
Di dalam mobil Ariya dan Meli cuma diam, Meli memencet hpnya untuk menghilangkan rasa gugupnya, karena setelah kejadian tempo hari mereka belum pernah ada waktu berdua.
Ariya memberi isyarat pada sopirnya melalui spion tengah, untuk menuju apartemen nya. Meli tidak menyadari itu karena fokus melihat layar hpnya.
Setelah beberapa saat mobil Ariya sampai di parkiran apartemen, Meli melihat sekeliling, "Kita di mana kak?".
Ariya tidak menjawab, dia kemudian membuka pintu dan menarik tangan Meli untuk turun dari mobil.
Meli sedikit bingung, kemana Ariya akan membawanya. Tiba-tiba Ariya merangkul bahunya dengan santai, "Jangan khawatir Mel, aku tidak akan menculik mu" bisik Ariya di telinga Meli.
"Apa sih kak Ariya, emang ada suami culik istri" ucap Meli sambil tersipu.
Ariya tersenyum melihat pipih Meli bersemu merah saat memeluknya seperti sekarang.
Mereka sudah sampai di depan pintu apartemen, Ariya perlahan-lahan membuka pintu dan mereka masuk.
Ariya duduk di sofa yang ada di apartemen nya, di ikuti Meli duduk dengan ragu-ragu.
Ariya menyalakan rokoknya, menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, "Begini Mel, aku memikirkan perkataan mu tempo hari" sambil menatap Meli sangat dalam.
Meli yang di tatap jadi salah tingkah, "Memang ada yang salah kak?" sambil mengigit bibir bawanya.
Ariya mendekati Meli dan menyelipkan rambut Meli di telinganya, "Sayang apa kamu meragukan ketulusanku selama ini? hingga kamu mempertanyakan sikapku padamu hanya sekedar tanggung jawab" tanya Ariya sambil menatap Meli penuh cinta.
"Kak Ariya hentikan" sambil berdiri menjauhi Ariya.
Ariya segera menarik tangan Meli dan mengungkung nya di atas sofa, "Dengar yah Mel, aku sangat mencintaimu" ucapnya masi dengan nada lembut.
Meli membuang pandanganya, "Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang sanggup cintanya terbagi".
"Aku tidak bisa memilih di antara kalian, semua yang menjadi milikku tidak akan ku lepaskan" ucap Ariya masi dengan posisinya.
"Kak Ariya egois, aku yakin kak Vania juga tersakiti dengan sikap kakak yg ingin memilih kami berdua" dengan nada sedikit tinggi.
Ariya melepaskan Meli, "Jadi kamu ingin aku melepaskan Vania?" tanya Ariya menatap tajam pada Meli.
__ADS_1
"Bukan Vania tapi aku kak" jawab Meli balik menatap Ariya.
"Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku" ucapnya dengan membelakangi Meli.
Setelah pembicaraan mereka, Ariya mengantar Meli ke kampus dan dia menuju perusahaan.
*********
Tiba lah saat ulang tahun wiraguna group.
Malam ini di hotel terbesar milik wiraguna group, di mana sedang di adakan pesta untuk merayakan ulang tahun wiraguna group.
Pesta itu sangat meriah di hadiri petinggi-petinggi perusahaan, di tambah awak median yang datang untuk meliput kemeriahan pesta malam itu.
Setelah tamu undangan sudah memadati area pesta, dari arah luar datanglah Ariya wiraguna di dampingi ke dua istrinya, tentu semua mata para tamu undangan langsung tertuju padanya, disertai kamera awak media tidak pernah berhenti memotret, hingga sampai di aula pesta.
Ariya terlihat tampan dan berkarisma di balut jas yang rapi, yang di desain oleh desainer ternama.
Begitu pula dengan Vania dia terlihat cantik dan anggun di balut dress panjang, memperlihatkan bahunya yang putih mulus, desainer Vania memeng sudah tau selera fesyen yang di sukai Vania.
