
Arvan tersenyum penuh kemenangan lalu berjalan duduk bersandar di sofa.
"Aku ingin memberimu sebuah pilihan, meninggalkan apartemen ini tapi peraturan kontrak di bawa aturan ku, atau tinggal di apartemen ini tapi peraturan kontrak di bawa kendali kamu" ucap Arvan dengan pelan tapi penuh menekan.
Nara menatap Arvan dengan tajam kemudian kembali masuk dalam kamar dan membanting keras pintu kamarnya, Arvan hanya tersenyum melihat Nara yang sangat marah.
Nara duduk di ranjangnya, "Sial kenapa aku harus terjebak dengan susana seperti ini" ucap Nara frustasi.
********
Andra sedang berada di basecamp nya. Seperti biasa Andra sedang melukis seseorang dengan serius, dari arah luar datanglah Elena dan duduk bersandar di sofa di samping Andra.
"Kak Andra sampai kan kamu akan berhenti melukis diriku?" tanya Elena ketika melihat yang di lukis Andra adalah dirinya.
"Sampai ada yang marah, jika aku melukis mu" jawab Andra sambil melihat ke arah Elena.
Elena baru saja mau bicara, tapi tiba-tiba datanglah Arvan dan Aditya.
"Hay ternyata kalian ada di sini?" sapa Aditya sambil duduk di samping Andra dan Arvan duduk di depan Elena.
Sedikit ada ke tegangan antara Andra, Elena dan Arvan, dan itu di sadari oleh Aditya.
"Hei kalian pada kenapa?" tanya Aditya dengan wajah heran.
"Gak kok Dit, aku duluan dulu" ucap Elena sambil berdiri dari duduknya.
"Tunggu Elena" panggil Arvan sambil melihat Elena
Elena berhenti, dan Andra menghentikan aktifitas melukisnya dan melihat ke arah mereka.
"Ada apa Van" ucap Elena tapi tidak melihat Arvan.
"Temani aku sebentar, mau kan?" ucap Arvan.
Andra menatap tajam ke arah Adiknya, tapi Arvan membalas menatapnya sambil tersenyum.
"Maaf Arvan aku ada pemotretan, aku duluan yah" ucap Elena sambil berjalan keluar. Tapi Arvan mengikuti Elena keluar.
"Arvan sepertinya mempermainkan hati dua wanita" ucap Andra setelah kepergian Arvan.
"Sepertinya tidak, sepertinya dia hanya ingin menyakinkan dirinya saja, yang mana wanita yang di cintai" balas Aditya.
"Semoga saja, karena Elena adalah wanita yang baik" ucap Andra melanjutkan melukis Elena.
"Kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaan mu padanya" tanya Aditya.
__ADS_1
"Sama siapa?" tanya Andra.
"Siapa lagi, sama wanita yang ada di lukisan mu itu" ucap Aditya sambil melihat lukisan Andra.
Andra tidak menjawab, dia menghentikan lukisannya dan memperhatikan wajah Elena di lukisannya.
Sementara di luar, Elena baru saja ingin membuka pintu mobilnya, tapi pintu di pegang Arvan.
"Ikut denganku" ucap Andra.
Elena melihat kepada asistennya, "Kalian duluan" perintah Elena.
"Pak jalan" ucap asisten Elena.
Arvan dan Elena pun naik kedalam mobil, dan mobil melaju ke jalan raya.
Sementara di perjalanan, Elena yang biasanya agresif saat bersama Arvan, kali ini hanya diam saja.
"Elena bisa kah kamu, mengagumi pria lain selain diriku?" tanya Arvan tiba-tiba.
"Mungkin bisa, aku lagi mengusahakannya" sambil melihat Arvan.
"Dengan menghindari ku, begitu?" tanya Arvan dan di balas anggukan oleh Elena.
Akhirnya mereka sampai di tempat pemotretan Elena, dan Arvan mengantar Elena masuk sambil bercanda seperti biasa, dengan sikap dingin Arvan tapi Elena selalu saja bicara.
"Hei itu Elena sudah sampai" ucap asisten Elena.
Semua yang ada di ruangan itu menoleh, ke arah Elena dan Ariya. Termasuk Nara yang juga ada di ruangan itu, untuk membawa baju Elena yang akan di pakai untuk pemotretan.
