
"Hei... Tidak usah mengasihani ku" ucap Vania melihat Dani yang memandangnya penuh iba.
"Hemmm...." terdengar suara Ariya dari arah pintu dengan stelan jas rapi.
Vania dan Dani serentak menoleh dan berdiri, "Ariya kamu di sini" tanya Vania.
"Iya, inikan apartemen istriku" jawab Ariya sambil ke samping Vania kemudian merangkul bahunya.
"Ariya ini Dani sahabat aku, dan Dani ini Ariya suamiku" ucap Vania memperkenalkan keduanya.
Dani mengulurkan tangannya, "Kebetulan senang sekali bisa bertemu pak Ariya di sini".
Ariya menjabat tangan Dani, "Sepertinya tidak ada yang namanya kebetulan" sindir Ariya.
"Jangan salah paham dulu pak Ariya, semalam saya melihat Vania masuk apartemen ini, jadi saya cuma memastikan" ucap Dani meluruskan, Ariya cuma mengangguk.
"Vania, pak Ariya saya permisi dulu, saya masi ada keperluan" ucap Dani dengan menatap Vania sangat dalam.
"Hati-hati di jalan Dani, sampaikan salam ku pada Amanda" sahut Vania. Ariya cuma memandangi interaksi Dani pada Vania.
Sebelum Dani melangkah keluar, Dani menoleh, "Kalau ada masalah selesaikan secepatnya sebelum media mengetahuinya" ucapnya kemudian berlalu pergi.
Tinggal lah Vania dan Ariya, Vania langsung langsung menunduk dan secepatnya menuju kamar, tapi Ariya mengikuti langkahnya dan mengintimidasinya, hingga Vania tersandar di dinding membuat Ariya menopang tubuhnya dengan satu tangannya di dinding.
Ariya masi mengintimidasi Vania, membuat Vania tidak berani melihat Ariya, pelan-pelan Ariya mendekatkan wajahnya di telinga Vania, "Sayang kamu tau kan kesalahanmu?".
Vania cuma mengangguk belum berani menatap Ariya, Ariya kemudian memeluk pinggang Vania merapatkan ke tubuhnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya merai dagu Vania untuk memandangnya.
"Hei, sebut kesalahanmu" ucapnya dengan lembut tapi sangat dingin.
Vania menatap mata Ariya, "Karena berfikir untuk meninggalkanmu dan memasukkan pria asing di apartemenku" jawab Vania dengan berhati-hati.
Ariya melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ranjang, "Baik karena kamu menyadari kesalahanmu, jadi jangan pernah berfikir untuk pergi dariku".
Vania menarik nafasnya lega dan memegang dadanya.
__ADS_1
"Bagai mana ke adaan Meli" tanya Vania dengan ragu-ragu.
Ariya tidak menjawab, dia melepas jasnya dan duduk bersandar, "Sini sayang duduk di sampingku" panggil Ariya dengan nada lembut. amarahnya sepertinya sudah mereda.
Vania mendekat dan tangannya di tarik Ariya untuk naik ranjang, "Ada apa?, mod mu cepat sekali berubah".
"Kapan aku bisa marah padamu, selagi kamu masi di sisiku" sambil menarik bahu Vania supaya bisa lebih dekat darinya, Vania memandangi suaminya.
"Aku sedang berfikir untuk menghukum mu" ucap Ariya membalas pandangan Vania.
Vania menarik rahan suaminya yang tegak dengan pahatan yang sempurna, kemudian mencium b*bir Ariya dan berubah menjadi *******, "Suamiku sayang maafkan aku, aku salah" ucap Vania di selah ciumannya.
Ariya kemudian memutar tubuh Vania dan mengungkungnya, "Karena kamu memancingku, kamu harus tanggung jawab" lalu ******* bibir Vania lebih dalam dan tangannya sudah bermain di benda kenyal Vania yang sudah menjadi tempat favoritnya.
Aksi dua anak manusia itu pun tidak bisa di hentikan, keduanya melakukan senang pagi, yang menguras keringat keduanya, permainan mereka berlangsung cukup lama di akhiri d*sahan panjang keduanya.
Sementara di jalan mengemudikan mobilnya cukup kencang dan mengeremnya mendadak, Dani memukul setirnya, "Sial! benar kata orang penyesalan terjadi belakangan, kenapa dulu aku tidak berani mengungkapkan perasaanku pada Vania, aku terlalu takut persahabatan ku dengan Vania hancur" tutur Dani frustasi.
