
Vania mendekati anak perempuan itu, dia tidak menyangka kalau anak perempuan itu adalah Amanda.
"Manda" panggil Vania antusias, lalu mendekatinya. Ariya mengikuti langkah Vania.
"Tante cantik" jawab Manda lalu berlari memeluk lutut Vania, Vania kemudian menggendong Amanda.
Dani tersenyum melihat putrinya sangat bahagia bisa bertemu Vania lagi, Dani berjalan menghampiri mereka.
"Dani, kok kamu bisa di sini" tanya Vania setelah Dani sudah di depannya.
"Aku yang mengundangnya" jawab Ariya dari belakang.
"Terima kasih pak Ariya, sudah mengundang kami" ucap Dani dengan formal.
"Karena anda sahabat istri saya, jadi selamat menikmati pestanya" ucap Ariya dengan formal juga.
Amanda menyela pembicaraan kedua pria tersebut, "Tante cantik, aku ingin makan" ucapnya dengan manja sambil turun dari gendongan Vania.
"Tante cantik?" tanya Ariya memperjelas.
"Iya pak Ariya, putri saya selalu memanggil Vania dengan tante cantik setelah pertemuan pertama mereka" Jawab Dani.
"Ternyata benar kata orang, anak kecil tidak bisa berbohong, istri saya memang sangat cantik" ucap Ariya. Vania hanya tersenyum mendengar rayuan suaminya tapi tidak melihatnya.
"Bagaimana kejutannya, kamu suka?" tanya Ariya, berbisik di telinga Vania.
"Jadi kejutannya adalah Amanda" jawab Vania sambil menoleh pada Ariya. Ariya hanya mengangguk.
"Ayo sayang, tante temani ambil makan" aja Vania pada Amanda, kemudian berjalan ke arah Renata.
Ariya dan Dani berdiri berdampingan, cuma memandangi kepergian Vania dan Amanda.
"Apa kamu mencintai istri saya" tanya Ariya tiba-tiba, dengan pandangan masi melihat kearah Vania.
"Anda bertanya pada saya pak Ariya" tanya balik Dani, pura-pura memastikan.
"hmmm" jawab Ariya.
"Saya tidak akan munafik pak Ariya, ya dari dulu saya sangat mengagumi Vania, mulai dari kepribadiannya, pola pikirnya, bagaimana dia menjalani hidup, kesabarannya dan semua apa yang ada di dirinya" jawab Dani berterus terang, pandangannya juga melihat ke arah Vania.
Ariya mengepalkan tangannya menahan emosinya, mendengar pernyataan Dani yang begitu terus terang padanya.
Dani kemudian berjalan mengambil 2 gelas wine dan menyerahkan 1 gelas pada Ariya, Ariya mengambilnya dengan menatap tajam pada Dani.
Dani melanjutkan ucapannya, "Tapi kalau anda menanyakan tentang cinta, saya lebih memilih persahabatan kami" sambil meneguk habis wine di gelasnya, "Minumnya sangat enak pak Ariya" ucapnya dengan membalas tatapan Ariya.
__ADS_1
Ariya berjalan ke samping Dani dan menepuk bahu Dani dari depan, "Apa saya bisa percaya pada?" ucapnya sambil berlalu pergi.
Dani mengkerut kan keningnya, mencoba mencerna ucapan Ariya, "Maksud dia apa?" gumam Dani.
Saat ini Vania bersama Renata, "Mah apa kabar" tanya Vania pada mertuanya.
"Mamah baik Vania" jawab Renata.
Renata kemudian mengalihkan pandangannya pada anak perempuan bersama Vania, "Anak ini siapa Vania?" tanya tanya Renata.
"Dia Amanda, anak sahabatku mah" jawab Vania.
Di tengah percakapan mereka, Dani datang dari belakang, "Papah" panggil Amanda.
Renata menoleh melihat Dani kemudian beralih melihat Vania penuh tanda tanya.
"Mah dia Dani sahabatku, papahnya Amanda" Ucap Vania memperkenalkan.
Dani mengulurkan tangannya, "Nyonya Renata, saya Dani".
Renata menjabat tangan Dani, "Putri kamu lucu sekali, di mana mamahnya?" tanya Renata.
"Mamahnya sudah meninggal" jawab Dani sedikit sendu.
Malam semakin larut, suasana pesta malam itu makin meriah. Sesi dansa pun di mulai, pembawa acara memanggil pemimpin wiraguna group untuk berdansa.
