Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
INI TEMPAT SIAPA KAK


__ADS_3

Nara meminum minuman yang di berikan Arvan sambil menunggu penjelasan dari Arvan.


"Apa kamu kuat jika mengetahui kenyataanya" tanya Arvan.


"Apa hubungannya denganku" tanya balik Nara.


"Kemari lah akan aku jelaskan" sambil berdiri dan berjalan ke suatu kamar, pelan-pelan Nara berdiri mengikuti langkah Arvan.


Arvan membuka pintu kamar lebar-lebar, "Masuk lah" ucapnya sambil memberi jalan Nara untuk masuk.


Nara masuk dengan berjalan pelan dan di susul Arvan masuk, kemudian Arvan kembali menutup pintu kamar.


Nara sempat kaget ketika Arvan menutup pintu, tapi dia lebih takjub oleh karya seni yang ada di kamar ini, Nara berjalan kedinding kaca yang ada di kamar itu melihat pemandangan yang indah.


Arvan hanya duduk melihat Nara menikmati suasana kamar itu, dan Nara berjalan ke arah Arvan sambil mengamati keramik dan lukisan yang ada di sekitarnya.


"Ini tempat siapa kak?" tanya Nara sambil duduk di samping Arvan.


"Tempatnya kak Andra" jawab Arvan.


Kemudian Arvan berdiri ke salah satu sudut kamar itu, "Kamu mau tau alasan terbesarku, tidak bisa membuka hati pada Elena?" ucapnya sambil melihat ke arah Nara.


Nara juga kembali berdiri dan melangkah ke arah Arvan berada, "Apa itu?".


Arvan tiba-tiba menarik kain putih di depannya, di mana didalamnya terdapat sekian banyak lukisan Elena, mulai masi kecil hingga sampai dewasa saat ini.


"Semua ini adalah lukisan kak Andra, jadi mana mungkin aku biasa membuka hati pada wanita yang di puja kakak ku sendiri" ucap Arvan menjelaskan semuanya.


Nara yang baru saja melihat kenyataan, bahwa pria yang sangat dia kagumi tenyata sangat memuja wanita lain, membuat hatinya patah meski kenyataan dia tidak mungkin bersama Andra.


Nara tertawa hambar, tapi dengan mata berkaca-kaca, dia hampir saja kehilangan keseimbangan untung saja Arvan segera menahannya.


"Ayo duduk lah dulu" ucap Arvan sambil berjalan mendudukkan Nara di sofa.


"Jadi itu sebabnya kak Arvan menjadikanku pacar" tebak Nara.


"Iya itu kamu pintar" ucap Arvan.


"Dan satu lagi, aku memilih kamu agar tidak terlalu berharap pada kak Andra" lanjut Arvan.


"Ternyata kak Arvan punya hati lapang" ucap Nara.

__ADS_1


"Aku sangat menyayangi kak Andra, aku tidak ingin kisah cinta masa lalu orang tua kami terulang lagi" curhat Arvan sedikit emosional.


Nara mendekati Arvan dan mengusap punggungnya, agar bisa lebih tenang. Kemudian Arvan menggenggam tangan Nara.


"Nara kamu mau kan jadi teman ku, dan sekali lagi maaf, tidak akan ku ulangi lagi kesalahanku" ucap Arvan dengan serius, Di balas anggukan oleh Nara.


Keduanya pun keluar dari kamar itu, betapa kagetnya mereka ketika melihat Aditya sedang duduk di sofa.


"Oh ternyata kalian di sini?" ucap Aditya.


Nara dan Arvan saling beradu pandang, kemudian Arvan kembali berjalan sambil merangkul pundak Nara.


"Kami sudah ingin pulang Dit" ucap Arvan.


"Ayolah Van minum dulu" ucap Aditya sambil berdiri memberi Arvan segelas wine.


Arvan mengambil gelas dari tangan Aditya, sambil memberi kode pada Nara agar tinggal sebentar, dan keduanya duduk di depan Aditya.


"Wow aku ajukan dua jempol padamu Nara, kamu adalah wanita luar biasa, dan satu-satunya wanita yang bisa menaklukan hati taun mudah yang dingin, dan satu lagi satu-satunya orang lain yang menginjakan kaki di tempat ini" ucap Aditya mengatakan kenyataannya dan mengangkat dua jempolnya.


