Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
VANIA MANDUL


__ADS_3

"Membuat tempat ini!, jadi pulau ini milik wiraguna group" tanya Vania dengan ekspresi melotot karena tidak menyangka.


"Iya" Jawab Ariya sambil mengangguk menatap Vania tersenyum.


"Wow, aku baru tau kalau Ariya wiraguna seorang milyader" ucap Vania tidak menyangka.


"Kamu tau sayang, kakek wiraguna yang membangun perusahaan itu. Papah cuma 2 bersaudara, adik papa yang perempuan tinggal di luar negri. Berkat tangan dingin papah perusahaan kami makin maju" ucap Ariya menjelaskan ke Vania.


"Karena berkat kamu juga sayang, wiraguna group semakin sukses dan berjaya" ucap Vania menguji kehebatan suaminya, sambil mengangkat ke dua jempolnya.


Ariya yang di puji cuma menyilang kan ke dua tangannya di dadanya sambil tersenyum ke arah Vania dan kemudian menarik hidung Vania, Vania yang ke sakit tan lalu mengejar Ariya. Mereka pun lari-larian di pantai saling mengejar.


Selama di pulau tersebut ke dua pengantin baru itu, benar-benar menikmati ke bersamaan nya, mereka keliling pantai, main-main di pantai,menikmati jajanan di sana dan malam panjang selalu di lewati bersama.


Seperti sore itu, Ariya dan Vania sedang berada di pantai berdua, karena Ariya sengaja mengosongkan tempat itu untuk bersama Vania.


Ariya dan Vania sedang berjalan di pinggir pantai, Vania sedang memakai bikini sedangkan Ariya cuma memakai celana pendek hingga memperlihatkan otot-ototnya yang seperti roti sobek.


Ariya memeluk bahu Vania sambil berjalan menelusuri pantai, jika ombak naik akan menerpa kaki mereka.


"Sayang kok tempat ini gak ada orang?" tanya Vania.


"Sudah aku usir sayang, kan aku tidak mau kalau ada yang ganggu kebersamaan kita" jawab Ariya.


"Oh gitu yah, tapi aku capek sayang" rengek Vania.


Ariya kemudian berjongkok, "Ayo naik ucap Ariya.


Vania tersenyum dan naik di punggung Ariya, kemudian Ariya mulai berjalan lagi.


"Sayang kayaknya kamu harus tanggung jawab, " ucap Ariya.


"Tanggung jawab apa?" tanya Vania heran.


"karena menggendong kamu hanya pake bikini, sepertinya ada yang tegak dan butuh pijatan?" jawab Ariya dengan santai.


"Kalau begitu sayang kita singgah di sana, aku bantuin pijitin" sambil menunjuk tempat berjemur di pinggir pantai.


Ariya kemudian berjalan menuju ke tempat yang di tunjuk Vania dan mendudukkannya di tempat itu.

__ADS_1


Ariya sedang duduk bersandar di tempat berjemur, sedangkan Vania duduk di samping Ariya. Ariya mengamati tubuh istrinya yang memakai bikini dan matanya berhenti di belahan dada Vania.


Vania yang menyadari tingkah suaminya "Kenapa sayang mau aku bantu" dengan meraba dada suaminya.


Ariya yang mendapat perlakuan manja langsung membalikkan tubuh Vania dan mengukung nya di tempat berjemur itu.


Ariya memegang tengkuk leher istrinya dan ******* b*birnya dengan agresif, mungkin tempatnya berbeda jadi Ariya merubah cara mainnya.


Sambil berbisik di telinga Vania, "Sayang kamu mau mencoba hal baru yang menantang" tanya Ariya.


Vania tidak bisa berkata apa-apa, karena Vania sudah melayang karena ulah suaminya.


Tidak menunggu jawaban dari Vania, Ariya kembali melakukan aksinya dengan agresif, sampai akhirnya mereka melakukan penyatuan, cukup lama dan berbagai macam gaya hingga meneteskan keringat keduanya meski dengan hembusan angin pantai.


Permainan Ariya hampir saja mencapai puncak, ******* panjang ke duanya terdengar, pada akhirnya mereka melakukan pelepasan.


Keduanya sama-sama berbaring di tempat berjemur itu, Vania memeluk tubuh kekar Ariya dan menjadikan lengan Ariya bantal. Sesekali Ariya mencium pucuk rambut Vania.


