
7 Bulan kemudian
Di pagi hari rumah besar Ariya wiraguna, semua pelayang sedang sibuk di rumah, terutama yang pelayan yang menyiapkan sarapan.
Hubungan Ariya, Vania dan Meli semakin membaik tidak ada lagi ketegangan semenjak 7 bulan belakangan, sejak Meli sudah berpindah tempat tinggal.
Vania dan Meli sudah bisa menerima ke adilan yang di berikan Ariya, karena Ariya benar-benar bertanggung jawab ke pada kedua istrinya, termasuk nafkah batin yang selama ini hanya kepada Vania, sekarang Ariya bisa adil ke pada Meli.
Sementara Meli yang sedang kuliah jurusan seni dan kebudayaan, istirahat sementara karena Ariya tidak ingin Meli kecapean, yang bisa berpengaruh pada kandungannya.
Pagi itu Ariya dan Vania turun dari tangga untuk sarapan sambil bergandengan mesra.Vania menyiapkan makan ke piring Ariya lalu memberikannya, kemudian keduanya menikmati sarapan bersama.
"Sayang hari ini, aku ke rumah Meli yah" ucap Vania sambil makan .
"Untuk apa sayang?" tanya Ariya.
"Bulan ini kan, bulan lahiran Meli aku hanya ingin memastikan kesehatannya supaya dia bisa menjalani persalinan dengan lancar" jawab Vania.
Ariya menghabiskan makannya lalu minum, kemudian membersihkan mulutnya dengan sapu tangan, "Vania, terima kasih yah, selama ini kamu mau bersabar dan menjaga dengan baik calon putra ku" sambil menatap Vania tampa berkedip dan menggenggam tangannya.
*Sudah di pastikan calon anak Meli adalah laki-laki, karena usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 9*
Vania membalas tatapan Ariya, "Semoga setelah bayi kamu lahir, semuanya akan lebih baik" ucap Vania.
Setelah sarapan dan Ariya sudah berangkat ke kantor, Vania bergegas pergi ke rumah Meli, kali ini dia memakai sopir dan tidak mengendara mobil sendiri seperti biasanya.
Vania sudah sampai di rumah Meli dan di sambut beberapa pelayan, "Di mana Meli? tanya Vania pada pelayan tersebut.
"Kak Vania datang" sahut Meli dari belakang dengan perut yang terlihat sudah buncit dan agak susah untuk berjalan.
"Iya Mel...., bagaimana kamu sehat?" tanya Vania.
Belum sempat Meli menjawab, tiba-tiba perutnya sakit, "aahw sakit kak Vania" sambil memegang perutnya.
Vania mencoba memapah tubuh Meli yang hampir jatuh, "ada apa ini" tanya Vania khawatir. Tiba-tiba darah mengalir di paha Meli, membuat Vania makin panik.
"Pelayan panggil sopir, kita ke rumah sakit secepatnya" perintah Vania dengan nada tinggi pada pelayang.
Pelayan pun membantu Vania, mengangkat Meli ke mobil. Sebelum Vania masuk mobil, dia menyuruh pelayan memberi tahu Ariya untuk datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Sekarang Meli sedang di tangani dokter di ruang UGD, Vania sedang mondar-mandir di depan kamar UGD dengan wajah khawatir.
Tidak lama kemudian Ariya sudah tiba dengan berlari, "Vania ada apa ini" tanyanya dengan ekspresi khawatir.
"Ariya akhirnya kamu datang, Meli tiba-tiba pendarahan" jawab Vania.
Ariya mengusap wajahnya frustasi, "Meli bertahan lah" gumamnya sambil melonggarkan dasinya.
Vania yang melihat suaminya panik, segera mendekatinya dan mencoba menenangkannya, "Ariya tenang lah, semuanya akan baik-baik saja" sambil mengusap-usap pundak Ariya.
Tiba-tiba dokter laki-laki keluar dari ruang UGD, "Pak Ariya, kita harus bicara" ucap dokter itu dengan wajah tidak baik-baik saja.
"Ada apa dok?" tanya Ariya.
"Begini pak Ariya, dengan berat hati kami mengatakan ini" ucapan dokter itu menggantung, membuat Ariya dan Vania penasaran.
"Terjadi masalah pada proses persalinannya buk Meli, karena terjadi pendarahan hebat jadi kami harus operasi cesar, untuk mempercepat persalinannya yang harusnya 3 minggu lagi" jelas dokter itu.
"Lakukan secepatnya dok" ucap Ariya.
"Tapi pak Ariya terlalu banyak resiko, anda harus memilih menyelamatkan ibunya atau anaknya?" lanjut dokter itu.