"Lihat saja Ariya wiraguna, kalau kamu berani menyakiti Vania lebih dalam, akan aku pastikan Vania akan berada di sisiku" ungkap Dani kemudian kembali menjalankan mobilnya.
"Sayang sebagai pria, aku melihat pandangan Dani padamu tidak biasa" ungkap Dani.
"Tidak Ariya kali ini kamu salah, kamu cemburu yah sama dia?" ledek Vania.
"Akan aku pantau, kalau dia berani bertindak lebih, habislah dia" ucapnya dengan menurunkan pandanganya melihat Vania.
Vania membalas melihat Ariya sambil memeluk pinggang suaminya, "Sayang jangan pernah melakukan sesuatu padanya, dia satu-satunya sahabat aku yang selalu ada di waktu yang tepat" pinta Vania.
"Dengar yah sayang, tidak ada satu pun wanita dan pria di dunia ini yang bisa bersahabat, kecuali salah satunya menyimpan rasa" ucapnya sambil memencet hidung mancung Vania.
"Aaah sakit sayang" sambil memegang hidungnya.
"Kali ini dia selamat, karena dia mengenalmu lebih dulu dariku" ucap Ariya. Vania hanya tersenyum melihat sikap bijak suaminya.
"Jangan senyum-senyum, akan ku buat tidak bisa berjalan" dengan menatap Vania tampa berkedip.
__ADS_1
Vania segera berlari masuk kamar mandi, Ariya mengejarnya masuk dan cukup lama mereka di dalam. Pada akhirnya keduanya sudah mandi dan rapi.
Ariya menatap Vania, "Sayang ayo kita pulang".
"Tapi Ariya aku tidak enak pada Meli, terakhir kami bertengkar hebat" sambil berjalan ke arah jendela.
Ariya mendekati Vania dan memeluk pinggangnya dari belakang, "Sayang sudahlah, rumah itu milik nyonya Ariya wiraguna yang memang ku buat untukmu, kalau kamu tidak nyaman dengan keberadaan Meli, Meli akan pindah di rumah yang lain" ucap Ariya untuk menenangkan Vania.
"Aku tidak mau sayang, karena nantinya kalau kamu punya anak, jarak antara kita akan terasa" ungkap Vania.
"Dengar yah sayang" sambil memutar tubuh Vania menghadap padanya, "Akan aku pastikan, cuma nama Vania nomor satu di sini" sambil meletakkan tangan Vania di dadanya.
Akhirnya Ariya berhasil membujuk Vania untuk pulang, sekarang mobil keduanya sudah sampai di depan rumah, Ariya turun dari mobil di susul Vania turun dari mobilnya.
Ariya menggenggam jemari Vania masuk dalam rumah, di saat bersamaan Meli turun dari tangga dan pandangannya tertuju pada tangan Ariya yang menggenggam tangan Vania.
"Kak Vania sudah pulang" sapa Meli duluan.
Tiba-tiba hp Ariya berbunyi, "Iya Yuda, saya akan segera ke kantor" kemudian menutup sambungan panggilannya.
Ariya melihat Vania dan Meli bergantian, "Vania, Meli aku ke kantor dulu, ada masalah di perusahaan" sambil mengelus pundak Vania dan berpaling mengelus perut Meli, kemudian berjalan pergi.
Setelah kepergian Ariya, Vania ingin berlalu dari Meli, tapi di tahan oleh Meli, "Kak Vania maafkan Meli".
Vania menghentikan langkahnya yang sejajar dengan Meli, "Yah sudah kamu jangan terlalu banyak berfikir, karena akan mempengaruhi kandungan mu" sambil mengelus perut Meli.
"Makasih yah kak Vania, aku janji akan lebih bersikap baik" ucap Meli.
"Aku ke atas dulu" ucap Vania kemudian naik ke kamarnya.
*******
Siang itu Vania mengendarai mobilnya menuju wiraguna group, dia membawa makan siang untuk Ariya. setelah sampai di dalam perusahaan, Vania di sambut para pegawai wiraguna group, "Selamat siang nyonya Vania" sapa serentak para pegawai yang melihat kedatangan Vania.
"Siang semuanya" jawab Vania dengan ramah, kemudian menuju lift khusus CEO.
__ADS_1
Setelah sampai di ruangan Ariya, Vania langsung masuk, Ariya yang melihat kedatangan Vania langsung menutup berkas di depannya dan berdiri menyambut Vania.