Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
MERASA SEDANG DE JAVU


__ADS_3

Sementara di kantor Ariya, Ariya sedang bicara bersama yuda "Jadi anak perempuan yang bersama Vania di bandara benar anak Revan" ucap Ariya kepada sekertaris Yuda.


"Jadi ada hubungan apa Revan dengan Vania" tanya Ariya lagi. "Maaf tuan, sepertinya cuma sebatas bos dan sekertaris, karena pak Revan mempunyai istri bernama Elina" jawab Yuda menjelaskan.


"Ya sudah, keluarlah jemput dia karena hari ini dia akan datang" sambil menatap ke jendela kaca dengan tangan di saku celananya.


"Baik tuan, saya permisi" sambil menunduk hormat pergi.


Vania sudah sampai di kantor Wiraguna group, sekarang kantor wiraguna group semakin besar dan pegawainya juga banyak yang baru, meski sebagian masi ada pegawai lama.


Vania menuju meja resepsionis, "Ada yang bisa kami bantu buk" tanya pegawai resepsionis itu. "Apa pak Ariya ada?" tanya Vania.


"Maaf buk apa ada janji terlebih dahulu" tanyanya lagi.


"Saya perwakilan perusahaan prakasa group" jawab Vania memperkenalkan diri.


Yuda sudah sampai di bawa, "Maaf pak Yuda, ini ada perwakilan dari prakasa group ingin bertemu dengan pak Ariya" ucap pegawai itu.


Yuda melihat Vania, "Mari nona Vania saya antar ke ruangan pak Ariya" dan masuk di lift khusus CEO.


Yuda mulai bicara "Nona Vania sepertinya anda banyak berubah" ucap Yuda.


Vania menoleh "Ke adaan bisa merubah seseorang sekertaris Yuda" sambil memencet nomor lantai ruangan Ariya.


"Sepertinya nona Vania masi ingat lantai ruangan pak Ariya" goda Yuda dengan tidak melihat Vania. Vania cuma diam.


Vania sudah sampai di depan ruangan Ariya, batin Vania bicara "tenang Vania, kamu harus tenang" sambil memejamkan matanya sejenak di belakang Yuda.


Yuda mengetuk pintunya, "Permisi tuan, perwakilan dari prakasa group sudah datang" ucap Yuda.


"Masuk" jawabnya dari dalam.


Yuda membuka pintu, nampak lah Ariya sedang berdiri di depan dinding kaca ruangannya, sambil memasukkan kedua tangan di saku celananya, Ariya belum melihat ke arah Vania dan Yuda.


"Silahkan duduk Vania" sambil memutar badan melihat Vania, "Terima kasi pak Ariya" sambil duduk di sofa.


Kemudian Ariya duduk berhadapan dengan Vania, sambil melihat berkas yang di bawa Vania, "Kenapa kamu masi sendiri Vania?" ucapnya sambil menatap Vania.

__ADS_1


"Maaf pak saya bekerja secara profesional" jawab Vania dengan gaya anggunnya.


Ariya kemudian berdiri sambil terkekeh "Sepertinya kata-kata itu tidak asing, aku pernah mendengarnya"


"Kalau begitu, Yuda siapkan mobil kita makan siang di luar" perintah Ariya. "Baik tuan" ucap Yuda kemudian keluar ruangan.


Vania kemudian bicara "Baiklah pak Ariya kalau tidak ada lagi yang di bicarakan, aku permisi dulu".


"Sekarang kamu berani menolak ajakan ku, ayolah Vania cuma makan siang" sambil mendekati Vania.


"Maaf pak sebelumnya, saya tidak ada niat menolak ajakan pak Ariya, tapi saya tidak pernah makan siang berdua bersama klien" jawab Vania dengan kata Formal.


"Baik lah Vania, sepertinya saya tidak bisa memaksamu, pergilah meeting hari ini sudah selesai" dangan tidak melihat Vania.


"Saya permisi dulu pak Ariya" sambil berdiri dan melangkah keluar. Di depan pintu dia berpapasan dengan Yuda, "permisi pak Yuda".


Yuda cuma mengangguk heran "Kenapa nona Vania malah pergi" dan secepatnya masuk ke ruangan Ariya.


"Anda baik-baik saja tuan" tanya Yuda sedikit ragu. "Aku baik-baik saja, sepertinya aku harus pakai cara lain untuk mendekati Vania lagi" sambil duduk di kursi kebesarannya.


sementara Vania sedang di jalan menyetir mobilnya, "Aku tidak habis pikir mau dia apa sih, bahkan dia membiarkan aku pergi begitu saja. Sungguh itu di luar dugaan ku, itu bukan sikapnya" pikir Vania.


Vania masuk di rumah Revan, di sana sedang ada Elina memeriksa gambar desain bajunya, karena istri Revan ini adalah seorang desainer.