Ariya yang mendengar itu langsung menjatuhkan hp yang ada di tangannya, dia benar-benar syok begitu pula dengan Vania, Vania langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
Ariya menggeleng dengan mata berkaca-kaca, "Ti tidak dok, ini tidak mungkin" ucapnya sambil mundur dan menjatuhkan dirinya dengan lemah duduk di kursi tunggu.
Vania ikut duduk di samping Ariya dan memeluk Ariya agar bisa tenang.
Tiba-tiba perawat keluar dari ruang UGD, "Dok, kita harus segera melakukan operasi cesar, ke adaan pasian makin memburuk" ucap perawat itu.
Dokter kemudian melihat ke arah Ariya yang sedang menunduk, "Jadi bagaimana pak Ariya?" tanya dokter itu, menunggu keputusan akhir Ariya.
"SELAMATKAN IBUNYA DOKTER" ucap Ariya dan Vania bersamaan, Ariya dan Vania saling bertatapan kemudian berpelukan.
"Baik sus, sediakan operasi secepatnya" perintah dokter itu, "Pak Ariya segera urus surat persetujuannya".
Selanjutnya operasi sudah mau di mulai, Meli sudah ada di atas meja operasi. Perawat menyuntikkan obat bius pada Meli, dan salah satu perawat bicara, "Tuan Ariya dan nyonya Vania benar-benar berhati mulia, Mereka lebih memilih menyelamatkan ibunya di bandingkan calon pewaris wiraguna group".
Sebelum obat bius bereaksi ke tubuh Meli, dia sempat mendengar percakapan perawat di sampingnya, sebelum menutup matanya. Meli meneteskan air matanya, sebelum benar-benar tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Sementara di luar ruang operasi, Ariya dan Vania cemas dengan keadaan Meli, Mereka tidak ada yang bicara.
Ariya dan Vania melihat lampu operasi berubah menjadi Merah, menandakan operasi sudah di mulai, Ariya dan Vania bertukar pandang saling memasang wajah cemas.
Sementara operasi berlangsung tidak ada yang bicara, Ariya tidak pernah berhenti meneteskan air matanya dan berdoa dalam lubuk hatinya paling dalam agar ada keajaiban berharap putranya bisa selamat.
Selama operasi berlangsung, Ariya tidak pernah bicara begitu pula Vania, dia begitu perihatin melihat suaminya, dia tidak pernah melihat Ariya sesedih ini.
Berapa saat kemudian, lampu operasi sudah mati, menandakan operasi telah berakhir, tidak berselang lama dokter pun keluar.
Ariya dan Vania yang melihat dokter itu keluar, langsung menghampirinya.
Dokter itu menyeka keringat di dahinya, sambil tersenyum melihat ke arah Ariya dan Vania.
"Pak Ariya, ibu Vania selamat, keduanya selamat" ucap dokter itu.
Mendengar itu Ariya langsung menutup matanya sambil menarik nafasnya dan menghembuskan dari mulut, dia benar-benar tidak menyangka apa yang di katakan dokter.
Sementara Vania langsung tersenyum dan menangis terharu, kemudian dia memeluk lengan Ariya.
"Terima kasih dok" ucap Ariya.
"iya pak Ariya, ini benar-benar keajaiban, saya permisi dulu" pamit dokter itu kemudian berlalu pergi.
Tinggal lah Ariya dan Vania yang masi berdiri di tempatnya, "Sayang putraku selamat" ucap Ariya lalu memeluk Vania dengan erat, Vania hanya mengangguk dalam pelukan Ariya.
Bayi yang baru dilahirkan Meli, sedang berada di dalam ruangan khusus, karena kondisinya masi lemah paska operasi cesar, Ariya dan Vania melihatnya di luar ruangan.
"Vania coba lihat putraku, di sangat tampan mirip denganku bukan?" ucap Ariya dengan pedenya, masi melihat gerak-gerik putranya dalam ruangan.
Vania kemudian berpaling melihat Ariya sambil tersenyum, "Suamiku ini memang paling tampan, tapi sekarang punya saingan" ucapnya sambil merapikan rambut Ariya yang berantakan.
Ariya langsung menatap Vania, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vania.
"Sayang jangan di sini, ini tempat umum" sambil menutup mulut Ariya dan melihat sekeliling yang kebetulan tidak ada orang.
Ariya tidak mempedulikan ucapan Vania, dia masi menatap Vania tampa berkedip.
"Ayo kita temui Meli" ucap Vania kemudian menarik lengan Ariya pergi dari situ.
__ADS_1