"Sayang akhirnya setelah penantian ku 8 tahun, akhirnya aku bisa mewujudkan impianku membawa kamu ketempat ini" ucap Ariya.


Vania tidak menjawab, mata Vania berkaca-kaca sambil memeluk erat Ariya dan menyembunyikan wajahnya di dada Ariya sambil terisak.


Vania duduk dan menatap Ariya, "Sayang aku berfikir begitu sempurna cinta yang kamu berikan padaku dan aku takut tidak bisa membalasnya" ucap Vania.


Ariya juga ikut duduk di samping Vania, "Kamu bicara apa sayang" sambil mengusap air mata Vania.


"Aku serius sayang, aku takut tidak bisa memberikan kamu bayi yang lucu-lucu" ucap Vania.


Ariya kemudian menarik Vania dalam pelukannya dan mencium kepala Vania, "Sayang jangan terlalu di pikirkan" ucap Ariya.


Keduanya terhanyut dalam suasana.


*********


Ariya dan Vania sudah pulang ke rumahnya setelah honey moom yang menyenangkan.


Beberapa bulang berlalu, Ariya dan Vania ingin ke rumah sakit kembali konsultasi ke dokter kandungan.


Mereka sudah siap-siap ingin berangkat, tiba-tiba Renata datang, "Eh kalian mau kemana?" tanya Renata.

__ADS_1


"Ini mah kami mau konsultasi ke dokter kandungan" ucap Ariya.


"Kalau begitu mamah ikut yah" ucap Renata.


"Ya sudah, ayo kita berangkat" ucap Ariya lagi.


Ketiganya sudah berangkat, tapi wajah Vania sedikit khawatir takut kalau Renata tau semuanya. Tapi Ariya menggenggam tangan Vania untuk menenangkannya.


Sampailah mereka di rumah sakit, dokter sedang membaca hasil pemeriksaan Vania, "Begini pak ariya, setelah beberapa bulan kalian menikah dengan berat hati kami menyimpulkan kalau buk Vania 99% susah untuk punya anak" ucap dokter itu.


Vania hanya menangis, dan tidak bisa berkata-kata lagi nafasnya sudah sesak.


"Dokter apa tidak ada cara lain, program atau bayi tabung" tanya Ariya sambil memeluk bahu istrinya.


"Maaf pak program dan bayi tabung bisa di lakukan kalau kedua belah pihak sama-sama normal tidak ada kendala. tapi kasus ini berbeda pak, bisa di katakan kalau buk Vania mandul" jelas dokter itu.


Wajah Renata, sudah berubah kecewa dan meniggalkan ruangan, "Kami permisi dulu dok" ucap Renata


"Kami permisi dok" ucap Ariya dan meninggalkan ruangan juga.


Sesampainya di rumah Vania belum mampu untuk bicara dia cuma menangis.


wajah Renata sudah tidak bersahabat dan mulai bicara, "Vania setuju atau tidak setuju, kamu harus setuju Ariya menikah lagi" ucapnya dengan tegas.


"Mamah!!!" teriak Ariya kepada mamahnya.


Vania bagai tersambar petir mendengarkan perkataan mertuanya, lidahnya keluh tidak bisa berbicara satu kata pun, cuma isak tangis yang terdengar.


"Kenapa Ariya, apa yang mamah ucapkan itu benar, keluarga wiraguna harus punya penerus secepatnya. Ingat Ariya usia kamu sudah 35 tahun dan itu tidak muda lagi" ucap Renata panjang lebar.


"Tapi mamah tau kan, cuma Vania yang aku cintai" ucap Ariya dengan mengusap rambutnya kasar.


Cukup lama semuanya diam tidak ada yang bicara.


Vania mulai bicara, "Benar sayang kamu harus menikah lagi, aku tidak boleh egois dan secepatnya kita harus bercerai" ucap Vania di selah tangisnya, kemudian berlari naik tangga.


Ariya menatap mamahnya, "Mamah puas menyakiti hati Vania lagi" ucap Ariya dengan menatap nanar mamahnya.


"Rerserah kamu Ariya mau menilai mamah seperti apa, suatu saat kamu pasti memikirkan ucapan mamah" ucap Renata kemudian pergi keluar dan meniggalkan rumah anaknya.

__ADS_1


__ADS_2