
Di negara yang berbeda, di tempat itu bukan lah malam hari tapi sebaliknya yaitu siang hari, duduklah seorang pria sedang menikmati kopinya di bal kom kamarnya, dari tempat pria itu terlihatlah pemandangan ibu kota negara tersebut.
Pria itu membuka leptopnya yang baru saja ada pesan masuk, terlihat rekaman Ariya yang terjadi di mall bersama Meli, di situ terlihat jelas Ariya menarik tangan Meli di keramaian.
Pria yang melihat rekaman itu adalah Dani wijaya, Dani secepatnya mengambil hpnya dan menghubungi seseorang, "Jangan pernah menyebarkan rekaman itu di media kita" ucap Dani.
"Tapi pak, ini adalah berita terpanas yang akan sangat menguntungkan media kita" ucap seseorang yang ada di sebrang telpon.
"Asal kamu tau media kita adalah media berkualitas, mana mungkin kita menyiarkan berita murahan sepertu itu" ucap Dani.
"begini pak, meski kita tidak menyiarkan rekaman itu, tapi media lain akan melakukanya dan di jamin besok berita itu akan menjadi trending topik" ucap kembali suara di sebrang telpon.
"Ini perintah, jangan menyiarkan di media kita" ucap Dani dengan tegas dan menutup sambungan telpon.
"Apa Vania mengetahui hal itu?" gumam Dani kemudian berdiri dari duduknya.
*********
*Kita kembali di negara dia mana Ariya dan Meli berada*.
Ariya dan Meli sudah sampai di hotel, lalu mereka turun dari mobil dan langsung masuk di dalam hotel dan di sambut beberapa pegawai hotel, mereka naik lift khusus CEO.
Setelah sampai di depan kamar suite yang di persiapkan Ariya untuk dinner bersama Meli.
Pegawai membukakan pintu kamar, terlihat kamar yang sangat luas dan sudah di dekor begitu romantis, Meli terkagum melihat tempat itu lalu berjalan ke depan untuk melihat-lihat seisi kamar itu. Sementara Ariya di belakangnya mengisyaratkan pegawai hotel itu untuk keluar.
Mata Meli berkaca-kaca melihat tempat itu yang sangat romantis, Meli duduk di tepi ranjang dan memegang kelopak bunga mawar yang bertaburan bentuk love di ranjang king size itu. Belum ada yang bicara, Ariya hanya memperhatikan Meli yang menikmati tempat itu.
Meli berdiri dan membuka jendela kaca yang ada di kamar itu, terlihatlah makanan di atas meja yang sudah di hias begitu romantis, di tambah lampu-lampu yang menghiasi tempat itu, Meli beralih melihat Ariya yang memperhatikannya dai tadi.
Ariya kemudian menghampiri Meli, "Kamu suka" tanya Ariya.
__ADS_1
"Ini sangat romantis kak Ariya" jawab Meli.
Ariya membawa Meli kemeja yang ada makanan dan menarik kursi untuk Meli duduk, Meli kemudian duduk. Ariya juga menarik kursi dan ikut duduk.
Mata Meli masi berkaca-kaca, pada akhirnya air matanya menetes, "Andai ini semua bukanlah palsu, dan semua yang terlihat di depanku saat ini, ke indahan ini semuanya milik orang lain" ucap Meli sambil menghapus air matanya.
Ariya berfikir sejenak lalu berdiri menghampiri Meli, dia berlutut di depan Meli kemudian mengambil kotak kecil di sakunya, "Meli pakai cincin ini" sambil membuka kotak kecil yang berisi cincin berlian.
Meli menggigit bibir bawanya dan mengalihkan pandangannya, "Cukup kak Ariya, aku tidak ingin menyakiti hati kak Vania lebih dalam lagi" ucap Meli dengan penuh penekanan.
Ariya tidak mempedulikan penolakan Meli, dia tetap mengambil tangan Meli, "Kamu juga istriku, kalau Vania biar menjadi urusanku karena dia adalah hidupku" ucap Ariya sambil memakaikan cincin itu di tangan Meli. Mau tidak mau Meli harus menerimanya.
Meli sudah bisa mengontrol emosinya, saat ini Meli sudah kembali ceria, dia menikmati makanan yang ada di meja itu, "Kak Ariya ini sangat enak" ucap Meli sambil mengunyah makanannya.
