
Arvan dan Nara juga melakukan sesi foto, mereka berfoto mesra layaknya sepasang kekasih. Kemudian keduanya mendekati Andra, Elena dan Aditya.
"Hai semuanya, kalian sudah sampai duluan?" sapa Arvan dengan menggandeng pinggang Nara.
"Wow ini kejutan teman, kami tidak menyangka kamu menggandeng Nara ke pesta ini" ucap Aditya memeluk sebentar Arvan.
"Karena ini hati istimewa, jadi harus ada yang berbeda" ucap Arvan sambil memasukkan sebelah tangannya di saku celananya.
Sementara Elena masi menatap Arvan dengan mata berkaca-kaca, dan Andra menatap tajam adik yang paling dia sayangi.
"Ayo semuanya kita masuk" ucap Arvan sambil berjalan duluan. Mau tidak mau ketiganya mengikuti langkah Arvan.
Sementara itu Nara terpaksa harus bersikap mesra dengan pria lain, di depan pria yang sangat dia kagumi.
Ke limanya sudah sampai di aula pesta, dan di sambut Ariya dan Vania.
"Ternyata klian sudah datang?" seru Vania sambil berjalan menyambut anak-anaknya, di susul Ariya di belakangnya.
Elena segera memeluk Vania, "Iya tante, kami barusan tiba" ucap Elena.
"Malam ini kamu sangat cantik Elena" ucap Vania sambil melepas pelukannya.
"Biasa aja tante, selamat anniversary pernikahan yah tante Vania dan om Ariya" ucap Nara masi memegang tangan Vania dan beralih melihat Ariya.
"Iya Elena, sukses untuk karirmu" ucap Ariya.
Vania kemudian beralih melihat anak-anaknya dan pandangannya terhenti ketika melihat Arvan mengandeng mesra seorang wanita.
"Siapa wanita anggun ini yang sedang bersamamu Arvan" tanya Vania pada Anaknya. Pertanyaan Vania mewakili semuanya.
"Ya baik karena malam ini, malam yang spesial jadi saya ingin mengenalkan seorang wanita yang berada di samping saya" ucap Arvan sambil melihat Nara yang hanya tersenyum.
"Wanita ini namanya Nara Larasati, dia ini kekasihku" lanjut Arvan memperkenalkan Nara.
"Arvan ini tidak salah, kita kan baru mengenal Nara" ucap Andra dengan menatap tajam Arvan.
"Andra cinta bisa saja datang kepada siapa saja, termasuk papah dan mamah Vania, kami tidak memerlukan waktu lama untuk menyadari semua itu" jelas Ariya.
"Tante, om, Elena ke toilet dulu" ucapnya dengan mata berkaca-kaca, kemudian menuju kamar mandi. Dan pandangan Andra melihat kepergian Elena.
__ADS_1
"Ayo Nara ikut sama tante, aku ingin mengenal wanita yang sudah merebut hati putraku" Ajak Vania dan Nara mengikuti langkah Vania.
"Tante masi sangat cantik" puji Nara. Vania hanya tersenyum mendengar pujian Nara.
Pesta berlangsung sangat meriah, Ariya memberi kata sambutan dan terima kasih pada para tamu. yang sudah datang.
Kemesraan Ariya dan Vania tidak pernah berubah, di usia pernikahannya yang 23 tahun, para tamu sangat kagum dengan kemesraan mereka yang tidak pernah pudar dari tahun ke tahun.
Sementara pesta berlangsung, Arvan dan Andra sedang berada di salah satu kamar suite di hotel itu.
Andra langsung menghajar Arvan, hingga adiknya itu terpental ke lantai, tapi Arvan tidak melawan, Arvan juga belum bagun.
"Apa maksud kamu dengan memacari Nara dan menyakiti Elena, kamu menjadikan Nara mainan untuk menghindari Elena. bukan kah itu sikap pengecut?" caci Andra dengan nada tinggi.
"Kenapa tidak menjawab?, kalau kamu tidak bisa menerima gadis sebaik Elena, setidaknya jangan mempermainkan perasaan Nara yang masi polos" lanjut Andra, dengan menatap tajam adiknya.
Setelah mendengar kemarahan kakaknya, akhirnya Arvan berdiri dan mengusap darah di sudut bibirnya kerena pukulan Andra tadi, sambil tersenyum sinis.
