
Vania menoleh dan melihat pria itu, "Dani" panggil Vania. *Dani adalah teman Vania yang selalu menjemput Vania di tempat kencangnya jika sudah larut malam karena Vania tidak pernah menginap di hotel tempatnya berkencan*
"Iya ini aku Vania" jawan Dani, "Aku sedang mengantar seseorang disini.
Mereka duduk di depan mobil Dani sambil tertawa. Iya Vania selalu tertawa jika bersama Dani, karena Dani orangnya humoris. Tapi semua itu tidak luput dari pantauan Ariya.
"Vania aku kira kamu menangis setelah apa yang di perbuat mamah tadi, ternyata kamu bisa tertawa lepas", ucap Ariya masi berdiri di tempatnya dan dia melihat Vania mengembalikan jaket pria yang di sampingnya.
"Dani ini jaket kamu, makasih yah aku pulang dulu daah" sambil melambaikan tangan ke Dani.
Dani melihat Vania pergi "Vania vania" sambil tersenyum.
Vania sedang di pinggir jalan, memencet hpnya ingin memesan taksi online, tiba-tiba ada mobil berhenti di sampingnya ternyata mobil itu, mobil Ariya.
Ariya kemudian turun dari mobilnya dan langsung menuju Vania, "Ayo sayang ikut sama aku" sambil menarik tangan Vania dan membukakan pintu mobil.
di dalam mobil Vania cuma diam begitu pun Ariya, meski sesekali Ariya melirik Vania. mobil Ariya menuju apartemennya.
Sesampainya di apartemen Ariya. Vania masi saja diam, Ariya yang melihat itu segera mendekati Vania, "Vania maafkan aku, aku tidak memberi taumu soal pesta itu" sambil menggenggam tangan Vania.
Vania melepaskan genggaman tangan Ariya "Gak apa-apa kok Ariya, di sana juga bukan tempatku" ujar Vania.
"Tapi pelan-pelan kamu akan terbiasa dengan kehidupanku" ucap Ariya meyakinkan Vania.
"Sudah lah Ariya dari awal aku sudah bilang, dunia kita berbeda. Hubungan kita cuma akan seperti ini dan aku juga cukup tau diri soal ini semua" sambung Vania berusaha menjelaskan.
"Terserah kamu Vania mau menilai seperti apa hubungan kita, tapi satu hal yang perlu kamu tau Bagai mana pun ke depannya nanti cuma nama Vania di hati Ariya wiraguna", ucapnya dengan menatap sayu kepada Vania.
Sekarang Vania mendekati Ariya dan memeluknya, "Ariya kenapa takdir mempermainkan hubungan kita".
Sambil mengusap kepala Vania, "Bersabarlah sayang semua pasti ada jalan keluarnya".
***********
Hari demi hari berlalu, hubungan Vania dan Ariya berjalan dengan normal. Vania sebentar lagi menyelesaikan kuliahnya.
Seperti siang itu Ariya menyuruh Vania datang ke kantornya, sepulang dari kampus Vania bergegas pergi kekantor Ariya. penampilan Vania kali ini sangat sederhana, dia memaki dress selutut dengan gaya feminim.
__ADS_1
Vania masuk ke kantor Ariya, Vania langsung ke meja resepsionis. Sebelum Vania bertanya penjaga meja resepsionis tersebut sudah lebih dulu menegurnya.
"Nona Vania mari saya antar ke ruang pak Ariya" sambil memberi jalan Vania.
Semua yang melihat Vania, semuanya menunduk hormat. Vania jadi merasa aneh "Mereka semua kenapa" batin Vania.
Vania dan pegawai wanita tadi sudah sampai di depan ruangan Ariya, "Silahkan nona, pak Ariya ada di ruangannya", "baik terima kasi" ucap Vania.
Di dalam ruangannya Ariya masi sibuk dengan pekerjaannya. Vania tiba-tiba masuk tampa mengetuk pintu.
Ariya hampir saja marah karena ada orang masuk di ruangannya tampa permisi.
"Siapa yang berani ....." ucapan Ariya terpotong ketika melihat wajah Vania dan berubah sambil tersenyum.
"Vania sayang ternyata kamu" sambil menghentikan semua pekerjaannya.
"Maafkan aku tidak mengetuk pintu dulu" sambil mendekat ke Ariya.
