Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
APA YANG KAMU LAKUKAN VANIA


__ADS_3

Ariya kemudian menelpon Yuda, "Siapkan beberapa uang dan pengawal" kemudian menutup telponnya.


Ariya kemudian mencium kening Vania, "Sayang aku berangkat dulu".


"Iya hati-hati yah sayang" ucap Vania.


Ariya berjalan duluan, "Ayo aku tidak suka orang yang terlambat" sindir Ariya pada meli.


Vania cuma tersenyum melihat Meli, "Ayo ikut saja" perintah Vania.


Sekarang Ariya dan Meli sudah ada di dalam mobil, "Kak Ariya kok tidak tanya di mana rumah ayah angkat saya" tanya Meli sambil memperhatikan sekeliling jalan.


"Aku Ariya wiraguna jadi aku tau semuanya" jawab Ariya menyombongkan dirinya.


"Dasar uda kaya kulkas, sombong lagi" guman Meli.


"Aku dengar, jadi jangan coba macam-macam" ucap Ariya masi melihat ke depan.


"Kok bisa yah kak Vania berhati malaikat bisa bertemu dengan pria seperti tuan Ariya" pikir Meli tapi sengaja memperdengarkan pada Ariya.


"ternyata gadis ini banyak bicara juga" batin Ariya.


"Ariya wiraguna, berarti kak Ariya keturunan wiraguna group dong?" tanya Meli dengan polos.


Ariya tidak menjawab, cuma memberikan kartu namanya, "Kamu bisa bacakan? baca itu".


Meli mengambilnya dan membacanya, "Apa? CEO wiraguna" ucap Meli dengan nada tinggi, dengan mata melotot melihat kartu nama itu. Meli langsung menutup mulutnya dengan jarinya dan tidak berani bicara lagi.


Ariya tersenyum tipis bahkan tidak terlihat, melirik Meli yang langsung diam.


"mending aku diam sebelum kak Ariya benar-benar marah" batin Meli.


Sampai lah mobil Ariya di depan rumah ayah angkatnya Meli, dari arah depan mobil Yuda juga sudah sampai.


Yuda sudah turun dari mobil dan beberapa bodyguard di belakannya.


Di dalam mobil Ariya, Meli agak ragu untuk turun, "Ayo tunggu apa lagi, kenapa belum turun" tegur Ariya.


Dengan wajah ketakutan Meli bicara, "Aku takut kak Ariya" sambil memegang lengan Ariya yang ingin turun.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, kan ada aku dan liat di depan sudah ada banyak pengawal, jadi semuanya akan baik-baik saja", dengan memegang tangan Meli yang menggengam lenganya dengan erat.


Sementara di dalam rumah, ayah angkat Meli baru saja bangun dengan mata berwana merah karna mabuk semalam.


"Sial semenjak istri saya meniggal kenapa hidup saya begini, "DAsar anak tidak tau diri itu, juga tidak pulang ke rumah" gerutuk ayah angkat Meli.


Meli dan Ariya keluar dari mobil dan menuju rumah ayah angkat Meli yang tidak terlalu besar.


Meli mengetuk pintunya, tidak lama kemudian ayah angkatnya membuka pintunya, "Anak sialan ternyata kamu pulang juga, dasar tidak tau terima...." ucapan ayah angkat Meli terpotong, setelah melihat Ariya dan Yuda dan beberapa bodyguard di belakangnya.


Ariya bicara, "Berapa yang aku harus bayar untuk menebus Meli selamanya" ucap Ariya tampa berkedip.


"Tuan-tuan mari masuk dulu, kita bicara di dalam" ajak ayah angkat Meli.


"Tidak perlu kami disini saja, cepat katakan berapa yang kau mau" ucap Ariya dengan nada dingin.


"Karena aku sudah membesarkan anak ini dan akan menguntungkan ke depannya, jadi 1M cukup lah tuan" ucap ayah angkat Meli yang bergaya preman.


Tampa bicara Ariya meminta koper di tangan Yuda dan melempar ke dada ayah angkat Meli


kemudian Yuda maju untuk memberi berkas perjanjian untuk di tanda tangani. Setelah semuanya selesai, semuanya pergi dari tempat itu.


