Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
KALUNG INI SANGAT CANTIK


__ADS_3

Di kediaman wiraguna Vania dan Renata sedang minum teh bersama, "mah, bagaimana kesehatan mamah" tanya Vania.


"Seperti yang kamu liat kadang sakit kadang membaik" jawab Renata.


"Mah bagaimana kalau kita lanjutkan pengobatan mamah ke luar negri saja" ucap Vania.


"Tapi Vania" sambung Renata.


"Biar aku yang temani mah" lanjut Vania. Renata cuma menatap Renata penuh arti.


"Mamah jangan tatap Renata seperti itu" ucap Vania.Renata belum menjawab.


"mah dengan kepergian aku menjauh dari Ariya, itu membuka peluang Ariya bisa lebih dekat dengan Meli, lagi pula Ariya sudah mulai membuka diri ke Meli, hari ini saja mereka menghabiskan waktu bersama" ucap Vania menjelaskan kepada mertuanya dengan mata berkaca-kaca.


Renata berdiri duduk di samping Vania dan menggenggam tangannya, "Kamu wanita yang kuat dan tegar sayang, kamu yang sabar" ucap Renata, "Baik kita keluar negri bersama temani mamah" sambung Renata.


Ariya dan Meli sudah tiba di rumah di sambut para pelayang, "Vania belum pulang" tanya Ariya kepala pelayang.


"Belum tuan" jawab kepala pelayang dengan menunduk hormat.


Ariya nampak berfikir sejenak, "Meli naiklah istirahat" ucap Ariya dengan menatap Meli.


"Iya kak Ariya" sambil berjalan naik tangga.


Ariya berjalan naik tangga dan membuka pintu kamarnya lalu segera menggambil handuk kemudian pergi mandi. Setelah mandi Ariya langsung berbaring dan tertidur dengan memakai kimono tidur yang memperlihatkan dada atletisnya, dan tidak menyadari hpnya mati.


Sementara di kamar Meli, Meli duduk di depan meja rias memperhatikan kalung di lehernya yang di belikan Ariya tadi, "Kalung ini sangat cantik" ucap Meli dengan memegang kalung di lehernya.


"ting" tiba-tiba ada pesan masuk, Meli membukanya.


"Meli tolong katakan pada Ariya malam ini aku tidak pulang, mamah sedang tidak enak badan jadi aku temani dan katakan juga jangan terlalu khawatir. Hp Ariya sedang tidak bisa di hubungi jadi kukatakan padamu" isi pesan Vania.

__ADS_1


Meli secepatnya keluar kamarnya dan menuju kamar Ariya, karena terburu-buru Meli tidak menyadari kalau dia memakai gaun tidur yang seksi.


Meli mengetuk pintu kamar Ariya tapi tidak ada suara, Meli memegang ganggang pintu dan terbuka, "Ternyata pintunya tidak di kunci, apa aku masuk saja" gumam Meli.


Perlahan-lahan Meli masuk dan melihat Ariya yang tidur dengan dada yang terbuka, diam-diam Meli mengagumi tubuh suaminya yang tertidur, saat ini Meli sudah berdiri di samping Ariya, "Ternyata dia tidur, pantas saja tidak ada suara" gumam Meli ingin keluar dari kamar itu, tiba-tiba tangannya di tarik Ariya dan terjatuh di tubuh Ariya.


"Sedang apa kamu diam-diam masuk du kamar ini" tanya Ariya dengan posisi Meli masi di atasnya.


"Kak Ariya lepasin dulu" Meli berusaha melepaskan diri, tapi Ariya malah memutar dirinya dan mengungkung Meli di bawanya.


"Ayo sekarang kamu katakan, sekarang kamu berani masuk di kamar ini dalam keadaan nyonya kamar ini sedang tidak ada" tanya Ariya mengintimidasi Meli, Meli masi diam.


"Apa lagi dengan berpenampilan seksi seperti ini, kamu ingin berusaha menggoda ku" dengan menatap tubuh Meli dan terfokus ke dada Meli.


Meli membulatkan matanya, karena baru menyadari penampilannya, Segera Meli menyilang kan tangannya ke dadanya sambil menggeleng panik.


