Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
VANIA PERGI DARI RUMAH


__ADS_3

Ariya berlari naik ke kamarnya, dan melihat Vania sedang memasukkan pakaiannya dalam koper, "Vania sayang tunggu dulu, kita akan cari solusinya bersama-sama" ucap Ariya ke pada istrinya, sambil memegang lengan Vania supaya tenang.


"Tidak Ariya jika aku di sini, kamu tidak akan menerima wanita lain dalam hidupmu" ucap Vania di sela tangisnya.


Sekarang Vania sudah selesai memasukkan pakaiannya di kopernya, Vania mengangkat kopernya turun ke bawa. Sementara Ariya berusaha menghalanginya, tapi Vania tidak mempedulikan Ariya dia terus keluar rumah dan masuk dalam mobilnya.


Ariya mencoba menghalanginya, "Vania sayang tunggu, kamu jangan pergi dulu" ucap Ariya sambil memukul kaca mobil Ariya.


Vania tidak mempedulikannya, dia cuma menangis di dalam mobil kemudian mengemudi kan mobilnya pergi.


"Vaniaaa" teriak Ariya sambil mengejar mobil Vania, pada akhirnya harus berlutut di pekarangan rumah karena mobil Vania sudah melaju pergi. "Vania kenapa kamu meninggalkan aku, kamu kan sudah janji akan selalu bersamaku" ucapnya sambil menangis.


Dari arah gerbang, Yuda melihat ke adaan bosnya yang lagi berlutut, Yuda secepatnya berlari membantu tuanya berdiri, "Tuan sebaiknya kita masuk" dan membantu Ariya masuk rumah.


Yuda tidak berani bertanya kepada bosnya, Yuda memutuskan mencari tau sendiri.


Sekarang Yuda membantu Ariya duduk di ranjangnya, Ariya sedang duduk di ranjangnya dengan tatapan hancur tampa berkedip, "Sepertinya penyakit tuan kambuh lagi, tapi sepertinya ini lebih parah" gumam Yuda.


Sementara di apartemen Vania, Vania benar-benar sedih dia masi menangis di ranjangnya, "Takdir benar-benar mempermainkan hidupku, ke bahagian yang ku dapat cuma sesaat" gumam Vania di selah tangisnya.


"Iya, keputusan yang aku ambil ini sudah benar, Ariya adalah pria yang sempurna dan berhak mendapatkan wanita yang bisa memberikannya anak" Vania bicara pada dirinya sendiri.


********


Beberapa hari telah berlalu, Vania belum pulang ke rumah. Ariya juga tidak menjemput Vania, karena Ariya benar-benar terpukul dan kembali tidak bisa mengendalikan dirinya.


Saat ini Ariya benar-benar tidak terkendali, penyakitnya kambuh, cuma minuman beralkohol yang menemani hari-harinya. Ariya sedang di kamarnya terus saja minum, bahkan setelah kepergian Vania, Ariya tidak pernah datang ke kantor.


Apa yang di lakukan Ariya saat ini tidak lepas dari pantauan sekertaris Yuda dan dokter Susan. dokter pribadi Ariya.


"Pak Yuda aku liat penyakit Ariya saat ini benar-benar parah" Ucap dokter Susan.


"Maksud dokter apa?" tanya Yuda.


"Dia tidak ingin kehilangan Vania sedangkan di sisi lain, dia juga memikirkan wiraguna group yang harus ada penerus" ucap dokter Susan menjelaskan ke pada Yuda.


"Jadi dok apa yang harus kita lakukan" tanya Yuda lagi.

__ADS_1


"Vuma satu solusi saat ini, yaitu Vania harus berada di sisinya, dan mendukung Ariya untuk punya anak dari perempuan lain" ucap dokter Susan.


"Itu mustahil dok" timpal Yuda.


"Vania bisa perlahan-lahan mundur jika, Ariya sudah punya bayi" jelas dokter Susan.


"Kalau begitu aku harus menemui nona Vania secepatnya" Ucap Ariya.


**********


Vania sedang duduk di atas ranjangnya, sambil memeluk lututnya. Vania tidak pernah keluar apartemen selama dia memutuskan meninggalkan rumah Ariya.


Tiba-tiba hp Vania berdering, Vania melihatnya ternyata sekertaris Yuda yang menelpon, "Buat apa dia menyuruh Yuda menelponku" ucap Vania dan menaruh kembali hpnya.


"Ting" ada pesan masuk.