Ariya dan Yuda menuju kantor, sedangkan Meli di antar sopir pulang pakai mobil, yang di pakai Yuda datang.


"Kemana kak Vania?" tanya Meli.


"Ikut aja" sambil menarik tangan Meli naik ke mobil kembali.


Vania membawa Meli ke mall terbesar di kota itu, mereka belanja sepuasnya, Vania juga membawa Meli ke salon dan merubah penampilan Meli menjadi lebih modis.


Setelah itu mereka makan, mereka benar-benar menikmati hari itu dengan menyenangkan. Meski usia Vania bedah jauh dengan Meli tapi mereka cepat akrab layaknya kakak dan adik.


Sambil makan mereka ngobrol dan bercanda ria, "Kak Vania, makasih yah atas semuanya ini sudah terlalu banyak" ucap Meli.


"Ini tidak seberapa Meli, aku senang melakukanya, kamu masi mudah masa depan kamu masi panjang" ungkap Vania.


Vania kemudian menyodorkan kartu ATM ke Meli, "Ambil ini untuk ke butuhkan mu" ucap Vania.


"Kak Vania ini tidak perlu, samua yang kakak berikan itu sudah lebih dari cukup" ucap Meli.

__ADS_1


"Ambil saja mel, kamu itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri" ungkap Vani.


Meli tidak dapat menolak pemberian Vania, "Makasih kak Vania" ucapannya sambil mengambil ATM itu.


Sementara di kantor wiraguna group, Ariya sedang duduk di kursi kebesarannya memeriksa berkas-berkas yang di bawa Yuda, "Apa yg di lakukan istriku hari ini Yuda?" tanya Ariya.


"Nyonya mudah sedang bersenang-senang dengan nona Meli tuan" jawab Yuda dengan hormat.


"Baik keluarlah" perintah Ariya dan Yuda pun menunduk hormat pergi.


Ariya berfikir sejenak "Apa yang kamu lakukan Vania" guman Ariya.


Ariya kemudian membuka sosial media istrinya, terlihat Vania dan meli sedang selfi di mall, Ariya meraba wajah istrinya di layar hpnya, "Benar kata Meli, kamu itu berhati melaikat " ucal Ariya.


*********


Beberapa minggu telah berlalu, Vania dan Meli sudah benar-benar akrab layaknya saudara sendiri. Meli juga sangat menghormati Vania seperti kakaknya sendiri, tapi beda halnya dengan Ariya, dia masi saja bersikap dingin meski Meli berusaha bersikap ramah.


Seperti malam itu Meli ingin pergi bersama teman-temanya, dia meminta izin pada Vania, "Mak Vania kak Ariya , malam ini aku ingin pergi boleh kan?"


"Iya mel, tapi jangan terlalu larut malam pulangnya dan satu lagi jaga diri" ucap Vania.


"Siap kak" sahut Meli.


Meli kemudian memeluk Vania dan salim sama Ariya dan pergi, sebelum Meli melangkah pergi Ariya bicara, "Hati-hati di jalan" tampa melihat Vania.


"Baik kakak yang paling dingin, sedingin kulkas dua pintu" sambil berlari pergi.


Ariya cuma tersenyum tipis sambil menggeleng, tapi Vania melihat suaminya dan tatapan mereka bertemu.


Ariya mendekati Vania dan menggendongnya naik ke kamarnya , kemudian dia melakukan ritual malam suami istri.


Pagi hari sudah tiba, Ariya sudah berangkat ke kantor, tinggal lah Vania dan Meli masi duduk di meja makan.


Dari arah luar datang lah Renata, "Mama disini" sapa Vania.


"Iya dong sayang, aku kan ingin berkunjung di rumah anak mamah" ucap Renata dan betapa kagetnya ketika melikat orang asing di rumah putranya.


"Pagi tante" sapa Meli dengan wajah ceriah ke Renata.

__ADS_1


Renata tidak menjawab, "Siapa gadis ini Vania?" tanya Renata penuh selidik di matanya.


"Mamah duduk dulu nanti Vania cerita" sambil menarik kursi untuk mertuanya.


__ADS_2