"Kenapa kak, kakak mulai menyukai Nara?" tanya Arvan dengan membalas tatapan tajam kakaknya.
"Arvan kenapa kamu belum mengerti, apa yang kurang dari sosok Elena dia adalah wanita yang sempurna" ucap Andra dengan menekan suaranya.
"Karena Elena adalah sahabat kita, apa salahnya mencintai seorang sahabat?" sambung Andra.
"Karena aku tidak bisa bersama dengan wanita, yang kakak puja selama ini" ucap Arvan mengalihkan pandanganya dari Andra.
Emosi Andra langsung mereda, dia tidak bisa berkata apa-apa dan menjatuhkan dirinya duduk di atas ranjang.
"Temui Elena, pasti saat ini dia sedang terpukul" perintah Andra.
Arvan langsung meninggalkan kakaknya, setelah kepergian Arvan, Andra menatap lurus ke tambok penuh tanda tanya.
Pesta akhirnya telah usai, Nara sedang berdiri di ruang terbuka yang ada di hotel itu sambil melihat pemandangan lampu-lampu ibu kota yang gemerlap, dia melipat kedua tangannya di dadanya, rambutnya yang di gerai tertiup angin.
Tiba-tiba Andra sedang berdiri di sampingnya, "Ini sebuah kejutan" ucap Andra tidak melihat Nara.
Nara langsung menoleh melihat Andra, "Maksud kak Andra apa?".
Andra memutar badannya melihat Nara sambil bersandar di pembatas tempatnya berdiri, "Iya tadinya aku kira kamu menyukaiku, ternyata aku salah" ucap Andra sambil tersenyum hambar.
__ADS_1
"Kamu tidak salah kak, aku memang menyukai kak Andra, tapi aku terikat kontrak jadi aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya" batin Nara, sambil melihat Andra tidak berkedip.
Nara tersadar dari lamunannya, "Mengagumi bukan berarti menyukai bukan?" jawab Nara.
"Benarkah begitu, apa kamu ingin mengetahui sebuah kenyataan Nara" tanya Andra.
"Apa itu kak?" tanya balik Nara.
"Elena juga sangat mengagumi Andra, bahkan dia selalu berharap untuk mendapatkan Arvan, tapi setelah malam ini semua harapannya kandas" jelas Andra, agar tidak salah paham melihat kedekatan Elena dan Arvan nantinya.
"Tapi kak, obsesi dan cinta adalah dua hal yang berbeda, menurutku yang di rasakan Elena adalah obsesi" ucap Nara sambil melihat Andra.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan itu" tanya Andra penasaran.
"Cinta itu sebuah pengorbanan, melihat orang yang kita cintai bahagia itu sudah cukup, sedangkan obsesi adalah rasa suka yang ingin memiliki seseorang, apa pun caranya" ucap Nara panjang lebar
Andra hanya terdiam, dia memikirkan perasaannya pada Elena yang rela berkorban selama ini.
Nara yang melihat Andra tidak bicara lagi, dan keduanya hanya terdiam melihat pemandangan malam itu.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, duduklah Arvan bersama Elena di sebuah kursi panjang.
Elena terlihat sangat terpukul, dengan kenyataan kalau Arvan sudah memiliki kekasih, Arvan menatap perihatin pada Elena.
"Van, sebelumnya aku selalu berfikir, kalau aku bisa meluluhkan hati kamu yang dingin itu, tapi setelah malam ini semuanya hancur" tutur Elena dengan meneteskan air matanya.
Arvan memberinya sapu tangan, dan Elena mengambilnya lalu mengusap air matanya.
"Elena kamu bisa mendapatkan pria yang bisa mencintaimu nantinya dan membahagiakanmu" ucap Arvan untuk menenangkan Elena.
"Tapi aku mau prianya kamu?" ucap Nara dengan nada manja.
"Dasar gadis manja" sambil mengacak-acak rambut Elena, "Elena dengar yah, kamu itu tetap menjadi sahabatku yang manja dan keras kepala" sambung Arvan sambil memegang ke dua bahu Elena.
Elena memonyongkan mulutnya, kemudian memeluk Arvan, "Apa seperti ini masi bisa?" tanya Elena.
"Bole, asalkan jangan keseringan" jawab Arvin tapi tidak membalas pelukan Elena.
Nara yang mencari keberadaan Arvan, tidak sengaja melihat Elena dan Arfan berpelukan.
__ADS_1