Vania membukanya, "maaf nona Vania, temui aku di restoran wiraguna malam ini, ada hal penting yang ingin aku sampaikan". Ternyata pesan dari Yuda.


Vania tidak membalas pesannya, dia cuma menatap kosong ke dinding kamarnya.


Setelah 2 jam menunggu akhirnya Vania datang, "Sekertaris Yuda, masi di sini menunggu saya" tanya Vania.


"terimakasih nona Vania sudah ingin datang, silahkan duduk" ucap Yuda dengan hormat.


Vania kemudian duduk, "Apa yang ingin kamu sampaikan pak Yuda" tanya Vania.


Yuda menyodorkan foto-foto Ariya yang sedang minum dan tidak terkendali, terlihat dari foto itu terlihat Ariya yang benar-benar hancur.


"Pak Yuda nanti lama-kelamaan Ariya akan terbiasa, dengan kepergianku" ucap Vania, tapi wajahnya tidak bisa berbohong kalau dia sangat khawatir melihat foto-foto itu.


"Baik nona Vania, sekedar info pak Ariya tidak pernah ke kantor, setelah nona tinggal pergi" ucap Yuda.


Mata Vania berkaca-kaca, dia sangat khawatir mendengar kabar Ariya.


"Nona Vania, untuk lebih jelasnya nona temui dokter Susan" sambil menyodorkan kartu nama dokter susan, "Saya permisi dulu nona" dan menunduk hormat pergi.


Vania cuma diam dan melihat kartu nama itu, "Dokter Susan, dokter psikiater" gumam Vania.

__ADS_1


Keesokan harinya Vania ke rumah sakit di mana dokter Susan bekerja. "Rumah sakit ini, di mana aku bertemu Ariya dan dokter Susan" gumaM Vania, masi penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


Vania mengetuk pintu ruangan dokter Susan, karena sudah menghubungi dokter Susan terlebih dahulu.


Dokter Susan membuka pintu, "Eh Vania kamu sudah datang, silahkan masuk" ajak dokter Susan.


Vania masuk wajahnya penuh tanda tanya, "Duduklah Vania" ucap dokter susan.


Setelah keduanya duduk, Vania mulai bicara "Dok, bukanya dokter yang bersama Ariya dulu, di saat kita bertemu di rumah sakit ini" tanya Vania.


"Iya Vania, itu aku dan aku tidak sempat hadir di pernikahan kalian karena saat itu aku di luar negri" jawab Vania.


"Dokter apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Vania pelan-pelan.


"Iya Vania, pertemuan kita dulu di rumah sakit ini, itu karena kamu tidak bisa menerimanya lagi saat itu" ucap dokter Susan.


Vania mulai membayangkan kejadian malam itu, di mana Ariya benar-benar tidak terkendali.


"Apa lagi dok" tanya Vania dengan mata berkaca-kaca.


"Setelah kejadian 8 tahun yang lalu di saat dia meninggalkanmu, rasa sakit yang Ariya rasakan harus dia tahan, yang membuat tidak bisa mengontrol emosinya sendiri" ucap dokter Susan menjelaskan.


"Tapi dok selama kami menikah, nampak normal tidak ada kelainan" kembali Vania bertanya.


"Di situ kunci permasalahanya Vania" sambung dokter Susan.


"Maksud dokter" tanya Vania lagi.


"Di saat Ariya di luar negri, dia selalu mengkonsumsi obat untuk menenangkannya, tapi ajaibnya dia langsung sembuh setelah bertemu denganmu lagi" ungkap dokter Susan.


"Jadi apa yang harus aku lakukan dok?" tanya Vania.


"Apa yang di rasakan Ariya kali ini sangat berbeda, tapi kamu harus mencobanya. Saat ini Ariya tidak bisa mengendalikan perasaanya, dia juga ingin selalu bersama denganmu di sisi lain dia juga harus memikirkan penerus wiraguna group. berada lah selalu di sisi Ariya dukung dia mempunyai anak dari wanita lain, cuma itu yang bisa kamu lakukan supaya Ariya bisa sembuh" ucap dokter Susan menjelaskan semuanya.


Vania tidak menjawab, dia cuma meneteskan air matanya.


Melihat Vania menangis dokter susan berdiri ke samping Vania dan memeluknya untuk menenangkan Vania, "Kamu yang kuat, temui Ariya secepatnya sebelum emosinya menyerang mentalnya" ucap dokter Susan.

__ADS_1


__ADS_2