
Setelah mengantar Elena pulang, Arvan langsung menyuruh sopir ke apartemennya.
Secepatnya Arvan membuka pintu apartemennya, dan terlihat Nara sedang menarik kopernya keluar kamar.
"Nara tunggu dulu, kamu mau kemana?" tanya Arvan menahan Nara.
"Untuk apa aku di sini, bukan kah kamu akan segera menikah" jawab Nara dengan mata berkaca-kaca.
Arvan ingin menyentuh pipih Nara, tapi segera mengentikan tangannya, "Kamu bisa tinggal di sini, sampai kamu mencapai impianmu Nara" ucap Arvan.
"Sepertinya tidak ada lagi alasanku, untuk tinggal di sini" ucap Nara.
"Nara duduk dulu kita bicara baik-baik, sekali lagi maafkan aku" ucap Arvan sambil menarik kedua tangan Nara untuk duduk di sofa.
Nara akhirnya ikut dengan Arvan duduk di sofa, Arvan yang melihat Nara ingin mendengarkan dirinya, secepatnya bicara.
"Nara aku harap kamu bisa mengerti keadaanku, meski apa yang kulakukan tidak lah benar" ucap Arvan.
"Kalau Elena mungin aku bisa mengerti, karena dia dibawa pengaruh obat, terus kak Arvan saat itu dalam ke adaan sadar bukan?" tutur Nara dengan meneteskan air mata.
Arvan yang mendengar perkataan Nara, langsung memejamkan matanya dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Oke Nara aku salah, tapi aku mohon tinggal lah di apartemenku atau ambil ini" sambil menyerahkan kartu kredit pada Nara.
"Aku tidak bisa menerima keduanya, aku harus pergi kak" sambil berdiri meninggalkan Arvan.
Arvan tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghentikan kepergian Nara.
Arvan segera mengambil HPnya, dan mengirim pesan pada Andra.
"Kak Andra tolong, Nara pergi dari apartemenku" isi pesan Arvan.
Andra yang berada di ruangan VIP salah satu klub malam, membuka pesan Arvan.
Andra langsung mengambil kunci motonya di atas meja, dan segera menemui Nara.
Sementara di kamar Elena, Elena masi gelisah karena belum bicara pada Andra berdua.
"Aku harus menemui kak Andra" ucap Elena kemudian mengambil kunci mobilnya dan segera keluar kamarnya.
Elena sedang mengemudikan mobilnya, "Aku harus menemui kak Andra di mana?, kalau aku telpon pasti tidak di angkat" ucap Elena sambil menyetir.
Di jalan yang berbeda Andra mengendarai motornya untuk menemui Nara, karena tadi dia menghubungi Nara dan janjian di suatu tempat.
Nara sedang menunggu Andra di sebuah kafe, tidak lama kemudian Andra pun datang.
"Hai Nara, sudah lama menunggu?" tanya Andra sambil duduk di samping Nara.
__ADS_1
"Barusan kak, aku baru sampai?" jawab Nara kurang bersemangat.
"Kok bawa koper, mau kemana?" tanya Andra, pura-pura bertanya.
"Aku harus mencari tempat tinggal yang baru kak" jawab Nara.
"Boleh aku membantu?" sambung Andra.
"Makasih kak, tapi aku tidak ingin merepotkan orang lain lagi" tolak Nara.
"Dengar yah, jangan samakan semua pria Nara, ayo ikut denganku" sambil menarik tangan Nara.
"Tapi kak pakaianku" protes Nara.
"Tinggalkan saja, nanti aku suruh sopir untuk mengambilnya" ucap Andra.
Andra kemudian membawa Nara ke museum mamahnya, Andra di sambut penjaga museum.
"Selamat malam tuan mudah ada yang bisa kami bantu?" tanya penjaga itu.
Sementara itu Nara berjalan duluan melihat-lihat isi museum tersebut, dia terlalu mengagumi isi museum tersebut.
Andra yang melihat Nara mengamati isi museum tersebut, Andra kemudian mengangkat tangannya pada penjaga museum, agar berhenti bertanya dan mendekati Nara. Penjaga itu langsung menunduk.
"Kak Andra tempat ini sangat menakjubkan, sedikit mengurangi luka hatiku" ucap Nara saat Andra sudah berada di sampingnya.