Ariya kemudian berdiri "Tidak sayang, tidak apa-apa sambil mengusap pucuk kepala Vania.
"Ayo kita makan siang dulu" sambil menggandeng pinggang Vania keluar ruangan.
Sekarang Vania dan Ariya sedang menikmati makan di sebuah restoran, Ariya membuka pembicaraan.
"Vania gimana kuliah kamu" sambil menyendok makanan ke mulutnya.
"Semuanya baik, sebentar lagi aku menyelesaikan skripsi akhir semester" jawab Vania.
Mereka akhirnya selesai makan, Ariya mengantar Vania pulang dan dia kembali ke kantor.
Sekarang di kediaman keluarga wiraguna, Renata mulai habis kesabarannya, kalau Renata baru saja mendapat laporan kalau Ariya kembali membawa Vania ke kantor wiraguna group.
"Sekarang aku harus benar-benar bertindak, sepertinya anak itu tidak bisa di sepelekan". sambil melempar semua apa yang ada di atas meja . Anton yang berdiri di sana cuma bisa menunduk hormat.
"Sekarang persiapkan semua nya, kita harus melaksanakan rencana terakhir" dengan menatap marah. "Baik nyonya" ucap Anton dengan tegas sambil menunduk hormat untuk pergi.
*********
__ADS_1
Beberapa bulan ini Vania dan Ariya jarang menghabiskan waktu bersama, mereka cuma bertemu kalau makan siang saja karena Ariya sedang sibuk dengan proyek barunya dan Vania sedang sibuk mengurus skripsinya.
Hari yang di tunggu Vania akhirnya tiba, hari ini Vania sedang memakai kebaya yang sangat cantik karena dia harus menghadiri hari wisudanya. vania termasuk siswi yang pintar dia lulusan terbaik di kampusnya.
Sekarang acara wisuda sudah selesai Vania dan teman-temanya datang memberi selamat.
Erin, Santi dan Maya ketiganya berlari memeluk Vania, "Selamat yah Vania" ucap santi.
"Akhirnya elo menyelesaikan kuliah elo dengan nilai terbaik" sambung erin.
"Vania ini hadiah dari kami" sambil maya memberikan bingkisan pada Vania. "hmmm kalian bikin gue terharu" sambil memeluk ke tiga temanya.
"Ayo kita abadikan momen" sambil maya mengeluarkan hpnya dari tasnya, mereka semua ber-selfie dan bergantian berfoto bersama Vania.
Tidak jauh dari tempat Vania, Ariya sedang bersandar di samping mobilnya sambil memperhatikan ke empat sahabat tersebut.
"Hemmm... apa acara foto-fotonya sudah selesai" ucap Ariya.
Ke empat sahabat itu serentak menoleh, "Ariya wiraguna" ucapnya serentak lagi.
"Kalau sudah selesai waktunya Vania bersamaku" ucap Ariya lagi sambil berjalan menuju Vania dengan sebuket bunga mawar besar di tangannya.
Vania kemudian mengambil bunga dari tangan Ariya dan memeluk Ariya erat-erat, "Ariya wiraguna terima kasi atas semuanya" ucapnya sambil terisak karena terharu.
Ke tiga sahabat Vania cuma bisa terdiam melihat sepasang kekasih di hadapannya.
Ariya kemudian mengajak Vania keliling naik mobil dengan membuka atap mobilnya, Vania berdiri menikmati angin yang menerpa tubuhnya.
"Vania apa kamu senang" tanya Ariya sedikit berteriak.
"Iya Ariya aku senang, andai orang tua ku masi hidup mereka pasti bangga karena aku menyelesaikan kuliahku dengan nilai terbaik" sambil berteriak karena hembusan angin yang kencang.
"Vania duduklah, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat" sambil melihat Vania.
Malam pun tiba, sampailah di sebuah rumah yang besar dan mewah, halaman rumah itu sangat luas. Model rumah itu bergaya amerika didin nya di dominasi dengan kaca.
Ariya mengandeng pinggang Vania masuk dan naik ke atas kamar yang berukuran besar, dinding kaca dan bisa melihat kolam berenang dari atas kamar berdinding kaca tersebut.
__ADS_1
"Woow... rumah siapa ini? aku bagaikan di amerika" ucap Vania melihat sekeliling.
"Ini rumah impianku sayang" jawab Ariya dengan membuka jasnya.