
Siang hari di perusahaan prakasa group, duduklah seorang petinggi perusahaan yaitu REVAN PRAKASA.
*Revan prakasa termasuk pengusaha mudah usianya baru 34 tahu, berstatus seorang suami, dia mempunyai istri bernama ELINA dan anak usia 6 tahun yang bernama SELIN*
Revan memencet tombol telpon memanggil sekertaris nya, "Masuk sekarang keruangan ku" panggil Revan.
Tidak lama pintu di buka seseorang munculah Vania, "Permisi pak ada yang bisa saya bantu" ucap Vania menunduk hormat.
"Vania antar Selin ke bandara, dia harus ikut mamahnya ke luar kota" sambil melihat Vania.
"Oh ya pak, nanti sore kita ada janji ketemu klien penting" lanjut Vania.
"Iya Vania aku hampir saja lupa, ini klien penting, bagaimana pun caranya kita harus bekerja sama dengan dia" ucap Revan.
"Baik pak" kemudian keluar dari ruangan Revan.
Vania mendekati Fara yang merupakan sekertaris Revan juga, yang membantu Vania, "Fara ambilkan berkas klien kita yang akan bertemu nanti sore". Fara kemudian memberikan berkasnya.
Di bandara internasional, landing sebuah pesawat. Turunlah Ariya wiraguna dengan sekertaris Yuda dan beberapa bodygoudnya.
Ariya berjalan dengan tegak, "Yuda bagaimana dengan perusahaan prakasa" ucap Ariya sambil berjalan.
"Mereka sudah mengatur pertemuannya, sore ini juga tuan" jawab Yuda.
Ariya dan Yuda masi berjalan di bandara, kali ini Ariya memakai kaca mata hitam.
Dari arah depan, Vania juga sedang berjalan bersama Selin anak bosnya, Vania hendak mengantar anak itu ke ibunya.
Ariya belum menyadari keberadaan Vania karena sedang berbicara dengan Yuda.
Karena terburu-buru Vania menabrak Ariya, Ariya kemudian melihat Vania dan begitu pun sebaliknya Vania juga melihat Ariya.
Ariya membuka kaca matanya, untuk memperjelas bahwa wanita yang dia lihat benar-benar Vania. Ariya menatap Vania dengan tatapan sedih dan beralih melihat ke anak kecil yang di bawa Vania.
Vania pura-pura tidak mengenal Ariya, dia mengalihkan pandanganya ke depan, "Maaf tuan saya sedang terburu-buru" sambil berlalu dari Ariya.
Yuda menyadari bosnya sedang speechless, secepatnya menyadarkan bosnya "Tuan, apa anda baik-baik saja" tanya Yuda memastikan ke adaan bosnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja" jawab Ariya.
"Apa nona Vania benar-benar tidak mengenal anda tuan?" tanya Yuda lagi.
"Tidak Yuda, Vania hanya berpura-pura" masi menatap kepergian vania yang menghilang di keramaian.
"Yuda selidiki anak kecil yang bersama Vania" ucapnya sambil berjalan. "Baik tuan" jawab Yuda.
Revan dan Vania sedang duduk di restoran di salah satu ruangan VIP, sedang menuggu klien yang akan datang.
Vania memeriksa berkas yang akan di bahas, betapa kagetnya Vania melihat tulisan wiraguna group dalam map itu, "Pak Revan kita akan mengajukan kerja sama dengan wiraguna group?" tanya Vania.
"Iya Vania, apa kamu tidak memeriksa berkasnya?" tanya balik Revan.
"Maafkan saya pak, yang memeriksa berkasnya adalah Fara" jawab Vania.
"Baik lain kali lebih teliti" ucap Revan memperingati.
"Kamu tau Vania, kita harus bekerja sama dengan wiraguna group bagai mana pun caranya, ini adalah keberuntungan besar bagi perusahaan. Karena CEO wiraguna menanggapi pengajuan kita, karena yang akan datang adalah CEO wiraguna. sedangkan beliau tinggal di luar negri" ucap Revan.
Vania cuma diam, batinnya bicara "Sejak sekian lama kenapa dia kembali".
"Aku sangat yakin tuan kalau yang akan datang mewakili prakasa group adalah nona Vania, karena nona Vania termasuk sekertaris yang handal" jawab Yuda menjelaskan yang duduk di samping sopir.
Ariya berjalan memasuki restoran dengan tegap dan semakin berkarisma, di dampingi Yuda dan para bodygoudnya.