Vania memang sudah biasa masuk rumah Revan tampa permisi. Vania langsung membuang tasnya di sofa dan duduk bersandar di samping Elina.


Elina cuma melihat Vania sejenak, "Elo kenapa Van, gak biasanya elo mengeluh", tanya Elina masi fokus melihat gambar-gambarnya.


Revan tiba-tiba datang dari dapur membawa segelas jus jeruk, "Kamu tau sayang kenapa hari ini bisa bete" sela Revan bicara pada istrinya.


"Memangnya kenapa" tanya Elina penasaran. Vania masi diam mendengarkan suami istri itu membicarakannya.


"Kamu tau Sayang, perusahaan wiraguna group yang sedang bekerja sama dengan perusaan kita, Ceo-nya itu punya masa lalu dengan Vania" ucap Revan menjelaskan ke pada istrinya.


"Aku jadi curiga kenapa dia mau bekerja sama dengan kita, ada hubungannya Dengan Vania" terka Elina.


Vania mulai bicara "Itu lah yang membuat aku berfikir, mau dia apa sih kembali" masi duduk bersandar di sofa.

__ADS_1


Revan sedang membuka leptopnya, "Memang kenapa sih Vania dengan CEO wiraguna, kamu bahkan menolak semua pria, Kadang aku berfikir apa sekertaris ku ini masi normal" ledek Revan.


Vania melempar Revan dengan bantal sofa, dengan cepat Revan mengkapnya, "Pak Revan yang terhormat anda sedang menghina saya" kemudian tertawa.


*Vania, Revan dan Elina memang akrab di luar kantor, tapi jika bekerja Vania bersikap profesional*


***********


Hingar bingar ibu kota, lampu-lampu di jalan terlihat sangat ramai karena malam minggu pun telah tiba.


Vania duduk di apartemennya sedang menonton TV "Kenapa siarang TV tidak ada yang menarik" sambil melempar remote ke kasur.


Beberapa saat kemudian, bell apartemennya berbunyi, "Siapa yah, sepertinya gue gak mesan makan" sambil berjalan membuka apartemennya.


Setelah pintu terbuka, nampak lah Ariya sedang berdiri di depan pintu, Vania kembali menutup pintunya. Vania mencubit pipinya , "Awuh sakit, jadi aku tidak salah liat". Vania kembali membuka pintunya.


"Maaf pak Ariya sedang apa anda datang ke mari" ucap Vania dengan menunduk hormat.


Ariya tidak menjawab pertanyaan Vania, dia melewati Vania dan masuk saja seenaknya, "Kalau ada tamu di persilahkan masuk" sambil duduk di sofa ruang tamu apartemen Vania.


Vania yang di lewati begitu saja, cuma bisa memutar bola matanya kesal "Mau dia apa sih sebenarnya?"


Vania berdiri di depan Ariya dengan melipat kedua tangannya di dadanya, "Maaf ya pak Ariya, saya tidak menerima tamu pria beristri di apartemen saya" ucapnya tegas dengan menyindir Ariya. Karena Vania mengira kalau Ariya sudah mempunyai istri.


"Ha...ha...ha..., kata-kata yang sama lagi, yang ku dengar dari mulutmu, benar-benar aku merasa sedang de javu". sambil berdiri di depan Vania dan berbisik "Aku belum menikah Vania" sambil menatap leher Vania.


Vania yang di tatap merasa tersudutkan, perlahan-lahan Vania mendur ke belakang dan bersandar di dinding.


Ariya menyudutkan Vania lalu tersandar di dinding, Ariya menahan satu tangannya di tembok dan berbisik di telinga Vania, "Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kamu masi sendiri?"


Vania dapat merasakan hembusan nafas Ariya yang hangat sangat dekat di wajahnya, pipi Vania jadi merah dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ariya, karena dia sendiri tidak tau kenapa dia betah menyendiri.


Tatapan Ariya kembali tertuju ke leher Vania dan perlahan-lahan tangan kanannya terangkat memegang kalung Vania, "Apakah kamu sedang menunggu pemilik kalung ini Vania", masi dengan berbisik di telinga Vania.


Vania mulai bicara, "Tidak pak Ariya, anda salah faham" sambil melepaskan diri dari Ariya.


"Kalau begitu kenapa kamu masi memakai kalung pemberian ku", sambil mendekati Vania dari belakang.

__ADS_1


Vania bicara tidak melihat Ariya, "Bukan pak Ariya, bukan anda. yang memberi aku kalung adalah malaikat penolong ku, bukan penghancur hati seperti anda", bicaranya sedikit tinggi meluapkan isi hatinya.


Dengan tidak di lihat Ariya dia meneteskan air matanya dan segera menghapusnya sebelum Ariya melihatnya.


__ADS_2