Ariya langsung naik ke atas panggung dan memberi kata sambutan, dan rasa terimakasih ke pada tamu undangan serta para pegawai yang sudah setia bertahun-tahun bekerja keras di wiraguna group, yang membuat perusahaan wiraguna group bisa bersaing di pasar dunia.
Ariya juga mengumumkan calon pewaris wiraguna group akan lahir, karena istri keduanya sedang mengandung. disertai tepuk tangan oleh para tamu undangan.
Setelah memberi kata sambutan Ariya turun dari panggung dan berbaur dengan tamu VIP, para tamu VIP yang dari perusahan lain memberi Ariya selamat, karena berkat ketegasannya dalam memimpin membuat perusahaan wiraguna group disegani dunia, dan juga memberi selamat karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Di tengah meriahnya pesta, Renata sudah tiba, dia langsung menemui Meli, "Meli sayang" sapa Renata pada menantunya.
Meli reflek menoleh, "Eh mamah, apa kabar?" tanya Meli.
"Mamah baik, gimana dengan calon cucu mamah, sehat?" tanya balik Renata dengan mengelus perut Meli.
"Ya sehat mah" jawab Meli.
"Maaf yah Meli, mamah tidak pernah menemui kamu selama hamil, karena mamah baru tiba dari luar negri sore ini" ucap Renata.
__ADS_1
"Gak apa-apa mah, yang penting mamah sehat" ucap Meli.
Tiba-tiba dari arah lain, datang istri-istri dari petinggi perusahaan mendekati Renata dan Meli, "Nyonya Renata selamat yah karena sebentar lagi akan menjadi seorang nenek" ucap salah satu ibu-ibu itu. Renata cuma tersenyum menanggapinya.
Ibu-ibu lain juga menimpali, "Nyonya Renata juga sangat beruntung punya menantu yang sangat mudah dan bisa memberikan keturunan".
Vania yang ingin menghampiri mertuanya langsung berhenti dibelakangnya dan tidak bisa menahan air matanya, mendengar perkataan ibu-ibu yang berada di samping Renata dan Meli, yang memuji Meli.
Vania langsung memutar badannya dan berlari kecil masuk dalam kamar hotel suite, Ariya sedang berbicara pada tamu undangan melihat Vania yang berlari masuk.
"Silahkan nikmati pestanya" ucap Ariya dan langsung mengejar vania.
Vania sedang duduk di depan meja rias, dia melihat wajahnya yang berlinang air mata, "Sungguh sangat sakit, aku tidak tau bisa bertahan atau tidak" gumam Vania di selah tangisnya.
Dari arah pintu, Ariya membuka pintu lalu menutupnya yang di saksikan Vania di depan cermin.
Ariya mendekati Vania dan memutar badan Vania sambil memegang dagu Vania untuk melihatnya, Vania melihat Ariya dengan sisa air mata habis menangis.
"Sayang kamu menangis" tanya Ariya dengan lembut.
Vania langsung berdiri memeluk Ariya dengan menyembunyikan wajahnya di dada Ariya, Ariya mengelus-ngelus bahu Vania untuk menenangkannya.
"Ariya, ini sangat saki, aku tidak tau bisa bertahan atau tidak" ucap Vania di selah tangisnya.
Ariya meneteskan air matanya, dia bisa merasakan sakit yang di rasakan Vania, "Vania sayang aku janji, akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia" batin Ariya.
Ariya secepatnya menyeka air matanya, tidak ingin Vania melihatnya menagis.
Setelah merasa Vania sudah tenang, Ariya melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Vania yang masi tersisa.
"Sayang, ayo kita keluar aku punya kejutan untukmu" ucap Ariya.
"Kejutan?" tanya Vania heran.
"Turun saja dulu" ucap Ariya dengan menggandeng pinggang Vania turun.
__ADS_1
Setelah sampai di tengah pesta, mata Vania langsung tertuju pada anak perempuan bersama seorang pria.