Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
JANGAN MESUM KAK


__ADS_3

Malam hari telah tiba, Arvan dan Nara sudah kembali di apartemen. Nara keluar kamar dengan baju yang terbilang seksi karena dia mengira Arvan sudah pulang.


Arvan bersiul keluar kamarnya dan matanya tertuju pada Nara yang sedang duduk bersandar di sofa, Nara yang mendengar suara Arvan langsung menoleh. Kemudian tatapan mereka bertemu.


Arvan yang melihat Nara yang berpakaian seksi, langsung memutar tubuhnya kembali masuk kamarnya.


Sementara itu di luar kamar, Nara baru menyadari penampilannya yang seksi, Nara secepatnya masuk kamar dan memakai jubah tidur. Kemudian keluar mengetuk pintu kamar Arvan.


"Kak Arvan!" panggil Nara dengan lembut.


Arvan membuka pintu, "Maaf yah Nar, aku tidak mengatakan kalau malam ini menginap" ucap Arvan.


"Kenapa harus minta izin, inikan apartemen kak Arvan" ucap Nara.


"Maaf soalnya aku biasa lepas kontrol saat melihat, cewek cantik di depan mataku" ucap Arvan.


"Sudah kak sekarang kita berteman, jadi aku ingin memasak untuk balasan karena sudah mengajak Nara jalan-jalan seharian" ucap Nara sambil menarik pergelangan tangan Arvan. Arvan ikut saja tampa berkomentar.


Arvan sedang duduk di meja makan sambil menunggu Nara memasak sesuatu, sementara itu Nara sedang memasak dengan serius.


Beberapa saat kemudian, Nara sudah menyiapkan hidangan makan, dan Arvan mengamati yang di hidangkan Nara.


"Itu mie instan kan?" tanya Arvan.


"Ya ini mie instan yang sudah ku beri beberapa sayur" ucap Nara sambil memberikan Arvan sepasang sumpit.


Arvan mengambil sumpit dari tangan Nara, dengan ekspresi bingung.


"Aku sengaja buat ini karena kalau aku masak, pasti aku kalah sama koki yang masak di rumah kak Arvan, Ayo coba dulu" sambil menyodorkan mie ke mulut Arvan.


Dengan ragu-ragu Arvan membuka mulutnya, dan merasakannya, "Ini enak, lagi" ucapnya sambil membuka mulutnya.


Tampa di suruh Nara menyuapi Arvan lagi dan lagi, terlihat Arvan menikmati mie yang di masak Nara karena ini pertama baginya.


Arvan makan dengan lahap, sampai mie milik Nara juga dihabisinya, hingga keringat bercucuran di wajahnya, sedangkan Nara hanya tersenyum sambil menyuapi Arvan sampai suapan terakhir.


Arvan mengambil air yang di berikan Nara, lalu meminumnya kemudian bersandar di kursi.


"Ini sangat enak Nara" ucap Arvan. Nara hanya tersenyum sambil melihat Arvan.


"Kak Arvan boleh aku jujur, kakak punya kepribadian ganda dan aku lebih suka yang ini" ucap Nara.

__ADS_1


"Akan usahakan seperti ini terus, sekarang kamu tidur ini sudah larut" ucapnya sambil berdiri dan mencium kening Nara, kemudian berlalu masuk kamarnya.


Nara yang merasakan ciuman lembut Arvan pertama kalinya, membuatnya terdiam dan bagaikan ada aliran yang merasuki tubuhnya.


"Getaran apa ini" gumam Nara, "Tidak-tidak ini cuma terbawa perasaan saja" lanjut Nara dan berjalan masuk kamarnya.


********


Di sebuah alam terbuka di suguhkan pemandangan yang indah, Elena sedang melakukan pemotretan dengan bertemakan alam terbuka.


Di sela-sela pemotretan Elena yang sedang mengganti kostum, datanglah asistennya membawa buket bunga.


"Nona Elena ini ada kiriman bunga" ucap asistennya.


"Dari siapa?" tanya Elena sambil mengambil buket bunga itu.


Elena kemudian membaca surat yang ada di bunga itu.


"Elena semangat dengan aktifitas hari ini, sore nanti aku jemput , by Andra" isi surat itu.


Elena mencium bunga itu lalu tersenyum, "Ternyata kak Andra sangat romantis" gumamnya kemudian kembali melakukan aktifitasnya.