Tatapan Arvan langsung tertuju pada Nara dan tatapan mereka bertemu, tapi rasa kesal Nara pada Arvan masi terpancar di wajahnya.
Arvan dan Elena melangkah mendekat, Arvan langsung menuju ke arah Nara sambil tersenyum.
"Sayang kamu di sini juga" ucap Arvan sambil mencium kening Nara, Nara ingin marah tapi dia menyadari kalau ini tempat umum.
"Iya sayang aku di sini mengantar, busana Elena yang akan dia pakai" ucap Nara bersandiwara.
Semua orang yang ada di ruangan itu kaget melihat, pria dingin yang selama ini dia kenal, ternyata bisa bersikap romantis pada seorang wanita.
Arvan masi ada di ruangan itu, karena menunggu Nara yang sedang menganti pakaian Elena.
Saat ini Elena sedang melakukan pemotretan yang cukup seksi, memperlihatkan kecantikan tubuhnya. Semua itu tidak luput dari pandangan Arvan.
"Dia sangat cantik dan berprestasi, kenapa kamu tidak bisa menerimanya?" tanya Nara yang tiba-tiba berdiri di samping Arvan.
__ADS_1
Arvan menoleh sambil tersenyum kemudian menarik tangan Nara duduk di sampingnya dan memeluk pinggangnya.
"Eh apa-apaan ini" protes Nara sambil ingin melepaskan pelukan Arvan.
"Ini tempat umum sayang, jadilah pacar yang baik" bisik Arvan. Nara langsung diam.
"Sayang kamu mau tau kenapa, aku mengabaikan Elena" ucap Arvan masi melihat Elena, sambil merubah tangannya merangkul pundak Nara.
Nara sedikit terbawa perasaan merasakan sikap lembut Arvan padanya, yang seolah-olah seperti benar-benar pacaran.
"Kenapa?" tanya Nara penasaran, sambil melihat ke wajah Arvan.
Arvan reflek menunduk melihat Nara, membuat jarak wajah mereka sangat dekat, cukup lama tatapan mereka berlangsung.
Nara secepatnya menjauh dari Arvan dan Arvan melepaskan pelukannya.
"Karena aku sudah mengaggap Elena sebagai adikku sendiri dan aku sangat menyayanginya" ucap Arvan memberi alasan.
"Itu bukan sebuah alasan, karena menurutku jika kita menyayangi seseorang maka kita ingin memilikinya agar bisa menjaganya" pendapat Nara. Arvan tidak menjawab.
"Bahkan aku sangat penasaran kenapa bisa, seorang pria bisa menolak Elena yang menurutku, adalah wanita yang sempurna" lanjut Nara sambil melihat ke arah Elena.
"Apa benar kamu sangat penasaran, ikut denganku" ucap Arvan.
Akhirnya pemotretan Elena sudah selesai, Nara kembali mengambil busana yang di bawanya tadi dari butik Selin.
Kemudian Arvan membawa Nara ke basecamp nya, karena sangat penasaran Nara ikut pada Arvan dan melupakan sejenak rasa kesalnya pada Arvan.
"Masuk lah Nara" ucap Arvan sambil membuka pintu.
Nara sedikit ragu-ragu melangkahkan kakinya masuk, dia teringat apa yang di lakukan Arvan Padanya malam itu.
"Bukannya kamu penasaran, ayo masuk" sambil melangkah masuk, tampa mempedulikan Nara yang sebenarnya takut padanya.
Pada akhirnya Nara mengikuti langkah Arvan masuk dan melihat sekeliling tempat itu yang sangat luas dan terdapat banyak barang yang bermacam-macam karakter.
"Tempat apa ini?" tanya Nara lagi dengan wajah penasaran.
"Ternyata kamu sangat muda penasaran, Ayo minum dulu" sambil menuangkan minuman dingin di gelas untuk Nara, yang baru saja di ambil dari lemari pendingin. Pelan-pelan Nara duduk di sofa, dan masi melihat sekeliling.
"Tempat ini adalah basecamp kami sejak SMP, jadi tempat ini penuh dengan bermacam-macam bareng, sesuai dengan kebutuhan kami berempat" jelas Arvan sambil meminum minuman yang di bawanya.
"Wah aku kagum dengan persahabatan kalian" ucap Nara
"Aku akan menjelaskan kenapa aku menolak Elena, Ayo minum lah dulu" ucap Arvan.
__ADS_1