ini, aku tidak sanggup melihat kamu bersedih karena aku" sambil memeluk Vania dengan erat (tapi sialnya tubuh Ariya kembali menegak karena gundukan k*nyal Vania yang sangat besar begitu lembut mengenai dadanya)
Kemudian Ariya menuntun Vania ke arah ranjang dan menuntunnya duduk, "Vania sekali lagi maafkan aku, aku sangat menghargai dirimu" sambil berlutut di depan lutut Vania dan memegang ke dua tangan Vania.
Mendapat perlakuan seperti itu, Vania benar-benar di hargai sebagai perempuan. Entah kenapa jantung Vania berdetak lebih kencang dari biasanya melihat tatapan dan perlakuan tulus padanya.
Vania menjadi salting sendiri kemudian berdiri "Pulanglah Ariya, sekarang sudah larut malam" sambil menarik tangan Ariya untuk berdiri.
"Ya sudah Vania aku pulang dulu" sambil mencium pipi Vania dan mengacak-ngacak rambut Vania.
Setelah kepergian Ariya, Vania masi berdiri memegang dadanya yang masi berdetak sangat kencang "Apa aku mencintainya?" Vania bertanya pada dirinya sendiri "Tidak Vania kamu tidak boleh ada perasaan dengannya" sambil berjalan naik ke atas ranjang dan menutup dirinya dengan selimut.
Setelah sampai di rumah Ariya langsung mandi menetralkan saraf-sarafnya yang tegang, dan menuntaskan h*sratnya di kamar mandi, yang tertunda di rumah Vania.
Setelah mandi Ariya duduk di sofa memakai kimono tidur, menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan "Aku harus bertidak secepatnya, lambat laun nenek sihir itu akan tau semuanya" sambil menatap nanar di tembok.
************
Sore itu Vania bergegas ke perpustakaan, dengan dress selutut dan rambut di kuncir ke atas. Sebelum Vania membuka pintu apartemennya, pintu lebih dulu di ketuk seseorang, Vania segera membuka pintunya.
Ternyata Renata yang datang tapi Vania tidak tau sosok renata.
"Silahkan masuk nyonya" Vania mempersilahkan Renata masuk.
Renata pun masuk bersama kedua bodygoud nya, Renata mengamati apartemen vania.
Vania mengikut di belakang Renata, "Silahkan duduk nyonya, anda sedang mencari siapa?" tanyanya sopan.
__ADS_1
Renata duduk di sofa, tidak menjawab pertanyaan Vania. Lalu Renata meminta koper ke bodygoud nya.
Renata membuka koper itu yang berisi uang kurang lebih 1M , Vania kaget melihat apa yang di lakukan wanita di depannya.
Kemudian Renata membuka pembicaraannya, "Ambil uang ini dan jauhi anak saya, Ariya wiraguna".
Bagai tersambar petir , Vania tidak menyangka kalau wanita yang bertamu di apartemennya adalah ibu Ariya. Vania masi diam belum menjawab Renata.
Renata kembali bicara, "Aku tidak mau anak saya mempunyai hubungan dengan perempuan ****** sepertimu itu akan mencoreng nama keluarga wiraguna" dengan menatap tajam Vania.
Mata Vania berkaca-kaca "Ambil kembali uang anda nyonya, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan anak nyonya, dan akan aku pastikan tidak akan ada hubungan spesial di antara kami" ucap Vania tegas.
Vania melanjutkan perkataanya, "Aku sangat menghormati pak Ariya, aku cukup tau diri untuk menjalin hubungan dengannya nyonya" masi dengan nada yang tegas.
"Baiklah ternyata kamu cukup tau diri" kemudian berdiri meninggalkan apartemen Vania.
Setelah kepergian Renata, Vania masi berdiri di tempatnya "Hiks...hiks....hiks..." Vania meluapkan emosinya dan menangis sekencang-kencangnya.