"Tidak Kak Ariya" ucapan Meli terputus tiba-tiba Ariya menciumnya dengan lembut.


Mendengar nama Vania, Ariya melepaskan Meli lalu duduk bersandar di ranjang. Secepatnya Meli berdiri di samping tempat tidur.


"Katakan" dengan menatap lembut Meli, Meli yang di tatap langsung menunduk.


Sebenarnya saat ini Meli sangat malu karena perbuatan Ariya tadi, pipinya saja sudah merah.


"Kak Vania berpesan tidak pulang malam ini, karena mamah sedang tidak enak badan dan kak Vania juga berpesan supaya kak Ariya tidak terlalu khawatir. Karena hp kak Ariya tidak bisa di hubungi jadi kak Vania mengirim pesan ke saya" ucap Meli menjelaskan.


Ariya mengambil hpnya di atas meja samping ranjangnya, "Iya mati" gumam Ariya.


Meli pelan-pelan ingin keluar dari kamar, "Siapa yang menyuruh kamu keluar" tegur Ariya.


Meli menghentikan langkahnya, Ariya berdiri dari ranjang dan tersenyum sambil melangkah ke arah Meli.

__ADS_1


Ariya memperhatikan tubuh Meli dari bawa sampai atas, Meli yang di perhatikan merasa malu dan risih, apalagi dengan penampilan yang hampir memperlihatkan bagian dada dan bahunya dengan gaun tidur sepaha.


Ariya mendekati wajah Meli dan berbisik di telinganya, "Jangan pernah masuk ke tempat ini lagi, dengan penampilan seperti ini, aku jamin kamu akan kehilangan semuanya keluar dari sini" ucap Ariya dengan dingin dan tegas.


Meli hampir menangis dengan ke salah pahaman Ariya, karena Meli merasa tidak ada maksud menggoda Ariya.


Meli mengangkat wajahnya, "kak Ariya aku sangat menghormati anda dan kak Vania, aku tidak ada maksud apa-apa, aku terburu-buru dan tidak sadar akan penampilanku" ucap Meli tegas dengan mata berkaca-kaca menahan tangisnya dan keluar dari kamar Ariya.


Ariya menatap kepergian Meli, entah apa yang membuat Ariya bersikap seperti itu, mungkin saja Ariya takut tidak bisa menahan diri, jadi menyalahkan Meli untuk menutupi perasaannya.


Ariya tersadar dan melirik hpnya kemudian mengisi dayanya.


Sementara Meli di kamarnya secepatnya mengambil jubah tidur dan memakainya sambil mengikat talinya dengan kasar, "Kak Ariya keterlaluan, bisa-bisanya berfikir seperti itu, lagi pula aku inikan istrinya jadi apa salahnya, kak Ariya kan bisa mengatakan baik-baik" omel Meli sedikit kesal.


Ariya sedang duduk bersandar di ranjangnya dan mengambil hpnya kemudian menghubungi Vania, tidak lama kemudian muncullah wajah cantik Vania, "malam sayang" ucap Vania.


"Maaf yah sayang, tadi aku capek langsung tertidur, aku tidak sadar hp ku mati" ucap Ariya.


Vania tersenyum, "kamu sudah makan" tanya Vania.


"Belum sayang nanti yah, aku kan masi kangen seharian tidak bertemu" ungkap Ariya.


Mereka mengobrol dan bercanda ria, layaknya sepasang kekasih yang lagi kasmaran.


Sementara di bawa Meli sedang sibuk bersama pelayang, mengatur menu makan malam.


Ariya sudah ada di meja makan, Meli mengambil piring dan mengambil makanan kemudian memberikan kepada Ariya, selama makan malam tidak ada yang bicara sedikit pun.


Akhirnya makan malam selesai, Meli naik di kamarnya di ikuti Ariya di belakangnya, belum ada yang bicara. Meli membuka pintu kamarnya dan Ariya ikut masuk di kamar Meli, "Mau kak Ariya apa sih?" ucap Meli sambil memutar badannya menghadap pada Ariya.


"Maafkan aku mel" ucap Ariya dengan nada yang lembut.

__ADS_1


Meli tidak menjawab, Meli mengalihkan pandanganya ke tempat lain.


__ADS_2