
Hari ini Vania berencana datang ke kantor untuk mengurus surat pungunduran dirinya.
Vania masuk di ruangan Revan, "Permisi pak ini surat pemunduran diriku" sambil menunduk hormat.
"Vania sebenarnya kantor ini membutuhkanmu, kamu adalah salah satu pegawai yang hebat di kantor ini" dengan menatap Vania.
"Maaf kan saya pak" ucapnya masi menunduk.
"Tapi aku tidak bisa mencegah mu, karena bisa-bisa prakasa group bisa hancur bila memaksakan nyonya wiraguna bekerja" sambil tersenyum dan mengambil surat di tangan Vania.
"Saya permisi pak" menunduk hormat pergi. sebelum Vania membuka pintu, Ariya bicara "Jangan terlalu formal, aku bukan bos kamu lagi". Vania cuma tersenyum keluar.
Vania kemudian menuju meja Fara, "Eh buk Vania katanya kamu mengundurkan diri" tanya Fara.
"Iya buk Fara dan aku juga ingin memberikan ini" sambil memberikan undangan pernikahan ke Fara.
"Anda mau menikah" sambil melihat undangannya "Dengan Ariya wiraguna?" tanya Fara lagi.
"Iya buk Fara" jawab Vania singkat "Saya permisi dulu" sambil meninggalkan Fara.
"Gila buk Vania, kalinya nikah langsung CEO wiraguna" ucapnya setelah Vania berlalu.
Vania sudah sampai di lantai dasar, Vania melihat orang berkerumun di luar, "Ada apa yah" gumam Vania.
Vania berusaha mencari jalan untuk melihat siapa di depan, setelah dia melihatnya ternyata Ariya yang sedang bersandar di mobilnya dengan memakai kaca mata hitam.
Semua orang berbisik-bisik, "Sedang apa CEO wiraguna group ke sini". "Ternyata Ariya wiraguna itu lebih tampang aslinya" timpal yang lain.
Ariya kemudian melihat Vania di kerumunan orang, Ariya membuka kaca matanya lalu mendekati Vania, "Ayo sayang kita pergi" sambil mengandeng pinggang Vania. Vania tidak bisa berkata apa-apa dia cuma mengangguk.
Semua orang tidak menyangka kalau Ariya wiraguna datang menjemput Vania, seorang sekertaris kaku yang susah di dekatin dan tidak pernah mempunyai pacar bisa mesra dengan CEO wiraguna group, "Ini benar-benar luar biasa" ucap salah satu orang.
Ariya membukakan Vania pintu mobil, dan masuk di samping Vania, "Pak jalan" ucap Ariya pada sopirnya.
"Ariya kita mau kemana, bukan kah persiapan pernikahan kita sudah selesai?" tanya Vania.
"Kita akan ke kediaman wiraguna bertemu mamah" jawab Ariya.
"Tapi sayang mamah kamu tidak suka sama aku" ucap Vania sedikit kawatir.
"Kamu tidak usa khawatir, di sana ada aku sayang" sambil merangkul Vania menenangkannya.
wajah Vania masi khawatir, Ariya kemudian menggenggam jemari Vania, "Aku kan sudah bilang sayang, kekuasaan ku sangat besar, bahkan mama juga tidak dapat mengendalikan ku". Vania tidak menjawab.
Mobil Ariya sudah sampai di kediaman wiraguna, semua pelayang menunduk hormat melihat kedatangan Ariya.
"Selamat datang tuan mudah" ucap kepala pelayang di rumah itu.
"Mamah ada" tanya Ariya.
"Ada di ruang tengah tuan mudah" sambil menunduk hormat.
__ADS_1
Ariya kemudian berjalan menemui mamahnya, sedangkan Vania mengikuti di belakang, ariya masi menggenggam jemari Vania.
Renata yang melihat kedatangan Ariya dan Vania, menghentikan aktifitasnya membaca buku, "Ternyata kamu yang datang".
Ariya tidak menjawab, Ariya kemudian duduk di sofa depan mamahnya dengan masi menggenggam jemari Vania. "Mah kami datang kesini ingin meminta restu mamah, karena kami akan segera menikah" ucap Ariya dengan tegas.
Renata tidak langsung menjawab, ekspesi wajahnya datar, sulit untuk di artikan.
Rereta melepas kaca mata bacanya "Dengan wanita ini?" tanya Renata. Vania cuma menunduk.
"Iya mah, dengan Vania" jawab Ariya masi dengan nada tegas.
Renata mengamati Vania, "Bukan kah dia sekertaris prakasa group dan perwakilannya juga" tanya Renata.
"Ternyata mamah belum berubah masi memata-matai ku" ucap Ariya sedikit santai.
Renata mulai bicara "Cinta kalian terlalu kuat, aku sudah susah paya memisahkan kalian 8 tahun yang lalu, kalian masi di pertemukan jadi menikah lah dan berikan mamah cucu secepatnya" ucap Renata panjang lebar.
Ariya kemudian berdiri memeluk mamahnya "Makasih mah" ucap Ariya. Kemudian Vania berdiri mencium tangan Renata dan Renata mengusap rambut Vania.
"Kalian menginap lah disini sebelum hari pernikahan kalian" pinta Renata.
"Maaf yah mah, tapi Vania maunya di pingit sebelum pernikahan" ucap Ariya.
"Iya sudah kalau begitu, tinggal lah sampai sore" ucap Renata lagi.
"Baik nyonya, kami akan tinggal" jawab Vania.
"Maaf mah" ucap Vania.