"Benarkah? jadi Kak Arvan belum pernah pacaran sebelumnya?" tanya Nara untuk memastikan sambil tersenyum penuh arti.


"Benar sekali Nara, kamu mau minum" ucap Aditya sambil menuang wine di gelas, dan tidak peduli dengan Arvan, yang menatapnya dengan tajam.


Tiba-tiba dari arah luar datang lah Andra dan Elena.


"Tenyata kita kedatangan tamu untuk pertama kalinya" ucap Andra dengan santai lalu duduk di samping Nara.


"Benar tenyata kita kedatangan tamu" sambung Elena, sambil duduk di samping Aditya dan mengambil segelas wine.


"Benarkah itu, aku sangat mengagumi tempat lagi, apa lagi di bagian karya seninya" ucap Nara sambil tersenyum.


"Sepertinya pacar aku ini, menyukai karya seni, nanti akan ku buatkan museum" ucap Arvan dengan enteng.


Nara sedikit tersentuh dengan ucapan Arvan, dia merasa kalau Arvan memberinya harapan palsu, "Memang semudah itu membuat museum" timpal Nara.


"Hanya membuat museum, bahkan membeli sebagian kota ini wiraguna group bisa" ucap Arvan dengan gaya angkuhnya.


"Ternya kak Arvan ini sangat sombong" ucap Nara sambil tersenyum palsu.


"Bukan saja sombong Nara, dia juga sangat angkuh dan tegas, itu lah membuatnya banyak berpengaruh di wiraguna group, di usinya yg sangat mudah" timpal Elena memuji Arvan.

__ADS_1


Nara langsung melihat ke arah Andra, karena Elena memuji Arvan di depan Andra. Tapi ekspresi Andra biasa saja.


"Arvan sepertinya kamu harus membawa Nara ke museum mamaku" ucap Andra.


"Ide bagus, besok hari minggu kita ke sana" timpal Arvan.


"Tapi hari minggu, aku tetap kerja" jawab Nara.


Andra, Aditya dan Elena serentak tertawa mendengar jawan polos Nara.


"Hei Nara, jadi seorang pacar Arvan wiraguna apa perlu bekerja" ucap Aditya.


"Ayo sayang, kita pergi aku ingin memberimu kejutan" ucap Arvan sambil menarik tangan Nara berdiri.


"Kami pergi dulu" pamit Nara, tapi belum ada yang menjawab, Arvan sudah menarik tangannya keluar.


Arvan masi memegang tangan Nara sampai di apartemennya, Nara baru menyadari dan segera menarik tangannya.


"Maaf yak kak, aku tidak pernah bolos kerja" ucap Nara.


"Ya sudah istirahatlah lah, besok kita pergi" ucap Arvan dengan lembut sambil mengusap rambut Nara.


"Kak Arvan tidak peluh bersikap layaknya pacar di dalam apartemen, bagaimana kalau aku benar-benar tersentuh" protes Nara.


Arvan tersenyum mendengar pernyataan polos Nara, "Ya gampang jadi pacarku saja" gumam Arvan, tapi masi bisa di dengar Nara.


"Kak Arvan bilang apa?" memicingkan matanya melihat Arvan.


"Aku bilang istirahatlah, aku ingin mandi" ucap Arvan dan segera masuk kamarnya.


Nara tersenyum kemudian masuk dalam kamarnya juga, Nara langsung melepas pakaian nya dan masuk kamar mandi.


Setelah mandi Nara memakai baju tidur biasa, karena setelah kejadian malam itu Nara sudah takut memaki baju tidur yang seksi.


Nara segera keluar kamarnya dan menuju dapur, dia berencana membuat makan yang bisa di makan.


"Mau buat apa? ayo makan ini saja, aku pesan makanan" terdengar suara Arvan di belakangnya.


Nara menoleh, "Kak Arvan, belum pulang?" tanya Nara sambil mengambil makanan di tangan Arvan.


Arvan bersandar di tembok dengan melipat kedua tangannya di dadanya, sambil melihat Nara menyediakan makanan.

__ADS_1


"Nara sebelum ke hadirin Kak Andra, apa kamu punya pria idaman lain" tanya Arvan dengan serius.


__ADS_2