Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
AKU TIDAK SETUJU


__ADS_3

Saat ini Elena sedang berada di basecamp nya, dia sedang memperhatikan satu persatu lukisan dirinya yang di buat Andra selama ini.


Tiba-tiba datang lah Andra dari belakang dan langsung meluk pinggang Elena, "Sayang apa ada yang kurang dari lukisannya?" tanya Andra.


"Semuanya sempurna, aku hanya berfikir kenapa dulu, aku selalu mengabaikan perasaan kak Andra" jawab Elena.


"Itu karena kamu terlalu mencintai diriku" ucap Arvan.


Elena kemudian memutar tubuhnya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Andra.


"Kak Andra kenapa tidak jujur dengan perasaanmu selama ini?" ucap Elena.


Andra memeluk pinggang Elena dan semakin merapatkan tubuh Elena ke tubuhnya.


"Karena menurutku persahabatan lebih penting dari apa pun" jelas Andra.


"Jadi kamu lebih memilih Aditya dari pada aku dong" sambung Nara sambil memicingkan matanya.


Andra tidak menjawab, tapi malah menggelitik Elena hingga terjatuh ke sofa, membuat Elena berada di bawanya.


"Sepertinya cinta tidak bertepuk sebelah tangan lagi" suara Aditya dari arah pintu.


Elena dan Andra langsung membulatkan matanya saling menatap dan segera berdiri, mereka tidak tau harus mengatakan apa.


"Tidak perlu menjelaskan apa pun kalian keluar lah, aku ada update berita viral" ucap Aditya lalu keluar dari ruangan itu.


"Ayo sayang" ucap Aditya sambil merangkul pundak Elena keluar.


Setelah ketiganya sudah duduk di sofa, Aditya kemudian memberikan ipad pada Andra dan Elena tentang update yang lagi viral.


Elena dan Andra sangat kaget melihatnya, karena berita yang viral tersebut.


Adalah berita tentang kekasih dari putra kedua konglomerat Ariya wiraguna yang bernama Avran wiraguna, ternyata seorang wanita dari kalangan bawa dan bekerja paruh waktu, dan masi berstatus mahasiswa yang mendapat beasiswa dari kampus ternama di kota itu.


"Aku baru tau, kalau Elena ternya benar-benar dari kalangan bawa" ucap Elena yang memang mempunyai karakter bermulut pedas.


"Aku sudah tau semuanya, itu lah sebabnya aku sempat meragukan hubungan mereka, karena semua ini akan berpengaruh di perusahaan di bawa kendali Arvan" ucap Andra sambil menatap lurus ke depan.


Aditya dan Elena mengangguk membenarkan ucapan Andra, dan dari luar datang lah Arvan yang berjalan tegang dan duduk bersandar di sofa samping Aditya, dengan posisi lengan di jidatnya sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Andra, Elena dan Aditya hanya diam saja melihat Arvan, tidak berani mengatakan apa-apa karena Arvan tentu sudah mengetahui berita yang lagi viral.


"Apa salah, orang seperti kita mencintai gadis biasa?" ucap Arvan tiba-tiba sambil membuka matanya.


"Itu lah kejamnya dunia perusahaan, masalah pribadi akan selalu berkaitan dangan pekerjaan" ucap Andra.


"Dan itu lah semua tanggung jawab, kamu serahkan padaku" lanjut Arvan dengan menatap tajam pada kakaknya.


Andra tidak menjawab tuduhan Arvan, karena apa yang di ucapkan Arvan tidak lah salah.


"Cari masalah sih Van, kenapa tidak cari pacar yang setara dengan kita" ucap Elena.


"Aku mencintainya Elena" jawab Arvan dengan dingin. Elena yang melihat sikap dingin Arvan langsung diam, dia tidak berani bicara lagi.


"Arvan benarkah kamu mencintai Nara, kalau iya perjuangkan dan temui dia sekarang" ucap Andra dengan tegas.


Arvan tidak berfikir lagi, dia langsung berdiri mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Arvan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya, setelah sampai dia menemui Nara di kamarnya.


Nara yang berdiri di depan jendela, terkejut melihat Arvan yang tiba-tiba masuk kamarnya tampa mengetuk pintu.