Vania bicara "Benar kata mamah Ariya, kalau aku tidak pantas untuk Ariya" di sela-sela tangisnya.
"Maaf tuan saya ingin melaporkan sesuatu" ucapnya sambil menunduk. "Apa?" sambil melirik ke sekertaris nya.
Yuda mengangkat wajahnya "Nyonya sudah mengetahui tentang nona Vania, baru saja nyonya besar menemui nona Vania di apartemennya".
Ariya kemudian menendang meja di depannya, "Nenek sihir itu keterlaluan,sampai kapan dia akan mengurus urusan pribadiku.
Yuda cuma bisa menunduk "maafkan saya tuan". "Keluarlah" perintah Ariya . Yuda pun meninggal kan ruangan.
Ariya mengendarai mobilnya ke rumah utama wiraguna. Dia di sambut para pelayang, tapi Ariya tidak mempedulikan itu. Ariya membuka pintu dengan kasar, kebetulan mamahnya ada di ruang tengah.
"Mamah ke terlaluan sekali" Ariya berdiri di depan Renata yang sedang membaca buku.
Renata meletakan bukunya dan melepas kaca matanya. "Sudah lama kamu tidak kemari nak, duduk lah dulu" masi bersikap tenang.
__ADS_1
"Mamah jangan bersandiwara" lanjut Ariya lagi "Mah aku sudah katakan jangan menggangu urusan pribadiku" sambil menatap marah ke renata.
"Ariya aku tidak akan mencampuri urusan mu, kalau wanita yang kau dekati adalah wanita baik-baik, bukan perempuan ****** seperti dia" ucap Renata dengan suara tinggi.
Ariya cuma mengusap wajahnya frustasi, karena yang di katakan mamahnya tidak lah salah.
"Mamah tau sendiri kan kalau aku sering main-main dengan banyak wanita, tapi kenapa mamah mempermasalah kan Vania" masi dengan suara tingginya.
"Karena cuma wanita itu yang berani kamu bawa kekantor" sambung renata.
Ariya pun melemah karena dia tau watak mamahnya, dengan suara yang rendah tapi penuh menekanan "Mamah jangan berani menyentuh dia" sambil meninggalkan Renata dan keluar rumah utama.
Ariya mengendarai mobilnya sangat kencang. Tapi tamba sepengetahuan Ariya, sekertaris yuda mengikutinya.
Mobil Ariya menuju klub malam, Ariya masuk dengan pakaian sedikit berantakan. Dia minum sebanyak-banyaknya dan tidak memperdulikan kan wanita-wanita seksi yang menuangkan minuman.
Sekarang Ariya benar mabuk dan tidak bisa berdiri, Yuda pun mendekat dan membawa bosnya pulang di apartemennya.
Sementara di tempat Vania, Vania sedang sibuk menghubungi Ariya. Tapi tidak ada balasan dari Ariya.
Pagi pun tiba, Ariya sedang berbaring di atas ranjang king size nya. Hpnya berdering terus tapi Ariya belum juga terbangun.
Di apartemen Vania , Vania mondar-mandir masi menghubungi Ariya, tapi hasilnya nihil Ariya belum mengangkat telponnya.
Vania memutuskan pergi ke apartemennya Ariya, setibanya di depan pintu apartemen, Vani mengingat-ingat password yang di tekan Ariya dulu dan akhirnya berhasil terbuka. Vania pun masuk dan memanggil Ariya.
Ariya.....
Ariya.....
Di dalam kamar, Ariya pun terbangun karena ada yang memanggil nya, Ariya memegang kepalanya yang masi pusing dengan baju yang berantakan. Berusaha bangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya.
Di saat yang bersamaan, vania membuka pintu kamar.
__ADS_1
Vania langsung mendekati Ariya, sebelum bicara Vania mencium bau alkohol, "Ariya kamu mabok?" Ariya tidak menjawab.