
Nara dan Andra menoleh melihat suara pria yang datang, ternyata itu suara Verrel yang berdiri bersandar di tembok.
"Hei Verrel ternyata kamu, apa kabar?" sapa Andra sambil berdiri untuk cuci tangan.
"Aku baik Ndra" jawab Verrel lalu duduk di sofa.
Nara juga berdiri untuk mencuci tangannya, dan bertanya dalam hati kenapa pria itu bisa berada di sini.
"Bisa kenalkan gadis ini, tadi aku juga melihatnya di butik kak Selin" tanya Verrel pada Andra.
"Oh kenalkan dia Nara" ucap Andra sambil melihat ke arah Nara. Nara pun mendekat.
"Nara ini Verrel, kakaknya Elena" sambung Andra memperkenalkan keduanya.
"Hei salam kenal aku Verrel" sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.
Nara menyambut uluran tangan Verrel, "Aku Nara".
"Oh yah sepertinya aku mengganggu kalian, sebaiknya aku pergi menemui gadis keras kepala itu" ucap Verrel.
"Iya betul! temui dia secepatnya, sepertinya dia sangat marah padamu" balas Andra.
*******
__ADS_1
Elena baru saja selesai mandi dan duduk di depan cermin, tiba-tiba Arvan masuk dan duduk di ranjang.
"Elena kamu belum tau, kalau Kak Verrel sudah pulang" ucap Arvan sambil membuka leptopnya.
Elena langsung berdiri lalu duduk di depan Arvan, "Benarkah, aku harus menemuinya dan tanyakan kenapa baru datang".
"Temui dia, tapi jangan marah padanya karena tidak datang di acara pernikahan kita" nasehat Arvan.
"Siapa juga yang mau marah, aku cuma merindukannya" balas Elena.
"Ternyata istri ku ini, sudah lebih dewasa yah" ucap Arvan lembut sambil mengacak-acak rambut Elena.
Mendengar kata istri, Elena jadi canggung, karena meski mereka sekamar tapi mereka belum pernah berhubungan badan selama menikah.
"Bisa kan? Tidak menyebut kata istri kalau lagi berduaan" protes Elena untuk mencairkan suasana.
"Arvan jangan serius begitu jadi gak asik" ucap Elena sambil berdiri.
Arvan secepatnya menarik tangan Elena untuk duduk di pangkuannya dan satu tangannya menutup leptop lalu menyimpannya.
"Mau kemana kita bicara dulu" ucap Arvan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Elena untuk memeluknya.
Elena menyadari tangan Arvan yang melingkar di pinggangnya, dan melihatnya tapi Arvan cuek saja.
__ADS_1
"Arvan lepaskan ini benar-benar tidak lucu" sambil ingin melepas pelukan Arvan.
Arvan malah mengeratkan pelukannya, "Memangnya apa yang salah kalau aku memeluk istriku sendiri" dengan menatap Elena tampa berkedip.
Elena yang melihat tatapan lembut Arvan membuat hatinya sedikit bergetar, "Tatapannya biasa saja Van, bisa-bisa aku tertarik lagi denganmu" ucapnya santai untuk menutupi perasaannya.
"Tertarik sama suami sendiri apa salahnya" balas Arvan.
"Suami yang masi penyimpan wanita lain di hatinya, itu belum bisa di sebut suami" ucap Elena.
"Kamu cemburu dengan Nara? baik, kalau aku mengatakan bahwa Nara sudah tidak ada lagi di hati ku, apa kamu percaya?" tanya Arvan pelan-pelan.
"Percaya, karena seorang pria sangat mudah melupakan wanita" jawab Elena.
"Apa katamu, ternyata mulutmu itu masi setajam silet Elena" sambung Arvan masi memeluk pinggang Elena.
"Kamu tau sendiri kan, aku karakternya bagaimana" balas Elena.
"Iya sangat tau, bahkan aku tau membuat kamu nyaman di pelukanku" ucapnya dengan tidak melihat Elena.
Elena baru sadar, kalau saat ini dia masi berada di pangkuan Arvan, "Kalau begitu lepaskan" pintanya sedikit manja.
Arvan tidak menjawab, tapi malah menatap bibir Elena tampa berkedip dan perlahan-lahan mendekati wajah Elena, hingga reflek Elena memejamkan matanya.
__ADS_1
Sehingga jarak antara wajah Arvan dan Elena tinggal beberapa senti, Arvan baru saja ingin menyatukan bibirnya dengan bibir Arvan, Tiba-tiba HP Arvan berdering.
Reflek keduanya menjauh, Elena secepatnya masuk kamar mandi dan Arvan segera mengangkat HPnya.