Sementara itu Nara sedang sibuk di butik, tiba-tiba Selin datang dari belakang.


"Baik buk Selin" jawab Nara dengan hormat.


Kemudian Nara secepatnya menuju perusahaan wiraguna group, beberapa saat kemudian mobil yang membawa Nara sudah sampai.


Nara langsung di sambut seseorang di bagian kostum yang sudah menunggunya, Nara lalu memberikannya dan segera ingin pulang.


"Maaf mona, tuan mudah Andra ingin meminta nona menemuinya di ruangannya" ucap pegawai itu.


"Baik" jawab Nara.


"Silahkan nona saya antar" ucap pegawai itu sambil memberi jalan pada Nara.


Setelah sampai di depan pintu rungan Arvan, pegawai itu pergi meninggalkan Nara sendiri.


Nara kemudian mengetuk pintu, "Masuk" suara Arvan dari dalam.


Nara pelan-pelan membuka pintu, terlihatlah Arvan sedang sibuk di mejanya, dengan steel jas rapi seperti biasa.

__ADS_1


"Masuk Nara, duduk dulu" ucap Arvan tidak melihat Nara. Dan Nara kemudian berjalan duduk di sofa.


Nara memperhatikan Arvan yang sedang serius bekerja, membuat ketampanannya menjadi berkarisma di tamba kacamata kerja yang melekat di hidung mancungnya.


"Sungguh dia sangat tampan dan berkarisma" batin Nara.


Tiba-tiba Arvan melirik Nara, membuat pandangan mereka bertemu dan Nara kemudian memalingkan pandangannya karena ketahuan memandang Arvan diam-diam.


Arvan kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan duduk di samping Nara.


Arvan menatap Nara tampa berkedip, "Nara kalau mau memandangku katakan, kan aku bisa sedekat ini" sambil memajukan tubuhnya lebih dekat ke Nara.


Nara mendorong dada Arvan dengan lembut, "Apaan sih kak, aku akui kak Arvan lebih tampan dan berkarisma tik saat bekerja" ucap Nara berterus terang.


Arvan kemudian berbaring di pangkuan Nara, "Nara dengan begini kamu bisa memandangi ku sepuasnya" ucap Arvan memejamkan matanya.


Nara tidak marah, dia bahkan tersenyum, dan melepas kacamata Arvan, "Kak, biar kepalanya aku pijit" ucapnya sambil memijit kepala Arvan dengan lembut.


"Nara bisakah kita selamanya seperti ini, tidak ada kata kontrak pacaran" ucap Arvan sambil membuka matanya.


Nara yang mendengar perkata Arvan, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja di ucapkan Arvan.


Arvan kemudian bagun dan menatap Nara dengan serius, "Nara maukah kamu menjadi pacarku yang sesungguhnya" ucap Arvan sambil menggenggam kedua tangan Nara.


Nara yang merasa nyaman dengan perlakuan Arvan akhir-akhir ini, langsung saja mengangguk.


Arvan langsung saja memeluk Nara dengan erat, "Makasih Nara" lalu mencium pucuk rambut Nara.


"Nara meski aku tau kamu selalu mengagumi kak Andra, tapi aku janji akan membuat kamu mencintaiku bukan sekedar rasa kagum" batin Arvan dan masi mendekap Nara dalam pelukannya.


Nara melepas pelukan Arvan, "Arvan entah kenapa, aku merasa nyaman denganmu akhir-akhir ini dan aku merasa seperti punya keluarga baru" curhat Nara.


"Nara aku akan selalu bersamamu, hingga kamu mencapai cita-cita yang kamu impikan" ucap Arvan dengan lembut.


"Benarkah? Hubungan yang aku impikan selama ini, pasangan yang selalu mendukung apa yang ku cita-citakan" ungkap Nara dengan mata berkaca-kaca karena terharu.


Arvan mengusap air matanya dengan lembut, "Sudah yah, ayo kita keluar makan" ucap Arvan. Nara hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


"Jangan senyum-senyum itu bisa membuatku.." sengaja Arvan menggantungkan ucapannya.


"Apa? Jangan mesum kak" sambil menarik tangan Arvan berdiri.

__ADS_1


Arvan dan Nara akhirnya keluar makan siang.


__ADS_2