"Sayang percaya lah padaku,aku tidak akan melepaskan mu" ucap Arvan di selah ciumannya, dan ******* kembali bibir Nara.


Nara yang menyadari ucapan Arvan, di tujukan pada berita yang beredar, membuat mata Nara berkaca-kaca dan tidak bisa apa-apa.


Arvan melepas ciumannya dan memeluk erat tubuh Nara, "Berjanjilah padaku apapun yang terjadi, berada lah terus di sisiku" ucap Arvan dengan suara berat.


Nara mengangguk di dada Arvan dan meneteskan air matanya, dia tidak menyangkan kalau Arvan akan mengatakan itu padanya.


Tiba-tiba HP Arvan berdering, Arvan melihatnya dan ternyata pesan dari papahnya yang menyuruhnya pulang sekarang.


"Sayang aku pulang dulu, percaya lah padaku" ucap Arvan kemudian meninggalkan apartemennya.


Sementara itu di kediaman Ariya wiraguna, terlihat Ariya dan Vania sedang menunggu kedatangan Arvan.


Tidak lama kemudian Avan tiba di halaman rumah dan langsung keluar dari mobilnya, Arvan langsung masuk dalam rumah dan melihat kedua orang tuanya sedang menunggu kedatangan dirinya.


Ariya melihat kedatangan putranya yang menghampirinya, langsung membuang majalah yang berisi berita yang lagi viral dia atas meja, setelah Arvan berdiri di depannya.

__ADS_1


Vania yang melihat kemarahan suaminya, belum bisa berkata apa-apa.


"Bisa kamu menjelaskan semuanya" ucap Ariya dengan menatap tajam putranya.


"Dia kekasihku apa yang salah pah, bukanya aku sudah mengenalkannya pada kalian" jawab Arvan dengan tegas.


"Arvan, papah tidak pernah melarang mu berpacaran dengan siapa pun, tapi kamu harus melihat latar belakangnya dulu" ucap Ariya.


Arvan tidak berani bicara lagi, dia secepatnya naik kamarnya.


Vania kemudian berdiri menghampiri suaminya, "Sayang sejak kapan kamu menilai seseorang dari latar belakangnya" ucap Vania sambil mengusap dada suaminya.


"Sayang bukannya aku melihat dari latar belakangnya seseorang, tapi aku takut wanita itu memanfaatkan Arvan untuk kepentingannya" ucap Ariya.


Ariya mengusap tangan Vania yang memegang lengannya, "Sayang segera atur pertemuan kita dengan keluarga Prakasa" perintah Vania.


"Iya sayang" jawab Vania sangat pelan, karena dia sudah bisa menebak apa rencana suaminya.


*********


Makan malam pun telah berlangsung kedua keluarga wiraguna dan prakasa, sedang makan malam di restoran wiraguna group, Mereka sedang berada di ruang VIP dan menikmati makanan yang di buat koki terhebat di restoran itu.


Ariya yang duduk sudut meja yang mewah itu, mengambil sapu tangan lalu mengusap mulutnya, dan mulai bicara.


"Saya ucapkan terima kasih, karena pak Revan sekeluarga sudah hadir malam ini" ucap Ariya sambil melihat kepada Revan.


"Sama-sama pak Ariya, kami sangat terhormat mendapat undangan makan malam" ucap Revan sambil terkekeh.


"Ada pun yang ingin saya sampaikan malam ini, terkait apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya, tentang perjodohan Arvan dan Elena" ucap Ariya dengan wibawanya.


"Tidak! aku tidak setuju" ucap Arvan dan Elena serentak.


Semua mata tertuju pada keduanya yang duduk berdampingan.


"Kok kamu menolak Elena, bukan kah kamu sangat mengagumi Arvan" ucap Selin kakaknya.


Elena langsung diam tidak berani mengatakan yang sebenarnya, karena dia melihat Andra diam saja.


"Pah kami sudah dewasa, kami berhak menentukan hidup kami" ucap Arvan, kemudian menatap marah pada Kakaknya. Karena Arvan berfikir, andai jabatan perusahan dipegang kakaknya dia bisa menentukan hidupnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2