Ariya dan Vania berjalan-jalan di kediaman wiraguna dan Vania melihat foto di bingkai besar, terlihat Renata dengan seorang pria.
Vania berhenti di depan foto tersebut, "Itu foto papah ku namanya Agung wiraguna" ucap Ariya.
"Beliau sungguh karismatik" sambung Vania.
"Papah meninggal di usiaku 23 tahu, dan terpaksa aku harus memimpin perusahaan di usiaku masi mudah" lanjut Ariya.
"Pantas saja Ariya wiraguna bisa sesukses sekarang, dari usia mudah sudah memimpin perusahaan yang sangat besar" sambil memegang lengan Ariya.
Ariya dan Vania naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Ariya, "Ini kamar aku sayang, sudah lama aku tidak masuk kamar ini mungkin sudah 8 tahunan" ucap Ariya.
Vania cuma diam dam melihat sekeliling kamar itu dan duduk di atas ranjang Ariya.
Ariya membuka jasnya dan melonggarkan dasinya "Vania aku mau mandi dulu, mau mandi juga?" tanya Ariya.
"Gak deh Ariya, aku kebawa saja sama mamah" jawab Vania dengan santai.
Ariya berdiri di hadapan Vania sambil menggulung lengan bajunya, "Vania jangan pergi dulu, kita pemanasan saja dulu" masi menatap Vania.
"Ariya jangan gitu dong" sambil berdiri.
__ADS_1
Secepatnya Ariya menangkap pinggang Vania dan m*lemat b*bir Vania dengan lembut, tangan Ariya sudah menjalar kemana-mana membuat baju Vania berantakan.
Vania yang mendapat perlakuan lembut, tidak bisa melawan. Ariya yang melihat sikap penurut Vania cuma tersenyum dan menghentikan aksinya, "turunlah aku mau mandi" sambil mengambil handuk dan masuk di dalam kamar mandi.
Vania masi berdiri di tempatnya, "Dasar Ariya" sambil memperbaiki bajunya yang berantakan karena ulah Ariya.
Vania kemudian turun ke bawa, dia melihat pelayang sibuk mempersiapkan makan siang, "Mamah Renata ke mana yah" sambil menuju ke ruang tengah.
Vania duduk sambil memainkan hpnya, "Vania kamu di sini" tegur Renata.
"Iya mah" dengan melihat Renata.
"Kamu tidak istirahat di atas Vania" tanya Renata.
"Ariya lagi mandi mah, jadi aku tunggu di bawa saja" jawab Vania.
"Ya udah ngobrol sama mamah saja" sambil duduk di samping Vania.
"Vania maaf kan mamah yah, karena ke egoisan mamah, kalian terpisah cukup lama dan aku jaga harus kehilangan kedekatan ku dengan Ariya bertahun-tahun" ucap Renata sendu.
"Mah jangan terlalu memikirkan itu lagi, dulu juga aku sadar diri kalau aku tidak pantas untuk Ariya, tapi takdir berkata lain dan mempertemukan kami kembali" ucap Vania.
"Jangan berkata begitu sayang, kamu anak yang baik dan lembut, wanita yang tegar bisa sukses dalam karir" lanjut Renata.
Ariya turun dari tangga dan melihat mamahnya dan Vania sedang bicara di sofa.
"Mamah bilang apa sama Vania" tegur Ariya. Sedikit khawatir takut mamahnya melukai hati Vania lagi.
"Tidak Ariya kami cuma ngobrol, kamu ini selalu berprasangka buruk sama mama" ucap renata pada Ariya. "Ayo kalian makan dulu" sambil menuju ke meja makan dan di ikuti Vania dan Ariya.
ke tiganya pun makan bersama, Renata mulai bicara "Setelah menikah apa kalian mau tinggal di sini, karena di sini mamah cuma sendiri?" tanya Renata.
"Tidak mah kami akan tinggal di rumahku" jawab Ariya.
"Mamah tenang saja, kalau aku ada waktu luang aku pasti ke mari, lagi pula kan Vania tidak bekerja lagi" sambung Vania.
Acara makan pun selesai, Ariya berpamitan ke mamahnya pulang, "Mah kami pulang dulu" ucap Ariya. "Hati-hati di jalan" kata Renata. Ariya dan Vania masuk mobil dan mobil pun meninggalkan kediaman wiraguna.
Mobil Ariya sudah sampai di tempat parkir apartemen Vania, kemudian Vania melihat mobilnya terparkir di sana, "Kok mobil aku di sini sayang, bukanya ku tinggalkan di kantor" tanya Vania.
"Yuda yang membawanya kesini" jawab Ariya .
"Sayang aku naik dulu, selamat tinggal sampai jumpa di hari pernikahan kita" ucap Vania sambil ingin membuka pintu mobil.
Ariya menggenggam erat tangan Vania "Tidak ada ucapan selamat tinggal yang romantis" ucap Ariya. Mata Vania melihat sopir, Ariya mengerti dan menyuruh sopir turun "Turunlah" perintahnya. "Baik tuan" jawab sopir itu.
Setelah sopir itu turun, Vania mendekati Ariya dan memegang dada Ariya sambil mencium pipi Ariya.
Tapi Ariya memegang tengkuk leher Vania, "Cara pengucapan selamat tinggal kamu salah sayang" dan langsung ******* b*bir Vania sangat dalam sambil tangannya berkeliaran di buah k*nyal Vania sambil berbisik, "Ini baru benar sayang" kemudian melepaskan Vania.
Ariya merapikan rambut Vania sementara Vania memperbaiki bajunya yang berantakan.
__ADS_1
Vania naik ke apartemennya dan Ariya pulang ke rumahnya.