"Selamat datang pak Ariya" ucap Revan sambil mengulurkan tangannya untuk berjamak tangan, kemudian Ariya membalasnya.
Selanjutkan Vania yang mengulurkan tangannya, di sambut dengan Ariya , "selamat sore pak Ariya, semoga pak Ariya senang dengan jamuan kami" ucap Vania.
"hmmm tentu saja sekertaris Vania" jawab Ariya sambil melirik kalung Vania, kemudian tersenyum tipis.
Mereka semua duduk dan menikmati makanannya, Vania mulai bicara, "Bagai mana pak Ariya, apa makanannya enak?" tanya Vania.
"Oh tentu saja ini sangat enak" jawab ariya lagi dengan tersenyum.
Yuda yang melihat tingkah Vania dan bosnya itu, cuma bisa bergumam dalam hati, "Sungguh nona Vania, kamu benar-benar punya kemampuan berektin".
__ADS_1
Revan mulai membuka pembicaraan, "hmmm bagaimana pak Ariya soal pengajuan kerja sama dari perusahaan kami" tanya Revan.
Ariya langsung menjawab "Oke pak Revan kami akan menerimanya, asalkan yang mewakili perusahaan bapak adalah sekertaris Vania", dengan tatapan melihat Vania tampa berkedip.
Vania yang di tatap hanya bisa mengalihkan pandanganya ke arah Revan.
Tiba-tiba pesan masuk di hp Revan, munculah foto Selin di layar hp Revan dan Ariya melirik foto di layar hp Revan, "foto anak kecil itu , bukankah anak itu yang bersama vania tadi di bandara?" batin Ariya.
Revan mengalihkan pandanganya ke Vania, "Bagaimana Vania, kamu siap mewakili perusahaan untuk kerja sama ini" ucap Revan. Vania tidak langsung menjawabnya.
Tatapan Ariya masi tertuju pada Vania tampa berkedip, "ada hubungan apa Vania dengan Revan" ucapnya lagi dalam hati.
Vania kembali menatap Ariya, "Baik pak Ariya aku siap menjadi perwakilan prakasa group untuk menjalin kerja sama " jawab Vania, kemudian berbicara dalam hati "oke Ariya, kali ini aku ikuti permainanmu , kita liat apa yang kamu rencanakan".
Meeting sudah selesai, Ariya dan Revan sama-sama menandatangani berkas perjanjian dan kemudian pulang.
Vania mengendarai mobilnya menuju apartemennya, sesampainya di kamar, Vania langsung membaringkan tubuhnya di kasur sambil menatap langit-langit kamar, "Untuk pertama kalinya gue mengerjakan sesuatu bukan karena kemampuanku" ucap Vania.
Sementara Ariya di dalam kamarnya, di mana dulu dia menghabiskan malam panjang bersama Vania.
Ariya duduk di Sofa meminum wine "Vania setelah 8 tahun berlalu, kamu masi memakai kalung pemberianku" sambil menatap foto Vania di hpnya.
Pagi hari di kantor Vania, Vania mengetuk pintu ruangan Revan "Permisi pak saya boleh masuk". "Masuklah" jawab Revan. Vania membuka pintu dan berdiri di samping Revan sambil memberi berkas wiraguna group.
"Pak Revan waktunya saya harus ke kantor wiraguna group, untuk mewakili perusahaan" dengan menunduk hormat.
"Duduk lah dulu Vania, aku ingin menanyakan sesuatu" ucap Revan. Setelah Vania duduk, Revan mulai bicara "apa pak Ariya mengenal kamu atau sebaliknya?" tanya Revan.
"Maaf pak memangnya kenapa?" tanya balik Vania.
"Aku melihat waktu meeting beberapa hari yang lalu, pandangan pak Ariya tidak pernah berkedip melihat kamu" tanya Revan menyelidik.
*Revan dan Vania memang akrab karena perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, Vania juga sering menghabiskan waktu bersama Elina istri Revan*
"Maaf pak , sebenarnya kami pernah dekat 8 tahun yang lalu" jawab Vania berterus terang.
Vania berdiri lalu menunduk hormat, "Saya permisi dulu pak". Sebelum keluar pintu Revan bicara "Vania sepertinya masi ada yang belum selesai di antara kalian, aku melihat pak Ariya masi ada rasa dengan mu".
__ADS_1
Vania tidak menangapi perkataan Revan, "Permisi pak aku harus pergi" sambil membuka pintu.
Revan masi menatap kepergian Vania "Vania kamu memang menarik" sambil tersenyum.