"Ternyata kita punya kesamaan, tempat ini juga membuatku nyaman saat aku menghadapi masalah" ungkap Andra.
"Benar sekali, di situ lah aku mengatakan, bekerja di perusahaan membuatku tidak nyaman" ungkap Andra.
"Hidup lah senyaman kakak, karena apa yang kita inginkan belum tentu kita miliki" ucap Nara.
"Kata-kata yang bijak, kalau begitu untuk sementara tinggal lah di sini sampai kamu merasa tenang" ucap Andra.
"Maksud kak Andra?" tanya Nara.
"Di samping museum ini, ada tempat para menjaga museum ini, kamu bisa tinggal di situ sampai kamu mendapatkan tempat tinggal yang baru, bagaiman kamu mau?" tanya Andra.
"Iya aku mau kak" jawab Nara mengangguk sambil tersenyum.
Andra dan Nara menuju kesamping museum, dan melihat istri penjaga museum.
"Buk Ira, apa kami menganggu?" tanya Andra.
"Eh tuan mudah Arvan, ada yang bisa kami bantu" tanya buk Ira.
"Begini buk aku punya teman, untuk sementara dia tinggal di sini dan tolong urus semua keperluannya" ucap Andra dengan sopan.
__ADS_1
Nara yang melihat kesopanan Andra pada seseorang yang lebih tua, membuatnya semakin kagum.
"Iya tuan mudah, kami akan mengurusnya" ucap buk Ira menunduk hormat.
Dari arah luar datang lah sopir membawa koper Nara, "Permisi tuan mudah, ini barang nona Nara" ucap sopir itu.
Nara mengambil kopernya, "Makasih yah pak" ucap Nara.
"Nara istirahatlah, aku pulang dulu" ucap Andra sambil mengusap bahu Nara, di balas anggukan oleh Nara.
Andra kemudian berjalan keluar menuju motonya, betapa terkejutnya Andra melihat Elena sedang berdiri di depan mobilnya menunggunya keluar.
Tatapan mereka bertemu cukup lama, kemudian Andra mendekati Elena.
"Kamu di sini Elena?" tanya Andra.
"Kak Andra sekali lagi maafkan aku" ucap Nara penuh rasa bersalah.
"Kamu tidak salah Elena, hanya takdir yang mempermainkan perasaanku" ucap Andra.
"Tapi ini sangat sulut bagiku" ungkap Nara dengan mata berkaca-kaca.
"Ini tidak akan sulit bagimu, apa lagi kamu tau sendiri Arvan pria yang baik, meski dia terlihat dingin" sambung Andra, tidak menatap mata Elena.
Nara hanya meneteskan air matanya, dadanya begitu sesak dan tidak tau harus berkata apa lagi.
"Elena pulang lah, ini sudah malam kamu harus istirahat" perintah Andra. Tapi Elena tidak bergeming dia tetap saja menangis.
Andra tidak bisa mengabaikan Elena begitu saja, dia kemudian mengusap air mata Elena.
"Sudah! berdamai lah dengan takdir" ucapnya sambil membuka pintu mobil untuk Elena dan akhirnya Elena masuk dalam mobilnya.
Setelah duduk di kursi kemudi, Elena melihat Andra, "Kak Andra kita masi bisa bersahabat kan?" tanya Elena lirih.
"Tentu saja si paling manja, kamu hati-hati" ucap Andra, kemudian Elena melajukan mobilnya pergi.
Setelah kepergian Elena, Andra mengusap air mata di sudut matanya, kemudian mengendarai motornya pulang.
Andra sudah sampai di rumahnya dan melihat Arvan sudah menunggunya di ruang tamu.
"Arvan ada apa?" tanya Andra.
"Apa Nara baik-baik saja?" tanya balik Arvan.
"Sekarang dia aman dan sudah lebih baik" jawabnya sambil duduk di sofa depan Arvan.
"Bagus lah, terima kasih kak" balas Arvan.
__ADS_1
"Hei sejak kapan, pria dingin ini berubah melo" ejek Andra.
Arvan tidak marah, "Sejak takdir mempermainkan semuanya" balas Arvan sambil berdiri dan berjalan naik tangga, "Malam ini aku menginap" sambung Arvan.