Ariya cuma tersenyum melihat sikap apa adanya yang di perlihatkan Meli, sambil memberikan makanan lagi ke Meli yang sudah dia potong-potong.
********
Perasaan Vania sungguh hampa, dia mengambil foto selfi dirinya yang sedang memejamkan mata dan rambutnya di tertiup angin, kemudian mempostingnya di media sosialnya, "Menutup mata, jalan terbaik jika engkau di persimpangan, di situlah mata hati bisa bicara" tulis Vania di postingan foto yang di unggahnya.
Sedangkan di tempat Dani, Dani sangat khawatir dengan perasaan Vania jika melihat rekaman Ariya bersama wanita lain.
Dani iseng-iseng membuka sosial medianya, "Apa? Vania di negara ini" ucap Dani setelah melihat foto yang di posting Vania.
Dani segera menghubungi Vania, "Hai Vania, apa kabar" sapa Dani setelah wajah Vania muncul di layar hpnya.
"Hai juga Dani, kabarku baik" ucap Vania sambil tersenyum.
"Apa saat ini kamu butuh teman untuk jalan-jalan mengelilingi kota yang sangat indah ini" ucap Dani
Vania mengerutkan keningnya sesaat, "Dani! kamu di kota ini juga" tebak Vania antusias.
__ADS_1
"So pasti Vania, ayo kirim lokasinya biar aku jemput" ucap Dani.
"Dasar yah kamu, kamu masi sahabat aku yang selalu ada di saat yang tepat, oke baik aku kirim lokasi, aku tunggu yah" ucap Vania.
Panggilan pun berakhir, "Aku harus cari tau apa yang sebenarnya terjadi" gumam Dani.
********
*Beralih ke negara di mana Ariya dan Meli sedang dinner romantis*
Meli sedang berdiri menikmati pemandangan kota di malam hari dari hotel berbintang milik wiraguna group, "Kak Ariya tau gak sih, tempat ini sangat damai" ucap Meli sambil menyelipkan rambutnya di telinganya yang tertiup angin.
Ariya tidak menjawab, dia cuma berdiri sambil melepaskan jasnya lalu memakaikan ke pada Meli, "Di sini dingin Mel, kamu bisa masuk angin" ucapnya dengan lembut sambil memegang ke dua bahu Meli dari belakang.
Meli terdiam mematung, karena merasakan kembali sisi lembut Ariya yang super dingin di matanya, "Kak Ariya sudah, jangan bersikap seperti ini, aku bisa meleleh di perlakukan semanis ini" ucap Meli.
Ariya memutar tubuh Meli dan mencubit hidungnya, "Kamu terlalu polos sayang" ucapnya lalu menatap bola mata Meli kemudian ******* bibirnya.
Mendapat serangan mendadak dari Ariya, Meli cuma bisa membulatkan matanya, pada akhirnya Meli sudah bisa menikmati aksi Ariya yang lembut.
Tidak terasa aksi mereka berdua sudah berlanjut di atas ranjang, Meli tidak bisa mengimbangi aksi Ariya karena ini pertama kali baginya sementara Ariya menikmati kepolosan Meli.
Setelah melihat Meli sudah ada di bawa kendalinya, Ariya mulai melepas apa yang mereka pakai, pada akhirnya Meli sudah polos di bawanya begitu pula dirinya, Ariya mengamati setiap inci tubuh istrinya.
Meli yang di tatap jadi malu, dia segera mengalihkan pandanganya ke samping, "Sangat indah" ucap Ariya.
Ariya kembali melakukan aksinya, membuat Meli benar-benar tidak berdaya. "Kamu jangan khawatir sayang, aku akan pelan-pelan" bisik Ariya, Meli cuma mengangguk.
Ariya memulai permainannya, perlahan-lahan dia menekan pinggulnya, Meli berteriak kesakitan, kembali Ariya menekan pinggulnya lebih bertenaga dan berulang-ulang, kembali pula Meli mengerang kesakitan hingga mencakar punggung Ariya.
Hingga dara keperawanan Meli keluar, Ariya menyaksikan itu hanya tersenyum, ada kebanggaan tersendiri baginya karena dia yang pertama menyentuh tubuh istrinya.
__ADS_1
*Author skip aja yah, author juga nyesek ngetiknya, selanjutnya pikirkan masing-masing saja permainan mereka sampai selesai*