Ariya tampa berfikir panjang, dia langsung menggandeng pinggang Vania untuk berdansa, kemudian ke duanya menghayati musik romantis.
Meli yang melihat itu semua, wajahnya tidak bisa berbohong dia benar-benar kecewa melihat kemesraan Ariya dan Vania.
Dani mendekati Meli dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Meli berdansa, Meli berfikir sejenak kemudian menerima uluran tangan Dani. di ikuti para tamu undangan naik berdansa.
Dani mulai berdansa dengan Meli, Meli sedikit gugup karena memang dia tidak pernah dekat dengan pria lain, selai Ariya.
"Meli santai aja, saya bukan pria dingin seperti suami kamu itu" ucap Dani. Meli cuma tersenyum menanggapinya.
"Sebenarnya saya ingin bicara denganmu?" sambung Dani.
"Mau bicara apa kak?" tanya Meli.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Dani, sahabatnya Vania" ucap Ariya, masi berdansa dengan santai.
"Oh, kak Dani ini sahabatnya kak Vania, kakak mau bicara apa?" tanya Meli lagi dengan sopan.
Dani terdiam sejenak dan mulai bicara, "Meli kamu itu masi mudah, masa depan kamu masi panjang" ucap Dani menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Apa maksud kak Dani" tanya Meli dengan menatap Dani.
"Begini Meli, aku liat kamu gadis yang baik dan sopan, tidak kah kamu berfikir untuk menata masa depanmu di kemudian hari" ucap Dani dengan serius.
"Dengan meniggalkan kak Ariya, maksud kak Dani?" tanya Meli dengan lirih.
"Ternyata kamu juga gadis pintar" jawab Dani.
"Sejujurnya kak, aku juga ingin seperti itu, tapi kakak tentu tau kan, pernyataan kak Ariya kalau dia tidak akan melepaskan salah satu di antara kami" tutur Meli, ke duanya masi menikmati berdansa.
Sementara itu Ariya dan Vania masi menikmati dansa romantis mereka, meski sekali-kali Ariya melirik Meli yang sedang berdansa dengan Dani.
"Sayang malam ini kamu sangat cantik" ucap Ariya. Vania hanya tersenyum manis.
Ariya mendekatkan wajahnya di telinga Vania, "Jangan senyum terlalu manis sayang, kamu tidak ingin kan pesta ini cepat berakhir" ucapnya sambil menarik pinggang Vania, merapat pada tubuhnya.
Vania makin tersenyum manis, karena dia tau pasti maksud suaminya, "Sayang makasih yah kejutannya" ucap Vania.
"Hmmm..." ucap Ariya sambil tersenyum.
Musik dansa tiba-tiba berubah, semua yang menikmati dansa bertukar pasangan dansa.
Ariya menarik tangan Meli untuk berdansa dengannya, otomatis Vania dan Dani yang harus berpasangan.
Ariya menatap Meli dalam-dalam, dia kagum melihat penampilan istrinya yang menyesuaikan usianya.
"Meli aku baru sadar ternyata istriku ini masi sangat mudah" ucap Ariya.
"Kak Ariya baru sadar, mungkin lebih tepat kalau aku panggil om saja, gimana?" ucap Meli dengan gaya yang imut.
Ariya jadi gemes, lalu memencet hidung Meli, "Coba saja kalau berani".
Ariya terdiam dan menatap Meli tampa berkedip, "Meli apa kamu mencintaiku" ucapnya dengan serius.
Meli langsung terdiam, dan membalas menatap Ariya tampa berkedip, "Iya aku mencintai kak Ariya, dan aku sadar ini cinta bukan rasa kagum".
Ariya memejamkan matanya sejenak, "Bagaimana kalau suatu hari, aku melepaskan mu pergi dariku, apa kamu akan hancur" masi berdansa dengan santai.
"Kalau terluka mungkin iya, tapi kalau hancur, aku lebih hancur melihat kak Vania setiap hari harus berpura-pura tegar dengan semua ini" sambil melirik Vania.
"Kenapa kamu selalu memikirkan perasaan Vania, bukan kah biasanya setiap wanita memperjuangkan cintanya?" tanya Ariya heran.
"Karena wanita itu adalah kak Vania, kalau bukan karena dia mungkin hidupku akan hancur" ucap Meli dengan lirih.
Ariya kemudian memeluk Meli, dan pandanganya tertuju pada Vania yang sedang tertawa yang di hibur oleh Dani, tapi mereka sudah tidak berdansa lagi. Vania dan Dani sedang duduk di salah satu muja.
__ADS_1